Never Not

Never Not
Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai



Shohei tersentak kaget dengan pandangan yang tertancap di wajah Seina. Sebaliknya, Seina buru-buru menunduk seakan menghindar untuk bertatapan dengan pria itu. Entah kenapa, kata-kata itu meluncur dengan sendirinya. Padahal, ia sungguh tak bermaksud melukai hati calon tunangannya itu.


Detik-detik senyap berlalu, sebelum akhirnya terdengar suara tawa kecil Shohei yang membuat Seina menaikkan wajahnya. Ya, susunan gigi depan pria itu terlihat penuh, beriringan dengan sepasang matanya yang menyipit.


"Aku juga menyukai Black Shadow!" ucap Shohei.


"Eh?" Seina tercungap.


"Kebetulan aku ikut menonton tayangannya saat berada di kampusmu. Dia hebat, ya? Wajar jika saat ini diidolakan banyak wanita," ujar Shohei yang salah mengartikan maksud kekasihnya. Ia berpikir Seina hanya mengutarakan kekagumannya pada Black Shadow.


Wajar saja Shohei berpikir demikian, selama beberapa bulan, nama Black Shadow begitu dipuja-puja banyak orang. Bahkan terdapat akun fanpage yang mengatasnamakan kumpulan para penggemar pria itu. Rai berhasil memerankan tokoh ciptaannya dengan begitu apik dan pembawaan yang membuat siapapun terkesima di setiap aksinya.


Seina mengernyit, tetapi kemudian mengangguk pelan. Melihat ekspresi Shohei saat ini, membuatnya tak tega untuk meluruskan maksud perkataannya yang sebenarnya. Takut jika kejujurannya akan melukai pria itu.


"Apakah aku boleh menyukainya?" ucap Seina pelan.


"Tentu saja. Bukankah kita tidak bisa menahan perasaan suka akan sesuatu? Ayo pergi!" ucap Shohei kembali menarik tangan Seina dengan lembut lalu bersama-sama memasuki lift.


Seina menatap punggung Shohei dengan sendu. Ia menyadari ada keegoisan di dalam dirinya yang membuatnya juga tak ingin melepaskan Shohei, meski hatinya tertarik dengan pria lain.


Ternyata aku belum siap untuk berkata yang sejujurnya kalau selama ini aku telah menduakan hatinya. Mungkin, aku terlalu takut untuk menyakitinya, atau mungkin aku sendiri tidak siap untuk melepasnya ....


Di sisi lain, Rai duduk di tepi puncak menara sambil menyulut rokok yang mengapit bibir sensualnya. Ingatannya mundur kembali, dimulai saat ia tak sengaja bertemu dengan Seina yang ternyata merupakan calon tunangan Shohei. Ia benar-benar tak menyangka, pertemuan demi pertemuan yang terlalu kebetulan itu, membuat gadis itu jatuh hati padanya.


Sejujurnya, ia tak tega melihat Seina yang terus menerus mengejarnya saat di kampus tadi. Itulah sebabnya ia segera berganti ke identitas asli dan menampakkan diri agar gadis itu berhenti mengejarnya. Namun, siapa sangka Seina malah menunggu di tempat biasa.


Selama hampir satu jam, ia memantau gadis itu di kejauhan. Karena tak kunjung pergi, ia terpaksa memberi tahu pada Shohei kalau tak sengaja melihat Seina di sana. Sekali lagi, tujuannya adalah agar gadis itu berhenti mengejar maupun menunggu Black Shadow. Agar gadis itu segera melupakannya dan kembali ke orang yang seharusnya ia cintai, yaitu Shohei. Meskipun sebenarnya, ia juga ingin menemuinya untuk meminta maaf secara tulus atas apa yang telah ia lakukan.


Rai memutuskan kembali ke apartemennya. Ia membawa beberapa lembar koran yang memuat iklan lowongan kerja. Ya, berakhirnya misi kesepuluh nanti, otomatis akan mengakhiri hubungan Mr. White dan Black Shadow sesuai isi perjanjian mereka. Ia tak bisa lagi bergantung hidup pada Shohei, apalagi pria itu akan bertunangan. Maka dari itu, ia mulai mencari-cari pekerjaan.


Saat mencapai lantai huniannya, ia terkejut melihat Yuriko yang berdiri di depan kamarnya. Gadis itu tengah mengelukkan punggung, agar bisa mengintip melalui celah pintu.


"Woi, kenapa kau seperti maling?" tegur Rai.


Bahu Yuriko refleks terangkat. Ia memutar tubuhnya dan makin terkejut melihat Rai berdiri di belakangnya.


"Aku mencarimu dari tadi!"


"Kenapa? Rindu, ya?" Rai menaikkan keningnya sebanyak dua kali.


