Never Not

Never Not
Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto



"Maaf, aku terlambat." Shohei menunduk, kemudian menarik kursi di samping Seina untuk didudukinya.


"Ah, lama tidak berjumpa, kau pasti sangat sibuk," sapa tuan Matsumoto sambil terkekeh.


"Tidak juga," jawab Shohei menunduk.


"Ada salju di kepalamu." Seina menghempaskan butiran putih yang tertinggal di rambut Shohei.


"Benarkah?" Shohei turut mengibas rambutnya. Sejenak, tangannya bersentuhan dengan Seina sehingga membuat kedua pasang mata itu bersirobok.


Seina-chan, maafkan aku. Aku mencurigai ayahmu ....


Shohei telah memeriksa daftar pertemuan tuan Matsumoto dengan para pejabat yang diberikan Kei tempo hari. Salah satu pejabat yang bertemu dengannya adalah target kesembilan Black Shadow. Dengan kata lain, sulit untuk tak mencurigai calon mertuanya sendiri setelah ia menemukan beberapa keterlibatan Tuan Matsumoto dengan pejabat-pejabat hitam.


"Omong-omong ...." Tuan Matsumoto membuka suara sambil mengarahkan tangannya pada Kei Ayano yang duduk di sebelahnya.


Namun, baru saja hendak memperkenalkan Kei, Shohei langsung berkata, "Ayano Kei-san, senang bisa berjumpa langsung dengan Anda."


"Senang juga bisa makan dan duduk bersama dengan Anda, Yamazaki Shohei-san," balas Kei menunduk sopan.


Tuan Matsumoto terkesiap dengan wajah semringah. "Jadi ... kalian berdua saling mengenal?" duganya.


"Ah, saya rasa untuk jurnalis seperti Ayano-san, tidak ada yang tidak mengenal dia saat ini," jawab Shohei memandang Kei.


"Anda terlalu memuji. Reputasi dan prestasi Anda sebagai detektif juga sangat terkenal di kalangan publik," balas Kei tersenyum halus.


"Papa, Shohei-kun dan Kei-niichan sudah sering bertemu di rumah. Jadi, Shohei sudah tahu kalau Kei-niichan adalah saudara sepupuku," jelas Seina.


"Oh, begitu rupanya. Bukankah aku sangat beruntung memiliki keponakan seorang jurnalis dan menantu seorang penyidik kepolisian?" Tuan Matsumoto terkekeh.


Namun, Shohei justru merespon pernyataan ayah Seina itu dengan mata yang berkilat tajam.


Pelayan datang membawakan sajian pembuka. Beberapa menit berlalu dengan obrolan ringan. Mereka terlihat santai satu sama lain. Shohei menjelaskan tujuan hidupnya bersama Seina yang tentu saja membuat tuan Matsumoto terkagum-kagum dan merasa tak salah pilihkan jodoh anaknya.


"Omong-omong, aku mendengar kau akan dipindahkan ke Kepolisian Nasional dan akan mendapatkan jabatan promosi. Itu sangat bagus untuk karirmu! Tapi, apa kau tak ingin menjadi politisi di masa depan? Mungkin kau bisa merebut jabatan tertinggi di kepolisian, seorang jenderal kepolisian nasional," tutur tuan Matsumoto dengan mata berbinar-binar.


"Aku tidak tertarik dengan politik. Menurutku, menjadi politikus memungkinkan kita merias wajah untuk menutupi wajah sebenarnya."


Pada saat itu juga, wajah tuan Matsumoto menghitam secara instan.


"Aku sepakat denganmu. Hampir seluruh politisi yang berada di Tokyo sudah kuwawancara. Semua politisi harus memiliki personal branding walaupun bertolak belakang dengan karakter mereka sebenarnya. Termasuk Paman juga, kan?" sambung Kei sambil tergelitik.


Tuan Matsumoto tertegun seraya tersenyum halus. "Benar. Setiap politisi selalu mencitrakan dirinya sebaik mungkin untuk merebut hati publik. Ada yang dicitrakan sebagai figur yang baik, sederhana, dan merakyat. Ada juga yang dicitrakan tegas, jujur, dan berani. Itulah seninya berpolitik, kita memoles diri seolah menjadi tokoh yang diimpikan publik. Dan lucunya mereka memercayainya," ujarnya terus terang sambil terkekeh.


