Never Not

Never Not
Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka



..."Sejak bertemu denganmu, pandanganku hanya tertuju padamu."...


...~Shohei Yamazaki Ch. 77~...


...----------------...


Ada kutipan yang mengatakan, setiap yang jatuh akan selalu merasakan sakit, begitu pula saat kamu jatuh hati. Bukankah hal ini yang sedang dirasakan oleh Shohei? Lucunya, bukan kali pertama ia merasakan sakitnya jatuh cinta. Bukan kali pertama juga gadis yang ia cintai, malah mencintai orang yang ia kenali.


Andaikan yang dicintai Seina itu bukanlah Rai dalam bentuk Black Shadow, mungkin dia tak sesakit ini. Padahal Black Shadow itu terbentuk berdasarkan alter egonya sendiri. Dan andaikan Rai bisa lebih dulu jujur padanya, mungkin juga dia tak se-syok ini. Mungkin dia bisa memahami, mengerti, memaklumi atau bahkan merelakan.


"Aku pikir kita saling mencintai, ternyata aku terlalu percaya diri," gumam Shohei di telinga Yuriko.


Sepasang manik mata Yuriko melebar. Ia merasa pundaknya berat sebelah saat kepala Shohei tersandar di sana. Gadis itu terperanjat, sampai-sampai tak bisa bergerak. Semakin terkejut, saat kulit mereka tak sengaja bersentuhan.


"Shohei-san, kau demam!" ucap Yuriko panik.


Tampaknya Shohei kehilangan kesadarannya. Yuriko membaringkan pria itu di sandaran kursi, lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan kompres. Sesungguhnya, ia tak tahu apa yang terjadi dengannya, tetapi racauan Shohei tadi membuatnya menarik kesimpulan jika pria itu sedang patah hati.


Yuriko kembali dengan membawakan kompres dan langsung meletakkan di dahi Shohei. Ia berusaha membaringkan tubuh pria itu di sofa, lalu membuka tiga kancing utama dan juga sepatu yang masih melekat di kakinya.


Setelah itu, dia menghubungi Kei dan Ryo untuk mengabari jika Shohei tengah sakit. Dengan kata lain, mereka tak bisa mengadakan rapat hari ini.


Kei menghela napas berat begitu mendengar kabar tersebut. "Sepertinya kita harus merelakan Kazuya Toda merasakan jabatan barunya lebih dulu."


"Ya, biar bagaimanapun kesehatan Mr. White lebih utama. Pasti terlalu banyak beban pikirannya sampai dia jatuh sakit," imbuh Ryo ikut menyayangkan.


"Bagaimana dengan kakakmu sendiri? Jika Shohei sedang sakit dan dalam rawatan Yuriko, bukankah artinya dia tidak bersama kakakmu?" tanya Kei.


"Ah, aku akan menghubunginya sekarang." Ryo berdiri sambil mengambil ponselnya kemudian menepi untuk menghubungi Rai. Sayangnya, telepon Rai di luar jangkauan. Ryo bergeming sesaat, sambil mengingat ucapan Yuriko tadi.


Sama halnya dengan Rai, telepon Shohei juga tak bisa tersambung saat Seina menghubunginya. Bukan hanya pagi ini saja, bahkan sudah ia lakukan sejak semalam setelah bertemu dengan Black Shadow. Padahal, ia ingin bertemu dengan pria itu untuk membicarakan banyak hal, termasuk yang berkaitan dengan kematian ayahnya.


Di kepolisian metropolitan, para detektif elit yang tergabung dalam divisi satu di bawah kepemimpinan Shohei, terkejut ketika mengetahui ketua mereka mengambil cuti dadakan sejak dua hari yang lalu. Sebenarnya, itu Shohei lakukan karena ingin fokus ke misi terakhirnya dalam memerangkap Kazuya Toda.


"Pantas saja ketua tak terlihat beberapa hari ini. Apa kau tahu kenapa ketua Yamazaki tiba-tiba mengambil cuti?" tanya salah satu detektif pada Seto Tanaka.


Seto menaikkan bahunya. "Aku juga tidak tahu."


"Aneh, padahal kau sekretarisnya. Kenapa ketua tak mengatakan apa pun padamu?" tanya Ai Otaka merasa heran.


Tak lama kemudian, inspektur Heiji masuk ke ruangan itu, memberi kabar jika Seina siap diinterogasi untuk dimintai keterangan.


"Tanaka-san, kau saja yang menginterogasi nona Matsumoto-san besok pagi," tunjuk inspektur Heiji.


"Ah, aku tidak bisa! Besok pagi aku harus menyelidiki kasus lain dari tempat kejadiannya langsung," tolak Seto, ia menepuk pundak Ai Otaka yang duduk di sebelahnya, "Ai, kuserahkan nona Matsumoto padamu."


Ai Otaka tersentak seketika. "Heh?!"


Yuriko masih berada di apartemen Shohei. Ia memasakkan bubur untuk pria itu sambil rutin mengganti kompresnya. Shohei mengerjapkan mata perlahan, bias cahaya lampu begitu menyilaukan matanya. Dia meraba dahinya dan mendapati sebuah kain kompres di atas dahinya.


