Never Not

Never Not
Ch. 37 : Kilas Balik



Beberapa menit sebelumnya, para pejalan kaki kompak mendongak ketika layar videotron tiba-tiba teracak. Mereka langsung berkumpul di bahu jalan karena yakin sebentar lagi siaran Black Shadow akan berlangsung. Di Departemen Kepolisian Metropolitan, seorang polisi berteriak menginfokan pada detektif Shu dan lainnya jika siaran Black Shadow sedang tayang. Sontak, mereka pun memutar televisi di ruangan itu. Hal serupa juga terjadi pada Yuriko, Seina, dan Kei Ayano yang fokus pada gawai mereka di tempat mereka masing-masing. Tak peduli ini sudah memasuki jam dua belas malam.


Benar, tak lama kemudian muncul tulisan "Black Shadow Comeback". Uniknya, hanya menampilkan suara seseorang. Layarnya pun hitam gelap tanpa ada setitik gambar.


"Apakah kau Black Shadow yang dipuja-puja orang-orang bodoh di luar sana?" ucap seseorang itu yang didengar langsung oleh khalayak.


"Dia siapa, ya?"


"Itu suara siapa?"


"Kenapa layarnya gelap?"


Itulah beberapa reaksi para penonton pada pembukaan siaran langsung Black Shadow. Mereka juga saling bertanya-tanya siapa pemilik suara tersebut.


"Kau pikir siapa kau berani mengungkap kejahatan yang telah kulakukan selama bertahun-tahun? Kau ingin tahu kebenaran di balik hilangnya gadis viral itu, kan? Lihatlah ... dia ada di sampingmu saat ini! Bahkan kau tidak bisa berbuat apa pun untuk membantunya bebas dari tempat ini." Suara dalam video itu kembali terdengar.


Para polisi sontak terlonjak mendengar gadis hostest itu disebut-sebut. Pada saat ini, orang-orang langsung mengetahui jika yang berbicara dengan Black Shadow saat ini adalah seseorang yang berkaitan dengan gadis hostest yang hilang itu.


"Apakah ini artinya Black Shadow dan gadis itu sedang disandera pemilik suara ini?" duga Seto Tanaka.


"Periksa di mana lokasi siaran ini diambil," pinta inspektur Heiji pada anak buahnya.


Semua orang kembali fokus mendengar ucapan pria itu. Satu per satu kalimat pengakuan yang terlontar dari mulutnya membuat publik tercengang. Di antaranya tentang alasan dia memperkerjakan tenaga asing, pencucian uang, hingga alasan gadis hostest itu disekapnya. Dari semua pengakuannya itu, beberapa dari mereka mulai menebak-nebak identitas pria itu.


"Rekam ucapannya sebagai alat bukti!" pinta inspektur Heiji kembali sambil terus mendengar ungkapan kejahatan yang dibuka pria dalam video tak bergambar tersebut.


Detik selanjutnya, publik dibuat tercengang dengan penampilan figur seorang pejabat menteri yang terpampang jelas dan besar di layar.


"Ah, dia Menteri sosial, Kento Hayase!" teriak orang-orang.


Saat ini, Black Shadow tersenyum dingin sambil mengingat ucapan Mr. White tempo hari yang mengatakan, mereka harus membuat Hayase Kento sendiri yang membongkar kedoknya di hadapan publik. Sebab, kejahatan pria itu terlalu rapi dan tidak memiliki celah untuk diketahui.


Black Shadow mengilas balik kejadian semalam saat ia berkelahi dengan anak buah Hayase Kento.


"Kalau seperti ini, aku bisa mati sia-sia," gumam Black Shadow dalam hati saat selang infus itu terus mencekiknya.


Ia pun berpura-pura tak sadarkan diri sebagai upaya menghentikan tindakan pria yang diutus untuk membunuh Shohei itu. Ya, setelah tubuhnya lunglai dan terlihat tak sadarkan diri, pria berbadan tinggi besar itu langsung melepaskan selang infus yang melilitnya. Sebenarnya, Black Shadow berniat melakukan serangan balasan saat itu juga. Namun, karena pria itu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang, maka Black Shadow memutuskan untuk tetap berlagak pingsan. Ia butuh informasi atas apa tindakan pria itu selanjutnya dan siapa orang di belakangnya.


