
Semua terkejut dengan apa yang baru saja diputuskan Shohei. Pasalnya, tak ada yang tahu keretakan hubungan persahabatan antara Shohei dengan Rai, sekalipun Yuriko.
"Apa itu tidak berbahaya? Kau polisi aktif dan memiliki jabatan. Jika ketahuan, kau akan dikeluarkan!" sahut Kei mencoba memperingati Shohei.
"Apa yang membuat shohei-san tiba-tiba ingin menggantikan Rai-kun sebagai Black Shadow?" tanya Yuriko menyambung tanggapan dari Kei.
"Ano ... apa yang terjadi dengan Oniichan? Kenapa tiba-tiba dia tak lagi menjadi bagian dari tim ini?" tanya Ryo dengan raut sungkan.
Shohei bergeming sesaat. "Aku dan Rai tidak lagi berada di jalan yang sama," ucapnya tanpa ada garis senyum yang terpatri di wajah.
Semua pun dikejutkan kembali dengan pernyataan Shohei.
Shohei kini malah membungkuk di hadapan mereka bertiga. "Sebelumnya, aku memohon maaf pada kalian semua karena selama beberapa hari ini aku tidak bisa fokus. Masalah aku dan Rai, tidak perlu kalian khawatirkan karena tidak ada kaitannya dengan misi ini. Ke depannya, aku akan berusaha untuk tidak melibatkan urusan pribadiku lagi." Ia menoleh ke arah Ryo sambil berkata, "Aku mempersilakan kau memilih, apakah tetap bersama di tim ini, atau berhenti dan keluar dari misi ini.
Ryo membulatkan mata. Dia langsung berdiri dengan dada yang sengaja dibusungkan. "Aku tetap akan berdiri di tim ini, meskipun kakakku sudah tidak lagi bekerja sama denganmu."
Shohei mengulas senyum. "Kini aku tahu kenapa Rai mengajakmu untuk ikut bergabung di tim ini."
Pria berkaca mata itu lalu membuka tirai lipat hingga terpampang skema para pejabat dan politikus yang menjadi target Black Shadow selama ini. Foto Kazuya Toda masih terpampang di tengah skema itu sama seperti waktu itu. Namun, Shohei menghapus keterangan di bawah foto, mengganti tulisan dari kepala kepolisian nasional menjadi kepala badan keamanan nasional.
"Kazuya Toda kini telah menjadi kepala keamanan nasional, sedangkan yang mengisi jabatannya semula sebagai kepala kepolisian nasional adalah jenderal Otaka. Lalu, Eita Kaze yang merupakan orang kepercayaannya selama ini telah menjadi salah satu petinggi di Badan Intelejen Negara," tutur Shohei menjelaskan.
"Dia benar-benar telah mencapai posisi ini! Bahkan anak buahnya turut dipromosikan," decak Yuriko tak percaya.
"Selama beberapa hari ini aku berusaha masuk ke lapas untuk mewawancarai sembilan orang yang pernah bekerja sama dengannya. Tapi sayangnya, tak satu pun dari mereka mau membuka mulut. Aku sampai tak habis pikir kenapa mereka kompak menyembunyikan kejahatan Kazuya Toda! Keluarga polisi yang tewas atas peristiwa pengeboman tujuh belas tahun yang lalu juga tak begitu mengenalnya. Jadi, kita tidak bisa membongkar kedoknya lewat mereka." Kei mendengus seraya berkacak pinggang.
"Itulah yang disebut dengan sebuah kriminal rapi dan terencana. Di dunia ini ada kejahatan yang terlihat dan tidak bisa terlihat. Apa yang dilakukan Kazuya Toda adalah sebuah kejahatan yang tak terlihat," balas Shohei merespon ucapan Kei.
"Tapi ... aku menemukan hal menarik tentang Eita Kaze!" imbuh Kei seketika, "sepertinya dia melakukan bisnis penjualan senjata api ilegal."
Kei kemudian menunjukkan bukti-bukti foto pertemuan Eita Kaze dengan seorang pria misterius di gudang belakang pelabuhan Tokyo. Ya, beberapa hari ini Kei memang sering menguntit kaki tangan Kazuya Toda itu demi mendapatkan sebuah informasi. Ia juga nekad mengambil foto-foto itu dengan sengaja menyusup masuk di kapal yang dinaiki Eita Kaze.
"Sugoi!" Yuriko dan Ryo kompak berdecak kagum.
Shohei mengambil salah satu foto tersebut, di mana terlihat jelas sosok pria asing yang tengah berbicara dengan Eita Kaze.
"Foto itu aku ambil dalam kapal yang dinaiki Eita Kaze. Dari GPS ponselku menunjukkan titik berhenti kapal itu tepat berada di luar perbatasan laut Jepang. Di sana dia bertemu dengan pria ini. Aku lalu berusaha menyelidikinya. Ternyata pria ini merupakan salah satu jenderal besar di Rusia. Aku juga mencari tahu profil jenderal ini. Dari info yang kudapat di internet, dia adalah jenderal yang bertugas memasok persenjataan asing dari berbagai negara," jelas Kei sambil memundurkan ingatannya kembali saat ia menyusup kapal yang dinaiki Eita Kaze. Ia telah menunjukkan keahliannya sebagai wartawan yang gemar mencari tahu sesuatu sampai ke akar-akarnya.
