
..."Karena hidup tidak selalu membicarakan pelangi yang muncul setelah hujan. Seperti pagi yang tak selalu cerah meski matahari telah terbit."...
...~Yamazaki Shohei~...
...----------------...
Berada dalam satu kamar setelah cukup lama tak bersama, membuat Rai dan Yuriko terlihat canggung satu sama lain. Apalagi, setelah adanya ungkapan hati yang lepas dari mulut mereka masing-masing. Entah kenapa, suasana mendadak aneh dan kikuk ketika mata mereka saling bertemu. Keduanya terdiam beberapa saat dengan tubuh yang terpaku dan terasa sulit untuk digerakkan.
"Aku ... mau mandi dulu!" ucap Yuriko menunjuk kaku ke kamar mandi yang ada di kamar mereka.
Rai mengangguk-angguk. "Aku ... ingin membersihkan kamar ini!" ucapnya cepat sambil berjongkok di pinggiran futon seolah tengah memperbaiki seprei.
(Futon: kasur lipat khas Jepang)
Begitu Yuriko masuk ke kamar mandi, Rai langsung terduduk sambil mengembuskan napas. Mengingat apa yang terjadi di plaza beberapa saat lalu, membuat wajahnya memerah. Saking ingin menghilangkan rasa malunya, ia berguling-guling ke sana-kemari, menyembunyikan kepalanya di bawah bantal, hingga bersalto-salto seperti orang bodoh. Pasalnya, ia tak pernah mengeluarkan air mata demi seorang wanita. Tidak sekali pun dan tidak untuk seorang pun!
Begitu juga Yuriko yang bersandar di balik pintu kamar kecil. Mengingat ucapan perpisahan sia-sia, ditambah lagi dengan ungkapan hatinya yang terdengar oleh semua tim, membuatnya langsung menenggelamkan kepalanya di dalam bak mandi.
Di kamar sebelah, Ryo mendekati kei yang sibuk bertatap muka dengan laptopnya. "Kei-san, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang membentuk gerakan SJW di Twitter," jawab Kei dengan jari-jemari yang bergerak lincah di papan tombol.
"SJW?" Ryo mengernyit.
"Sosial Justice Warrior atau para pejuang keadilan. Saat ini, media sosial sangat berpengaruh besar untuk mengeluarkan segala aspirasi dan kritikan tajam terhadap pemerintah. Aku akan mengumpulkan netizen-netizen kritis yang tidak gampang termakan hasutan media. Mungkin ini bisa membantu kita memiliki dukungan di media sosial."
"Oh, begitu. Kei-san memang aktivis sejati, penggerak pemuda masa kini!" puji Ryo. Ia memerhatikan dinding yang menjadi pembatas antara kamar mereka dengan kamar Rai dan Yuriko. "Kei-san, apa kau tidak merasa kamar mereka sangat tenang?" tanya Ryo dengan pandangan yang masih tertuju pada dinding.
Kei turut menatap dinding pembatas kamar mereka, lalu mengangkat bahunya. "Mungkin mereka sedang istirahat."
"Mana mungkin! Aku kenal betul Oniichan, dia ahli dunia peranjangan. Tidak ada seorang perempuan pun yang mampu menolak pesonanya. Oniichan dan Yuriko pasti sedang asyik ...." Kalimat itu tak diteruskan, Ryo malah terkikik.
"Benarkah? Kalau begitu aku harus banyak belajar darinya!" sahut Kei yang mendadak antusias.
Yuriko keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk minim yang melingkar di tubuhnya. Rai yang tengah berguling-guling, lantas kembali berpura-pura membersihkan futon. Sementara, Yuriko masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Untuk meminta Rai keluar dari kamar itu pun tak bisa ia lakukan. Padahal, dulunya setiap habis mandi dan ingin memakai pakaian, ia akan meminta pria itu keluar kamar bahkan mengusirnya secara paksa.
Bingung dengan suasana aneh ini, Rai segera mengambil handuk lalu menggantungkan di lehernya. "Aku ... mau ... mandi dulu!"
"Ah, iya ...." Yuriko segera berpindah cepat agar tak menghalangi Rai yang hendak masuk ke kamar mandi.
