Never Not

Never Not
Ch. 88 : Menanti Black Shadow



Di luar sana, Yuriko termangu ketika melihat banyaknya mahasiswa yang berlarian ke satu tempat. Karena penasaran, ia pun menahan salah satu mahasiswa.


"Hei, apa yang terjadi? Kenapa orang-orang menuju ke fakultas hukum?" tanya Yuriko heran.


"Apa kau tidak melihat ponselmu? Black Shadow sedang mengadakan siaran langsung di sana," ujar mahasiswa itu yang kemudian meninggalkan Yuriko dengan terburu-buru.


"Hah, dia lagi rupanya!" ketus Yuriko sambil mengangkat ujung bibir atasnya. Namun, sedetik kemudian dia malah membuka ponselnya dan mencoba mencari siaran ulang Black Shadow.


Masih berada di balkon rumah, Mr. White menatap kosong ke arah yang lebih jauh.


Tinggal satu orang lagi ... ya, tinggal memecahkan siapa sosok kesepuluh.


Hari sudah memasuki petang di mana langit telah bernuansa kuning keemasan. Pandangan Shohei teralihkan pada ayahnya yang baru saja pulang dari lapangan golf. Ia kemudian keluar dari ruangan itu menuju lantai bawah.


"Okaa-san, aku pergi dulu!"


Ibu terkejut dan buru-buru menghampirinya. "Eh? Kenapa terburu-buru? Kukira kau akan makan malam di sini."


"Masih ada yang harus kukerjakan. Lain kali saja," tolak pria berkacamata itu. Tentu setelah ini ia akan pergi ke menara Tokyo Skytree dan bertemu dengan Black Shadow sebagai tanda selesainya aksi mereka seperti biasa.


Saat hendak menuju ke depan pintu, Shohei menghentikan langkahnya saat berhadapan dengan ayahnya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya tuan Yamazaki.


"Cukup sibuk."


"Cepatlah pindah ke departemen kepolisian Nasional, agar kau bisa dipromosikan ke posisi tertinggi kepolisian! Jika kau terlambat, maka jabatan itu akan diisi orang-orang yang tak seharusnya ada di sana."


"Tentang karirku, tolong percayakan saja padaku!" Shohei berkata dengan tenang, kemudian menunduk hormat di hadapan ayahnya sebelum beranjak pergi.


Di sisi lain, Seina yang turut keluar dari ruangan, kini mengejar pria misterius yang selalu mengusik hatinya.


"Hei, kau! Tunggu!" teriak Seina begitu melihat siluet pria itu.


Seina mempercepat larinya, berusaha menghampiri Black Shadow yang tak mau menoleh. Pria itu terlihat belok ke kiri ketika berada di persimpangan koridor. Seina berusaha mengikuti langkah pria itu. Terus berjalan perlahan dengan mata yang fokus meski pria itu telah menghilang dari pandangannya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang pria bersandar tenang di dinding dengan tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya.


"Matsui-san?" Seina terkesiap ketika matanya menangkap kehadiran pria itu di kampusnya.


Rai melempar senyum semringah ke arah gadis itu seraya mengangkat sebelah tangan seolah menyapanya. Menggunakan jaket dengan hoodie yang terpasang di kepalanya dan juga tas ransel yang menggantung di pundak kirinya, membuat penampilannya terlihat seperti mahasiswa pada umumnya.


"Apakah kau juga mahasiswa di sini?" tebak Seina ragu-ragu.


Rai meluruskan pandangannya, mengerutkan bibirnya lalu mengangguk tipis.


"Ah, kebetulan sekali kita bisa bertemu, ya?" ucap Seina melempar senyum canggung. Ia menatap lurus ke koridor sepi, sambil bertanya, "Apa kau melihat ...." Kalimatnya mengambang dan terpaksa harus ditelan kembali. Mana mungkin ia menanyakan keberadaan pria lain pada sahabat tunangannya, kan?


