
Shohei tersandar di dinding dengan ekspresi yang dipenuhi keterkejutan tak terkira. Terjawab sudah siapa target kesepuluh yang selama ini membuatnya penasaran karena sulit terendus.
Jadi itulah kenapa pada waktu itu kepolisian dari divisi keamanan publik, pasukan bela diri Jepang, dan militer tiba-tiba mendatangi tempat penyekapan menteri kehakiman?
Jika ditilik kembali, pasukan penembak jitu kepolisian juga pernah diturunkan saat Black Shadow beraksi dengan alasan demi menjaga keselamatan menteri olahraga. Ternyata mereka semua digerakkan dalam satu perintah. Selain itu, tindakan korupsi, suap, pencucian uang, dan penggelapan pajak yang dilakukan kesembilan orang selama ini juga berada dalam lindungannya.
Pantas saja, kasus-kasus melibatkan sembilan orang yang berada dalam daftar hitamnya selalu dihentikan begitu saja. Selama ini, ia hanya berpikir bahwa tindakan kepolisian hanya berusaha melindungi kestabilan negara. Tak disangka, target kesepuluh itu berasal dari tubuh institusinya sendiri, yaitu pejabat tertinggi di kepolisian. Kepala kepolisian nasional jugalah yang menaikkan status Black Shadow sebagai buronan nasional dan mencekal tayangan mereka untuk tidak tampil di publik lagi.
Jika pejabat kesepuluh adalah Kepala Kepolisian Nasional, berarti kemungkinan besar yang menduplikat Black Shadow merupakan bagian dari anggota kepolisian. Tapi siapa?
Sekarang Shohei mengerti, tujuan peretasan siaran langsung itu, agar Kazuya Toda bisa menyingkirkan Black Shadow dengan menggunakan kekuasaan yang dipegangnya. Sebab, kepolisian tidak memiliki alasan untuk menangkap Black Shadow di setiap aksinya. Satu-satunya cara menyingkirkan Black Shadow atas nama hukum adalah dengan peristiwa besar yang memancing polemik di masyarakat. Dia bahkan menumbalkan menteri kehakiman agar Black Shadow dapat dikambinghitamkan seperti yang telah terjadi. Benar-benar orang yang licik!
Di kediaman tuan Matsumoto, kepala pelayan mengantarkan makanan di kamar Seina. Ini hari keempat pasca kematian ayahnya dan dia masih enggan keluar. Selama empat hari, wartawan silih berganti menunggu di depan pagar dan setiap harinya polisi juga datang untuk menanyakan kesiapan dirinya menjadi saksi atas kasus kematian ayahnya.
Shohei pun selalu mengunjunginya meski hanya sekadar menanyakan kabar gadis itu pada kepala pelayan. Bukannya tidak ingin menemui Shohei, tapi tuduhan korupsi yang dilakukan ayahnya membuat banyak netizen beranggapan jika dia tak pantas untuk menjadi kekasih ketua penyidik kepolisian.
Tubuh gadis itu semakin kurus. Matanya sembab dengan lingkaran gelap yang terlihat di bawah mata. Kesedihan yang menderanya dan juga hujatan publik yang diterimanya, tak hanya membuat kesehatannya menurun tapi juga mentalnya terguncang.
"Nona, tuan muda Yamazaki baru saja mengirimkan ini untuk Anda." Kepala pelayan menyerahkan buket bunga Camelia dan juga paket buah-buahan yang dikirim Shohei.
Seina mengambil buket bunga pemberian kekasihnya. Air mata Seina secara spontan mengalir saat melihat buket bunga itu. Sosok Black Shadow yang tersenyum menawan sambil menebarkan kelopak Camelia kembali membayang di ingatannya.
Rai dan Yuriko justru tengah memasuki gedung yang tak terpakai. Mereka menaiki tangga lalu memasuki ruangan yang menyerupai ruang kantor di mana terdapat dua meja kerja dengan tiga komputer. Terdapat pula sofa, layar proyektor, dan kamera monitor.
