Never Not

Never Not
Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2



Yuriko lantas berbisik di telinga Rai. "Hei, kau punya uang lebih, kan?"


"Uang pas-pasan pun aku tidak punya." Rai balas berbisik dengan ekspresi masam yang masih bertahan di wajahnya.


"Jangan bilang kau tak punya uang!" duga Yuriko khawatir.


Rai bergeming. Memilih tak menjawab.


"Mana mungkin kau tidak bawa uang! Lalu untuk apa kau datang ke sini!" bisik Yuriko kembali sambil memerhatikan teman-temannya yang tengah melihat daftar menu.


"Aku sedang menunggu temanku." Rai beralasan. "Kau sendiri kenapa bisa di sini dengan teman-temanmu? Kau bilang sudah jarang bergaul dengan mereka!"


"Ini pertama kalinya aku bersama mereka lagi sejak menjadi asisten di rumah pak polisi."


"Kalau begitu kau saja yang traktir mereka, kau kan mengaku kaya dan tinggal di apartemen mewah!" singgung Rai.


"Hei, justru aku sedang menghemat uang makanya aku menerima ajakan mereka. Kenapa juga kau harus menyapaku di sini." Yuriko membuang wajah sambil bersedekap.


"Ya, aku menyesal menyapamu di sini!" ketus Rai sambil menggertakkan gigi.


"Yuriko, kau belum tulis pesananmu!" Seorang temannya menyodorkan buku menu.


"Eh, tunggu aku lupa menulis pesanan dessert. Aku mau coba wafel dengan toping serbuk emas," sahut salah satu temannya.


Yuriko dan Rai saling menatap dengan wajah yang pasrah.


"Pesankan saja aku air mineral," ucap Yuriko dengan wajah canggung.


"Eh? Bukannya sebelum ke sini kau ingin banyak makan? " Temannya terkejut.


"Ah, Yuri-chan terlalu menjaga diri di depan pria pujaannya. Ayo, jangan malu-malu selagi kita ditraktir!" timpal lainnya sambil terkekeh.


"Tidak apa-apa. Aku pesan air mineral saja," ucap Yuriko. Ya, meski lapar, ia tak mungkin menambah beban tanggungan bayaran pada Rai.


Salah satu temannya kembali menyahut. "Bagaimana dengan Matsui-san? Mau kutuliskan pesananmu?" ucapnya dengan pandangan yang genit.


"Arigatou. Aku mengikuti pesananmu saja," ucapnya tersenyum.


Yuriko lantas menoleh ke arahnya dengan tatapan kaget. Sementara pria itu malah menjulurkan lidahnya seolah hendak meledeknya.


"Kau menipuku!" Yuriko komplain karena sebelumnya Rai mengaku tidak punya uang sehingga ia memilih memesan air mineral agar tak memberatkannya. Namun, kenyataannya Rai malah ikut memesan menu yang sama dengan salah satu kawannya.


Di tempat yang sama tapi dengan suasana berbeda, Shohei dan Seina juga tengah memilih-milih makanan.


"Aku mau mencoba yang ini!" Shohei dan Seina kompak menunjuk menu yang sama. Mereka saling melirik, kemudian sama-sama tertawa halus.


"Sepertinya selera makanan kita selalu sama," ucap Shohei tersenyum.


"Ya, kita sama-sama tak menyukai wasabi," sambung Seina membalas senyuman pria itu.


Sejenak, Shohei menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Rai. Keadaan kafe yang sangat ramai pengunjung, membuatnya kesulitan melihat rekannya itu.


"Ada apa?" tanya Seina sambil ikut menoleh ke sekeliling.


"Ah, tidak apa-apa."


Menu yang mereka pesan telah tiba. Pelayan meletakkan makanan dan minuman pesanan mereka di atas meja. Ada sup cream kerang dan ayam cheese taro. Ada juga beraneka ragam makanan penutup.


"Kawai!" Seina tampak takjub melihat aneka hidangan yang ditata dengan estetik. Ia bergegas mengambil ponsel untuk mengabadikan hidangan kafe tersebut ke media sosialnya.


Di meja lain, Rai dan teman-teman Yuriko mulai mencicipi hidangan yang baru saja datang. Pria itu mengajari mereka cara menyantap hidangan Eropa dengan benar dan sesuai dengan tata krama orang barat.


