
Menghilangnya Black Shadow dari Ruang Operasi, tak kalah menggemparkan polisi dan para wartawan yang menunggu di depan IGD. Mereka terkejut saat dokter dan para perawat mengatakan Black Shadow sama sekali tak ada di ruangan itu.
"Kami akan segera mencarinya, mungkin dia hendak melarikan diri," seru ketua pasukan kepolisian yang ditugasi mengawal Black Shadow.
"Tidak perlu!" tandas inspektur Heiji yang baru saja tiba di tempat itu, "status Black Shadow telah dicabut. Dia menghilang bukan urusan kita, karena dia bukan buronan lagi."
Para polisi yang tadinya hendak bergerak, langsung mundur dan kembali ke tempat mereka. Wartawan juga tampak membubarkan diri, sebagian menyusuri setiap sudut Rumah Sakit untuk mencari keberadaan Black Shadow yang diinfokan menghilang.
Ketika langit mulai senja, Rai dan kawan-kawan memutuskan kembali ke vila milik Kei. Yuriko berjalan tertatih dengan badan setengah membungkuk dan lutut yang sulit ditegakkan. Ternyata Rai tengah berada di atas punggung Yuriko. Penyerangan yang dilakukan para ajudan Perdana Menteri, membuat lelaki itu luka-luka di sekujur tubuhnya. Hal inilah yang membuat Yuriko berinisiatif menggendongnya begitu turun dari mobil.
"Hei, biarkan aku turun! Aku masih bisa berjalan tegak!" pinta Rai.
Yuriko masih bersikukuh menggendong Rai. Melihat semangat sang kekasih, Rai hanya bisa menghela napas seraya melingkarkan tangannya di leher gadis itu.
"Wuah ... aku juga ingin digendong seperti Oniichan," seru Ryo. Ia lalu menatap Kei yang berjalan santai di sampingnya. "Kei-san, apa kau bisa menggendongku? Seumur-umur aku belum pernah merasakan digendong."
"Maka kusarankan kau harus mencari pacar yang kuat seperti Yuriko!" tandas Kei sambil tertawa kecil.
Langkah mereka terhenti sejenak, saat melihat sosok pria berbadan tinggi berdiri di halaman vila. Ternyata pria itu adalah Shohei yang datang mengunjungi mereka.
Shohei mengangkat lima botol kaca sekaligus. "Aku bawakan kalian sampanye."
Rai sontak turun dari punggung Yuriko. "Mari berpesta!"
Mereka berempat berlari kecil ke arah pria berkacamata itu. Semuanya bersulang dengan penuh cita seraya mengingat kembali rencana dan siasat dadakan yang mereka buat.
Mereka juga melakukan video call dengan Ai Otaka. Tadinya mereka akan singgah menjenguk Ai. Sayangnya, penjagaan di kamar rawat Ai sungguh ketat. Ini karena jenderal Otaka telah meminta pengawalan ketat untuk anaknya sebelum ia melakukan konferensi pers. Ia takut anaknya mungkin akan diserbu wartawan.
Kei menepi untuk menerima telepon dari rekan sesama jurnalis. Ia tampak terkejut mendengar berita yang baru saja disampaikan teman sejawatnya. Ia lalu kembali berkumpul di meja.
"Teman wartawanku memberitahu kabar duka dari Kazuya Toda. Putrinya baru saja meninggal dunia akibat serangan jantung. Ternyata putrinya itu mengidap kelainan jantung bawaan dan dirawat di Rumah Sakit Washington. Rencananya, dia akan menerima transplantasi jantung di sana setelah acara kelulusan."
"Dia menerima karma melalui anaknya," ucap Rai tak menyangka.
"Menurut pengakuan Eita Kaze, sebagian aliran dana dari hasil pencucian uang digunakan untuk membayar biaya medis anaknya selama belasan tahun," lanjut Kei.
"Dia mengupayakan segalanya demi memperpanjang kehidupan anaknya, tapi dia tak sadar telah mengambil kehidupan orang lain," ucap Shohei sambil mengingat kematian orang-orang yang terlibat dengan Kazuya Toda, termasuk Seto Tanaka dan Yuta Inoo. Meski begitu ia turut bersimpati atas duka yang dialami Kazuya Toda.
"Kematian anaknya sepertinya tak membuat publik bersimpatik padanya. Kecaman padanya terus bergulir," sambung Ryo yang tengah membaca ribuan hujatan yang terarah pada Kazuya Toda di sosial media.
Shohei berdiri lalu membungkuk di hadapan mereka. "Mina-san, Domo arigatou gozaimasu. Misi kita berhasil. Terima kasih telah kompak bersamaku. Tim akan kububarkan malam ini. Silakan kembali ke aktivitas kalian semula."
Saat mengatakan kalimat itu, suasana mendadak hening. Mereka terdiam dan hanya saling memandang.