"Dia melakukan pertemuan dengan jenderal asing di laut lepas agar tidak terendus angkatan laut dan penjaga laut Jepang. Pasti dia tengah melakukan transaksi di sana," selidik Shohei sambil mengelus dagu.
"Dari situ aku menyimpulkan kemungkinan mereka menjalin kerja sama bisnis persenjataan," sambung Kei.
"Jika Eita Kaze yang melakukannya, kemungkinan besar itu merupakan perintah dari Kazuya Toda. Kemungkinan juga dia telah melakukannya sejak menjabat posisi sebagai komandan pasukan jitu. Artinya, bisnis ilegal itu telah terjadi sejak lama." Shohei mulai melalukan analisis, "tapi, ke mana aliran dana jual beli itu mengalir?" tanyanya sambil memicingkan mata.
Mata Shohei berkilat tajam. Ia kembali mengambil salah satu foto yang menunjukkan lokasi gudang yang berada tepat di belakang kantor bea cukai pelabuhan. "Aliran dana itu tidak mengalir di rekening Kazuya Toda, tidak juga di rekening Eita Kaze. Mereka terlalu bodoh jika meletakkannya di tempat yang bisa terlacak oleh polisi dan kejaksaan. Itu artinya ... uang-uang haram itu di tempatkan di salah satu gudang ini," ucapnya yang mulai menggunakan insting detektif.
"Berarti kita tinggal menemukan bukti penyimpanan uang tersebut!" imbuh Yuriko.
"Siapa yang bersedia mengambil tugas Rai untuk meletakkan alat penyadap di salah satu anak buah Kazuya Toda?" tanya Shohei.
"Biar aku saja!" Yuriko langsung menawarkan diri.
"Baik. Selain itu, kita masih butuh informan yang bisa masuk ke dalam lingkaran Kazuya Toda," lanjut Shohei, mengingat semua itu sebelumnya merupakan tugas Rai seorang diri.
Kali ini giliran Ryo yang menawarkan diri. "Kalau begitu, aku akan masuk ke dalam lingkaran Kazuya Toda untuk menjadi informan tim."
Kei dan yuriko langsung melempar tatapan kaget ke arah adik kandung Rai itu. Merasa disangsikan oleh mereka, Ryo pun kembali berkata, "Jangan khawatir! Seperti yang pernah kukatakan di awal bergabung, keahlianku adalah melakukan berbagai penyamaran."
Shohei tersenyum tipis. Tentu ia tak meragukan kemampuan Ryo karena sebagai seorang pemimpin tim, ia selalu menanamkan kepercayaan pada anggotanya.
"Aku akan menggali lebih banyak info lagi tentang jual beli persenjataan ilegal yang mereka lakukan!" ucap Kei sambil berdiri.
"Kalau begitu, karena ini adalah misi berbahaya yang mungkin akan mengancam keselamatan, maka masing-masing dari kita harus memasang GPS agar kita bisa mudah saling melacak satu sama lain." Shohei mulai membagikan GPS yang berbentuk gelang karet dan earpiece kepada masing-masing anggotanya. "Ingat, Kalian bebas melakukan apa pun, kecuali membunuh!" pinta Shohei dengan raut serius.
Sekilas, ia mengingat kembali file rahasia yang disimpan mendiang Matsumoto. Saat ini, Seina sedang mencari tahu password file tersebut. Ia membongkar setiap buku catatan milik ayahnya. Namun, hasilnya nihil.
Di waktu yang sama saat Shohei memulai diskusi dengan timnya, Rai pun mengumpulkan anggotanya di basecamp mereka. Di meja bundar yang besar, salah satu anggotanya membuka peta lokasi gudang tempat penyimpanan harta milik Kazuya Toda. Yuta mulai menjelaskan isi peta tersebut, sekaligus memberi tahu jalur-jalur yang aman untuk melarikan diri jika kemungkinan terjadi sesuatu.
"Apa yang akan kau rencanakan selanjutnya untuk mengambil uang miliaran Yen milik pejabat itu?" tanya Yuta setelah sekian lama menanti Rai bersuara.
"Aku akan turun langsung seperti biasa, tapi sebelumnya aku ingin kau meretas koneksi jaringan internet kepolisian dan juga intelejen," ucap Rai sambil berbalik.
"Bukankah kita hanya perlu merusak sistem keamanan mereka agar pergerakan kita tak terbaca?"
"Tidak. Di hari itu, kita akan melempar bom ke berbagai titik kota Tokyo. Mereka akan sangat sibuk dengan bom yang kita tebarkan di kota ini," jawab Rai seraya duduk bersandar di sofa dengan santai.
.
.
.
halo semua, ada yang menantikan novel ini gak, sih? Dah enam harian loh aku libur nulis. ternyata nulis itu gak boleh lama-lama liburnya gais, bisa keterusan. ini aja kalo gak dipaksa, pingin libur terus nulis😂. kalo ada kata tipo, kalimat rancu spill aja soalnya ini aku masih dalam suasana belum 100% comeback nulisnya.
oke jangan lupa like+ Komeng biar semangat lanjut gais.