"Wah, Matsui-san, apa kau pernah tinggal di negara Eropa?" tanya teman Yuriko.


"Aku hanya pernah memimpikan tinggal di sana," jawab Rai apa adanya.


"Dia kan kerja di perusahaan besar, pasti dia sering bertemu dengan kolega asing," sambung temannya yang lain.


Rai menoleh ke arah Yuriko. Gadis itu hanya terdiam kesal sambil sesekali meneguk air mineral.


"Yu-chan, apa kau mau mencobanya?" tawar Rai sembari hendak menyuap gadis itu.


"Tidak!" tolak Yuriko sambil membuang muka.


"Yuri-chan, kau akan menyesal kalau tak mencobanya. Ini enak sekali! Aku sering makan makanan Eropa, tapi belum pernah mencoba makanan dari Jerman ini," imbuh salah satu temannya.


Yuriko melirik meja. Ada banyak makanan yang membuatnya tergiur. Sayangnya, ia tertutupi oleh gengsinya sendiri.


Ya, ampun! Semua ini dessert mewah yang sering kulihat di saluran kuliner dunia.


"Yu-chan, cobalah sedikit saja!" Rai kembali menyodorkan sendok yang berisi potongan dessert cheese cake khas Jerman dengan kombinasi aneka buah segar.


Yuriko kembali meneguk ludahnya sendiri sambil menatap sendok yang mengarah padanya. Tanpa sadar, mulutnya sedikit terbuka seolah siap untuk menerima suapan. Sayangnya, Rai justru menarik sendoknya.


"Sepertinya Yu-chan sedang diet. Sebaiknya kita tak merusak programnya," ucap Rai sambil memasukkan sepotong cheese cake dengan perlahan sambil menatap Yuriko. Tampaknya ia sengaja membuat gadis itu menelan ludah.


Yuriko hanya bisa menggertakkan giginya menahan kesal. Sementara Rai melihat arlojinya, ia khawatir jika Shohei dan Seina selesai makan lebih dulu.


Rai lalu berbisik, "Hei, cepat bawa pergi teman-temanmu dari sini! Jika tidak, aku akan bilang yang sebenarnya pada mereka."


Diancam seperti itu, tentu membuat Yuriko kalang kabut. Ia segera berpikir cara agar teman-temannya mau pergi dari kafe itu. Sementara Rai tetap menyantap makanan dengan santai dan elegan.


Yuriko mengambil ponselnya, lalu berkata dengan nada kaget yang dibuat-buat, "Astaga, kita dapat panggilan dari dosen penguji sekarang juga!"


"Benarkah?" Keempat teman-teman Yuriko terkesiap.


"Iya, dia tidak punya waktu banyak dan akan segera pergi!" ucap Yuriko meyakinkan.


Tak ayal, teman-temannya pun berhenti makan dan bersiap-siap pergi. Mereka juga mengucapkan terima kasih pada Rai atas traktiran makanannya. Rai melambaikan tangannya sambil mengembuskan napas kasar saat mereka telah meninggalkan meja itu dan keluar dari kafe.


Rai berbalik cepat, melihat ke meja tempat Shohei dan Seina. Sepasang kekasih itu tampak sedang mengobrol santai. Dari tempat duduknya, ia dapat melihat keduanya sudah tak secanggung tadi.


Ketika hendak meninggalkan kafe itu, Shohei tercengang melihat tagihan makanan dengan total yang membludak. Matanya bahkan sampai mengerjap berkali-kali.


"Ano ... apa Anda tidak salah meja?"


"Tidak, Tuan. Bukankah Anda telah mengonfirmasi meja tersebut akan Anda tanggung?"


"Ah, iya. Aku hanya kaget karena temanku tak biasa makan sebanyak ini." Shohei langsung mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar semua tagihan.


Dari kafe, Shohei mengajak Seina ke arena bowling sesuai panduan Rai. Apalagi Rai mengetahui jika Shohei pandai bermain bowling. Rencana pria itu tak sia-sia, karena Seina terlihat begitu takjub saat Shohei berhasil menjatuhkan seluruh pin untuk tiga kali berturut-turut.