Setelah pria itu menghubungi bosnya, dia pun langsung membawa pergi Black Shadow ke suatu tempat. Hingga tiba di gudang, pria bertopeng yang dielukan masyarakat itu masih berpura-pura pingsan. Ia didudukkan di kursi yang bersebelahan dengan gadis hostest. Ketika pria berbadan tinggi itu berbalik hendak mengambil tali, Black Shadow langsung berdiri dan menempelkan plester bius di belakang lehernya.


"Ichi (satu), ni (dua), san (tiga)!" Dalam hitungan ketiga, pria di hadapannya langsung jatuh pingsan.


Black Shadow tersenyum ringkih lalu menarik pria itu untuk menggantikan posisinya di kursi tadi. Ia mengikat kaki dan tangannya, lalu menyumbat mulut pria itu dengan sebuah kamera kecil yang memang tersimpan dalam saku celananya serta menutup kepalanya.


Black Shadow menoleh ke arah gadis yang tampak ketakutan. "Apakah kau Nona hostest?"


Gadis itu mengangguk pelan.


"Aku akan selamatkan kau dari sini, tapi tidak sekarang. Bersabarlah untuk beberapa waktu!" pesan Black Shadow meyakinkan gadis itu.


Saat ini, Black Shadow langsung melompat ke bawah. Bertepatan dengan itu, lima anak buah Kento Hayase langsung menyerangnya. Tak ayal, perkelahian pun tak terelakkan. Black Shadow memberi tendangan memutar pada lima orang sekaligus. Ia naik di punggung salah satu anak buah Kento yang terjatuh, lalu menghajar dan menendang setiap lawan yang mendekat. Pria yang punggungnya dinaiki itu berusaha berdiri, sehingga membuat Black Shadow terguling.


Dua orang datang memegang kedua tangannya untuk mengunci pergerakannya. Salah seorang berlari ke arahnya sambil memegang kayu besar. Namun, Black Shadow mengayunkan kedua kakinya untuk menendang perut lawan serta menyikut dua orang yang mencekal tangannya. Ini bukan hal yang sulit. Mengingat, dia telah mempelajari teknis pembebasan diri dari Shohei.


Ia berlari mundur dan sengaja menggelinding beberapa drum kosong ke depan untuk membuat mereka kerepotan mengejarnya, kemudian melempar satu drum ke arah dua lawan yang mengejarnya dari sisi kiri. Dia berdiri gagah di tumpukan drum yang membentuk piramida, lalu melompat indah memberi tendangan yang mendarat sempurna di masing-masing kepala lawan.


Aksi perkelahian mereka rupanya masih terekam kamera yang berada di mulut pria si pengganti Black Shadow. Orang-orang yang menonton adegan perkelahian Black Shadow dengan beberapa bodyguard Kento hanya bisa menahan napas. Begitu pula dengan Seina yang tampak mengkhawatirkan keselamatan pria bertopeng itu.


Baru saja hendak melangkah, sebuah suara dengan efek chipmunk menggaung di ruangan itu.


"Tuan Hayase Kento, bolehkah saya memberi sedikit nasihat pada Anda?"


Hayase Kento segera menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara yang namanya.


"Selagi kau tak bisa melihat punggungmu sendiri, kau tak pantas menyombongkan diri. Manusia selalu lupa jika dia bisa saja terjatuh selama masih menginjak tanah. Seperti dirimu sekarang, inilah kejatuhanmu saat ini," ucap pria bersuara Chipmunk.


Hayase Kento akhirnya sadar suara tersebut berasal dari speaker yang diletakkan di perut anak buahnya yang masih tersekap.


"Pertanggung jawabkan semua tindakan kotormu. Kau telah melakukan pelanggaran terhadap tenaga kerja asing dengan memberi upah di bawah standar minimum yang ditetapkan pemerintah. Kemudian melakukan pencucian uang selama bertahun-tahun lewat kasino. Kau menempatkan seluruh harta harammu dalam bentuk koin kasino. Lalu, koin itu kau tukarkan kembali dalam bentuk tunai. Setiap menjalankan misimu, kau memanfaatkan gadis hostest itu. Saat kasino ilegal itu digrebek kepolisian, pemilik kasino yang merupakan anak buahmu menggunakan alasan jika seluruh uangnya dibawa lari oleh gadis itu dan menjadikannya sebagai buronan kepolisian. Kau tak kehabisan akal dan meminta gadis itu untuk menyelundupkan seluruh uang dalam bentuk berlian yang dibeli langsung di toko perhiasan. Itu telah terbukti dari pengakuan pemilik perhiasan yang mengatakan nona tersebut membeli dua berlian yang berukuran sama dengan nilai yang fantastis. Agar tak ketahuan, dua berlian tersebut dijadikan sebagai mata boneka. Sayangnya, kau mengetahui gadis hostest itu mencoba berkhianat padamu, maka dari itu kau memutuskan untuk menyekapnya. Bukankah begitu Tuan Hayase Kento?"


