
Begitu melihat dia tenang, aku mencoba menjelaskan kalau kami adalah jurnalis asal Jepang yang membantunya sore tadi. Aku juga menjelaskan bahwa dirinya terluka dan tempat tersebut kembali mendapat serangan sehingga kami terpaksa membawanya ke sini. Aku tak tahu apakah dia paham dengan apa yang kukatakan, tapi kurasa dia mengerti karena sudah tak sepanik tadi.
"Sebaiknya kau beristirahat dulu di sini! Besok pagi, kami akan mengantarmu ke Rumah Sakit agar lukamu lebih mendapatkan penanganan yang sesuai," ucapku terbata-bata sambil menggerakkan kedua tangan yang menjadi penunjang agar ucapanku dapat dimengerti.
Karena dia hanya diam saja, aku mengambil kembali bantal dan selimut yang sempat dilemparkan ke arahku. Aku berjalan beringsut pelan ke arahnya bermaksud memberikan bantal dan selimut itu. Namun, dia malah bergerak mundur ke belakang seakan menghindariku. Tak ingin membuatnya kembali panik, aku hanya meletakkan selimut dan bantal itu di tepi ranjang lalu pergi.
"Tidurlah!" ucapku sambil memperagakan gaya orang yang tertidur anggun.
Lagi-lagi mata tegasnya menunjukkan sorot penuh waspada. Sejenak kulihat lirikan matanya tertuju pada So yang tidur terlentang di depan pintu kamar itu.
Di depan pintu kamar, aku berkata, "Aku akan menjagamu di sini."
Aku menutup pintu kamarnya , lalu duduk bersandar tepat di hadapan So yang terlelap. Malam ini kami berempat semua tertidur di luar.
Keesokan harinya, dia duduk dalam kepungan kami. Rekan-rekanku berusaha menggali informasi dengan bertanya berbagai hal yang terjadi selama kerusuhan. Mereka berniat jadikan dia sebagai narasumber berita. Sayangnya, dia sama sekali tak menjawab pertanyaan kami. Bahkan ketika Aoba mencoba menerjemahkan pertanyaan mereka lewat aplikasi bahasa otomatis.
"Apa lukamu sudah baikan?" tanyaku yang langsung mendapat terjemahan suara otomatis dari aplikasi di laptopku.
Dia menatap tangannya yang diperban lalu mengangguk.
"Maaf, apa kau masih memiliki saudara?" tanyaku lagi.
Dia tertunduk lemah sambil menggeleng.
"Meninggal?"
Dia mengangguk dengan raut sedih. Aku tak melanjutkan bertanya. Beberapa saat ruangan ini menghening. Kami berempat pun berunding untuknya. Ketiga rekanku sepakat agar aku yang mengantar wanita itu ke kamp pengungsian paling aman yang memiliki fasilitas lengkap. Sementara mereka tak bisa ikut karena harus mencari info terkini. Eiji akan menggantikan posisiku dalam meliput siaran langsung nantinya.
"Apa kau mau diantar dia?" tanyaku sambil menunjuk Aoba.
Dia mengangguk cepat.
"Tidak bisa." Eiji mengibas-ngibaskan tangan. "Kalian berdua perempuan. Sangat berbahaya!"
Aoba adalah kekasih Eiji, wajar jika dia tak mengizinkannya mengantar wanita itu.
Aoba melepas tangan wanita itu dari lengannya. "Benar. Kau tidak bisa mengandalkan aku. Meski yang kita tuju adalah kamp paling aman, tapi sepanjang jalan sangat rawan."
So menepuk bahuku sambil berkata pada wanita itu. "Tenang, kawan kami ini mantan Pasukan Bela-diri Jepang. Dia juga ahli judo. Kau akan aman bersamanya."
Mata kami beradu pandang. Kurasa dia tidak punya pilihan untuk menolakku.
Aku mengantarnya ke kamp pengungsian Rakban yang berlokasi di sekitar daerah gurun pasir. Dari info yang kami dapat, tempat ini aman dari segala serangan pemberontak maupun kelompok radikall. Selain itu, jauh dari lokasi peperangan.
Kami harus menggunakan transportasi bus umum karena perjalanan cukup jauh. Sebelum masuk, mereka melakukan pemeriksaan untuk mencegah penyusup. Wajar saja, selama tragedi perang berlangsung ada banyak kasus bom bunuh diri yang dilancarkan dalam bus. Wajahku yang berbeda dari penumpang lainnya membuat pengemudi bus menatapku dengan saksama. Aku pun langsung mengeluarkan tanda pengenal sebagai jurnalis media Jepang.
ini udah di potong alias dipangkas ya, baca full dan selanjutnya di sini yaa buka aja profilku,
buka aja profilku