Suasana ini terasa aneh. Ia mematung dengan bola mata yang tak bisa diam selama beberapa detik di samping pria itu. Sambil melempar senyum kaku, ia mengarahkan telunjuknya ke belakang mencoba menggunakan bahasa isyarat terbatas, kemudian memutar tubuhnya perlahan dan berjalan pelan meninggalkan Rai. Ia tentu tak tahu, jika pria itu adalah Black Shadow yang telah kembali ke identitas aslinya.


Setelah berjalan beberapa langkah, rasa penasarannya malah terus muncul. Entah kenapa suasana familiar terus menghantui benaknya ketika bertemu dengan pria itu. Ia berbalik cepat dan segera kembali ke tempat tadi. Sayangnya, Rai sudah tak terlihat di sana.


Saat hendak beranjak, pandangannya teralihkan pada wastafel di toilet umum pria. Pasalnya, ia melihat beberapa helaian kelopak bunga camelia berserakan di sana. Menengok ke kiri dan kanan, Seina memberanikan diri masuk ke toilet yang sepi itu hanya untuk mengambil kelopak bunga camelia. Ia melihat sebuah jendela ventilasi yang terbuka di atas sana.


"Apa dia tidak melihatku? Apa dia tak menyadari kalau aku tadi juga ada di sana?" gumam Seina sambil mengepal kelopak bunga tersebut.


Mata sendunya tiba-tiba berkilau, saat mengingat Black Shadow selalu mendatangi menara Tokyo Skytree selepas melakukan aksinya. Lantas, tanpa berpikir panjang ia pun segera menuju ke gedung yang telah berkali-kali mempertemukan dirinya dengan sosok bertopeng.


Di tempat berbeda, terlihat pejabat misterius yang juga baru saja menonton tayangan Black Shadow. Ia mengelus dagunya, setelah menyaksikan bagaimana lagi dan lagi seseorang dipermalukan Black Shadow di hadapan publik. Bukan hanya politikus wanita itu saja, bahkan ada delapan pejabat yang sudah lebih dulu diringkus Black Shadow dalam kurun waktu yang tak cukup setahun. Untungnya, dia selalu bergerak lebih cepat, memutuskan hubungan kerja sama dengan pejabat-pejabat itu sebelum mereka diringkus Black Shadow. Itulah yang membuatnya aman dan tak terendus hingga detik ini.


"Sayang sekali, padahal beberapa hari ini tim sukses Akabane telah bekerja keras menutupi kasusnya dengan membayar sejumlah media untuk membesar-besarkan pemberitaan wabah virus di negara ini sebagai pengalihan isu. Tapi pada akhirnya berakhir sia-sia juga," decaknya sambil menautkan jari-jemarinya.


"Lalu, apa yang akan Anda lakukan? Mungkin saja target selanjutnya adalah Anda, Tuan." Seseorang yang berdiri di belakangnya menyambung obrolan.


"Hingga kini, tak ada satupun yang bisa mengungkap identitas pria itu. Dia tidak pernah meninggalkan jejak apa pun di tubuhnya selain kelopak bunga camelia," imbuhnya lagi.


Ya, untuk memulai misi, Black Shadow memang sangat berhati-hati agar identitasnya tak ketahuan. Pria itu memberi gel pengeras rambut agar tidak meninggalkan sehelai rambut pun di tempatnya beraksi, juga tak pernah meludah sembarangan yang membuat orang-orang bisa menyelidiki identitasnya lewat DNA. Untuk tayangan siaran langsung, Mr. White juga mengubah suara aslinya Black Shadow.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan identitas pria itu. Inilah saatnya kita bergerak. Bagaimana dengan pria yang kau bawa waktu itu?"


"Dia tinggal menunggu perintah Anda."


"Kalau begitu katakan padanya untuk melakukan itu mulai dari sekarang! Bukankah ini akan sangat menarik?" Mata mirip seekor musang itu menajam, seolah siap untuk menerkam mangsa. "Black Shadow, mari kita lihat apa kau bisa melawanku," ucapnya dengan suara halus, tapi juga terdengar menakutkan.



