Never Not

Never Not
Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?



Sesuai yang dikatakan Rai, malam ini, Akabane Ayumi dan para tim suksesnya mendatangi kelab malam Starlit yang merupakan bar mewah di kawasan Shinjuku. Kehadirannya tentu disambut baik manajer bar tersebut. Beberapa host dan hostest disediakan untuk menemani mereka mengobrol.


Akabane Ayumi menatap deretan host pria yang menghampirinya. Tampaknya ia tak begitu tertarik dengan mereka semua. Salah satu pendukungnya berdiri lalu bertemu dengan manajer kelab tersebut.


"Mana host kosong satumu? Suruh dia menemani Akabane Ayumi-san!" bisik pria itu. Sebagai orang yang bekerja lama di sisi Akabane Ayumi, tentu ia sangat hafal selera teman minum calon gubernur itu.


"Mohon maaf, tapi host utama kami sedang melayani klien lain." Manajer kelab itu membungkuk sopan.


"Akabane Ayumi-san hanya ingin memiliki teman minum yang cerdas dan berwawasan. Dan aku tahu itu ada pada host utama," bujuk pria itu.


"Mohon maaf sebesar-besarnya, semua klien di bar ini mendapatkan pelayanan yang sama. Klien tersebut telah memesan host utama lebih dulu. Lagi pula, host-host yang tersedia di sini juga memiliki wawasan luas, mereka berasal dari universitas terbaik di kota ini."


"Jadi kau mengabaikan permintaan calon orang nomor satu di Tokyo? Ingat, Akabane Ayumi-san telah diprediksi memenangkan pemilu hingga delapan puluh persen."


Manajer kelab tersebut tercenung setelah mendengar kalimat halus bernada ancaman.


Di sisi lain, seorang pria bertubuh tinggi tegap memasuki ruang ganti para host. Ia memilih salah satu tuksedo dan juga sepatu yang disediakan dalam ruangan itu. Telah berganti pakaian, pria itu bercermin seraya mengolesi gel di rambutnya yang dicat berwarna cokelat keemasan. Ia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh, kemudian memasangkan anting bulat titanium di telinga kirinya.


Menarik senyum tipis, pria itu pun melangkah keluar dari ruangan. Namun, ia segera bersembunyi ketika manajer kelab bersama seorang host berjalan melewati koridor itu.


"Cepat ke lantai dua! Kita kedatangan tamu kehormatan malam ini, calon gubernur Akabane Ayumi-san. Tolong dampingi dia!" ujarnya pada host utama kelab tersebut.


Host itu pun melangkah sendiri menuju lantai dua. Saat hendak menaiki tangga, tiba-tiba ia diserang seseorang dari belakang hingga membuatnya jatuh pingsan. Host itu lalu diseret ke sebuah ruangan yang tak berfungsi.


Pria yang menyerang host utama tadi, kini berjalan penuh percaya diri. Ia menghampiri Akabane Ayumi-san yang duduk sendiri di sofa sudut.


"Senang bisa menemani Anda malam ini, Akabane Ayumi-san." Seorang pria dengan senyum menawan mengulurkan tangan. Ya, pria itu tentu saja adalah Rai. Kali ini ia berpenampilan layaknya anggota boyband dengan gaya rambut menyerupai mangkok, sehingga membuatnya terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya.


Akabane Ayumi sempat tertegun lama sembari menancapkan pandangan penuh ke arah Rai.


"Apakah kau host kosong satu di kelab ini?" tanyanya sambil menerima uluran tangan Rai. Dari mata wanita itu, jelas ia begitu terkesima dengan Rai. Sepuluh host yang baru saja ditawarkan manajer kelab itu, tentu tidak ada apa-apanya dibanding Rai yang memiliki aura memikat kuat.


"Benar sekali! Saya Kato. Boleh saya duduk?" tanya Rai sambil menunjukkan tanda pengenalnya sebagai host fiktif di kelab itu.


Akabane Ayumi tentu tak menolak. Rai langsung menjalankan tugasnya sebagai host dengan menuangkan anggur putih untuk wanita itu. Keduanya mulai terlibat obrolan kecil tentang apa saja hingga menyerempet ke dunia politik.