Tuan Hayase Kento tampak tercengang. "Ba–bagaimana ... kau bisa mengetahui semuanya? Si–siapa kau sebenarnya?" tanyanya dengan mata yang terbelalak.


Seorang pria yang duduk di ranjang Rumah Sakit dengan infus yang masih melekat di tangannya lantas berkata, "Aku ... Mr. White. Sang pengendali Black Shadow."


Mr. White tersenyum dingin sambil kembali mengingat kejadian semalam. Tepatnya, saat dirinya baru sadarkan diri. Malam itu, Seina yang baru saja datang, terkejut melihat beberapa perawat berada di ruangan Shohei.


"Shohei-kun, sejak kapan kau siuman?" tanya Seina yang langsung menghampirinya dengan wajah yang senang.


"Kurasa sudah sejam lalu," ucapnya dengan suara lemah.


Dari Seina, ia pun mengetahui jika ponselnya telah hancur. Shohei meminta ibunya membawakan tablet yang tersimpan di kamarnya. Tablet itu sangat penting karena menyimpan aplikasi, username, serta kontak yang ia pakai bersama Rai dalam melancarkan aksi. Ia pun menghubunginya dan mengetahui jika Rai telah melakukan langkah besar yang berbahaya tanpa dirinya, yaitu masuk dalam gudang di mana gadis hostest itu berada.


"Aku akan melakukan aksiku malam ini, tapi semua ini tak akan berjalan lancar jika pelaku utama tidak muncul," ucap Rai siang tadi saat Shohei menghubunginya.


"Kau sudah melakukan yang terbaik," puji Shohei.


Berkat Rai juga, ia tahu skema pencucian uang berkedok koin kasino yang dilakukan Kento Hayase. Sebab, Rai dulunya adalah penjudi kelas kakap dan pernah menaklukkan kasino besar di Macau. Jadi, cara kotor seperti itu juga pernah dipakai olehnya. Meskipun begitu, penyelundupan uang haram lewat berlian yang dipasang di mata boneka telah diketahui oleh Shohei sendiri sebelum dia diserang dan mengalami penusukan.


Saat ini, polisi mendatangi lokasi gudang yang terletak dalam peta lokasi siaran langsung Black Shadow. Mereka menemukan Kento Hayase bersama keenam anak buahnya terikat di kursi dengan mulut yang disumpal kertas. Mereka juga segera menyelamatkan nona hostest yang masih berada di sana meskipun tali ikatannya sudah terlepas. Tampaknya gadis itu terlalu lemah, sehingga tak mampu untuk berjalan.


Seto Tanaka mengambil kelopak bunga camelia yang berserakan di lantai gudang tersebut. Kepalanya berkeliling untuk mencari-cari keberadaan Black Shadow. Tanpa ia tahu, ternyata pria bertopeng itu baru saja keluar dari gudang.


Bersandar di dinding luar gudang, Black Shadow sedang berkomunikasi dengan Mr. White lewat earpiece yang terpasang di telinganya.


"Aku sangat senang kau sudah pulih. Kau tahu, karena kau kritis, aku jadi terpacu membongkar kedok pria itu, apalagi dia sudah membuatmu seperti ini," ujar Black Shadow yang masih geram.


"Arigatou, kau sudah berusaha keras meski tanpa diriku. Tapi, sepertinya orang yang menyerangku saat itu bukan suruhan dari Kento Hayase," balas Mr. White mengingat kejadian penusukan tersebut.


"Kalau bukan dia, lalu siapa?


Mr. White terdiam. Dia mengingat satu nama yang belum diketahuinya.



sapa yang mau temanin engkong jenguk kang Sholeh?


.


.


.


kasih aku jempolmu donk, Bray