Never Not

Never Not
Ch. 45 : Mencicipi Makanan



"Hajimemashite, namaku Otaka Ai. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan Ai. Dozo douzo yoroshiku onegaishimasu (mohon bimbingan kalian)," ucap polisi pindahan itu memperkenalkan diri secara formal sambil membungkuk penuh.


"Ai-san, kuharap kau bisa bekerja sama dengan yang lainnya," ucap Shohei tersenyum ramah.


"Siap!" seru Ai.


"Kalian semua, jangan lupa untuk segera membuat laporan untuk masing-masing kasus yang selesai kalian tangani." Shohei mengintruksikan pada seluruh polisi yang berada dalam naungannya.


"Siap," ujar para polisi serentak.


Usai kepergian Shohei, Ai mendekat pada Seto lalu berkata, "Dia Yamazaki Shohei, kan?"


"Hum." Seto mengangguk.


"Wuah, tidak kusangka aku bisa satu tim dengannya. Tahun depan aku yakin aku bisa menggantikan posisinya!"


Seto Tanaka yang sedang mencatat sebuah laporan langsung memicingkan sebelah mata.


"Hei, apa kau segeralah bangun. Ini sudah siang," ujar salah seorang polisi sambil menepuk pundak Ai.


"Kau pikir aku sedang tidur?" ketus Ai.


"Jangan menyepelekan mimpi seseorang. Jangan lupa, tujuh tahun lalu ketua Yamazaki-san hanya polisi biasa seperti kita ini dan di bawah perintah detektif Shu. Siapa sangka sekarang karirnya malah di atas detektif Shu, bukan?" ujar Seto Tanaka pada kawan-kawannya. Sebenarnya, ia mengenal baik Otaka Ai. Mereka dulunya sekamar saat menempuh pendidikan akademi kepolisian. Jadi, dia sudah tak asing lagi dengan sikap dari polisi pindahan itu.


"Nah, kalian dengar sendiri, 'kan? Kalau begitu aku akan mengikuti jejaknya!" imbuh Ai seraya menepuk dadanya.


"Yamazaki-san lebih hebat dari yang kau kira. Bahkan seharusnya dia telah naik ke Badan Kepolisian Nasional, hanya saja dia meminta penundaan untuk dipindahkan dan masih ingin tetap berada di Kepolisian Metropolitan," ujar salah satu dari mereka.


"Kenapa dia menundanya? Bukankah itu sebuah pencapaian besar?" tanya Ai terkejut.


"Mungkin karena jika berada di Badan Kepolisian Nasional dia tak lagi mengurus kasus," balas yang lainnya.


"Kupikir Yamazaki-san mirip ayahnya. Kudengar dari ayahku, seharusnya yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman saat ini adalah ayah dari Yamazaki-san. Tetapi, yang dilantik malah tuan Matsumoto. Banyak yang menduga itu karena ayah dari Yamazaki-san menolaknya," bisik salah satu anggota polisi.


"Benar-benar keluarga yang tidak punya ambisi!" Ai berdecak kagum. Ia menoleh ke arah pintu, lalu tersenyum halus.


Di kondominium Shohei, Yuriko membereskan sisa makanan setengah jam setelah Shohei kembali ke kantornya. Sejenak, ia melirik ke steak daging yang hanya terpotong di bagian ujungnya. Merasa sayang harus dibuang, ia pun duduk di tempat yang Shohei duduki dan hendak menyantap sisa steak buatannya. Yuriko mengerutkan kening karena lumayan kesulitan memenggal daging steak tersebut.


Ia pun mencoba masakan yang dibuatnya dengan susah payah. Saat daging steak itu mulai menggoyang lidahnya, wajahnya berubah secara alami.


"Kenapa keras sekali, ya?" ucapnya sambil berusaha mengunyah. Sempat khawatir hasil masakannya gagal total, ia malah menyengir di detik berikutnya. "Ah, ini pasti karena aku menyantapnya dalam keadaan dingin. Bukankah steak daging harus disantap panas-panas," gumamnya berpikir positif.