Akabane Ayumi sendiri adalah seorang wanita yang berumur empat puluh delapan tahun. Namun, ia memiliki wajah yang awet muda sehingga banyak yang mengira usianya masih sekitar tiga puluhan. Tutur bahasa wanita itu sangat lemah lembut, sama sekali tak terkesan arogan. Cara berpakaiannya juga berbeda dari wanita karir lainnya. Tak ada barang-barang mewah yang melekat di tubuhnya. Tak heran, jika citra sebagai politikus yang baik, sederhana dan merakyat begitu melekat pada dirinya. Namun, satu yang tidak diketahui publik, ia memiliki catatan hitam yang merugikan rakyat dan negara.


Rai menunjukkan kecerdasannya dalam beropini yang membuat wanita itu terkesan.


"Latar belakang Anda adalah seorang ahli hukum dan pengacara. Anda bisa meminta mengisi materi di beberapa universitas terkemuka. Ini bisa menjadi kampanye terselubung, bukan?" usul Rai sambil menyodorkan segelas anggur putih.


Mata Akabane Ayumi berkilau disertai senyuman tipis, tanda dia tertarik dengan usulan pria itu.


Rai kembali menuangkan anggur ke gelas Akabane Ayumi, sedangkan tangan kirinya bergerak perlahan menyelipkan alat penyadap di bawah tas wanita itu. Tak ada kesulitan karena dia memang ahli dalam melakukan hal ini.


Di sisi lain, Shohei dan Yuriko masih berada dalam perjalanan. Tiba-tiba Shohei menghentikan mobilnya tepat di sebuah bar kecil. Ia meminta Yuriko untuk menunggu sebentar, karena ia akan masuk ke dalam bar tersebut.


Di dalam sana, Shohei mencari tahu tentang Yamamoto Sasuke pada pemilik bar. Ternyata pria itu telah mengundurkan diri dari pramusaji bar sehari setelah kematian adiknya.


"Dia memiliki airsoft¹ gim yang baru saja dibuka seminggu lalu," ucap pemilik bar.


"Bisakah saya meminta alamat airsoft gim miliknya?"


Pemilik bar itu lalu mencatat sebuah alamat.


Setelah kembali ke mobil, Shohei lalu berkata pada Yuriko, "Gomen, ne, membuatmu menunggu. Tapi, bisakah kau menemaniku ke suatu tempat?"


"Eh?" Kepala Yuriko mengangguk secara refleks.


Shohei langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya ke alamat yang diberikan pemilik bar. Setibanya di sana, Yuriko terkejut mengetahui tempat yang hendak dituju Shohei.


"Ini bukannya tempat airsoft gim survival?"


"Ya, benar. Ternyata Yuriko-san tahu juga."


"Iya, waktu masih awal semester, aku sempat bergabung dengan komunitas gim survival," ucap Yuriko yang tampak bersemangat.


"Benarkah? Sangat jarang gadis Jepang tertarik dengan gim ini!"


"Itu ... karena permainan ini menyimulasikan kegiatan kepolisian dan militer. Aku sangat terobsesi dengan hal-hal seperti itu, mungkin karena ayahku dulunya seorang polisi."


"Kalau begitu, ayo kita bermain!"


"Apa?!" Yuriko terperanjat seketika.


Begitu memasuki tempat itu, keduanya diarahkan untuk memakai atribut militer: seragam loreng, rompi, helm, dan sepatu boot. Lengkap dengan senjata replika, juga pelindung wajah dan mata. Tentu saja tujuan Shohei ke sini agar bisa bertatap muka langsung dengan Yamamoto Sasuke. Adapun ikut bermain dan mengajak Yuriko hanyalah strategi agar ia tak dicurigai sebagai seorang detektif kepolisian.


Sepuluh menit pertandingan, dua regu tembak itu bersaing dan berhadap-hadapan untuk saling melumpuhkan. Shohei dan Yuriko tak henti-hentinya melesatkan tembakan ke arah lawan, begitupun sebaliknya.


"Awas! Bahaya!" Shohei meneriaki Yuriko agar segera menepi. Terlambat, peluru palsu itu mengenai tubuh Yuriko dan sedikit membuatnya terkejut.


Shohei segera menghampiri Yuriko dan langsung menarik tangannya untuk menghindari serangan.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya kaget." Yuriko menyadari dirinya kurang konsen selama permainan. Sejujurnya ia merasa sangat senang bisa sedekat ini dengan pria yang disukainya. Sayangnya, fakta jika pria itu memiliki kekasih tak bisa terelakkan dirinya.


