Never Not

Never Not
Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai



Yuriko menggeser posisi duduk Rai agar bisa berhadapan dengan Shohei. Saking ingin diterima, ia kembali berkata dengan penuh antusias, "Okaa-san selalu menugaskan aku bersih-bersih rumah sepulang sekolah. Kalau tidak yakin, kau bisa tes aku lebih dulu."


"Tidak boleh!" larang Rai seketika yang sontak membuat Shohei dan Yuriko menoleh padanya. Mendapat tatapan aneh dari mereka, Rai cepat-cepat meralat ucapannya. "Maksudku, kau itu masih kecil."


"Hah?" Yuriko tercungap.


"E ... maksudku kau itu masih kuliah," ucap Rai yang tampak canggung setelah menyadari kalimat asal yang baru saja meloncat dari mulutnya.


"Memangnya kenapa kalau aku kuliah? Pemerintah pun memperbolehkan pelajar mengambil kerja part-time, kenapa mahasiswa tidak boleh? Lagi pula, sebelumnya aku sempat kerja sebagai pelayan kafe."


"Tapi pekerjaan ini akan bentrok dengan jadwal kuliahmu," tandas Rai kembali mencari alasan.


"Siapa bilang? Aku bisa mengatur jadwal kuliahku dengan pekerjaan ini."


"Tetap tidak bisa. Pekerjaanmu tidak akan efisien nantinya, dan kau tidak punya waktu untuk mengerjakan tugas-tugasmu. Bukankah kau mahasiswa semester atas? Pasti tugasmu menumpuk, 'kan?"


"Tidak juga. Aku ini mahasiswa yang cukup berprestasi dan tugas-tugasku selalu selesai tepat waktu," elak Yuriko yang merasa penolakan Rai terlalu mengada-ada.


"Shohei membutuhkan pelayan yang berpengalaman dan profesional. Memangnya kau bisa apa?"


"Bisa apa saja! Aku bisa menyapu, mengepel, mencuci baju tanpa mesin, memasak pun bisa." Yuriko mempromosikan keahliannya dengan percaya diri.


Rai melengos seraya tergelak geli. "Haha-haha, bahkan kau membuat varian baru chicken katsu berwarna hitam dengan rasa yang pahit," sindirnya mengingatkan chicken katsu buatan Yuriko yang gosong.


Shohei hanya bisa mengernyit penuh kebingungan melihat perdebatan sengit antara Rai dan Yuriko yang duduk di hadapannya. Kepalanya menoleh ke sana-kemari menyaksikan keduanya yang terus beradu mulut.


Tak peduli apa yang dikatakan oleh Rai, Yuriko malah melancarkan serangan bujukan pada Shohei. "Shohei-san, aku sangat butuh tambahan uang bulanan. Tolong terima aku, ya? Aku sangat butuh pekerjaan saat ini."


Tak mau kalah, Rai malah berkata, "Shohei, jangan terima dia! Biar kucarikan tenaga kerja yang profesional untukmu."


"Shohei-san, aku juga tidak kalah profesional."


"Shohei, gadis ini sangat ceroboh. Kunci kamarnya saja bisa tertinggal di apartemen temannya. Bagaimana bisa kau memercayakan apartemen itu padanya?" Rai berusaha memengaruhi keputusan Shohei.


"Shohei-san, jika kau menerimaku maka kau telah menyelamatkan satu pengangguran yang ada di Tokyo. Bukankah itu termasuk program pemerintah?" Yuriko tak mau kalah dengan mengeluarkan jurus wajah yang memelas.


"Ano ...." ucap Shohei pelan memutus perdebatan panjang antara Rai dan Yuriko.


Rai dan Yuriko kompak menoleh ke arah Shohei dengan raut serius seolah sedang menanti pengumuman kejuaraan. Wajah mereka maju mendekat ke arah Shohei secara bersamaan.


"Sebenarnya, aku hanya mencari pelayan dalam batas waktu yang ditentukan saja. Tidak perlu menetap, dan tidak harus bekerja penuh, asal kerjaannya sudah beres dia boleh pulang dan datang lagi di hari berikutnya. Jadi, aku bisa memanggilnya kapan saja kubutuhkan. Kupikir pekerjaan ini tidak membutuhkan pengalaman dan tidak terlalu sulit, maka dari itu aku hanya butuh seseorang yang—"


"Jadi intinya apa?" tanya Rai dan Yuriko memotong perkataan Shohei karena sudah tak sabar.


"Apakah aku diterima?" tanya Yuriko.


"Atau ditolak?" sambung Rai.


Shohei bergeming sesaat. Ia menatap ke arah Yuriko yang menangkup kedua tangan di hadapannya, lalu berpindah pada Rai yang menggeleng-geleng kepala ke arahnya.


Shohei mengangguk, lalu berkata pada Yuriko, "Kupikir aku akan lebih leluasa jika memperkerjakan orang yang telah kukenal. Oleh karena itu, jika kau memang bersedia, kau boleh menjadi pelayan di apartemenku."


