
Berita tentang Black Shadow yang hendak menghampiri Perdana menteri, mengundang reaksi publik. Ada banyak siaran langsung dari akun-akun masyarakat yang menunjukkan bagaimana pria bertopeng itu berusaha menerobos pasukan keamanan perdana menteri hingga mendapat serangan tembakan sebanyak dua kali. Aksi Black Shadow kali ini turut mendapat berbagai tanggapan dari publik.
"Dia sudah ditembak, tidak perlu memukulnya sampai membabi buta seperti itu!"
"Dia tidak terlihat seperti hendak menyerang. Dia terus memanggil perdana menteri bahkan ketika sudah dibekuk."
"Dia hanya ingin menemui perdana menteri."
"Mereka memperlakukan Black Shadow seperti maling yang tertangkap basah, sampai lupa bahwa Black Shadow pernah menangkap basah para maling negara!"
"Aku tidak rela jika Black Shadow sampai mati!"
Banyak publik yang bersimpati pada sosok bertopeng itu. Sampai saat ini masih belum diketahui apa yang membuat pria itu nekad menerobos pasukan keamanan Perdana Menteri bahkan rela ditangkap dalam keadaan tertembak. Tagar #SelamatkanBlackShadow menjadi trending satu di Twitter dalam hitungan detik.
Kei masuk ke gedung perusahaan media tempatnya bekerja. Dengan langkah buru-buru ia langsung menerobos ke ruangan direktur utama.
"Ayano-san, kau sudah pulang dari liburan, ya?" Direktur utama itu menyapanya dengan sungkan karena sebelumnya dialah yang meminta Kei untuk berhenti sejenak dari aktivitasnya sebagai seorang jurnalis.
Kei langsung meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja direktur. Itu adalah artikel yang diketiknya selama semalam penuh.
"Apa ini?" tanya direktur bingung.
"Aku menulis artikel yang memuat tentang kasus konspirasi besar terhadap Black Shadow terkait kematian menteri kehakiman. Mereka menyewa hacker untuk meretas siaran Black Shadow. Lihatlah ini!" Kei menunjukkan foto yang menunjukkan perbedaan fisik antara Black Shadow asli dan tiruan.
"Ini terlihat tak jauh berbeda!" ucap direktur tersebut seraya mengamati dua gambar yang sama-sama menunjukkan foto Black Shadow yang diambil dari rekaman-rekaman siaran langsung yang telah berlalu.
"Benar. Ciri fisik mereka sekilas terlihat sama. Tapi coba lihatlah bentuk giginya!" Kei menunjukkan hasil analisis kedua gambar tersebut.
Direktur tersentak seketika. Ya, bentuk bibir, rahang dan dagu mereka memang mirip. Diperkuat dengan tinggi badan yang juga sama, tapi susunan gigi depan mereka berbeda. Black Shadow asli memiliki deretan gigi depan yang rapi, rapat dan putih bersih. Ini karena Rai dulunya adalah pria metroseksual yang sangat memerhatikan penampilan.
"Aku juga telah menyelidiki kasus safe room. Eita Kaze memang ikut terlibat, tapi dia bukan dalang dari kasus jual beli senjata ilegal. Jenderal Toda menjadi tokoh utama dari semua ini. Dia juga yang membuat skenario seolah-olah Black Shadow yang melakukan pengeboman di Shibuya. Aku memiliki bukti dan data-data kejahatannya!" Kei menjelaskan dengan nada yang meluap-luap sambil menunjukkan bukti-bukti data yang diambil dari laptop Yuta.
"Benarkah begitu?" Direktur mencoba membaca data asli yang dipalsukan oleh Kazuya Toda serta bukti transaksi penjualan senjata api. Matanya terbelalak seketika diikuti raut yang tak percaya, "Ayano-san, ini ... skandal besar kepolisian! Bagaimana kau bisa memiliki bukti data-data ini!"
"Selama kau mengistirahatkan aku, aku sibuk mencari kebenaran. Aku mohon izinkan aku menerbitkan artikel-artikel ini sekarang juga! Onegaisimasu ...." Kei membungkuk penuh.
