
Tak terasa malam yang dingin kian larut, Shohei telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Orang-orang dari teman terdekatnya di kepolisian sudah tak lagi berdatangan. Petugas keamanan juga tak berjaga-jaga seperti tadi. Kepala Kepolisian Metropolitan telah mengadakan konferensi pers yang menjelaskan kronologi penusukan ketua penyidik devisi satu itu.
Hingga kini, Shohei masih belum sadar, meskipun telah melewati masa kritis.
"Andaikan seseorang tak cepat memanggil ambulans, sangat kecil kemungkinan pasien akan selamat atau mungkin saja dia mengalami pendarahan masif," tutur dokter pada Seina dan ibu Shohei yang berada di dalam ruangan.
Ya, ketika regu penyelamat datang, kondisi Shohei sudah tak sadarkan diri dengan pendarahan hebat yang dialaminya. Pelaku tak lupa mencabut benda yang dipakai untuk menusuk perut Shohei agar tak meninggalkan bukti apa pun. Padahal jika benda tajam itu masih tertancap di perutnya justru akan berfungsi sebagai penyumbat agar darah tidak terlalu banyak keluar. Untungnya, ia tak dibiarkan lama tergeletak di sana karena regu penyelamat datang memberikan pertolongan pertama dan dia segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.
"Siapa kira-kira yang telah berbaik hati memanggilkan ambulans untuknya? Aku ingin berterima kasih langsung padanya," ucap ibu Shohei seraya bersyukur.
Seina langsung mengiyakan ucapan ibu Shohei. "Aku belum mengenal baik teman-teman terdekat Shohei, tapi aku juga ingin berterima kasih pada orang itu."
Seina menatap wajah kekasihnya yang memar di beberapa bagian. Hubungan mereka belum genap sebulan, dan perasaannya pun belum terlalu dalam pada pria ini. Mungkin belum bisa dikatakan benar-benar cinta. Hanya ada perasaan memiliki. Namun, ia yakin seiring waktu pasti dapat mencintainya. Sebab, Shohei mempunyai banyak alasan untuk dicintai dan dijadikan pendamping hidup.
Seina lalu menghampiri calon ibu mertuanya yang duduk lemas di sofa sambil berkata, "Bibi, pulanglah! Biar aku yang menjaga Shohei. Aku akan bermalam di sini!"
"Apa yang kau katakan? Justru kaulah yang harus pulang! Kau pasti lelah karena sudah dari tadi menunggunya sadar," ucap ibu Shohei seraya menyelipkan anak rambut Seina di belakang telinga. Ia memperlakukan gadis itu layaknya seperti anaknya sendiri.
Seina menggeleng. "Aku akan tetap di sini sampai dia sadar. Biarkan aku menjaganya. Bibi dan paman istirahat saja di rumah," pintanya dengan mata sendu. Pandangannya kembali mengarah pada tempat tidur pasien di mana Shohei terbaring saat ini.
Ibu Shohei berdiri sambil menenteng tasnya. "Baiklah! Tolong segera beri kabar jika Shohei telah sadar."
Seina berinisiatif mengantar ibu Shohei sampai ke luar gedung di mana supir pribadi Tuan Yamazaki telah menunggu. Tepat saat mereka meninggalkan kamar, seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan mantel hitam panjang yang melekat di tubuhnya, berjalan perlahan menuju kamar inap Shohei. Gerak-geriknya tampak mencurigakan. Setengah wajah dari pria itu tertutupi oleh syal yang juga melilit lehernya. Ia membuka pintu kamar rawat tersebut dengan pelan, lalu masuk mengendap-endap dan mendekat secara perlahan ke arah Shohei.
"Shohei, ini aku. Aku tidak bisa berdiam diri di kamar sambil menunggu berita terbaru darimu. Aku ingin memastikan keadaanmu sekarang," ucap pria itu sambil menurunkan syal yang menutupi mulutnya.
Ternyata sosok yang mendatangi Shohei saat ini adalah Rai. Konferensi pers yang diadakan kepolisian dua jam lalu, memancing dirinya mencari cara untuk melihat keadaan Shohei secara langsung. Sama seperti Seto Tanaka, ia pun tak percaya jika yang dialami Shohei hanyalah kasus perampokan biasa seperti yang dikonfirmasikan pihak Kepolisian. Sebab, sebelum telepon berakhir, pria itu sempat mengatakan akan mengurus kasus video wanita yang meminta tolong pada Black Shadow.