Jawaban Shohei tentu saja membuat Yuriko senang tak terkira. Bagai menang lotre, gadis itu merentangkan kedua tangannya ke atas, lalu mengambil kedua tangan Shohei seraya berulang kali mengucapkan terima kasih. Selain karena ia memang butuh pekerjaan setelah keluar dari tempat kerja sebelumnya, momen ini juga akan membuatnya lebih dekat dengan pria berprofesi polisi itu. Kesempatan untuk mencuri perhatian pria itu terbuka lebar, bukan?


Sebaliknya, Rai langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja seperti orang yang kalah judi. Kesal. Itu yang ada di hatinya saat ini. Bukan tanpa alasan ia melarang Yuriko bekerja di tempat Shohei. Pasalnya, keadaan itu tentu akan membuat Yuriko makin menjatuhkan hati pada kawannya itu.


"Kapan aku sudah bisa mulai bekerja?" tanya Yuriko yang terlihat bersemangat.


"Sekitar dua Minggu lagi. Apartemen itu belum terisi sama sekali," jawab Shohei.


Rai yang masih merebahkan kepalanya di atas meja, lantas hanya bergumam dengan suara yang nyaris hilang, "Tahu begini, lebih baik aku meminta desainer interior itu untuk memperlambat kerjaan mereka."


Usai minum teh bersama seraya mengobrol ringan, Shohei pun pamit pulang.


"Terima kasih atas jamuan tehnya," ucap pria itu sambil membungkuk.


"Ah, jangan formal seperti itu!" Yuriko mengangkat lengan Shohei agar pria itu tak membungkuk di depannya. Biar bagaimanapun, sekarang posisi mereka adalah pelayan dan majikan.


Shohei menoleh ke arah Rai yang bersandar di tiang pintu dengan wajah cemberut. "Ada apa denganmu? Kau tiba-tiba menjadi pendiam."


Rupanya, Shohei memerhatikan perubahan sikap Rai saat sedang menikmati teh tadi.


"Aku sedang sariawan. Maksudku, aku mendadak kena sariawan," balas Rai dengan gaya yang cool begitu Yuriko turut memandanginya.


"Ya, sudah. Kalau begitu aku pamit pulang. Jaa mata (sampai jumpa)," ucap shohei.


Yuriko terus melambaikan tangannya hingga siluet pria itu hilang dari pandangannya. Di saat yang bersamaan, Rai memutuskan kembali ke kamarnya tanpa berkata apa pun. Namun, Yuriko langsung menahan lengan pria itu.


"Kau mau ke mana?"


"Pulang!" ketusnya.


"Bukankah kau bilang mau membantu menerjemahkan bimbelku?" Yuriko menagih tawaran bantuan Rai sebelumnya.


Bertepatan dengan itu, ponsel Rai berdering mengabarkan pemberitahuan pesan masuk. Ia lantas membuka pesan yang ternyata berasal dari Shohei.


Jangan khawatir! Aku tidak akan mengambil Yuriko darimu. Kau tahu sendiri, kan? Aku sudah punya kekasih 😉


Pesan dari Shohei, membuat Rai menjadi salah tingkah. Apa dirinya terlalu tampak menyukai Yuriko hingga Shohei dapat membacanya?


Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Rai masih berada di kamar Yuriko untuk membantunya menerjemahkan bimbel. Gadis itu mengerjakan soal-soal fisika dengan begitu mudah begitu buku panduannya diartikan oleh Rai.


"Kau pintar juga, ya?"


"Hidup ini terlalu keras untuk memelihara kebodohan. Orang cerdas belajar karena mereka yakin suatu saat mereka pasti bisa. Berbeda dengan orang bodoh yang belajar karena terpaksa dan dipaksa," ucap Yuriko seraya menyelesaikan beberapa rumus.


Dia melewati masa remajanya dengan tekun belajar untuk bisa meraih beasiswa di salah satu universitas ternama di Tokyo. Buah dari usahanya pun tak sia-sia, karena dia kini menyandang sebagai mahasiswa di salah satu universitas bergengsi, tempat para anak-anak orang kaya berkuliah.


"Ya, kau benar." Rai tersenyum simpul. "Aku menyukai dirimu yang gigih seperti ini."


Yuriko meletakkan pena. Kemudian merenggangkan lehernya ke kiri dan kanan. "Aku memang sangat gigih dalam menggapai sesuatu. Aku punya banyak keinginan di masa depan, salah satunya ingin hidup mewah, menikah dengan pria kaya dan liburan sepuasnya bersama keluargaku. Oleh karena itu, aku harus berusaha mewujudkan itu semua di masa sekarang," ucapnya seraya mengembuskan napas kasar lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kau mengingatkan aku pada seseorang. Keinginannya persis sepertimu."


"Siapa?" tanya Yuriko sambil menguap.


"Seseorang di masa laluku."


"Mantan pacarmu?" Tiba-tiba Yuriko bersemangat.