(N: Onegaisimasu\= aku mohon)
Direktur itu terdiam sejenak seraya menunjukkan sikap dilematis.
Kei berusaha meyakinkan kembali direkturnya. "Direktur, ingatlah media adalah penyambung lidah rakyat!Dan tugas jurnalis menyuarakan orang-orang yang tak berani bersuara. Jika kita menerbitkan artikel ini, media lain pun ikut menggali dan rakyat akan aktif. Onegaisimasu."
Masih bimbang, direktur berkata pelan. "Bukannya tak menghargai kerja kerasmu, tapi yang akan kita lawan ini sangat berisiko. Aku takut akan berdampak dengan perusahaanku nantinya. Kau mengerti, kan?"
Kei yang masih membungkuk, hanya bisa memejamkan mata dalam-dalam. Usaha untuk menerbitkan artikel yang ia buat, hanya sia-sia belaka. Ia cukup sadar diri untuk tak memaksa direktur karena ada ribuan pekerja yang bergantung di perusahaan ini. Ia tak ingin nasib perusahaan ini seperti program acaranya yang dipaksa berhenti sejak kematian pamannya.
Di waktu yang sama, seseorang masuk dan mengabarkan bahwa kepala kepolisian nasional tengah membuat pengakuan terkait penjualan senjata ilegal. Sontak, direktur langsung memutar televisi untuk menyaksikan langsung tayangan tersebut.
Jenderal Otaka berdiri di mimbar sembari menatap puluhan wartawan yang tengah merekamnya secara langsung. "Saya, atas nama pribadi akan membuat pengakuan. Selama dua tahun terakhir, saya terlibat secara ilegal melakukan jual beli persenjataan yang disita negara ke Rusia. Saya juga terlibat pencucian uang yang disimpan di safe room, tepatnya gudang tak terpakai di bea cukai yang sempat diekspos Black Shadow. Apa yang saya lakukan hanyalah bagian dari memenuhi tugas saya sebagai bawahan kepala keamanan nasional Jenderal Toda Kazuya semasa menjabat sebagai kepala kepolisian nasional."
Seluruh wartawan tercengang seketika. Lampu flash dari kamera mereka terus terarah pada jenderal Otaka, disusul dengan serangan berbagai pertanyaan yang membuat ruang konferensi pers tersebut menjadi gaduh seketika.
"Tolong ceritakan secara detail!"
"Apakah Anda ingin mengatakan bahwa jenderal Toda adalah tersangka utama dari kasus ini?"
Menonton tayangan tersebut, membuat teman-teman Kei yang terdiri dari wartawan, jurnalis, reporter, dan tim redaksi terperanjat seketika.
Kei kembali menoleh ke arah direktur yang masih bergeming kaget. "Lihatlah! Kaki tangannya telah membuat pengakuan. Inilah saat yang tepat untuk mengungkap kebenaran!"
Direktur mengangguk. "Cepat panggilkan dewan redaksi dan tim editor, kita akan merilis artikel yang ditulis Ayano sekarang juga! Jangan sampai media lain duluan memberitakan ini!" perintahnya pada karyawan media yang ikut menonton.
"Siap!" Semua karyawan bergerak cepat.
Konferensi pers masih berlangsung dengan disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi dan akun-akun berita online. Jenderal Otaka menjawab satu per satu pertanyaan para wartawan tanpa ada yang ditutupi lagi. Bersamaan dengan itu pula, ia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai kepala kepolisian nasional dan siap mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
"Kepada semua yang telah mendengar pengakuan ini, mohon untuk tidak menghakimi keluarga saya. Apa yang saya lakukan bentuk dari kekhilafan pribadi. Tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga saya. Terutama anak saya yang juga seorang polisi. Dia benar-benar ingin menjadi polisi yang jujur." Jenderal Otaka menutup konferensi pers itu dengan membungkuk penuh selama lima menit.
Ai yang masih terbaring lemah di kamar rawatnya, menonton siaran langsung ayahnya sambil meneteskan air mata. Namun, bibirnya justru membentuk lengkungan senyum, menandakan betapa bangganya ia dengan sikap dan tindakan yang diambil ayahnya saat ini.