Mereka lalu bersembunyi di balik drum-drum yang disusun melebihi tinggi manusia. Yuriko bersandar sembari menghela napas, sedangkan Shohei yang berada tepat di hadapannya, tengah mengintip sambil sesekali membuang peluru. Saking seriusnya, ia sampai tak sadar tengah menghimpit tubuh Yuriko. Ya, saat ini gadis itu hanya diam mematung sambil memerhatikan wajah Shohei yang tersembunyi dari balik topeng transparan.


"Ayo keluar bersama-sama! Kau ke kanan, aku ke kiri." Shohei memberi instruksi. "Satu ... dua ... tiga ...."


Keduanya kompak keluar dari persembunyian sambil menyerang balik lawan dengan hantaman peluru. Baru ingin menyerang, perhatian Shohei justru teralihkan pada aksi Yuriko saat ini.


Gadis yang selalu tampil kasual itu, tampak lihai memainkan senjata. Tak hanya itu, aksinya memukul mundur lawan benar-benar heroik. Ia berguling, bersalto, bertiarap, melompat dari tempat tinggi ke tempat rendah, hingga memanjat jaring dan tali. Semua ia lakukan dengan lincah sambil terus melesatkan peluru dari berbagai arah.


"Sugoi!" Shohei berdecak kagum melihat Yuriko yang sudah seperti anggota militer sungguhan.


Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan yang dipegang oleh mereka berdua.


"Arigatou gozaimasu. Merupakan kehormatan bagiku bisa bermain langsung dengan pemiliknya." Shohei menjabat tangan Yamamoto Sasuke.


"Tidak masalah. Justru aku bangga kalian mau bermain di tempat ini. Kalian pasti sudah senior dalam bermain.


"Omong-omong, senjata yang tadi digunakan sungguh hebat, ya!" puji Shohei.


"Oh, ini senjata semi asli yang dibuat dengan printer 3D," jawab Yamamoto Sasuke.


"Woah, Sugoi!" Shohei dan Yuriko berucap secara bersamaan.


"Ini airsoft terkeren yang pernah kudatangi," sahut Yuriko.


"Ah, tidak. Tempat ini masih baru dan belum selengkap tempat lainnya." Yamamoto Sasuke menyambut hangat Shohei dan Yuriko.


"Ah, kebetulan aku mendapat rekomendasi langsung dari nyonya Akabane Ayumi," ucap Shohei.


Seketika, raut wajah Yamamoto Sasuke menghitam.


"Kau tahu Akabane Ayumi-san?"


Yamamoto Sasuke sedikit tersentak, tetapi matanya segera turun ke pojok kiri bawah seraya berucap, "Aku ... baru mendengar nama itu," ucapnya dengan intonasi lambat.


"Sungguh? Padahal dia calon gubernur Tokyo yang begitu diagungkan banyak tokoh masyarakat." Shohei kembali memberikan pernyataan yang menjebak.


Yamamoto kembali melakukan hal sama, menurunkan matanya ke pojok kiri bawah. "Aku ... hanya menghafal wajah para calon gubernur tanpa mengetahui nama mereka. Mungkin, Akabane Ayumi-san mengetahui tempat ini dari orang lain."


Shohei memicingkan mata seketika.


Dia melakukan Eye Accessing Cues² sebanyak dua kali. Dengan kata lain, apa yang ia katakan adalah kebohongan.


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶


airsoft: airsoft adalah sebuah olahraga atau permainan yang menyimulasikan kegiatan militer atau kepolisian, yang menggunakan replika senjata api yang disebut airsoft gun. (Wikipedia).


permainan ini dimulai di Jepang pada tahun 1970-an.


.


Eyes accessing cues: pola gerakan mata yang dilakukan secara bawah sadar pada saat orang mengakses informasi tertentu dalam pikirannya. Maksudnya secara bawah sadar (unconscious) adalah bahwa proses ini berjalan secara alami, tanpa disadari dan berjalan dengan sendirinya (otomatis, tanpa dibuat-buat). (Psikologid.com)


istilah ini dikenal dalam dunia Neuro-Linguistic Programming (NLP). Dan tidak jarang para Trainer NLP mengajarkan bagaimana menggunakan ini untuk mendeteksi kebohongan gays. So, tiap gerakan mata konstan yang dilakukan manusia dalam keadaan terdesak punya arti masing-masing.


kalau host masih ingat, kan? ini kerjaannya Ren dulu gays.


Terima kasih bagi yang masih mengikuti dan juga memberi dukungan. jangan lupa like + komen, nulis novel tema gini bukan cuma modal ngayal doank, gays 😆🙄.