"Sugoi!" puji Seina sambil bersorak dan bertepuk tangan.


"Ayo, ajak dia mencobanya! Kau bisa mengajarinya pelan-pelan. Gunakan kesempatan ini untuk bermesraan dengannya," ujar Rai yang memantau dari sofa samping jalur bowling tempat sepasang kekasih itu bermain.



"Tapi, aku tidak yakin bisa seperti Shohei-kun."


Seina tampak ragu-ragu. Namun, ia tetap mengambil bola tersebut dari tangan Shohei. Sayangnya, bola yang ia lempar justru menggelinding ke parit.


"Ah, sudah kubilang aku tidak bisa!" Seina membuat ekspresi kecewa di wajahnya.


"Mau mencoba denganku?" Shohei mengambil bola baru.


"Apa kau akan mengajariku?"


Shohei mengangguk. "Tentu."


Pria itu kemudian mengajari Seina cara memegang bola yang benar dan juga posisi tubuh yang tepat saat hendak melempar.


Rai masih memantau keduanya dari balik sandaran sofa yang didudukinya.


"Oniichan!"


Bahu Rai refleks terangkat saat mendengar suara yang tak asing baginya. Saat menoleh, ia semakin terkejut melihat adiknya telah berdiri di hadapannya.


"Kau ... kenapa bisa ada di sini?" tanya Rai.


"Aku sedang bersama teman-teman kantorku." Ryo mengarahkan dagunya ke samping. Ya, terlihat sekelompok orang memakai kaus yang sama seperti Ryo, sedang bertanding bowling.


"Oniichan sendiri sedang apa di sini?" Ryo balik bertanya sambil memerhatikan posisi duduk Rai yang mencurigakan.


"Ya, tentu saja untuk bermain bowling, mana mungkin datang bermain basket," ketus Rai. Ia kembali melihat sepasang kekasih itu dari balik pembatas tempat duduk.


Penasaran apa yang sedang dilihat kakaknya, Ryo pun ikut mengintip. Matanya sontak terbelalak melihat seorang pria yang tengah mengajari gadis muda bermain bowling.


Dia ... bukannya pria yang sangat dekat dengan oniichan? Dia ... berkencan dengan gadis muda? Berarti aku telah salah paham!


Ryo meluruskan badannya seraya bersandar di kursi.


Kupikir hubungan mereka kandas karena Oniichan selingkuh dengan wanita dan kembali lurus. Ternyata justru pria itu yang kembali lurus dan mencampakkan oniichan.


Masih tak percaya, Ryo kembali ikut mengintip seperti yang sedang Rai lakukan saat ini.


Setelah berlatih dengan beberapa bola, akhirnya Seina berhasil menjatuhkan beberapa pin. Ia melompat senang dan langsung memeluk Shohei sambil bersorak riang. Hal ini tentu membuat Shohei terkesiap. Dengan ragu, kedua tangannya turut melingkar di tubuh Seina, membalas pelukan kekasihnya itu sambil mengulas senyum bahagia.


Melihat sepasang kekasih itu berbahagia, Rai pun turut mengulas senyum.


Apakah ini cukup untuk membuat cinta kembali pada tempatnya?


Ryo melirik ekspresi Rai yang mendadak sendu karena rasa bersalahnya.


Selama ini, aku tidak pernah melihat oniichan patah hati seperti ini. Lihat, dia bahkan sampai bawa teropong seperti paparazi hanya untuk membuntuti pria itu. Pasti oniichan tidak rela melihat pria itu bermesraan dengan seorang gadis.


"Oniichan," panggilnya lemah sambil bersandar di sofa.


"Hum ...."


"Aku tahu ini berat bagimu. Dulu kau dikhianati wanita yang kau cintai, sekarang kau juga dicampakkan pria yang menjalin hubungan denganmu. Demi kebahagiaanmu, aku memutuskan menerima oniichan yang sekarang. Tidak masalah jika orientasimu telah berubah, asalkan kau dapat memilih pasangan yang—" Kalimat Ryo terhenti begitu saja saat ia menoleh ke samping dan mendapati Rai sudah tidak ada di sebelahnya. Bahkan Shohei dan Seina pun sudah tidak ada di jalur bowling tempat mereka bermain.