"Aku jadi ingat kutipan dari Bill Murray, beliau mengatakan jika rakyat berbohong pada pemerintah, itu adalah sebuah kejahatan. Tetapi jika pemerintah berbohong pada rakyatnya, itu hanyalah sebuah politik," tandas Kei sambil menyesap anggur dengan gaya yang elegan.


"Itulah yang membuat aku tak tertarik dengan politik, selain kerap membohongi rakyat, juga membohongi diri sendiri. Negara kita tak akan pernah kekurangan orang pintar, tapi mungkin suatu saat nanti akan kekurangan orang jujur," sambung Shohei dengan mata yang mengerjap tajam.


"Ah, tapi kau tak mau masuk politisi bukan karena takut akan disergap Black Shadow suatu hari nanti, kan?" Tuan Matsumoto melempar candaan sambil kembali terkekeh, tetapi hal itu membuat Shohei, Kei, sekaligus Seina bereaksi dengan ekspresi berbeda.


Dulu, politisi sangat takut jika disergap jaksa, tapi sekarang mereka malah takut jika didatangi Black Shadow dan dipermalukan di depan publik." Lagi-lagi Tuan Matsumoto tertawa. Meskipun begitu, Shohei tetap menangkap raut hampa di wajah pria berusia enam puluhan itu.


Kei menatap Shohei, lalu berkata pada pamannya, "Bagaimana dengan Paman sendiri? Apa Paman tidak takut suatu saat didatangi Black Shadow seperti menteri sosial waktu itu?"


"Aku tidak melakukan korupsi, pencucian uang atau apa pun yang dibenci pria bertopeng itu. Jadi, untuk apa harus takut?" ungkap tuan Matsumoto sambil mengangkat bahu dan membuka kedua tangannya.


Mata Shohei kembali berkilat.


Dia berkata jujur.


Merasa pamannya telah membuka obrolan mengenai Black Shadow, lantas Kei langsung berkata, "Bagaimana kalau Paman dan Yamazaki-san tampil di program acaraku dalam tema pembahasan Black Shadow dan pejabat selanjutnya yang akan ditangkap. Paman adalah menteri kehakiman, dan Yamazaki-san pernah berada dalam tim devisi khusus yang dibentuk kementrian kehakiman, 'kan? Tidak ada salahnya untuk kita menebak-nebak dari birokrat mana lagi Black Shadow akan melakukan aksinya."


Detik itu juga, Shohei langsung melihat reaksi tuan Matsumoto.


Tangannya melipat di depan dada seolah ingin melindungi sesuatu.


"Aku setuju jika tuan Matsumoto mau!" ucap Shohei cepat. Ia langsung menoleh ke samping, saat Seina tiba-tiba mengubah posisi duduknya dan mengepalkan kedua tangannya.


Ada apa dengan reaksi Seina? Apa dia mengetahui sesuatu tentang ayahnya?


Tentu saja reaksi Seina yang tertangkap oleh Shohei saat ini adalah karena pembahasan mereka mengenai Black Shadow. Setiap mendengar pembahasan pria itu, hatinya seakan bergejolak. Perasaan yang mendera dalam dirinya sulit untuk didefinisikan.


"Aku ... tidak bisa melakukannya. Pembahasan itu terlalu sensitif. Lagi pula aku adalah seorang menteri dalam bidang hukum. Pembahasan Black Shadow hanya akan membuat kementerian dan petugas hukum di negara ini seakan tak berfungsi di masyarakat," ucap tuan Matsumoto.


Alasan yang logis!


Tak menyerah membujuk pamannya, Kei kembali berkata, "Bagaimana kalau kita ganti saja topiknya, tetapi masih seputaran pembahasan Black Shadow? Masyarakat sangat antusias apa pun yang menyangkut Black Shadow."


Seina langsung menurunkan garpu dan pisau makan sehingga menghasilkan bunyi gesekan piring. "Kei-niichan, kenapa harus membahas urusan pekerjaan saat sedang makan malam keluarga!" protesnya dengan nada kesal yang membuat ketiga pria itu langsung terdiam.



Berbeda dengan Shohei, Rai tengah membantu Ryo membereskan barang-barang bawaannya. Ya, Ryo akan kembali ke apartemennya setelah mendapat kesempatan tinggal di apartemen kakaknya yang sempit.


"Oniichan, kadang-kadang aku merindukan kau yang dulu. Walaupun setiap pulang kau bau alkohol dan parfum wanita, lalu membawa uang dari hasil tipuanmu, tapi setidaknya membuatku lega karena kau pulang dengan selamat."


