Never Not

Never Not
Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?



..."Apa kau ingin tahu cara berbohong yang terlihat natural? Gabungkan setengahnya dengan kebenaran, niscaya kau tidak akan ketahuan sedang berbohong."...


...~Rai Matsui. Ch. 121~...


...----------------...


"Tayangan ini palsu. Apa yang diucapkan Narator berita hanyalah hasil dubbing. Kemudian mereka juga menambahkan headline berita palsu," jelas Jun yang langsung tahu hanya dengan sekali lihat.


"Apakah itu artinya rekaman peledakan dan drone yang diterbangkan, artikel-artikel di internet, serta laporan warga setempat yang kami terima itu palsu?" tanya pejabat polisi metropolitan.


"Ya, bisa jadi koneksi jaringan internet dan telekomunikasi kita telah diretas oleh hacker," ucap Jun dengan tenang sambil menyapukan pandangan ke deretan komputer yang aktif.


Seto Tanaka yang baru saja tiba di lokasi kejadian, merasa heran karena anggota polisi yang ditugaskan bersamanya telah ditarik kembali. Ia lantas bertanya pada salah satu yang ada di sana.


"Kenapa kalian membubarkan diri?"


"Apa kau tidak lihat menara itu masih berdiri kokoh?"


Sontak, Seto pun mendongakkan kepalanya menatap menara yang menjadi ikon kota Tokyo.


"Eh? Apa aksinya beralih ke tempat lain?"


"Tidak. Tidak ada aksi terorr. Kita semua tertipu hoaks. Ini sungguh memalukan. Apalagi saat kita datang, semua pengunjung memandang heran ke arah kita," keluh salah satu anggota polisi Anti terror.


Seto lantas berjalan mundur ke belakang dengan sempoyongan. Percuma ia datang ke sini dengan terburu-buru.


Satu jam yang lalu tepat saat kepolisian dihebohkan dengan penemuan surat elektronik misterius, ternyata di pelabuhan Tokyo juga mendapatkan surel serupa. Yuta telah meretas sistem keamanan pelabuhan, sehingga alat keamanan di sekitar tempat itu membunyikan sinyal berbahaya seolah mendeteksi bom di beberapa tempat. Sontak seluruh petugas keamanan dan kepolisian sibuk menyisir sekitar pelabuhan untuk mencari bom di sejumlah titik yang terbaca oleh monitor.


Kesempatan ini tentu membuat Rai dan timnya mulai bergerak dalam pengambilan misi harta Karun yang disembunyikan Kazuya Toda. Jika dulu Rai hanya duduk santai memantau seraya memberi arahan pada Yuta beserta seluruh tim yang akan melakukan aksi, tapi kali ini justru sebaliknya. Ia turun langsung untuk mengambil uang tersebut, sedangkan Yuta bertugas memantau setiap pergerakan dari suatu tempat.


Tim yang dibawa Rai pun beraksi. Segala atribut telah mereka persiapkan, seperti ID card palsu untuk akses masuk gudang bea cukai. Mereka juga menggunakan seragam yang menyerupai petugas keamanan, petugas pelabuhan, petugas beacukai hingga kepolisian. Bahkan mereka menyewa mobil yang disulap seperti armada tempur kepolisian. Sebagai penipu kelas kakap, sudah tak heran lagi jika mereka mengeluarkan modal besar terlebih dahulu demi mendapatkan keuntungan yang lebih berlipat ganda.


Rai kini berdiri gagah dalam balutan seragam perang kepolisian lengkap dengan helm dan senjata tiruan. Meski begitu, ia masih memakai anting-anting yang menggantung di telinga kirinya. Ia menatap gudang tempat penyimpanan dosa-dosa Kazuya Toda selama menjadi pejabat.


Ingatannya mundur sejenak, saat dirinya mendiskusikan rencana malam ini pada timnya.


"Apa yang akan kau rencanakan selanjutnya untuk mengambil uang miliaran Yen milik pejabat itu?" tanya Yuta saat itu.