Shohei mencoba bangun, tetapi tampak kesulitan. Pasalnya, kepalanya sungguh terasa berat. Yuriko yang melihatnya langsung datang membantunya untuk duduk. Shohei terkesiap melihat kehadiran gadis itu.


"Yuriko-chan?" ucapnya pelan.


"Syukurlah, kau sudah sadar." Yuriko bernapas lega. "Oh, iya, aku sudah membuatkan bubur untukmu. Makanlah sedikit, lalu minum obat!" kata gadis itu sambil beranjak ke dapur lalu membawa nampan berisi mangkok bubur.


Menyadari Yuriko yang merawatnya, Shohei langsung berkata, "Arigatou. Seharusnya kau tak perlu repot-repot mengurusku."


"Sejak kapan kau di sini? Bukankah kau masih libur?" tanya Shohei sambil memijat kepalanya yang terasa sakit akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol.


"Sejak pagi tadi. Kami semua berkumpul di markas. Tapi hanya Shohei-san dan Rai yang tidak ada. Kami berpikir kalian berdua sedang bersama. Jadi aku aku memutuskan mengecek Shohei-san di sini," jelas Yuriko.


Mendengar nama Rai, raut wajah Shohei mendadak berubah. Ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyusup hatinya. Jika mengingat kembali, Rai membantunya membeli apartemen ini yang disediakan khusus untuknya dan Seina. Sayangnya, tatanan masa depan yang ia rancang, telah porak poranda seketika.


Tampaknya Yuriko melihat perubahan ekspresi pria itu saat ia menyinggung tentang Rai. "Apa kau dan Rai ...." Yuriko tak melanjutkan kalimatnya saat Shohei langsung memalingkan muka.


Ada beberapa detik dibiarkan hening begitu saja tanpa ada yang bersuara.


Shohei menatap kosong ke depan dengan mata yang mengandung kilau menyedihkan. "Mana yang lebih sakit, kehilangan orang kita miliki atau baru menyadari kalau sejak awal kita tidak memilikinya?" tanyanya serak.


"Menurutku, masing-masing memiliki kadar sakit yang sama. Menyadari kalau kita tak bisa memiliki seseorang juga tak kalah sakit," ucap Yuriko sambil kembali mengingat saat Shohei memperkenalkan Seina kepadanya sebagai calon tunangan.


Yuriko menyendok bubur oyakodo yang masih panas, lalu menyodorkan ke mulut Shohei. "Makanlah lebih dulu agar kau bisa lekas pulih!"


Shohei tertegun, lalu membuka mulutnya dengan pelan. Membiarkan Yuriko menyuapinya.


"Kenapa kau tidak menggunakan seledri?"


"Karena Shohei-san tidak menyukai seledri."


Shohei terkejut. "Dari mana kau mengetahuinya?"


"Karena setiap memakan menu yang ada seledrinya, kau selalu menyisakan seledri di ujung piring. Aku tahu kau juga tidak menyukai wasabi. Kau selalu memasang dasi dari arah kiri terlebih dahulu, dan selalu memaksa tersenyum saat mendengar kata-kata yang tidak bisa kau pahami."


Shohei terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan nada rendah. "Begitukah? Aku sendiri baru mengetahui diriku sendiri."


"Aku selalu memerhatikanmu. Hanya saja, Shohei-san tak pernah menyadarinya," ucap Yuriko menunduk sambil tersenyum masam. Melihat orang yang ia sukai seperti ini, entah kenapa hati Yuriko seakan ikut melepuh.


"Apa kau sedang memperdengarkan suara hatimu padaku?" ucapnya sambil tersenyum hambar.


"Kau melakukannya lagi!"


"Eh?" Shohei mengernyit tak paham.


"Memaksa tersenyum ketika kau kurang paham maksud seseorang," jelas Yuriko kembali.


"Begitukah?" Shohei sedikit tersentak dan hanya dapat tergugu.


"Tapi, kau menebaknya dengan benar. Aku memang sengaja memperdengarkan suara hatiku dan masih ingin memperdengarkannya padamu. Aku sudah tertarik padamu sejak pertama kita bertemu. Aku merasa senang saat kau mengizinkan bekerja di sisimu, kupikir aku punya kesempatan untuk menarik perhatianmu. Ternyata tidak. Aku malah sempat merasakan patah hati saat kau membawa seorang gadis yang melebihi diriku dan memperkenalkannya sebagai calon tunanganmu. Ingin menyerah pada perasaan ini, tapi merasa belum berjuang. Dan kini, aku ikut merasakan sakit saat kau patah hati dan hilang arah seperti ini. Maka dari itu, anggaplah aku obat penawar luka di hatimu!"


Pada saat ini, Shohei hanya mampu bergeming seraya menatap lamat-lamat mata Yuriko. Seolah ada bongkahan batu besar yang menyumbat tenggorokannya, hingga membuatnya terdiam cukup lama.


"Akan kutunggu ... sampai kau baik-baik saja dan perasaanmu bisa menerimaku," ucap Yuriko sambil membalas tatapan Shohei.


.


.


.


like + Komeng dong