Sementara, Perdana Menteri yang telah diamankan, duduk bersandar sambil menenangkan dirinya. Tampaknya, ia masih syok dengan kejadian beberapa saat lalu.
"Apa yang membuat dia bersikeras ingin menemuiku?" Perdana Menteri bertanya-tanya dengan aksi Black Shadow kali ini. Ia lalu menatap para ajudannya yang berdiri di sisi kiri dan kanan. "Hei, kalian, kenapa harus menembaknya? Kenapa tidak ditangkap dan ditahan saja?! Siapa yang sudah menembaknya tadi?" tanya sang Perdana Menteri.
Para pengawal itu saling melirik.
"Bukan saya!"
"Bukan saya juga!"
"Saya hanya menjaga perdana menteri."
"Saya hanya sempat memukulnya karena dia berontak!"
Perdana Menteri malah semakin bingung karena masing-masing dari pengawalnya mengaku tidak menembak Black Shadow.
"Ah, aku sampai lupa ada janji makan siang dengan kepala kepolisian metropolitan!" Perdana Menteri berdiri, bersiap menemui Megumi Jun.
Di waktu yang sama, Shohei berada di puncak menara Tokyo Skytree. Berdiri di ujung pembatas gedung, wajah dingin tanpa garis senyum itu kembali teringat dengan aksi Black Shadow beberapa saat lalu. Ia mengambil tablet dari balik saku jasnya, kemudian mengunggah video Matsumoto yang terdapat dalam secret file.
Sesuai keinginan Perdana Menteri, ambulans datang membawa Black Shadow yang terkapar dan tak sadarkan diri. Ambulans itu membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Ternyata para awak media dan juga sejumlah polisi telah memenuhi tempat itu. Lampu flash dari kamera wartawan terus menghujam Black Shadow tepat saat dirinya dikeluarkan dari dalam ambulans dan digiring ke ruang operasi di UGD.
Tak berselang lama kemudian, Dokter dan para perawat memasuki ruang operasi bersiap untuk menangani luka tembak Black Shadow. Baru saja masuk, mereka malah terperanjat melihat ruangan itu kosong dan tak ada siapapun, hanya terdapat beberapa helai kelopak Camelia yang berserakan di atas brankar pasien.
Dengan langkah tegap dan aura kharismatik yang memancar, Rai keluar dari pintu lain ruang operasi. Pria itu memakai setelan tuksedo panjang hitam, senada dengan kacamata yang membingkai matanya. Matanya memancarkan kilatan perak, tepat saat ia melepas kacamatanya. Sudut bibir pria itu tertarik ke atas, menampilkan senyum yang berbahaya. Jempol kanannya bergerak pelan, mengusap bibirnya yang terdapat noda bercak darah.
Bukankah sudah sering kubilang, jika ingin berbohong secara natural kau harus menggabungkan setengahnya dengan kebenaran agar kau tak ketahuan sedang berbohong. Kebenarannya adalah mereka benar-benar mencegat dan memukuliku, sedangkan kebohongannya adalah mereka tidak menembakku. Jika para politik busuk gemar mencari simpatik rakyat, maka aku juga akan memakai cara yang sama untuk melawan kalian!
.
.
.
catatan author ✍️✍️
Sudah merupakan kultur di Jepang ya kalau para pejabat yang ketahuan korupsi atau para artis yang kena skandal, mereka bersikap tanggung jawab dengan mengakui perbuatannya di depan publik, serta mengundurkan diri dari jabatan/dunia hiburan. Mau atau tidak, harus mau. Mereka cuma punya pilihan itu. dan momen membungkuk setelah minta maaf itu juga menunjukkan seberapa menyesalnya mereka. Katanya sih semakin lama membungkuk, semakin menunjukkan kalau dia menyesali perbuatannya. seperti yang dilakukan jenderal Otaka, membungkuk selama lima menit. itu lama banget ya. semenit aja dah pegel.
like dan komeng jangan lupa