"Aku akan turun langsung seperti biasa, tapi sebelumnya aku ingin kau meretas koneksi jaringan internet kepolisian dan juga intelejen," jawabnya dengan mata yang menyorot dalam.


Yuta mengernyitkan dahi. "Bukankah kita hanya perlu merusak sistem keamanan mereka agar pergerakan kita tak terbaca?"


Ia lalu menjelaskan kronologi yang mereka lakukan di hari ini. "Tidak. Di hari itu, kita akan melempar bom ke berbagai titik kota Tokyo. Mereka akan sangat sibuk dengan bom yang kita tebarkan di kota ini."


Mata Yuta terbelalak seketika. "Apa kau serius?"


"Maksudku, kita akan merekayasa aksi terror di sejumlah titik utama Tokyo. Lalu kita buat seolah-olah kelompok radikal yang melakukannya dengan mengirim pesan misterius ke mereka," jelasnya kembali.


"Apakah mereka akan mudah memercayainya? Masalahnya yang akan kita tipu ini polisi." Yuta merasa kurang yakin dengan ide Rai yang terlihat berisiko.


"Maka dari itu ... gabungkan dengan setengah kebenaran agar mereka memercayainya," ucapnya sambil tersenyum miring, "kebenarannya adalah kita akan mengirim bom ke badan kepolisian nasional dengan catatan waktu yang bisa membuat mereka menjinakkan peledak itu dengan segera. Setelah mengumpan mereka dengan bom sungguhan, kita buat mereka meyakini aksi terorr selanjutnya benar-benar akan terjadi. Dengan meretas jaringan internet dan telekomunikasi kepolisian, mereka akan menganggap berita itu sungguhan," lanjutnya .


Mata Yuta melebar seketika. "Bagaimana kita bisa melakukan itu? Sekarang Ryo sudah tak lagi bersama kita!" cetus Yuta. Ya, keberadaan Ryo di tim mereka dulu, sungguh banyak membantu. Di samping sering menjalankan ide konyol dari kakaknya, sebagai seorang programmer, Ryo juga memiliki keahlian membuat efek visual digital yang benar-benar terlihat seperti asli.


"Tenang saja! Aku tahu di antara kalian tidak ada yang bisa melakukannya! Maka dari itu, serahkan semua ini padaku. Aku akan turun tangan langsung untuk membuat kepolisian kerepotan," tandasnya dengan santai.


Rai menutup ingatannya, kemudian berjalan menuju gudang surga milik Kazuya Toda. Mereka memprediksi serangan tipuan anti terror itu akan membuat perhatian para polisi teralihkan selama satu jam. Artinya, mereka hanya punya waktu satu jam untuk memindahkan uang-uang yang ada di dalam sana.


"Baiklah. Aku akan menuntunmu menuju safe room." Yuta masih tampak berhati-hati pada Rai. Terbukti, ia hanya akan membocorkan letak ruang tersebut tepat saat Rai hendak menjalankan aksinya.


Karena memakai seragam polisi, Rai pun dengan mudah memasuki gedung tersebut. Gudang tersebut memiliki tiga lantai basement. Namun, yang sebenarnya adalah masih ada satu lantai yang berada di bawah tanah dengan kedalaman lima puluh senti. Dari penjelasan Yuta baru-baru ini, diketahui bahwa safe room berada di ruang bawah tanah tersebut. Butuh melewati tiga pintu keamanan untuk bisa membuka ruang tersembunyi itu.


Rai bergerak cepat menuruni anak tangga untuk bisa sampai di ruang bawah tanah. Pintu pertama hanya bisa dilewati oleh petugas bea cukai. Seharusnya pintu ini dijaga oleh mereka karena dibutuhkan id card petugas bea cukai agar bisa menempelkan barcode ke alat pendeteksi yang terletak di samping pintu. Hanya saja, karena isu bom yang ditebarkan di sekitar pelabuhan, membuat para petugas beacukai yang berjaga langsung mengevakuasi diri.


