
Usai bertemu Shohei dan menyerahkan bekal itu padanya, Rai pun kembali ke apartemennya. Ketika melewati kamar Yuriko, pintu mendadak terbuka dan gadis itu tiba-tiba muncul.
"Apa kau sudah mengantarkan bekal itu pada pak polisi?"
"Ya, sudah," jawab Rai seadanya.
"Terus dia bilang apa?"
"Tolong sampaikan padanya, Arigatou gozaimasu," ucap Rai meniru gaya bicara Shohei.
"Lalu, kau tidak mengatakan apa pun tentangku?"
Rai menggeleng tanpa bersuara.
"Setidaknya kau sedikit membangga-banggakan aku di depannya, biar dia tertarik padaku!" ucap Yuriko dengan wajah cemberut.
"Oh, kalau itu sudah kulakukan."
"Benarkah? Apa yang kau katakan padanya tentangku?" tanya Yuriko tak sabaran.
"Aku bilang Yuriko adalah gadis yang baik hati, lembut, penyayang, dan pandai memasak."
"Ah, tidak kusangka kau sangat baik padaku," Yuriko tersenyum lebar seraya mengelus-elus lengan Rai.
"Tapi semua itu kuucapkan dalam hati," ucap Rai yang kemudian menipiskan bibir.
Wajah Yuriko berubah seketika. Ia mengerenyotkan bibir diikuti kedua mata yang membesar dan hidung yang mengembang. Dia lantas kembali menutup pintu.
"Hei, seharusnya kau berterima kasih padaku, aku sudah capek-capek mengantarkan bekal itu tanpa bayaran se-Yen pun!" teriak Rai seraya menyeringai.
Yuriko kembali membuka pintu. "Oh, iya, aku lupa! Arigatou gozaimasu. Meskipun kadang-kadang ucapanmu tidak masuk akal dan sering membuatku kesal, tapi kau selalu membantuku," ucapnya menyengir.
Rai hanya tersenyum simpul sambil mengangkat kedua alisnya.
Tentu saja aku melakukan ini hanya sekadar pencitraan. Aku tahu Shohei mana mungkin menyukaimu karena dia telah memiliki calon tunangan. Aku sudah tak sabar menunggu saat kau patah hati nanti, dan datang mencariku ....
Ya, Rai tetaplah rai. Tidak akan menjadi malaikat dalam waktu sekejap. Ia membuktikan jika dia tak hanya pandai menjerat wanita melalui ketampanannya, tetapi juga lewat akal, taktik, dan tentu saja kelicikan. Ia selalu memiliki cara untuk menaklukkan gadis yang diinginkannya. Walaupun dia adalah tipe pria yang sulit jatuh cinta.
Sejujurnya, Yuriko adalah gadis pertama yang membuatnya tertarik lebih dulu, tanpa ada timbal balik. Kehidupan dan sifat Yuriko yang selalu ingin terlihat seperti kaum golongan atas, mengingatkan pada dirinya yang lama, sebelum terjerat ke dalam dunia penipuan. Ia tak ingin gadis itu terperosok ke lubang kejahatan yang pernah menenggelamkan dirinya. Itulah kenapa dia membiarkannya terus mengagumi Shohei, kendati pun ia memiliki rasa suka pada gadis itu.
Shohei baru saja mendapatkan undangan makan siang dari menteri kehakiman. Saat hendak beranjak dari meja kerja, ia mendadak teringat bekal dari Yuriko yang diberikan padanya. Baru saja mau menyentuh kotak bekal itu, secara bersamaan Seto Tanaka bersama beberapa detektif masuk ke ruangannya.
Mereka membicarakan tentang laporan yang sering masuk di akhir-akhir ini. Laporan itu dilimpahkan pada Kepolisian Metropolitan karena mengambil beberapa tempat di Tokyo dan termasuk kejahatan besar yang terorganisir. Modusnya adalah seorang wanita berteriak seolah-olah hendak diperkosa di pinggir jalan, kemudian meminta tolong pada pengendara mobil yang melintas. Ketika sang pengemudi mobil hendak menolongnya, salah satu dari kelompok kriminal itu malah membawa kabur mobil tersebut.
"Jadi, ini adalah modus pencurian terbaru?" Shohei masih membaca berkas laporan yang masuk.
"Kejadian ini di sekitar Kanto, Ikebukuro, Oshima dan Hachioji. Modus yang mereka pakai semuanya sama dan targetnya adalah pengendara mobil. Setiap titik, terdiri dari tiga orang, yang mana salah satunya adalah wanita yang akan berpura-pura minta tolong, lalu ada lelaki yang berpura-pura mabuk dan mengganggu wanita itu, dan satunya lagi muncul belakangan setelah pengemudi keluar dari mobilnya. Dialah yang membawa lari mobil tersebut," lapor Seto Tanaka.
Shohei membaca isi laporan investigasi mereka. Dari hasil penyelidikan awal yang mengambil kesaksian beberapa korban, para pelaku diduga bukan warga negara Jepang, melainkan warga asing yang terdiri dari berbagai negara di Asia Tenggara. Dan modus yang diterapkan selalu sama meskipun dengan pelaku yang berbeda.
"Kami meminta saranmu, Yamazaki-san," ujar salah satu polisi.
"Adakan patroli malam ini di tempat-tempat yang rawan. Tapi jangan memakai mobil polisi karena kalian akan menyamar sebagai calon target mereka. Aku akan ikut bersama kalian. Minimal, kita bisa menangkap satu di antaranya."
"Siap!" ujar para jajaran detektif muda itu.
