
Ruangan yang tadinya begitu hening, menjadi ribut seketika dengan kehadiran Black Shadow. Para mahasiswi menjerit heboh, sedangkan mahasiswa saling bertanya-tanya kenapa Black Shadow bisa kembali mendatangi kampus mereka. Seingat mereka, Black Shadow juga pernah datang ke kampus ini untuk melakukan aksinya terhadap salah satu anak pejabat.
Untuk Seina sendiri, tentu ia mengalami keterkejutan yang sama seperti dialami mahasiswa lainnya.
Akabane Ayumi masih mematung di depan sana dengan wajah tenang tanpa ekspresi. Mungkin, dia satu-satunya orang yang tak terpengaruh dengan kehadiran pahlawan penegak keadilan itu.
"Apa yang membawamu ke sini?" tanya Akabane Ayumi dengan ramah tanpa mengubah posisi pijakannya.
"Aku?" Black Shadow menunjuk dirinya sendiri sambil berjalan di antara meja-meja mahasiswa. "Tentu saja aku juga ingin belajar ilmu darimu, Sensei!"
Black Shadow duduk di bangku kosong, di mana deretan bangku itu sejajar dengan tempat duduk Seina saat ini. Ia memangku sebelah kakinya seraya bersedekap. Beberapa detik kemudian, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh mahasiswa yang menatap ke arahnya sambil berbisik-bisik.
"Sensei, apakah kau bisa lanjut? Jika kau terlalu lama mematung, mahasiswamu akan kehilangan konsentrasi," celetuk Black Shadow santai.
Akabane Ayumi menatap Black Shadow selama beberapa detik, sebelum mengalihkan pandangannya ke seluruh mahasiswa.
"Apa kita bisa lanjut kembali?" tanyanya kepada para mahasiswa.
Mahasiswa-mahasiswa itu mengangguk sambil mengatakan setuju.
"Karena saya telah membawakan materi selama satu jam, apakah ada di antara kalian yang ingin bertanya?"
Seseorang mengangkat tangan dan Akabane Ayumi langsung mempersilakan ia bersuara.
"Saya telah membaca buku biografi Sensei. Di antara banyaknya kegiatan sosial yang Anda lakukan, saya sangat terkesan karena Anda peduli pada orang-orang kurang mampu. Apa yang membuat Anda memiliki jiwa sosial yang tinggi?"
Akabane Ayumi tersenyum elegan, lalu berkata, "Saya hanya berusaha menempatkan diri jika berada di posisi mereka. Saat masih sekolah, saya sering melihat kesenjangan sosial. Kadangkala saya berpikir, kenapa harus ada istilah kaya dan miskin. Omong-omong, saya juga berasal dari kalangan tidak mampu. Ayah saya hanya seorang pedagang biasa. Oleh karena itu, saya bekerja keras untuk bisa keluar dari kemiskinan. saya bertekad, dengan kekayaan yang berhasil diraih, nantinya akan bisa membantu orang banyak. Itulah juga yang membuat saya ingin menjadi pemimpin. Agar seluruh masyarakat bisa merasakan kesejahteraan."
Black Shadow yang mendengar penuturan wanita itu, lantas membuang muka seraya mendelikkan mata.
"Cih! Pendongeng handal!"
Di sisi lain, Shohei baru saja menghentikan mobilnya. Masih berjas polisi, pria itu memasuki sebuah rumah yang cukup besar. Seorang wanita tua nan anggun, langsung menyambutnya dengan hangat.
"Okaa-san, aku pulang!" ucap Shohei sambil memeluk ibunya.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba datang ke rumah?"
"Tentu saja karena aku merindukanmu."
"Kau tidak pernah ke sini lagi sejak tinggal di apartemen. Okaa-san sangat kesepian."
"Gomen, ne. Ada banyak pekerjaan kantor yang harus kuselesaikan. Ke mana ottousan?" tanya Shohei sambil mendongak ke lantai atas.
"Dia sedang bermain golf bersama calon mertuamu. Omong-omong, kenapa kau tidak membawa calonmu ke sini?"
"Ah, aku memang ingin mengajak makan malam di rumah ini. Tapi, setelah pekerjaanku senggang."
"Kau ini masih belum berubah. Pekerjaan selalu menjadi prioritas utamamu. Jangan sampai pekerjaanmu membuat kau mengabaikan wanitamu. Bisa-bisa, dia akan lari dari sisimu nanti." Ibunya mengusap lengan Shohei dengan penuh kasih sayang.
"Okaa-san terlalu khawatir. Seina tidak seperti itu."
"Bagaimana Okaa-san tidak khawatir? Kau selalu mengabaikan hal lain jika sedang serius bekerja," ucap ibunya seraya tertawa kecil.