Yuriko mengeronyotkan bibirnya, kemudian menunjukkan sebuah buku. "Aku butuh bantuanmu untuk menerjemahkan buku ini!"


"Maaf, tidak bisa!" tolak Rai sambil membuka gembok pintu kamarnya.


"Kenapa tidak bisa? Waktu itu kau mau membantuku!"


"Kan waktu itu bukan waktu sekarang," elak Rai sambil masuk ke kamarnya. "Omong-omong, aku cuma ingin memulangkan kata-katamu waktu itu," ujar Rai tersenyum miring sebelum akhirnya ia menutup kembali pintu kamarnya.


"Ya, sudah kalau tidak mau! Aku juga bisa memakai mesin penerjemah online!" ketus Yuriko setengah berteriak di depan pintu.



Keesokan harinya, Akabane Ayumi menjadi berita utama di mana-mana setelah tayangan langsung Black Shadow kemarin sore. Terkuaknya segala kebusukan politikus wanita itu, tentu mengejutkan banyak orang sekaligus mengecewakan pendukungnya. Salah seorang pengamat politik mengemukakan pendapatnya bahwa politik pencitraan yang selama ini dibangun oleh wanita itu berhasil menghipnotis masyarakat yang mudah bersimpati. Oleh karena itu dia menghimbau pada masyarakat untuk tidak mudah tertipu dengan tampilan politikus di depan kamera.


Seperti biasa, sehari setelah aksi Black Shadow, para wartawan mengerumuni kantor kepolisian dan kejaksaan guna meminta pendapat mereka. Namun, kali ini para wartawan berbondong-bondong mendatangi kementerian kehakiman dan meminta menteri kehakiman untuk angkat bicara. Ini karena disinyalir, tuan Matsumoto menyalahgunakan jabatan untuk melindungi para pejabat hitam itu selama ini.


Berita lain juga datang dari Perdana Menteri yang mengundang Black Shadow secara terbuka untuk menghadiri acara makan malam spesial. Acara makan malam itu dikatakan sebagai ungkapan terima kasih karena telah mengungkapkan kejahatan yang dilakukan para pejabat secara terselubung. Undangan tersebut tentu tak akan ditanggapi Black Shadow sesuai perintah Mr. White. Pasalnya, mereka harus berhati-hati dengan siapapun, termasuk pejabat tertinggi di negara itu.


"Sudah sembilan orang pejabat yang ditelanjangi Black Shadow di depan publik. Kehadiran pria bertopeng itu membuat kepolisian dan kejaksaan seakan tak berfungsi. Sebab, sembilan pejabat tersebut awalnya adalah orang-orang yang tidak tersentuh hukum. Lantas, siapakah target berikutnya? Mari kita nantikan aksi Black Shadow selanjutnya!" Kei berbicara depan kamera saat memberi narasi penutup di program acaranya.


Shohei mematikan siaran televisi, kemudian mengambil sebuah kertas yang berisi sepuluh daftar pejabat hitam. Ia mencoret nama Akabane Ayumi mengikuti nama-nama pejabat lain yang sudah lebih dulu dijegal Black Shadow. Hanya tertinggal satu daftar yang namanya tak terisi. Dialah target kesepuluh Black Shadow.


Tak lama kemudian, ponsel pria itu berdering. Ternyata panggilan tersebut berasal dari tuan Matsumoto yang mengajaknya makan malam di sebuah restoran. Tentu saja ia tak menolaknya.


Di sebuah ruangan tersembunyi yang gelap, seorang pejabat misterius tengah duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, memunculkan sekretaris pribadi yang selalu mendampinginya.


"Tuan, saya membawa orang yang Anda pinta tempo hari. Dia ahli hacker yang pernah meretas sistem keamanan negara Macau."


"Bawa dia ke sini!"


"Baik."


Tak lama kemudian, orang yang dimaksud pun masuk ke ruangan itu.


"Arigatou gozamaisu telah memanggil saya ke sini. Saya siap bekerja sesuai permintaan Anda," ucap pria yang baru masuk itu sambil membungkuk.


"Siapa namamu?" tanya pejabat misterius yang duduk membelakanginya, sengaja tak memperlihatkan wujudnya.


"Namaku ... Inoo Yuta."


.


.


.



btw, buat yang gak tahu karakter Inoo Yuta, dia ini dulunya sahabatan sama Rai di novel terdahulu. Teman satu geng dalam dunia penipuan. Yang belum baca novelku Gomen, Aishiteru dan Always Remember boleh dicoba baca, ya. Aku jamin gak bakal nyesel kalo kalian punya standar bacaan yang berbeda.


like dan komen jangan lupa nancap, gratis kok.