Saat masuk ke kamar mandi, Rai langsung menepuk-nepuk pipinya seraya menatap cermin. "Aarrggh, sadarlah! Kau adalah Rai Matsui! Rai Matsui sang penakluk tak mengenal rasa canggung terhadap perempuan!"
Merasa sudah menguasai dirinya, Rai pun membuka kamar mandi. Ia sampai lupa kalau Yuriko juga baru saja selesai mandi. Sontak, ia langsung disambut suara teriakan histeris gadis itu yang baru saja melucuti handuknya dan tampil polos.
Teriakan Yuriko rupanya terdengar hingga ke seberang kamar. Bukannya kaget, Ryo malah berkata, "Apa kubilang, kan? Oniichan itu ahli ranjang, buktinya Yuriko-chan sampai mengerang hebat seperti itu!"
Ryo dan Kei pun keluar kamar. Bertepatan dengan itu, pintu kamar sebelah juga terbuka diikuti Rai yang tertendang keluar dan langsung tersungkur di lantai. Dua bantal yang ikut terbang dari dalam kamar lantas menghantam tepat ke muka Ryo dan Kei.
Di sisi lain, Shohei masih diselimuti duka atas kematian Seto dan kritisnya Ai. Mengantar Seina pulang ke rumahnya, sepanjang jalan pria itu hanya diam dan fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke depan. Sementara, Seina turut membungkam mulutnya, meskipun ada banyak sekelumit pertanyaan di otaknya. Ia masih tak percaya mengetahui kekasihnya itu adalah sosok yang berada di belakang Black Shadow selama ini. Entah kenapa, ini membuatnya menjadi canggung karena sebelumnya ia malah tergila-gila pada Black Shadow, tokoh ciptaan kekasihnya sendiri.
"Shohei-kun," panggil Seina pelan setelah keduanya saling memelihara kebisuan.
Shohei menoleh, tetapi masih tak bersuara.
"Apa aku boleh menginap di kondominiummu malam ini?"
Permintaan Seina, sedikit mengejutkan pria itu. Namun, ia langsung mengangguk mengiyakan. Mengingat, gadis itu baru saja mengalami penculikan dan penyekapan.
"Itu adalah kediaman kita berdua. Kau bebas datang kapan saja," ucap Shohei.
Di waktu yang sama, Kazuya Toda memasuki gedung kantei yang merupakan kantor sekaligus rumah bagi Perdana Menteri. Ia mendapat panggilan dari pejabat nomor satu Jepang itu usai melakukan konferensi pers. Di sana, perdana menteri mempertanyakan kembali pernyataan yang Kazuya Toda ucapkan pada awak media tentang kelompok terroriss Black Shadow.
"Benarkah semua itu? Benarkah ... Black Shadow bukan seseorang tapi sebuah kelompok berpaham radikall?" tanya Perdana Menteri masih tak percaya. Sebab, ia sempat terkesan dengan sosok Black Shadow meskipun pejabat di bawah pemerintahannya banyak yang telah diringkus.
"Lakukan yang terbaik demi keamanan rakyat dan negara!" titah Perdana Menteri yang langsung memberikan kepercayaan penuh pada Kazuya Toda dalam menggerakkan personil keamanan negara untuk mencari empat orang yang diduga masuk ke kelompok Black Shadow.
Kazuya Toda keluar dari gedung kentai dengan senyum kemenangan.
"Kenapa Anda hanya ingin memburu empat orang itu? Bukankah Yamazaki-san dan anak kepala kepolisian nasional juga bagian dari mereka?"
"Tujuan utamaku adalah membuat Yamazaki-san tak memiliki cara lain selain bergabung denganku," ucap pria tua itu dengan senyum dingin yang bertengger di bibirnya.
Di sebuah ruangan yang minim cahaya, terdengar suara rintihan kesakitan dari seseorang akibat penyiksaan yang terus dialaminya. Ya, pria itu adalah Yuta Inoo yang tertangkap oleh anak buah Kazuya Toda saat hendak melarikan diri ke luar negeri. Tubuhnya yang terikat terkapar lemah. Seluruh wajahnya dipenuhi luka-luka bekas pukulan, hingga mungkin sulit untuk dikenali.
Seorang pria berseragam hitam dengan wajah penuh kebengisan menginjak dadanya. "Cepat katakan, siapa saja orang-orang yang bekerja sama denganmu dalam membobol safe room?"