Rai menatap gamang ke wajah Shohei yang terpasang oksigen. Sejenak, ia teringat kebersamaan yang telah mereka jalani selama beberapa bulan. Masih melekat di ingatannya, saat pertemuan pertama mereka di ruang tahanan yang gelap dan dingin.
Di saat ia pasrah mendekam di penjara, Shohei justru datang sebagai penyelamat dan juga menawarkan kerja sama. Pria yang tak sadarkan diri itu bukan hanya mengontrol dirinya sebagai Black Shadow, tetapi juga mengarahkan kehidupannya menjadi lebih baik. Tidak lagi menipu, menjebak, dan memanfaatkan orang lain.
Sebenarnya, Rai merupakan alumnus dari universitas Tokyo, tetapi dengan catatan kriminal yang dimilikinya, tentu menyulitkan dirinya memperoleh pekerjaan yang layak. Meskipun pengadilan membuktikan ia tak bersalah, tetap saja perusahaan-perusahaan besar hanya menerima orang yang memiliki rekam jejak yang baik dan benar-benar bersih. Hal inilah yang membuatnya memasrahkan dirinya untuk dikendalikan Shohei setelah keluar dari penjara.
"Kau pernah bercerita padaku kau sering mendapat rundungan saat masih sekolah karena gayamu yang culun dan pemalu. Sistem di sekolahmu juga memperlakukan siswa sesuai jabatan orangtuanya. Itulah yang membuatmu menerima permintaan ayahmu untuk masuk ke kepolisian. Berharap bisa melindungi orang-orang lemah dan menindaki kejahatan sekecil apa pun," ucap Rai dengan suara lemah, "Kau juga cerita padaku, ingin menjadi polisi yang berani menuntas kejahatan tanpa rasa takut diintimidasi pihak siapapun, kau juga selalu ingin menjadi pria gentle dan romantis di hadapan wanita yang kau cintai tanpa rasa gugup dan gemetar."
Rai mengusap kasar wajahnya lalu kembali berkata, "Untuk itu, kau menciptakan tokoh Black Shadow dalam alter egomu. Sayangnya, Black Shadow tetap tak bisa hidup di jiwamu. Lalu, kau memilihku sebagai pemeran tokoh ciptaanmu itu. Kau berhasil mengendalikan diriku sesuai cita-cita dan harapanmu selama ini. Menuntas kejahatan, dan membela orang yang lemah. Bahkan tokoh ciptaanmu dikagumi berbagai kalangan dari yang muda hingga orang tua, tak peduli wanita maupun pria mereka selalu menunggu aksi Black Shadow. Maka dari itu, cepatlah sadar dan wujudkan semua keinginanmu. Kita masih memiliki misi-misi berikutnya, kan?"
Rai menunjukkan wajah frustrasi. Selain mengkhawatirkan Shohei, tekanan para netizen yang terus meminta Black Shadow segera turun tangan membuat dirinya terbebani. Bergeming sejenak, ia teringat kata-kata Shohei saat terakhir meneleponnya.
"Black Shadow benar-benar hidup dalam dirimu, dan kau bukan sebagai pemeran seperti yang sering kau katakan."
Seketika, Rai langsung menatap kaku ke arah Shohei. "Bisakah Black Shadow beraksi tanpa Mr. White?" tanyanya pelan. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Jika aku benar-benar Black Shadow tanpa Mr. White, apa yang harus kulakukan untuk kasus itu? Tidak! Tidak! Aku tidak boleh berpikir sebagai Black Shadow, saat ini yang perlu kupikirkan adalah jika aku Mr. White, apa yang harus kulakukan untuk bisa mengungkap kasus itu?"
Rai memijat pelipisnya seraya berpikir keras. Ia bahkan sampai terduduk. Rasanya ingin menjambak rambutnya sendiri. Pasalnya, ia tak memiliki keahlian sebagai seorang detektif. Ia juga tak punya gambaran apa pun tentang kasus video viral tersebut. Ia benar-benar buta akan hal itu. Apalagi untuk menyimpulkan apakah gadis hostest itu benar-benar bersalah seperti yang dituduhkan kepolisian.
Di sisi lain, Seina berjalan lambat menuju ke ruang rawat inap Shohei setelah calon ibu mertuanya memutuskan pulang bersama supir. Ketika membuka pintu kamar Shohei, mata Seina membulat sempurna kala tatapannya mengarah pada jendela kamar yang terbuka lebar.
Tuan Matsumoto baru saja tiba di rumahnya. Mendapati kediamannya sepi, ia pun menanyakan Seina pada kepala pelayan.
"Apa Seina belum pulang?"