Rai dan Yuriko kembali ke apartemen lama mereka. Tak ada yang berubah, hanya ada tambahan debu tebal yang menempel di beberapa barang.
"Setelah ini, Shohei akan kembali menjalankan tugasnya sebagai polisi, adikku akan kembali bekerja di perusahaan Yamada grup, Kei akan kembali menjadi jurnalis, dan kau akan kembali kuliah seperti semula. Pada akhirnya, kalian semua melanjutkan cita-cita dan tujuan hidup. Hanya aku ...." Rai tertawa sinis seraya membuang muka, "hanya aku yang tidak jelas akan ke mana. Setelah misi ini selesai, Black Shadow hanya tinggal kenangan dan aku menjadi pengangguran yang tidak memiliki apa pun."
Yuriko membelai pipi Rai yang dipenuhi lebam, mengarahkan kepalanya agar dapat saling berpandangan.
"Apa kau lupa ... kau masih memiliki aku!" balas Yuriko sambil menatap lekat Rai, seakan mampu melihat kedalaman sorot matanya.
Rai bergeming seraya membalas tatapan Yuriko. Telapak tangannya yang hangat membelai sisi wajah kekasihnya. Iris berwarna gelap itu mengunci manik lembut gadis itu.
"Jangan hanya menatapku saja," ucap Yuriko dengan wajah yang bersemu.
"Lalu, kau ingin aku berbuat apa?" tanya Rai dengan sudut bibir terangkat ke atas.
Yuriko menunduk malu-malu. "Lakukan sesuatu yang biasanya dilakukan para pasangan!"
Rai memajukan wajahnya hingga hidung mereka saling bersinggungan. "Kau mau aku bagaimana? Menggigitmu? Menerkammu? Atau menyerangmu?"
Yuriko meringis seketika. "Kau ini pacar atau hewan buas?"
"Aku ... pacar yang buas," bisik Rai dengan menyipitkan sebelah mata, "sekali memangsa, kau tak bisa lepas dariku!" Ia kembali tersenyum miring sambil mengitari bibir Yuriko dengan jempol tangannya.
Alis Rai terangkat sebelah. "Maka kau harus siap teracuni cintaku!"
Tanpa aba-aba, bibir panas Rai langsung menyusup masuk ke celah bibir Yuriko yang sedikit terbuka. Menerjangnya dengan kuluuman rakus dan liar. Seolah tak mau kalah, gadis itu membalas setiap sesapan yang Rai berikan padanya. Kedua bibir itu saling memagut, membelit, mencecap bahkan menggigit dalam durasi yang panjang.
Perbedaan tinggi mereka membuat Yuriko berinisiatif menyamakannya dengan memanjat tubuh Rai. Kakinya langsung melilit di pinggul pria itu sedangkan tangannya melingkar di leher tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
"Tidak kusangka ternyata kau pro juga!" puji Rai saat Yuriko bisa mengimbangi ciumannya yang membara.
"Apa itu buruk?"
Rai menggeleng. "Lagi pula aku tidak menyukai gadis polos."
Rai mengecup kening Yuriko berulang-ulang, menggigit gemas cuping hidung gadis itu lalu diakhiri dengan ciuman dalam yang berlabuh di bibir. Sambil membawanya menuju ranjang, ia melepas kuncir kuda kekasihnya, sengaja membiarkan rambut gadis itu tergerai indah sehingga sisi femininnya menonjol.
Rai menidurkan Yuriko di ranjang mungil mereka. Ia segera membuka kaus yang melekat di tubuh, lalu melempar ke sembarang arah. Yuriko hanya bisa meneguk ludah menatap tonjolan otot-otot tubuh Rai yang terpampang di hadapannya. Sudah selama itu mereka dekat, ia baru menyadari jika pria di hadapannya itu memiliki fitur fisik dan wajah yang sempurna. Meski beberapa bagian kulitnya terdapat luka dan memar, tetap saja tak mampu menutupi pesona alami pria itu.
Malam itu, mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua. Seakan tak peduli begitu banyaknya kejadian berisiko yang terjadi beberapa jam sebelumnya.
Sang Surya mulai mendatangi pagi bersamaan dengan kicauan burung yang datang membangunkan makhluk hidup. Musim gugur mulai menampakkan diri ditandai dengan angin yang mulai beraksi meruntuhkan dedaunan dari ranting, seakan memberitahukan insan untuk segera meninggalkan hal-hal yang telah berlalu, untuk menyambut sesuatu yang baru.
Shohei berdiri di depan cermin sambil memasang dasi. Sejenak, ia tersenyum simpul saat mengingat pesan singkat dari Seina yang mengatakan bahwa ia tengah berkemas untuk pindah ke apartemen itu. Ia lalu berangkat menuju kepolisian metropolitan.