Rai mengeluarkan kartu akses palsu dan segera menempelkan kartu itu. Pintu terbuka, ia segera masuk dan berlari menuju pintu berikutnya. Waktu yang tersisa masih empat puluh empat menit lagi. Ia menyusuri koridor sempit dan lembab serta tangga-tangga yang meliuk untuk sampai ke pintu berikutnya. Pintu kedua ternyata memasang teknologi biometrik sebagai pengaman.


Rai memicingkan mata. "Ini bukannya tubuh kita akan terdeteksi oleh alat?"


"Iya. Tenang saja, aku akan membuat tubuhmu terbaca oleh alat dan lolos. Tapi ini mungkin memakan beberapa detik."


Jari tangan Yuta langsung bergerak lincah di papan keyboard. Dengan keahliannya sebagai peretas handal, ia dengan mudah mengganti karakteristik fisiologis Rai seperti pengenalan wajah, DNA, sidik jari, hingga ke retina mata menjadi karakteristik fisik orang dalam yang bertugas di ruang safe room. Butuh satu menit untuk melakukannya. Alat pendeteksi pun mulai membaca fisiologis Rai dari ujung rambut hingga ujung kepala.


"Sukses!" ucap Rai ketika mesin berhasil mengenali dirinya.


Pintu pun terbuka. Ia kembali berlari untuk mencapai safe room. Waktu yang tersisa tinggal tiga puluh satu menit lagi. Sementara begitu sampai di ruang safe room, mereka masih harus memindahkan seluruh uang-uang itu. Apakah ini akan berhasil?


Pada pintu terakhir, ada seorang polisi berseragam lengkap sambil memegang senjata berdiri di sana. Tampaknya polisi itu adalah bagian dari tim Rai yang juga menyamar. Sebab untuk dapat membuka pintu safe room itu dibutuhkan dua kartu pengenal kepolisian yang ditempelkan secara bersamaan di kiri dan kanan pintu masuk.


"Tempelkan kartu tanda pengenal kalian secara serempak sekarang juga." Yuta kembali mengintruksikan.


Rai dan pria berseragam polisi itu saling melirik sambil mengangguk. Secara bersamaan, mereka langsung menempelkan kartu pengenal kepolisian sebagai kunci masuk safe room. Detik berikutnya, safe room pun terbuka.


"Kita berhasil!" ucap Rai tersenyum miring.


"Bagus. Di ruangan itu, ada pintu tersembunyi yang menjadi akses ke jalur belakang pelabuhan. Tim kita sedang menunggumu di sana, mereka akan membantumu memindahkan uang-uang itu ke mobil box kita. Untuk membukanya, kau harus memasukkan password."


"Apa password-nya?"


"C45II0."


"Baiklah, aku akan masuk sekarang!"


Rai tersenyum dingin dengan sudut bibir yang tertarik kecil. Ia melangkahkan kakinya ke safe room. Ruangan itu begitu dingin dengan dinding yang dilapisi seluruh baja itu. Namun, setelah Rai berada di ruang itu, keanehan langsung terjadi. Earpiece yang menghubungkan antara dirinya dan Yuta langsung terputus begitu saja. Hal itu membuat Yuta heran dan berusaha memanggilnya berkali-kali.


"Rai ... Rai ... apa kau mendengarku?" Yuta berusaha menghubungkan kembali komunikasi mereka. "Apakah ruangan tak dapat menangkap sinyal komunikasi?" gumam Yuta heran.


Rai terpaku beberapa saat dengan pandangan takjub, melihat tumpukan uang dollar yang begitu banyak hingga memakan setengah tempat dari ruangan itu. Ia melepas earpiece yang menghubungkan komunikasi antara dirinya dan Yuta kemudian menoleh ke samping, tepatnya pada pria berseragam kepolisian yang sempat membantunya untuk membuka pintu safe room secara bersamaan.


"Apa tindakan kita selanjutnya, Mr. White?"


Pada detik ini, pria di samping Rai itu segera membuka helmnya hingga wajah aslinya yang lembut terpampang nyata.


"Mari kita lakukan seperti biasa, Black!"


.


.


.


jangan lupa like+Komeng gays biar aku semangat lanjutnya. baca juga novel baruku untuk membantuku terus berkarya di platform ini.