Usai puas bermain bowling, Shohei sedikit menepi untuk berbicara dengan Rai. "Hei, tempat mana lagi yang cocok kami kunjungi?"


"Tenang, hal itu sudah kupikirkan. Selanjutnya pergilah ke wahana rumah hantu!"


"Apa?!" Shohei terbelalak.


"Dengarkan aku, wahana hantu tempat kencan favorit para lelaki karena di sana kita dapat menunjukkan kalau kita tidak takut pada hal apa pun termasuk hantu. Kau bisa menunjukkan sisi kejantananmu terhadap pasangan dengan memberinya perlindungan dari hal-hal yang menakutkan."


"Benar juga, ya? Baiklah akan aku taklukkan tempat itu!" ucap Shohei penuh percaya diri. Ia benar-benar ingin menggunakan kualitas waktu dengan Seina, sebelum disibukkan dengan target kesembilan dan kesepuluh.


Shohei pun mengajak Seina ke wahana hantu yang masih terletak satu lokasi dengan arena bowling tadi. Baru saja berada di pintu gerbang, suasana mencekam dan mistis terasa begitu nyata. Konon katanya, wahana hantu terbesar dan terseram di dunia itu adalah bekas bangunan Rumah Sakit.



Seina memegang erat tangan Shohei sambil menyandarkan kepalanya di lengan kokoh pria itu.


"Aku takut. Aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini." Suara Seina yang manis tampak gemetar.


"Tidak apa-apa. Semua ini hanya palsu dan buatan manusia." Shohei mengencangkan tautan tangan mereka.


Saat pintu terbuka, suasana mengerikan begitu terpancar. Ada puluhan boneka arwah yang berpakaian kimono. Shohei dan Seina memasuki koridor yang gelap dan sepi. Sepanjang jalan suara-suara mencekam memekik telinga mereka. Tulang-belulang dan tengkorak juga berserakan di lantai dan cukup menghalangi jalan mereka.



Sebaliknya, Rai yang telah lebih dulu masuk, memilih duduk berjongkok di samping rangka tubuh manusia.


"Kurasa ini tempat nyaman untuk memantau mereka," gumam Rai. Ia sengaja memilih tempat ini, karena di tempat lain sangat berisik dengan suara-suara teriakan pengunjung.


Seina terus menutup mata rapat-rapat sambil tetap memegang lengan Shohei. Ketika mereka melewati sebuah mobil tua, secara tiba-tiba terlihat penampakan hantu Sadako dengan rambut panjang yang menutupi seluruh wajahnya.


"Aaaaah!" Teriakan ketakutan keluar dari mulut Seina. Ketika ia menoleh ke belakang, peti yang tertutup rapat perlahan terbuka memperlihatkan mumi yang bangkit dan berjalan menghampiri mereka.


Seina kembali berteriak kencang. Tangannya terlepas dari genggaman Shohei secara refleks. Belum hilang rasa takutnya, ia kembali berteriak saat bahu kirinya dijatuhi potongan tangan yang berdarah.


"Seina! Seina!" Shohei memanggil Seina dengan panik. Pasalnya, kekasihnya itu menghilang dari pandangannya.


Seina yang ketakutan terus berlari menghindari kejaran hantu perawat dengan wajah yang menyeramkan.


"Ja–jangan ke sini! Jangan ke sini!" Suara bergelombang itu terdengar memohon. Seina terus berjalan mundur menghindari kejaran para hantu buatan.


Kreeekkkkk ....


Terdengar suara pintu yang terbuka secara perlahan.


"Aaaahhh!" Seina kembali berteriak. Ia spontan berjongkok di sudut ruangan, dengan mata terpejam dan tangan yang menutupi sepasang telinganya.


Ketika mulai hening, Seina membuka matanya secara perlahan. Namun, sosok yang muncul dalam pandangannya saat ini adalah wajah Rai yang diam membeku. Ya, keduanya kini saling berhadapan dengan posisi yang sama-sama berjongkok.


.


.


.


sumber gambar: TripAdvisor, Detiktravel


ini chapter dengan jumlah kata terbanyak yaa.... Ya, sebelum chapter-chapter menegangkan akan bermunculan ke depannya. jadi jangan lupa like+komen