Ketika mereka hendak keluar, Shohei langsung menahan Seto Tanaka.
"Tanaka-san, apa kau sudah makan siang?"
"Aku baru saja mau ke kafe sebelah."
Shohei mengangkat bekal makanan dari Yuriko. "Ini untukmu."
"Sebenarnya bekal ini diberikan seseorang untukku, tapi aku ada undangan makan siang di luar."
"Arigatou gozaimasu." Seto Tanaka terlihat senang.
"Jangan lupa nanti malam kau ikut patroli bersamaku!" ucap Shohei seraya berdiri meninggalkan kursinya.
Di tempat berbeda, seorang pria duduk di kursi kebesarannya sambil menonton berita terhangat pagi ini. Mata Pria itu berkilat tajam, dengan rahang mengeras dan gigi-gigi yang menggertak. Bagaimana tidak, siaran berita itu menampilkan aksi Black Shadow yang kembali berhasil mengungkap sisi gelap pejabat publik.
Apalagi narator dalam berita tersebut mengatakan ini yang ketujuh kalinya Black Shadow mendahului kepolisian dan berhasil mengungkap belang para pejabat. Berita itu juga menampilkan permohonan maaf Fukamu Hiromi pada seluruh publik atas tindakan yang dilakukan anaknya. Sebagai wujud penyelesaiannya, dia mengumumkan pengunduran diri dari jabatan Wakil Ketua Senat.
"Black Shadow! Kau benar-benar ingin menantangku!" gumam pria itu berang usai menonton berita.
"Kenapa Anda tidak mencoba singkirkan saja dia? Kita bisa menyuruh orang untuk melenyapkan pria itu saat dia sedang menjalankan aksinya." Seseorang bersuara dari sisi kanan pria itu.
Mendengar saran dari orang tersebut, membuat pria itu tersenyum jahat sambil menautkan jari-jarinya di atas meja.
"Tolong siapkan mobilku, aku memiliki janji pertemuan dengan seseorang," ucap pria tua yang memegang salah satu jabatan pemerintahan.
Shohei keluar dari ruang kerja, kemudian masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai dasar gedung. Ia mengambil gawainya lalu membuka situs pencarian untuk mencari rekomendasi tempat kencan. Ya, besok adalah jadwal kencannya bersama Seina. Namun, hingga kini ia belum memiliki tempat yang akan mereka kunjungi. Sejenak, ia teringat kembali saat inspektur Heiji membocorkan hubungannya bersama anak dari Menteri Kehakiman itu. Mengingat hal itu, sontak membuatnya senyum-senyum sendiri.
Saat tiba di restoran tempat ia dan Tuan Matsumoto bertemu, Shohei terperanjat karena ternyata Seina ada di sana.
"Maaf, terlambat," ucap Shohei sambil duduk di samping Seina.
"Tidak apa-apa. Aku dan Papa juga baru datang," balas Seina tersenyum manis seperti biasa.
"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah ada sebuah kasus besar yang sedang kau selidiki?" tanya Tuan Matsumoto membuka obrolan.
"Ya, seperti biasa," jawab Shohei.
"Kudengar tugas penyidik sedikit berkurang sejak ada fenomena manusia bertopeng," canda Tuan Matsumoto sambil terkekeh, "Siapa, ya, namanya? Aku lupa." Tuan Matsumoto memandang ke jendela sambil mencoba mengingat-ingat.
"Black Shadow?" sebut Shohei.
"Ya, itu dia!" sambung Tuan Matsumoto kembali terkekeh.
Mendengar nama Black Shadow disebut, membuat wajah Seina kaku seketika. Ia sontak membeku. Bahkan untuk menggerakkan ujung kukunya pun terasa sulit. Yang ada, otaknya lagi-lagi mengilas balik kejadian saat ia dan pria misterius itu berciuman.
"Hei, kau kan seorang polisi, apa pendapatmu tentang Black Shadow?" Tuan Matsumoto melempar pertanyaan pada Shohei.
"Aku mendukung siapapun menegakkan keadilan selama tidak menyalahi hukum. Meskipun caranya berbeda, tetapi dia memiliki tujuan yang baik," jawab Shohei spontan tanpa keraguan.
"Kau benar. Aku pun berpikir demikian. Kupikir kau akan merasa terusik dengan kehadirannya yang menggeser posisi detektif-detektif terkenal sepertimu di mata masyarakat," ucap tuan Matsumoto sambil tertawa kecil.
Respon pria itu membuat senyum merekah tersemat di bibir Seina. Entah kenapa ia merasa senang. Mungkinkah karena Shohei sangat objektif dalam menilai, ataukah karena kekasihnya memuji pria yang telah sukses membuatnya penasaran dalam beberapa hari ini. Ia menggenggam tangan Shohei, sehingga membuat pria itu terkesiap. Namun, detik berikutnya Shohei turut membalas genggaman tangan Seina sembari menautkan jari-jemari mereka.
"Oh, iya, bagaimana dengan hubungan kalian berdua? Kelihatannya kalian cocok satu sama lain." Tuan Matsumoto mengalihkan pembicaraan sambil melihat keduanya.
"Kebetulan ada yang ingin kusampaikan pada Anda, Tuan," ucap Shohei sedikit gugup sembari menatap Seina.
"Apa itu?"
"Aku menerima usulan Tuan yang menginginkan kami berdua untuk segera bertunangan. Aku telah siap hidup bersama Seina."
Ucapan itu membuat Seina terlonjak. Secara spontan ia melepaskan genggaman tangannya.
.
.
.