Never Not

Never Not
Ch. 43 : Makanan Kemasan



Sejak semalam, Shohei telah memutuskan pindah ke hunian baru. Letak kondominium miliknya cukup berdekatan dengan kediaman Seina. Walaupun sebenarnya kekasihnya itu belum mengetahui tentang kondominium yang ia beli khusus untuk tempat tinggal mereka nanti.


Shohei mendorong empat koper besar yang berisi pakaian dan juga benda-benda miliknya. Ia keluar dari kamar, lalu berjalan ke arah dapur. Ketika melewati meja bar, ingatannya kembali membersit saat bibirnya dan bibir Yuriko tak sengaja bersentuhan di bawah kolong meja tersebut. Ia menggeleng-geleng kepala agar ingatan itu segera terbang dan tak kembali di kepalanya.


Saking takut teringat hal itu, mau lewat pun dia memilih berbalik membelakangi meja tersebut dan menggeser kakinya ke samping dengan cepat.


"Jangan dilihat! Jangan diingat!" gumamnya sambil terus membelakangi meja bar tersebut.


Akhirnya, dia berhasil melewati meja bar itu. Baru saja hendak berjalan normal, ia mendadak tersentak mendengar suara bel dari pintu utama.


"Huft! Ujian apa ini?" keluhnya mengembuskan napas. Mau tak mau dia harus kembali berjalan seperti tadi agar tak melihat meja bar tersebut.


Saat membuka pintu, Yuriko langsung menyambutnya dengan riang.


"Ohayou gozaimasu, maaf, aku terlambat!"


Sempat terkejut dengan kehadiran Yuriko, Shohei pun berkata, "Ohayou, tidak apa-apa. Aku juga baru bangun dan akan bersiap ke kantor."


"Kalau begitu aku akan membuatkan Shohei-san sarapan."


"A–apa tidak merepotkan?" tanya Shohei canggung.


"Tentu saja tidak. Ini sudah merupakan tugasku!" Yuriko melangkah ke dapur, mengambil apron lalu memasangkan ke badannya.


"Kalau begitu ... aku bersiap dulu." Shohei segera ke kamarnya untuk bersiap ke kantor.


Begitu masuk ke kamar, ia mengembuskan napas seraya mencoba hilangkan kegugupannya pasca berhadapan dengan Yuriko. Suasana canggung dalam dirinya tentu masih berkaitan dengan ciuman tak sengaja yang terjadi antara mereka.


Apa yang harus kulakukan? Setiap hari aku akan bertemu gadis ini.


Sempat kalut, pria itu menegakkan tubuhnya seraya mengembuskan napas.


Kenapa aku jadi berlebihan seperti ini? Seharusnya aku bisa seperti Yuriko yang terlihat biasa saja.


Di dapur, Yuriko menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan Shohei tak berkeliaran di sekitarnya. Ia buru-buru melepas ransel, lalu mengambil barang belanjaan yang dibelinya di supermarket sebelum datang ke sini. Rupanya isi belanjaan itu adalah makanan kemasan seperti lauk siap saji dari fillet ikan salmon, sup miso instan, dan kerang akagai rebus.


"Gomennasai, Shohei-san. Aku terpaksa membeli masakan siap saji untuk sarapanmu pagi ini. Aku belum banyak mempelajari resep pengolahan aneka makanan. Tapi aku janji akan memasak khusus untukmu saat kau pulang kantor nanti," ucap Yuriko berbicara sendiri sambil membuka satu per satu pembungkus kemasan tersebut lalu menyalinnya ke piring.


Sejenak, Yuriko mengingat ucapan Rai sebelum ia datang ke tempat ini. Sebelum berangkat kerja, ia sempat menanyakan daftar makanan favorit Shohei pada Rai agar bisa memasak mengikuti selera pria itu.


"Karena Shohei baru saja dioperasi, jadi aku pikir kau harus memasakkan makanan yang mengandung protein tinggi untuk penyembuhan dan pemulihan luka dalamnya. Seperti salmon segar, Nissin Kabayaki, steak daging, dan aneka sup yang bergizi."


"Kenapa sulit sekali? Aku tak pernah memasak semua makanan yang kau sebutkan," keluh Yuriko.


"Kalau merasa sulit seharusnya dari awal kau tidak mendaftar sebagai pelayannya. Aku merasa kasihan padanya karena mendapatkan pelayan yang tidak kompeten," cetus pria itu seraya bersedekap.


Lontaran kata-kata Rai tentu saja membakar dada Yuriko. Ia ingin membuktikan jika dirinya adalah pelayan kompeten di mata Shohei. Namun sayang, ucapan Rai memang realita. Nyatanya, dia tak terlalu mahir memasak. Jika memasak pun membutuhkan waktu berjam-jam untuk selesai.