"Aku ... tidak tahu!" jawabnya lemah. Meskipun nyawanya di ujung tanduk, tapi ia masih memegang teguh prinsip yang mereka bentuk saat menjalankan misi, yaitu jika ada salah satu dari mereka ada yang tertangkap melakukan penipuan, itu akan menjadi tanggung jawab diri sendiri bukan anggota.
Satu tendangan kembali menghantam wajahnya, hingga darah segar menetes dari lubang hidungnya.
Seseorang menarik paksa rambutnya, lalu berkata dengan tak kalah sangar. "Kau pasti bekerja sama dengan Black Shadow! Jika kau ingin hidup lebih lama, sebaiknya beritahu pada kami keberadaan Black Shadow!"
"Aku tidak mengenalnya! Aku benar-benar tidak tahu dengan Black Shadow yang kalian maksud!" teriak Yuta dengan rasa ketakutan yang menguasai dirinya. Ia tak mengerti kenapa mereka menuduhnya bekerja sama dengan sosok yang sama sekali tak dikenalinya.
"Dia berbohong! Jelas-jelas Black Shadow beraksi tepat saat dia membobol sistem keamanan safe room," ucap salah satu dari mereka.
"Ya, benar. Waktunya sama persis! Pria ini masih saja tak mau mengaku bekerja sama dengan Black Shadow," timpal lainnya seraya menendang perut Yuta.
Mendengar obrolan mereka, Yuta pun mencoba memundurkan ingatannya. Malam itu, tepat saat Rai mengatakan pintu safe room telah terbuka, tiba-tiba saja komunikasi mereka terputus dan tak berkontak dengannya hingga kini. Kemudian, ia teringat saat Rai datang menemuinya untuk meminjam uang.
Sebelum itu, ia sempat tercengang pada saat Rai menolongnya dari empat orang berseragam yang sama seperti orang-orang di hadapannya saat ini. Jujur, ia sempat tak menyangka yang menolongnya itu benar-benar Rai. Pasalnya, selama sepuluh tahun berteman dan tujuh tahun tinggal bersama, ia tahu betul pria itu tak pandai bertarung apalagi menguasai bela diri. Namun, malam itu Rai benar-benar menunjukkan kemampuan bela diri yang heroik, seperti bukan dirinya.
Salah satu dari pria-pria berseragam itu lalu berkata, "Orang ini tetap berlagak tak mengenali Black Shadow untuk melindungi pria itu. Lebih baik kita bunuh saja dia!"
"Aku ingat sekarang!" teriak Yuta seketika.
.
.
.
catatan author ✍️
SJW kepanjangan dari Sosial Justice Warrior.
Di Indonesia juga ada SJW yaa... Mereka aktif di Twitter dan berani speak up tentang isu-isu yang kurang terangkat yang berhubungan dengan keadilan, diskriminasi dan gender. Mereka ini kebanyakan aktivis feminis. Di media sosial, mereka ini kurang disukai, bahkan sering diolok-olok sampai dibuatin meme gitu. Ya, resiko pejuang memang selalu gitu, banyak yang gak suka.
Tapi, ada juga yang gak suka sama mereka karena sering menganggap orang yang berbeda ideologi dengan mereka itu salah.
Kalau aku sendiri, Mandang SJW Indonesia ini ada plus minus, mereka sangat membantu untuk mengangkat masalah-masalah yang awalnya tidak diketahui banyak orang dan tidak tersentuh hukum. Seperti pelecehan-pelecehan yang terjadi di ruang lingkup universitas, pelecehan tokoh publik, kasus-kasus perundungan/bully dan kekerasan yang tidak diusut kepolisian dan masih banyak lagi.
Tapi ada beberapa ideologi mereka yang gak cocok sama ideologi aku. Soalnya mereka pendukung kaum 🌈. Aku juga pendukung kesetaraan gender, anti toxic masculinity, anti double standar people, anti sandwich generation, dan bukan orang yang melanggengkan budaya patriarki. Tapi, untuk mendukung kaum pelangi, aku engga ya, karena itu gak sesuai dengan keyakinan yang aku anut. Jadi aku cukup jadi penyimak dan mendukung apa yang mereka perjuangkan. Untuk jadi bagian dari mereka, enggak deh.
.
.
.
jangan lupa like dan komen ya