Sudah sejam lebih Seina berada di lantai gedung Tembo galeri menara Tokyo Sky. Berdiri mematung di sisi dinding yang serba kaca. Sesekali, kepalanya menengok ke belakang, lalu melihat ke arah jam. Hingga detik ini, Black Shadow belum menampakkan dirinya.


Seina menyadari dirinya terlalu bodoh, menantikan kedatangan pria lain di saat akan bertunangan. Namun, untuk gadis semuda dirinya yang masih mengedepankan perasaan, ia hanya ingin memastikan isi hatinya yang sebenarnya, apakah untuk Shohei calon tunangannya, atau untuk pria misterius itu. Ia ingin membuktikan perkataan Kei yang mengatakan cinta yang dimilikinya itu hanya menyambar sesaat seperti petir.


Dalam keheningan, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki mendekat. Seina mengepalkan kedua tangannya dengan sepasang mata yang terpejam ketika irama jantungnya bergerak cepat. Ia yakin, itu adalah suara langkah kaki si pria bertopeng. Namun, kepalanya terasa kaku untuk berputar untuk menoleh ke belakang.


Jika orang ini adalah Black Shadow, itu artinya kami memang terhubung oleh takdir ....


Hingga terdengar suara pria yang memanggil namanya dengan lembut.


"Seina-chan ...."


Seina membuka matanya diikuti kepala yang menoleh ke belakang dengan cepat. Iris matanya menangkap sosok pria yang berdiri sekitar dua meter darinya. Mata yang berwarna hitam pekat itu secara bertahap meredup ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah Black Shadow, melainkan Shohei.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya pria itu seraya menghampirinya lalu membuka mantel yang melekat di tubuhnya, untuk dipindahkan ke punggung Seina yang cukup terbuka.


Sebenarnya, Shohei benar-benar tak tahu Seina sedang di sini jika Rai tak mengatakannya. Saat bertemu di puncak gedung, Rai berkata padanya kalau ia melihat Seina sedang sendirian di lantai gedung Tembo galeri. Mendengar hal itu, ia pun bergegas mendatangi kekasihnya ke sini. Apalagi mereka sudah lama tak bertemu.


"Aku ... aku merasa suntuk. Jadi, kupikir jalan-jalan ke sini akan membuatku rileks!" ucap Seina pelan.


"Oh, begitu. Jadi, apakah sekarang kau sudah rileks?" tanya pria itu sambil tersenyum.


Seina mengangguk lemah dengan mata yang masih berkeliling seolah sedang mencari-cari seseorang.


"Bagaimana kalau kita makan malam?" ajak Shohei yang terlihat bersemangat.


Seina kembali mengangguk. Ia terhenyak ketika pria itu langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya pergi. Setelah dua pekan tak saling bertemu, seharusnya ia merasa senang. Namun, pikirannya saat ini justru terisi oleh pria lain.


Apakah waktu itu menjadi pertemuan terakhirku dengannya?


Suara hati Seina berucap bersamaan dengan kepalanya memutar perlahan untuk memastikan apakah Black Shadow benar-benar tidak datang atau kemungkinan pria itu sedang bersembunyi karena melihat kehadiran Shohei.


Otaknya mengilas balik momen ketika mereka menyaksikan bintang di tempat ini, kemudian berakhir dengan ungkapan perasaannya pada pria itu. Adegan itu masih begitu kental di benaknya, seolah-olah baru terjadi kemarin. Entah kenapa, kakinya terasa berat melangkah meninggalkan tempat itu sebelum ia bertemu dengan Black Shadow.


Kenapa? Kenapa dia menjauhiku setelah aku mengungkap perasaanku? Apakah itu adalah pertemuan terakhirku dengannya?


Seina menggigit bibir ketika matanya mulai berembun. Tepat saat sepasang kekasih itu tiba di depan lift, Seina langsung melepas tangannya dari genggaman Shohei. Hal itu sontak membuat Shohei heran, apalagi wajah gadis itu terlihat lain dari biasanya.


"Shohei-kun, aku menyukai Black Shadow!"


.


.


.


like dan komenmu, semangatku 😉