Untung saja aku membeli semua ini di restoran terdekat. Jadi, Shohei-san tidak perlu menunggu lama. Semoga tidak ketahuan, hihi ....


Lima belas menit kemudian, Shohei keluar dari kamarnya. Pria itu tampak gagah dalam balutan seragam kepolisian. Shohei tertegun melihat deretan menu yang telah tersaji di atas meja makan. Ia juga sempat melirik arlojinya dan tampak tercengang melihat waktu memasak Yuriko yang terbilang kilat, tetapi bisa menghasilkan beberapa sajian menu.


Sugoi! Cepat sekali dia memasak!


"Selamat makan, semoga Shohei-san menyukai masakan ini," ucap Yuriko seraya menuangkan segelas air untuk pria itu.


Shohei mengangguk pelan lalu menarik kursi untuk didudukinya. Saat Yuriko hendak beranjak, pria itu langsung berkata, "Bagaimana kalau kita sarapan bersama?"


"Eh?" Sepasang alis Yuriko refleks terangkat. "Ma–mana boleh pelayan makan bersama—"


"Yuriko-san, ayo kita sarapan bersama." Shohei memotong ucapan Yuriko sambil melempar senyum hangat.


Ah, bagaimana aku tidak meleleh berhadapan dengan pria ini? Dia sama sekali tak memperlakukan aku sebagai pelayan.


Tak menunggu detik berlalu, Yuriko langsung duduk berhadapan dengan Shohei seraya mengambil mangkuk.


"Itadakimasu," ucap keduanya seraya menangkup tangan kemudian mengambil sumpit.


Yuriko tampak lahap menyantap sarapan tersebut. Pasalnya, ini pertama kalinya ia makan makanan kemasan dengan kualitas premium. Ya, dia adalah seorang mahasiswa sekaligus perantau, tentu saja harus menghemat biaya hidup.


Oishii! Tidak sia-sia aku mengeluarkan uang demi membeli makanan ini. Ternyata rasanya seenak ini.


Berbeda dengan Yuriko, Shohei tampak tercenung saat sesendok kuah sup miso masuk dalam mulutnya.


Kenapa makanan ini rasanya cukup familiar ya?


Ia mencoba mencicipi ikan salmon dan juga kerang rebus. Anehnya, rasa kedua makanan itu juga terasa tak asing di lidahnya. Tentu saja karena menu yang disajikan Yuriko adalah makanan kemasan yang biasanya ia beli untuk mengganjal perutnya saat sedang lembur di kantor.


Shohei menoleh ke dapur. Ia merasa janggal karena dapur itu bersih dan tak ada tanda-tanda bekas memasak. Padahal kalau dipikir-pikir durasi waktu memasak Yuriko hanya lima belas menit. Apa mungkin dengan waktu singkat tersebut gadis itu dapat memasak tiga menu sekaligus merapikan kembali dapur?


Sejenak, Shohei dan Yuriko saling beradu pandang. Yuriko terus menatap kagum Shohei sambil senyam-senyum. Hal itu tentu saja membuat Shohei salah tingkah.


Mata Yuriko membeliak seketika. Apa? Dia memercayakan kunci serep padaku?


Usai makan, Yuriko membereskan meja makan sekaligus mencuci piring kotor. Sedangkan Shohei bersiap-siap berangkat ke kantor. Saat hendak membuka pintu, matanya tak sengaja menangkap sesuatu di dalam tempat sampah yang mencuri perhatiannya. Pasalnya, itu adalah kumpulan bungkus kemasan makanan yang sering ia beli. Ia mengambil salah satu kemasan yang berbentuk mangkok dan membaca keterangannya. Ia langsung teringat dengan makanan yang baru saja dimakannya. Pipi pria itu mengembung seketika karena menahan tawa. Seingatnya, Rai pernah berkata jika Yuriko memang tak pandai memasak.


"Shohei-san, apa kau akan berangkat sekarang?" teriak Yuriko secara tiba-tiba sambil mendatanginya.


Teriakan itu tentu mengejutkan Shohei. Secara spontan, ia membuang kembali bungkus kemasan tersebut dan mendorong tempat sampah ke sudut ruangan. Ia memilih untuk tetap berlagak tidak tahu tentang makanan kemasan itu agar Yuriko tak malu.


"Aku ... pergi dulu. Jaa (sampai jumpa)!" ucapnya dengan nada kikuk. Sejak kejadian tak terduga itu, nada bicaranya sudah tak bisa normal lagi seperti dulu.