"Baik. Aku akan selalu ingat nasihatmu." Shohei menunduk sambil ikut tertawa.
Pria itu lalu menaiki tangga menuju lantai dua, kemudian memasuki ruangan yang cukup besar, di mana terdapat grand piano berwarna putih yang merupakan satu-satunya benda di ruangan itu. Ia lalu memosisikan duduk di depan piano, mengambil tablet dari saku jasnya kemudian memasang earpiece di telinga.
Shohei membuka aplikasi pemantau kamera. Lewat kamera tersembunyi yang berada di kalung Black Shadow, ia bisa ikut menyaksikan kegiatan perkuliahan yang sedang diisi oleh Akabane Ayumi.
Tangan kanannya menyapu deretan tuts piano dengan cepat. Dimulai dari tempo yang cepat, jari-jari tangannya menari di atas tuts hitam putih. Not demi not tercipta hingga membentuk sebuah melodi musik klasik Eropa berjudul BanYa dari Beethoven Virus.
Di ruang aula fakultas hukum, Akabane Ayumi masih melakukan interaksi tanya jawab dengan mahasiswa.
"Ya, silakan untuk yang mau bertanya lagi. Mungkin ada yang ingin bercerita tentang pengalaman hidup atau mencurahkan isi hatinya. Sebagai pengacara, kita harus membiasakan diri mendengar keluhan klien dan juga kisah kehidupannya. Kalian bebas melakukannya sekarang!"
Black Shadow mengangkat tangannya. "Aku ingin bertanya, Sensei!"
"Douzo!" (Silakan)
"Apa fungsi topeng untuk manusia?"
Pertanyaan Black Shadow tentu membuat para mahasiswa tergelitik.
"Fungsi topeng bagiku untuk menutupi identitas asliku. Bagaimana denganmu, Sensei?"
"Kau sudah menjawab fungsi topeng untuk dirimu sendiri. Tidak perlu menanyakannya pada orang lain, karena orang belum tentu tahu fungsi topeng itu untukmu."
Black Shadow kembali bersedekap. "Ah, kurasa aku salah membuat kalimat tanya. Biar kuulangi. Apa fungsi topeng yang kau pakai?"
Pada saat ini, Akabane Ayumi memunculkan reaksi gelap di wajahnya. Memiringkan sedikit kepala, ia berkata sembari menunjukkan wajah bingung. "Maaf, saya tidak mengerti maksudmu."
Black Shadow berdiri seketika, mengempaskan jas panjangnya ke belakang sambil berjalan ke arah Akabane Ayumi dengan perlahan.
"Mau kuperjelas? Tapi, kalau perjelas ... tidakkah ini cukup berbahaya untukmu?" ucapnya tepat di telinga wanita itu.
Akabane Ayumi tetap tenang seakan tak gentar seperti pejabat biasa. Berdiri sejajar dengan wanita itu, Black Shadow kemudian mengambil spidol lalu menulis sebuah kalimat dengan menggunakan bahasa Persia.
"Seorang pelukis, sekaligus ahli bedah asal Iran—Ala Bashir—pernah berkata: Dia telah menemukan topeng yang paling berbahaya, yaitu topeng yang digunakan orang-orang cerdas karena mereka pintar dalam penyamarannya," ucap Black Shadow mengartikan kalimat yang baru saja ia tulis. Ia lalu berjalan pelan, mengitari wanita itu sambil kembali berkata, "Jenis topeng yang dipakai oleh orang-orang seperti itu sangatlah canggih. Karena bentuknya transparan, bahkan tidak terlihat seperti sedang memakai. Topeng itu berfungsi membantu mereka agar bisa disenangi banyak orang. Jadi bisa dikatakan, topeng adalah sebuah bentuk kepalsuan bagi mereka."
"Saya setuju dengan Anda," balas Akabane Ayumi, "beberapa manusia memang membutuhkan topeng untuk menutupi wajah mereka sebenarnya. Sama seperti dirimu." Ia masih bisa tersenyum, meskipun telah dihantam oleh kalimat sarkas dari Black Shadow.
Black Shadow lalu berdiri membelakangi Akabane Ayumi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh mahasiswa.
"Topeng juga merupakan alat berkendaraan politik yang sangat mujarab. Dengan memakai topeng, para politikus mampu sampai ke kursi jabatan yang ia inginkan. Mereka tahu pasti, masyarakat mudah dibodohi dengan aksi-aksi sosial yang terlihat nyata dan terus menggunakan itu untuk menipu rakyat."