Hari ini, media masih digemparkan oleh berita tentang menghilangnya Black Shadow dan terkuaknya kejahatan Kazuya Toda selama ini. Telah duduk di meja kerjanya, Shohei kembali mengambil surat pengunduran diri yang sempat ia simpan di laci.
Seseorang masuk untuk menginfokan kalau kepala kepolisian metropolitan hendak berbicara dengannya. Shohei pun bergegas ke ruangan atasannya sambil membawa surat pengunduran diri.
Tiba di ruang kepala kepolisian metropolitan, terlihat Jun Megumi tengah berdiri di jendela lebar sambil menatap pemandangan arus lalu lintas di bawah sana. Shohei berdiri tak jauh darinya tanpa mengeluarkan suara.
"Yamazaki-san, selama berada di USA, aku menciptakan aplikasi profiler yang bisa membantu penyelidikan suatu kasus. Seperti pelaku kriminal, para pelaku korupsi, serta mata-mata pemerintah," ujar Jun sambil tetap mengarahkan pandangan ke jendela.
"Benarkah? Senpai memang hebat!" puji Shohei sambil tersenyum.
Jun berbalik menghadapnya sambil lanjut menjelaskan. "Aplikasi ini masih dalam tahap percobaan. Cara kerjanya, dia akan mengidentifikasi target dari tulisan tangan, ketikan, kebiasaan mereka sehari-hari termasuk kecerdasan, sifat, minat dan bakat target yang ingin kita selidiki. Dari semua itu, aplikasi akan persentasekan yang paling menonjol untuk keluar sebagai pelaku. Aku telah menguji keakuratan aplikasi ini dengan mencoba menyelidiki sosok di balik Black Shadow. Aku mengambil sampel empat orang yang paling mungkin menjadi terduga. Kau tahu, siapakah sosok yang memenangkan persentase hingga 90%?"
Jun membalikkan tablet yang dipegangnya, menunjukkan ke arah Shohei. Pada detik itu juga, mata Shohei melebar sempurna. Pasalnya, di layar tablet itu menampilkan nama dan fotonya lengkap dengan persentase akhir yang dikeluarkan aplikasi ciptaan profesor hukum itu.
"Yamazaki Shohei, kau adalah orang di belakang Black Shadow selama ini, kan?" terka Jun dengan tampilan penuh keyakinan.
Shohei terdiam sesaat. Tentu ia tak bisa mengelak lagi. Jika yang dihadapannya itu orang lain, akan mudah menampik ataupun mengelabuinya. Tapi pria itu adalah Jun yang tahu dirinya luar dalam. Ia tak bisa membodohinya.
"Moshiwake gozaimasen deshita." Shohei membungkuk penuh.
("Moshiwake gozaimasen deshita: permintaan maaf secara sopan dan formal untuk kesalahan fatal/besar).
Jun menghela napas sesaat. "Yamazaki-san, aku tahu kau lakukan itu demi tujuan yang baik. Kau juga tak mengambil keuntungan atas setiap misi yang kau rencanakan. Tapi, tentu kau sangat paham seorang polisi tidak boleh seenaknya melakukan penyelidikan diam-diam tanpa perintah resmi. Selama kau masih memakai seragam ini, seharusnya kau tahu setiap tindakan yang kau ambil dibatasi oleh aturan dan kode etik."
"Saya mengerti." Shohei kembali menunduk tanpa berani menatap atasan tertinggi di kepolisian Metropolitan.
"Jika mengikuti kemauanku, secara pribadi aku ingin memberimu penghargaan. Tapi ...." Jun menggeleng lemah, "sayang sekali, aku harus melakukan ini padamu. Kurasa kau telah memikirkan risiko yang akan kau hadapi saat bertindak di luar kuasamu." Wajah Jun berubah menjadi kelam seketika.
Beberapa jam setelah pembicaraan antara Jun dan Shohei selesai, ada banyak polisi yang tergabung dalam detektif elit saling bertanya-tanya. Inspektur Heiji dan detektif Shu berdiri di depan ruang kerja Shohei sambil melihat ke dalam.
"Apa yang terjadi dengan Yamazaki-san? Kenapa dia mengemas barang-barangnya setelah dipanggil Kepala Megumi?" tanya Shu sambil berpikir keras.
"Entahlah! Sepertinya Yamazaki-san telah membuat pelanggaran. Megumi-san sangat menyayanginya sejak Yamazaki-san baru dipindahkan di departemen ini. Bahkan memercayakan kasus-kasus besar untuk ditangani Yamazaki. Aku hanya berharap apa yang dilakukan Yamazaki tidak terlalu fatal," ucap inspektur Heiji. Entah kenapa, ia merasa sedih saat melihat sudah tak ada lagi papan nama Yamazaki Shohei di ruang kepala penyidik divisi satu.
.
.
.