"Apa maksudmu? Apa kau ingin aku kembali menjadi penipu?" ketus Rai sambil menyengir.


"Tentu saja tidak! Aku hanya rindu masa-masa kita serumah!"


"Baka, kau bukan anak kecil lagi! Ada saatnya kita akan menjalani kehidupan masing-masing dengan keluarga baru."


Mata Ryo membulat seketika. "Apa itu artinya ... kau punya keinginan menikah? Kau mau menikahi perempuan, kan?" tanyanya senang. Ia tentu tahu prinsip hidup Rai yang bebas dan tak mau terikat. Apalagi, akhir-akhir ini ia menduga kakaknya menjalin hubungan dengan sesama jenis.


Rai tertawa kecil. "Memangnya ada yang mau dengan pria tak punya uang yang merupakan mantan napi sepertiku?"


"Tentu saja ada! Pasti ada!" jawab Ryo bersemangat.


Rai hanya mendengus seraya menatap adiknya.


Di sebuah kelab malam mewah, seorang pria berambut gondrong menyerahkan sebuah amplop pada sosok yang duduk di meja utama bar tersebut. Orang itu membuka amplop tersebut, dan tercengang melihat foto-foto Rai bersama seorang gadis.


"Apakah ini benar-benar Rai Matsui?" tanyanya tak percaya. Sudut bibirnya terangkat kecil, menciptakan senyum mengejek.


"Itu adalah tempat tinggalnya," ucap pria berambut gondrong.


Orang itu menahan tawa sambil menatap foto yang memperlihatkan Rai memasuki apartemen kelas menengah. "Maafkan aku, Rai. Hidupmu jadi berubah 180 derajat."


"Saya juga melihat Ryo-san masuk ke apartemenmu itu. Sepertinya mereka tinggal bersama."


Mendengar nama Ryo, mata orang itu langsung memancarkan api. "Jadi dia masih bersama dengan adiknya yang sialan itu. Jika bukan karena Ryo, kita tidak mungkin akan bercerai-berai seperti ini."


"Jadi kau ingin mengajak Rai kembali bergabung?" Seseorang menyahut dari belakang.


"Ya, kita membutuhkan otaknya. Hanya Rai yang mampu menciptakan strategi brilian dalam menipu mangsa."


"Bagaimana kalau dia sudah tidak mau lagi karena kau pernah mengkhianatinya?"


Orang itu tersenyum sambil mengangkat tinggi gelas kristal yang berisi sampanye. "Tenang, aku tahu kelemahannya. Rai Matsui itu ... sangat menyayangi adiknya yang bodoh!"


.


.


.


Halo semua, kak yu ingin menyapa seluruh pembaca. Saya berterima kasih untuk kalian yang masih setia membaca karyaku di sini. Saya di MT sejak tahun 2018 sebagai translator komik, dan memulai menulis di tahun 2019.



Karya pertama saya Don't say Goodbye menjadi salah satu karya yg dikontrak gelombang pertama oleh pihak NT. Dan itu tanpa ada revisi, kebetulan di jaman itu untuk mendapatkan kontrak sangat susah, tidak seperti sekarang.


Sepanjang menulis 5 karya, di mana 4 karya telah tamat, sejujurnya penghasilan yang kudapatkan dari 5 karya ini sungguh menyedihkan, untuk NN bisa dilihat dari jumlah like per chapter yang ga sampe seribu. Saya hanya mendapat penghasilan dari rangking bulanan dan tip pembaca. Tapi, saya selalu punya komitmen untuk menyelesaikan setiap karya, karena saya sangat mencintai tulisan saya sendiri.



Gomen, Aishiteru adalah karyaku yang terpopuler di tahun 2021. Di karya ini, saya menjadi author dengan tip terbanyak dan juga dukungan terbesar dari pembaca. karya ini juga sering mendapatkan rekomendasi dan acuan dari para author.


Karena cinta yang diberikan para pembaca setia, saya dinobatkan menjadi salah satu author terfavorit di aplikasi ini.


Terima kasih untuk yang selalu mendukung tanpa lelah, memberi hadiah, vote dan juga merekomendasi novel-novelku. Juga memberi komentar dan masukan positif sehingga membuat karya saya semakin baik.


Dan untuk seluruh pembaca kuucapkan happy new year, semoga di tahun ini kita mampu membuat gebrakan terbesar dalam hidup kita, kita mampu melangkah maju, meninggalkan segala kekhilafan dan kesalahan yang pernah kita lakukan di tahun-tahun sebelumnya.