Pada saat ini, sudut bibir wanita itu tampak bergetar. Para mahasiswa pun saling berbisik. Bagi kaum intelek seperti mereka, tentu menyadari pernyataan Black Shadow adalah sebuah sindiran halus untuk wanita itu. Seina sendiri merasa kehadiran Black Shadow sekarang bukan tanpa sebab. Mengetahui kehadiran pria itu selalu berhubungan dengan pejabat bermasalah, membuatnya semakin yakin Akabane Ayumi adalah jawaban dari teka-teki yang diberikan pria itu.
Di tempat berbeda, Shohei makin larut dalam permainan pianonya. Tatapan matanya terus mengarah pada tablet yang berada di hadapannya, sedang jari-jarinya yang lihai menekan setiap tuts piano dengan lincah. Seakan dentingan musik klasik itu menjadi pengiring aksi Black Shadow saat ini.
Bibirnya tersungging senyum tipis, seiring otaknya mengilas balik beberapa potongan puzzle yang berhasil terangkai hingga menjadi jelas. Dimulai saat Black Shadow mengintai Akabane Ayumi bersama seorang gadis, kemudian gadis itu ditemukan tewas sehari setelahnya. Saat ia mendatangi bar tempat kakak gadis itu bekerja dan berbicara dengan pemilik bar. Melihat perbedaan CCTV di dalam dan di luar kafe. Dan terakhir, saat Black Shadow berhasil mendapatkan bukti yang menjadi penyebab gadis itu tewas.
Tak lama kemudian, beberapa petugas masuk dan langsung menghampiri Black Shadow.
"Maaf, Anda tidak diizinkan mengganggu proses perkuliahan. Anda harus pergi sekarang juga!" pinta salah satu dari petugas keamanan.
"Woah, apa-apaan ini! Padahal aku tidak melakukan keributan di sini." Black Shadow memalingkan wajah, lalu bertanya pada Akabane Ayumi. "Bagaimana Sensei? Apa kau terganggu dengan kehadiranku?"
"Tentu saja tidak. Tapi, setiap institusi memiliki peraturan yang telah mereka buat. Dalam hal ini, orang luar tidak bisa mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus ini," ucap Akabane Ayumi sambil tersenyum.
"Cukup, Black!" Mr. White memerintah dari balik saluran ear piece. Pria itu juga telah mengakhiri permainan pianonya.
Petugas itu kini hendak menarik paksa Black Shadow. Namun, Black Shadow menepis tangan mereka dari tubuhnya.
"Aku bisa keluar sendiri!" cetusnya sambil menyeringai. Black Shadow menoleh ke arah Akabane Ayumi yang tersenyum penuh kemenangan. "Sensei, jaga dirimu baik-baik! Aku khawatir, setelah aku pergi kau tidak bisa tersenyum lebar seperti ini," ucapnya dengan raut memelas yang dibuat-buat.
"Arigatou gozaimasu telah mengikuti kelasku hari ini," ucap Akabane Ayumi dengan kepala yang tegak.
Black Shadow berbalik, lalu berjalan perlahan menuju pintu keluar. Berjalan santai sambil mengantongi tangan, beberapa mahasiswi terus memanggil-manggil layaknya seorang idola yang berjalan di red karpet.
Seina terus menatap Black Shadow yang sebentar lagi akan keluar dari tempat itu.
Jangan pergi! Kau ke sini untuk menunjukkan pada kami semua kalau Akabane Ayumi tidak sebaik yang kami pikirkan selama ini, kan? Lalu, Kenapa kau menyerah begitu saja? Ayo berbalik! Aku akan terus mendukungmu ....
Seina terus berbicara dalam hati sambil menatap penuh harap ke arah pria itu.
Akabane Ayumi tersenyum sinis melihat punggung Black Shadow yang mulai menjauh darinya. Namun, tiba-tiba ruangan aula itu menjadi kacau seketika. Para mahasiswa terperanjat sambil melempar berbagai macam tatapan ke arahnya.
"Hah, aku tidak menyangka itu benar-benar dia!"
"Seharusnya dia tidak berdiri di sana dan mengisi mata kuliah kita."
"Orang sepertinya tidak pantas menjadi pemimpin!"
Mendengar hujatan mahasiswa yang mengarah padanya, Akabane Ayumi terlihat kebingungan. Menyadari ada yang tak beres, ia pun segera berbalik. Bola mata politikus wanita itu membesar tatkala melihat sebuah tayangan dirinya pada layar proyektor di ruangan itu.
.
.
.
aku sibuk dan buru-buru. bantu koreksi kalau ada yg tipo atau rancu. ntar aku revisi. arigatou gozaimasu. saya rekomendasikan instrumen BanYa Beethoven virus, ini salah satu instrumen favorit saya. silakan dengar di Yusup.com
like+komen