Rai menggeleng. "Seseorang yang awalnya tergila-gila padaku," ucapnya tersenyum masam, "Dia juga terobsesi ingin hidup enak dan membangun keluarga yang bahagia. Aku sering membodohinya. Aku memanfaatkan mimpi-mimpinya untuk mewujudkan misi besarku. Tapi akhirnya aku baru sadar, akulah yang paling bodoh," kenang Rai.


Masih melekat di ingatannya, wanita itu adalah orang pertama yang memohon agar dijadikan bagian dari keluarganya yang selalu menunggunya di rumah. Meski tak mampu mendefinisikan perasaan terhadap gadis itu, tetapi andai waktu bisa berpulang, ia tak akan mengantarkan wanita itu ke sisi pria lain. Mirisnya lagi, pernikahan wanita itu menjadi kabar pertama yang dilihatnya di videotron selepas bebas dari penjara.


Lama termenung, Rai melarikan pandangannya ke arah Yuriko yang ternyata telah terlelap dengan kepala yang menengadah dan mulut yang sedikit terbuka. Pipi pria itu membuncit karena menahan tawa. Ia menggendong Yuriko lalu membaringkannya ke tempat tidur.


Aneh, dia adalah pria yang pandai memanipulasi siapapun. Keahliannya itu telah terbukti dengan banyaknya gadis-gadis dari kalangan atas yang terjerat olehnya hanya karena modal kemampuan berbicara. Akan tetapi, ia sama sekali tak menggunakan keahliannya itu untuk menjerat Yuriko. Ia benar-benar menjadi dirinya sendiri. Bukan sebagai seorang penipu dengan segala sikap manipulatif, atau sebagai Black Shadow yang diciptakan oleh Shohei. Dia adalah Rai Matsui.


Di tempat yang berbeda, ternyata Shohei tengah berada di kamar Seina. Ya, sepulang dari apartemen Rai, Seina menghubunginya agar menjadi narasumber untuk sampel wawancara dalam skripsi yang sedang disusun gadis itu.


"Arigatou, Shohei-kun," ucap Seina membereskan buku-bukunya yang berhamburan setelah belajar bersama Shohei. Ia beruntung memiliki kekasih yang paham di bidang hukum, di mana ia juga mengambil jurusan yang sama.


Melihat Seina yang telah mengatur rapi buku-bukunya, Shohei pun memutuskan pamit pulang.


"Kalau begitu, aku pulang dulu."


"Eh?" Seina tercenung. Pikirnya lelaki itu bisa sedikit lebih lama berada di sisinya. Padahal ia cepat-cepat membereskan barang-barangnya, agar mereka bisa bersantai sejenak.


"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Shohei cepat.


Seina menggeleng sambil tersenyum. "Tidak ada."


Mengerti jika Shohei mungkin memiliki kesibukan, Seina pun menggandeng lengan pria itu untuk mengantarnya sampai ke depan pintu.


Seiring waktu, Shohei tak lagi gugup ataupun kaku seperti dulu. Hubungan mereka mengalir seperti air. Ia bisa memosisikan dirinya sebagai seorang kekasih yang dapat diandalkan. Begitu juga dengan Seina, meskipun sempat merasa bersalah dan masih penasaran dengan sosok Black Shadow, tetapi ia benar-benar menjadi kekasih yang dewasa, pengertian, dan tidak menuntut pria itu untuk selalu bersamanya.


"Apakah Tuan Matsumoto sudah pulang?" tanya Shohei melihat sekeliling rumah yang tampak sepi.


"Belum. Kalau tidak salah tadi papa mengatakan padaku sedang ada pertemuan dengan Menteri Sosial."


Mata Shohei berkilat perak mendengar Seina menyebut Menteri Sosial. Pasalnya, dia akan menjadi target Black Shadow selanjutnya. Shohei mulai berpikir, apakah ia bisa mengais info tentang Menteri Sosial dari calon mertuanya itu?


"Seina-chan, aku pulang dulu," ucap pria itu dengan senyum halus yang mengembang di bibirnya.


"Arigatou atas waktumu. Aku sangat senang untuk hari ini."


Selepas kepergian Shohei. Seina berbalik pelan, seraya menghela napas.


"Sudah berada di kamar dalam waktu yang lama, tapi dia tidak melakukan apa pun," gumam Seina dengan wajah memberengut. Tampaknya, Shohei tak bisa memenuhi keinginannya untuk menjadi pasangan romantis seperti yang ia impikan selama ini. Sekilas, ia malah kembali mengingat ciuman yang terjadi antara dirinya dan pria misterius yang hingga kini tak dikenalinya.



Denting waktu terus bergulir, hingga tak terasa pagi yang membawa harapan telah menyambut dan menenggelamkan malam yang telah menjadi kenangan. Hari ini, publik digemparkan dengan sebuah video yang beredar di jejaring sosial. Video berdurasi tak cukup lima menit itu menampilkan sebuah permohonan seorang wanita yang ditujukan untuk Black Shadow.


.


.


.