"Hum, hati-hati di jalan."


Tepat saat pintu itu tertutup, Yuriko menyengir sambil menatap kunci cadangan yang diberikan Shohei.


"Aku pergi dulu, hati-hati di jalan," ucapnya mengulang percakapan antara dirinya dan Shohei. "Sepertinya kami berdua cocok menjadi pasangan," gumamnya kembali sambil terkikik.


Yuriko lalu masuk ke kamar Shohei. "Wow, ranjangnya besar sekali! Kalau seperti ini tidur bertiga pun muat!"


Yuriko mulai mengatur pakaian dan benda-benda pria itu yang belum sempat dibereskan. Ia membuka salah satu koper dan mulai memasukkan pakaian Shohei ke dalam lemari. Sebelumnya, pria itu telah berpesan padanya untuk mengosongkan beberapa sekat di lemari yang besar itu. Bahkan satu pintu yang berisi rak gantung juga dibiarkan kosong begitu saja. Ini terasa aneh baginya. Sayangnya, ia tak berani untuk mencari tahu alasan pria itu.


Setelah selesai merapikan barang-barang bawaan Shohei, Yuriko pun keluar dari apartemen itu karena harus masuk kelas salah satu mata kuliah. Tak mau terlambat, gadis itu berjalan terburu-buru. Tepat saat keluar gedung, langkahnya terhenti ketika melihat Rai yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu bersandar di pohon peneduh jalanan sembari mengunyah permen karet.


"Apa Shohei memintamu untuk menjemputku lagi?"


"Hhmmm ... tidak. Sebenarnya tempat kerjaku di sekitar sini, jadi aku memutuskan jalan-jalan sebentar. Eh, kebetulan malah bertemu denganmu," dalih Rai seraya berjalan mendekat ke arah Yuriko.


"Kebetulan yang menyebalkan, ya!" ketus Yuriko sambil berlalu.


"Apa kau sudah selesai bekerja?"


"Aku mau masuk kampus dulu. Setelah itu baru balik lagi ke sini untuk mempersiapkan makan siangnya."


"Sokka (begitu, ya). Bagaimana masakanmu pagi ini? Kau tidak gagal memasak lagi, kan?"


Yuriko terdiam sejenak sambil mengingat makanan kemasan yang ia sajikan untuk Shohei. "Tentu saja tidak! Dia juga terlihat menyukai masakanku."


"Memangnya tadi pagi kau masak apa? Nasi kare tempo hari yang kau masak itu terlalu kental."


Yuriko menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah Rai dengan hidung yang mengembang dan mulut mengerucut.


Melihat ekspresi Yuriko yang menggemaskan, Rai lalu kembali berkata, "Yang harus kau tahu dari Shohei, dia adalah orang yang sangat menjaga perasaan seseorang. Dia tak akan banyak protes meski dia kurang suka."


"Masalahnya bukan itu! Kenapa kau terus membuntutiku? Sebenarnya tempat kerjamu itu di mana?" ketus Yuriko yang kesal karena Rai mengintilnya sampai ke halte.


Rai yang baru sadar, langsung memutar ke kiri dan kanan seolah mencari letak keberadaan tempat kerjanya. Namun, matanya secara tak sengaja malah terpaku ke layar videotron yang berada di seberang jalan. Videotron itu tengah meliput berita tentang salah seorang idola papan atas yang tepergok sedang berlibur musim dingin bersama istrinya di Hokaido.


Masih menancapkan mata ke layar videotron, Rai mengulas senyum tipis seraya berkata dengan nada suara yang kecil. "Semoga kau bahagia selalu."


Yuriko menatap heran ke arah Rai. Ia pun turut menoleh ke arah videotron.


"Apakah istrinya itu ... benar-benar mantan kekasihmu?" tanya Yuriko.


Rai melirik ke arah Yuriko. "Jawabanku tak akan membuatmu percaya, 'kan?" sindirnya sambil tersenyum getir.


Di Kantor Kepolisian Metropolitan, Shohei berjalan memasuki lift menuju ke lantai gedung ruang kerjanya. Begitu keluar dari lift, ponselnya mendadak berdering.


"Moshi-moshi ...."


"Aku sudah mengecek sidik jari yang tertinggal di sobekan lengan bajumu," ujar polisi wanita yang bertugas di bagian forensik.


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang!"


"Tunggu. Tapi ...." Suara wanita itu mengambang begitu saja.


Shohei mengernyitkan dahi. "Tapi apa?"


.


.


.


catatan author ✍️✍️


jadi di Jepang itu banyak makanan kemasan siap saji. biasa kemasannya dalam bentuk mangkok gitu.


.