"Apa di sini tempatnya?" tanya Yuriko menatap sekeliling, lalu menjatuhkan bokongnya di sofa empuk.
"Ya, dia menyuruh kita menunggunya di sini," balas Rai sambil melepas ranselnya.
"Hei, kau sudah janji padaku akan memakai kostum Black Shadow begitu kita tiba di sini," tagih Yuriko. Meskipun telah memercayai Rai sebagai Black Shadow yang asli, tetap saja dia penasaran melihat pria itu berbalut kostum itu.
"Tunggu dulu, aku mau cari ruang ganti!" Kepala Rai menengok ke kiri dan kanan lalu menemukan pintu yang menghubungkan ruangan berukuran 3 x 3 meter. "Ah, aku ganti pakaian di sini saja!" ujarnya sambil masuk ke ruangan itu.
Selang lima menit kemudian, Rai keluar dan telah memakai kostum Black Shadow lengkap dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya.
Mata Yuriko terbuka lebar seketika. "Sugoi! Kau memang cocok memakai kostum seperti ini! Setidaknya pakaian ini membuat kau tidak kelihatan seperti orang susah."
Rai mengangkat bibirnya ke atas, menunjukkan mimik menyeringai. "Aku cocok memakai pakaian apa pun karena postur tubuhku mendukung!"
Secara bersamaan, Shohei dan Kei memasuki ruangan itu dan mengejutkan mereka berdua. Rai yang beradu pandang dengan Kei, langsung mengingat sosok jurnalis yang mengejarnya hingga ia terpaksa masuk ke kamar hotel yang ditinggali Seina.
"Aku benar-benar tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan Black Shadow," ucap Kei sambil tersenyum.
Yuriko yang terkesiap dengan kehadiran Kei langsung menghampiri pria itu bahkan masuk menerobos di antara kedua pria itu.
"Bukankah kau jurnalis terkenal dan seorang influencer? Ah, aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu kau di sini!" ucap Yuriko yang langsung mengambil tangan Kei untuk berjabatan dengannya.
"Konnichiwa. Hajimemashite," sapa Kei dengan ramah.
"Hajimemashite," balas Yuriko yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada sosok jurnalis cerdas yang sering menghiasi layar televisi itu.
Raut wajah Rai berubah seketika. Ia membuang pandangan sambil bersedekap. "Dasar mata keranjang!" gumamnya dengan suara yang kecil.
"Semuanya, tempat ini akan menjadi markas kita!" ucap Shohei yang kini berdiri di depan dinding yang ditutupi tirai lipat.
Ucapan Shohei langsung mengalihkan perhatian mereka bertiga. Mereka kompak menatap padanya seakan siap mendengar instruksi.
"Matsui Rai, Ayano Kei, Aizawa Yuriko, dan aku Yamazaki Shohei. Mulai sekarang kita adalah sekutu dan akan bekerja dengan pembagian masing-masing," ucap Shohei dengan raut serius dan nada suara yang tegas.
Rai, Kei dan Yuriko saling melirik sambil berbalas senyum. Mereka adalah tim yang dibentuk Shohei untuk misi target kesepuluh tentunya dengan keahlian dan kelebihan masing-masing.
"Oh, iya, aku lupa! Masih ada satu orang lagi, kan?" tanya Shohei pada Rai.
"Ya, dia seorang programmer dan juga ahli editing," jawab Rai yang masih mengenakan kostum Black Shadow.
Tepat setelah Rai berkata, terdengar suara ketukan pintu di ruangan itu. Mereka saling melirik dalam keheningan.
"Biar aku yang buka!" Kei langsung berjalan menuju pintu dan membukanya.
Di hadapannya saat ini, Ryo berdiri dengan menampakkan raut kebingungan.
"Kau siapa?" tanya Kei mengerutkan kening.