"Belum, Tuan."
Bertepatan dengan itu, panggilan telepon dari Seina tiba-tiba masuk di ponselnya. Anak gadisnya itu memberi kabar jika dia tidak akan pulang karena hendak menjaga Shohei di rumah sakit.
Wajah Tuan Matsumoto tampak menggelap. Ia malah tenggelam dalam lamunannya. Beberapa jam yang lalu, ia menemui salah satu pejabat negara.
"Aku tahu ini pasti ulahmu! Apa yang kau lakukan pada putra Tuan Yamazaki? Tidakkah kau tahu dia adalah calon menantuku?" pekik Tuan Matsumoto dengan suara menggelegar.
"Oh, jadi Yamazaki Shohei akan menikah dengan putrimu?" tanya pria itu dengan tawa menggelitik, "aku hanya berusaha membuatnya tidak terlibat dengan kasus ini. Kau tahu sendiri kan detektif kesayangan kepolisian Metro itu sangat gigih dalam mengungkap kasus. Mengurus Black Shadow saja sudah membuatku kewalahan. Lagi pula, yang kulakukan untuk membantu kalian semua. Ingat, jika aku ketahuan maka aku akan 'bernyanyi' untuk semua politisi yang memiliki belang. Bukankah kau juga salah satunya?"
Tuan Matsumoto menutup ingatannya dan langsung pergi ke kamarnya.
Tak terasa satu hari yang kelam telah terlewati. Hingga kini, Shohei belum juga sadar. Namun, dokter mengatakan jika kondisinya mulai ada kemajuan. Seina keluar dari kamar rawat Shohei, setelah semalaman menjaganya. Gadis itu berencana pulang ke rumah. Saat berada di luar gedung Rumah Sakit, Kei meneleponnya.
"Bagaimana kabar Yamazaki-san?"
"Masih belum siuman juga," ucap Seina lemas. Sesaat matanya yang sempat meredup, langsung terbuka lebar. "Apakah Black Shadow telah melakukan aksinya?" tanyanya penasaran. Selama seharian penuh ia tak melihat berita ataupun mengakses sosial media, jadi dia tidak tahu apakah siaran Black Shadow telah tayang atau belum.
"Hingga siang ini belum. Jika sampai besok dia belum muncul juga untuk menjawab permintaan wanita dalam video yang viral, maka itu akan merusak reputasinya sendiri. Soalnya, beberapa orang berpendapat Black Shadow hanyalah suruhan lawan politik pemerintah. Dia sengaja diciptakan untuk menjelek-jelekkan pemerintah saat ini. Mungkin saja kasus video itu tak ada hubungannya dengan pemerintah, jadi dia tak tertarik mengungkapnya. Begitu kata sebagian orang," tutur Kei yang menyimpulkan pendapat-pendapat para netizen yang tertulis di halaman forum buatannya.
"Itu tidak mungkin!" tampik Seina cepat, "mana mungkin dia menjadi alat dari lawan politik untuk menjelek-jelekkan pemerintahan saat ini. Itu sangat tidak masuk akal," ketus Seina yang terlihat memercayai Black Shadow.
"Aku juga berpikir seperti itu. Itulah kenapa aku bilang dia harus segera melancarkan aksinya agar orang tak berpikir macam-macam tentangnya."
Seina menutup panggilan telepon. Entah kenapa, Black Shadow kembali mengisi ingatannya. Ia sangat berharap pria misterius itu menggantikan Shohei dalam mengusut kasus viral itu.
Saat malam menampilkan wujudnya di permukaan bumi, Seina mendatangi menara Skytree tepatnya di lantai gedung yang berada di ketinggian 450 meter. Di tempat inilah ia bertemu dan kembali berciuman dengan Black Shadow untuk kedua kalinya. Di menara ini pula Black Shadow mengatakan Seina dapat menemuinya setiap selesai mengungkap kasus.
Seina berharap bisa menemui Black Shadow di tempat itu. Ia menatap lurus ke jendela kaca yang menampilkan pemandangan malam kota Tokyo. Tanpa dia tahu, seseorang dengan topeng yang melekat di wajahnya tengah berdiri di puncak menara Skytree Tokyo.
Di waktu yang bersamaan, tiba-tiba pandangan para pejalan kaki berpusat pada setiap videotron yang berada di jalanan utama Tokyo. Siaran televisi dan juga aplikasi live streaming pun mulai teracak. Tak lama kemudian, muncul sebuah tulisan pada masing-masing layar.
"Black Shadow Come back."
.
.
.