Never Not

Never Not
Ch. 143: Laptop dan Flashdisk



..."Keadilan memiliki arti dalam versi berbeda sesuai dengan jabatan kita saat ini. Keadilan akan berubah maknanya ketika kau memiliki jabatan. Itu yang kuketahui."...


...~Tuan Matsumoto~...


...----------------...


"Yuta! Yuta! Bangun! Oi, kau dengar aku, kan?" teriak Rai berkali-kali hingga suaranya terdengar hampir hilang. Ia seakan enggan menerima kenyataan jika sahabatnya itu telah pergi ke nirwana.


"Rai, ayo kita cepat pergi dari sini!" panggil Kei.


Rai masih saja larut dalam kesedihan dan enggan beranjak meninggalkan Yuta yang terbujur kaku. Tak puas dengan terus memanggilnya, kini ia malah memaki.


"Baka! Seharusnya kau tak jadi penipu lagi setelah kita berpisah! Seharusnya kau tak bertemu denganku dan mengajak bekerja sama lagi!"


Kei mengembuskan napas kasar. Ia bergegas turun dari mobil, lalu menarik pria bermarga Matsui itu. Rai menepis tangan Kei dengan kasar. Ia benar-benar tak peduli meskipun mobil-mobil pasukan khusus itu tinggal beberapa meter lagi dari mereka. Tingkah Rai yang keras kepala, membuat Kei harus mengambil tindakan cepat. Kedua tangannya masuk di sela-sela lengan Rai, kemudian menyeret paksa dirinya untuk masuk ke dalam mobil.


"Gomen, Rai ...."


"Lepaskan aku! Aku tidak akan pergi! Biarkan saja aku di sini!" teriak Rai berusaha melepaskan diri.


"Lalu bagaimana dengan Yuriko yang sedang menunggumu pulang? Ryo yang khawatir sampai harus menghubungi Shohei semalam? Dan ... Shohei yang sangat memercayaimu dengan mengizinkan kau ke sini?!" sergah Kei dengan intonasi suara yang lebih tinggi.


Rai tetap bergeming dan tak berdaya. Ia berlutut seraya menjambak rambutnya sendiri. Ia menganggap kematian Yuta adalah kesalahannya.


Musuh yang semakin dekat membuat Kei menggunakan seluruh tenaganya agar bisa membawa Rai ke dalam mobil. Kali ini Rai tak lagi melakukan perlawanan. Kakinya yang terus terseret, membuatnya semakin jauh dari jasad Yuta yang menghadap ke arahnya. Pada akhirnya, ia hanya mampu menatap gamang seraya mengulurkan tangan ke depan.


Ne, Yuta-chan, aku tidak pernah menyesal pernah bersahabat denganmu. Bahkan, jika terlahir kembali, aku juga tetap akan memulai hubungan persahabatan denganmu.


Sepuluh tahun bukan waktu sebentar untuk melupakan segala kebersamaan mereka. Andaikan Yuta tak mengkhianatinya, mungkin ia tak akan pernah bertemu dengan Shohei yang membuatnya bertransformasi sebagai Black Shadow.


Kei langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya secepat mungkin. Pasukan khusus bentukan Kazuya Toda berusaha mengejar mereka. Kei mengemudikan mobilnya melewati terowongan yang gelap dan sepi. Di belakang mereka, pasukan Kazuya Toda masih terus mengejar. Bunyi empasan peluru terdengar dari arah belakang menghantam setiap sisi body mobil mereka. Hujan peluru yang terus menyerang ban mobil mereka, membuat mobil itu mulai kehilangan kendali.


"Sial!" pekik Kei ketika mobil yang mereka pakai terus mendapat hantaman peluru.


"Hentikan saja!" ucap Rai dengan datar.


Kei langsung melempar tatapan penuh tanya ke arahnya.


"Hentikan saja mobilnya," tekan Rai kembali dengan nada lemah.


Pasukan Kazuya Toda menghentikan mobil mereka, ketika melihat mobil yang digunakan Rai dan Kei terparkir di dalam basemen gedung tua. Dua orang turun untuk mengecek langsung ke dalam mobil yang dikendarai Rai dan Kei. Begitu pintu mobil terbuka, bau gas kimia yang menyengat langsung memasuki penciuman kedua pria berseragam itu. Tak ayal, mereka pun pingsan seketika.


Dua pasukan yang masih berada dalam mobil lantas langsung turun begitu melihat kawan mereka terkapar. Namun, baru saja membuka pintu mobil, mereka langsung diserang oleh Rai dan Kei yang datang dari arah belakang. Keduanya melakukan teknik serangan kuncian untuk kembali menumbangkan lawan.


Rai dan Kei saling menatap. Keduanya bergegas memakai seragam pasukan tersebut serta membawa lari mobil agar bisa memasuki kota Tokyo tanpa pemeriksaan. Setibanya di Tokyo, Rai dan Kei menuju Kabukicho tepatnya di bar yang menjadi markas besar Yuta.