"Oh, iya? Siapa nama kakakmu?" tanya Kei yang bersedekap sambil bersandar di tiang pintu. Ia melirik papan identitas karyawan Yamada grup yang menggantung di saku depan kameja Ryo.
Ditatap seperti itu membuat Ryo menggaruk-garuk kepalanya. "Ah, kurasa aku salah alamat. Mana mungkin kakakku ada di sini. Aku permisi dulu," ucapnya sambil berbalik hendak pergi.
"Ryo-chan!" panggil seseorang di dalam sana.
Ryo tersentak seketika. Pasalnya ia seperti mendengar suara kakaknya. Ia langsung melongok ke dalam ruangan tersebut. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Yuriko yang tengah duduk santai di atas sofa.
Secara refleks jari Ryo mengacung ke arah Yuriko. "Kau bukannya ...."
Tentu saja ia mengenal Yuriko sebagai tetangga kakaknya. Pria yang bekerja di perusahaan Yamada grup itu langsung mengedarkan pandangan dan kembali terkejut melihat Shohei yang juga berada di ruangan itu. Ya, lagi-lagi dia melihat keberadaan orang yang dekat dengan kakaknya.
"Apa dia masuk di tim kita?" tanya Kei.
"Ya. Dia juga masuk di tim kita. Selamat bergabung, Ryo-kun," ucap Shohei menyambutnya dengan penuh hangat.
Dahi Ryo tampak berkerut. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Kehadirannya di sini karena kakaknya tiba-tiba mengirim pesan dan memintanya datang ke tempat ini.
Di tengah kebingungan yang melandanya, ia kembali terhenyak saat seseorang berkostum Black Shadow mendekatinya. Mengingat berita pembunuhan pejabat negara yang dilakukan Black Shadow, membuat Ryo secara tak sadar berjalan mundur hingga memeluk tiang pintu karena ketakutan.
"Ryo-chan, ini aku!"
Mata Ryo terbelalak seakan hendak meloncat. "Apa? Onii-chan?"
Rai membuka topengnya. "Ya, ini aku!"
"Ke–kenapa kau ... me–memakai kostum seperti i–tu. Ka–kalau ada polisi yang melihat, mereka pasti akan menangkap Oniichan karena disangka Black Shadow," ucap Ryo yang terbata-bata dan masih menunjukkan wajah ketakutan. Ia bahkan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah ada orang lain di dalam gedung itu.
"Ryo, gomen, ne. Aku tidak mengatakan padamu selama ini. Mungkin kau akan terkejut atau menganggap ini tidak masuk akal. Aku adalah Black Shadow. Aku tidak ingin menutupi rahasia ini lagi darimu."
Mata Ryo membulat sempurna. Sesaat kemudian, ia malah tertawa bodoh karena menganggap kakaknya hanya berpura-pura.
"Apa-apaan ini? Kenapa kau tidak mengaku saja sebagai tokoh fiktif terkenal, Harry Potter atau Spiderman misalnya. Aku tidak akan tertipu dengan leluconmu," ucapnya sambil tergelak.
Melihat ekspresi Rai yang serius, ditambah ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu juga menunjukkan air muka yang sama membuatnya terdiam seketika.
Ryo menatap kakaknya dari ujung kaki hingga atas kepala. "Apakah ... Oniichan serius?"
"Iya."
Ryo mengangguk-angguk kecil sambil menutup rapat-rapat bibirnya. Detik berikutnya, mata pria itu tampak memutar ke atas dan tungkai lututnya melemas seketika. Dia jatuh pingsan!
Shohei Yamazaki
Rai Matsui
Kei Ayano
Yuriko Aizawa
Ryo Matsui
Siapa lagi kira-kira yang akan masuk di tim mereka? Yang nebak dengan benar mendapat hadiah satu bungkus minyak goreng tanpa isi🥳🥳. Jangan lupa like dan komeng.
.
.