Bar itu terlihat sepi dan telah kosong. Rai dan Kei sampai harus mendobrak pintu agar bisa masuk. Begitu pintu terbuka, Rai bergegas menuju lantai tiga dan masuk terburu-buru menuju kamar Yuta. Pandangannya langsung tertuju pada beberapa perangkat komputer yang sering digunakan mantan rekannya itu untuk menjalankan aksi penipuan. Di depan monitor komputer yang cukup besar, juga terdapat sebuah laptop kecil. Rai terpaku bisu dengan mata yang berkaca-kaca saat mengingat kembali ucapan terakhir Yuta di detik-detik kematiannya beberapa saat lalu.


"Aku tidak tahu ... apakah ini berguna bagimu. Aku ... menyimpan sebuah file yang berhasil kulacak saat bekerja sama dengan orang yang memintaku meretas siaran Black Shadow. Dari file itulah aku mengetahui harta pejabat yang tersimpan di safe room. File itu masih ada di laptopku. Kode password-nya masih sama seperti dulu. Datanglah ke bar dan bawa laptop itu."



Shohei mendatangi kediaman Seto Tanaka untuk menghadiri upacara pemakamannya yang baru digelar hari ini. Saat melangkah masuk, matanya langsung terarah pada sosok ibu Seto dan adiknya yang masih remaja. Tak banyak yang menghadirinya, mengingat ini upacara Otsuya¹ di mana hanya ada segelintir orang bersama beberapa rekan kerjanya yang merupakan tim naungan Shohei.


Satu per satu pelayat mulai pulang hingga menyisakan Shohei seorang diri. Ia pun memutuskan beranjak pergi. Jujur, hingga kini kematian Seto Tanaka masih membuatnya terguncang. Ia menyerahkan okoden² pada ibu Seto sebelum berpamitan.


"Saya mewakili divisi satu penyidik Metropolitan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya pada mendiang. Semasa hidupnya, mendiang dikenal salah satu polisi yang sangat gigih dan berprestasi," ucap Shohei setelah menyerahkan amplop berpita hitam dan putih. Ia membungkuk penuh lalu berbalik.


"Summimasen, apa Anda Yamazaki Shohei?" tanya ibu itu dengan lemah.


Langkah Shohei terhenti seketika. Tubuhnya memutar kembali seraya menjawab, "Iya, Bu."


"Ada banyak koleksi foto Seto bersama Anda. Dia sering bercerita kalau Anda banyak membimbingnya."


Ibu Seto lalu menyajikan teh hijau pada Shohei sebagai bentuk penghormatan tamu. Shohei mengedarkan pandangannya. Rumah Seto masih sangat sederhana, perabotannya pun telah termakan usia. Setiap sudut ruang terdapat foto-foto Seto Tanaka saat meraih kejuaraan olimpiade lari. Ada pula foto dalam balutan seragam kepolisian.


"Menjadi anggota kepolisian adalah impian Seto-chan dari kecil. Dia selalu berkata jika suatu saat nanti dia pasti akan menjadi jenderal besar. Tapi nyatanya, dia malah ...." Ucapan ibu Seto tak berlanjut, berganti air mata yang tiba-tiba berhamburan keluar.


Shohei hanya bisa diam sambil memandang iba pada wanita tua tersebut. Setelah pulang dari rumah Seto Tanaka, Shohei kembali terpukul saat menerima kabar tentang kematian sahabat Rai yang disebut sebagai ahli hacker. Wajah putih itu memucat kaku di bawah pohon sakura. Lagi-lagi, perseteruan antara dirinya dan Kazuya Toda memakan nyawa orang terdekat setelah kematian mendiang Matsumoto dan Seto Tanaka.


Kembali ke apartemennya, Shohei langsung membuka setelan jasnya kemudian duduk termenung di sofa. Tiba-tiba, matanya tertuju pada kalender duduk yang tertera di atas meja samping sofa. Kalender itu menunjukkan tanggal di mana seharusnya ia dan Seina menikah sesuai yang direncanakan mendiang Matsumoto. Mendadak, ia teringat dengan perkataan mantan menteri kehakiman itu.


"Aku telah memilih tanggal pernikahan kalian. Tanggal 2 April 2022 sangat cocok untuk melangsungkan upacara pernikahan karena bunga sakura mekar penuh di tanggal tersebut. Tolong ingat tanggal pernikahanmu!"


Shohei bergegas ke kamar dan duduk di depan laptop. Ia mengambil flashdisk yang tuan Matsumoto diberikan padanya, kemudian mencolokkan flashdisk itu ke dalam laptop. Begitu perangkat terbaca, ia kembali membuka secret file yang hingga kini belum diketahui isinya.


Pesan terakhir mendiang Matsumoto yang dikatakan langsung padanya itu, membuat ia mencoba membuka password dengan menggunakan gabungan tanggal dan bulan rencana pernikahannya dengan Seina.


Shohei menarik napas dalam-dalam sebelum menekan 'enter'. Password diterima dan isi file pun kini terpampang nyata di hadapannya.


.


.


.


catatan kaki 🦶🦶




Otsuya: upacara pemakaman yang hanya dihadiri keluarga, kerabat dan teman-teman mendiang.




Okoden: uang duka yang diberikan pelayat.




arigatou gozaimasu. jangan lupa like dan komeng