Ia mengangkat piring kotor ke wastafel dan langsung mencucinya. Ketika hendak menyimpan sisa cream soup, ia kembali hendak mencoba masakannya itu. Ya, dia memang belum sempat mencicipi hasil masakannya karena takut Shohei lebih dulu datang sedangkan saat itu dia belum menyajikan makanan di atas meja.


Yuriko mengambil sesendok cream soup berbahan dasar labu yang sudah dingin lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Matanya berkedap-kedip karena rasa asin yang kuat meraba indra pengecapnya itu.


"Kenapa asin begini, ya?" Wajah gadis itu berkerut bahkan rasanya ingin meludah. "Ah, makanan eropa memang asin-asin, kan? Makanya tidak cocok di lidahku tapi cocok di lidah Shohei. Buktinya dia menghabiskan semangkok. Lidah orang kota dan orang desa memang beda, ya," gumamnya lagi yang entah terlalu berpikir positif atau sedang menghibur diri sendiri. Ia menaruh panci yang berisi sisa cream soup itu ke dalam kulkas.



Tak terasa pergantian waktu dari sore ke malam telah tiba. Rai mendatangi apartemen Shohei usai menjalankan tugasnya. Mereka memilih membicarakan misi selanjutnya di tempat itu. Begitu pintu dibuka Shohei, Rai melenggang santai ke dalam seakan rumah tersebut juga miliknya.


"Tidak masalah," balas Shohei yang melangkah menuju meja bar lalu mengambil sebotol sampanye.


"Kau kan sudah menyendiri, bukankah lebih baik jika kita berdiskusi di sini daripada di apartemenku?" Rai menatap sekeliling ruangan.


"Heh, apa kau lupa kalau rumah ini juga akan ditempati kekasihku!"


Rai menepuk dahinya. "Astaga, aku lupa. Aku bahkan sering lupa kalau kau akan segera bertunangan."


"Oh, iya, ya?" Shohei mengingat sesuatu. "Aku belum memperkenalkan kekasihku padamu," ucapnya seraya memberi gelas kristal berisi cairan alkohol dengan merk yang difavoritkan Rai.


"Sebaiknya tidak usah. Takutnya, dia malah jatuh cinta padaku," canda Rai sambil menyengir.


"Pacarku tak akan jatuh cinta padamu!" ujar Shohei sambil meneguk tipis segelas sampanye.


"Yakin? Kalau kugoda paling juga bakal terjerat dengan pesonaku." Rai menatap Shohei seraya menaikkan keningnya sebanyak dua kali.


"Kau terlalu percaya diri." Shohei tersenyum dengan memamerkan seluruh gigi depannya.


"Dan kau terlalu memercayai seseorang!" imbuh Rai.


"Kau salah. Aku seorang detektif, aku tidak boleh memercayai siapapun kecuali diriku sendiri dan ... kau!" Shohei menepuk dada Rai.


"Kenapa? Kenapa kau percaya padaku di saat kau tak bisa percaya pada siapapun? Aku mungkin bisa berkhianat kapan saja," tanya Rai pelan sambil menatap lukisan Mr. White dan Black Shadow. Sebenarnya, dia merasa terbebani dengan kepercayaan yang diberikan Shohei padanya.


Shohei menatap dalam sepasang bola mata Rai. "Aku meyakini seseorang yang dikhianati cenderung akan membenci pengkhianatan. Dia akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu yang pernah orang lain lakukan padanya. Kuharap itu ada di dirimu."


Saat mengatakan hal itu, yang terlihat di dalam dirinya adalah Mr. White yang tegas dan tak mengenal kompromi bukan Shohei yang lembut.


Rai menatap bergeming ke arah Shohei. Sejujurnya, ia menyadari jika Shohei sedang memberikan sugesti padanya agar mereka tetap selalu berada di jalur yang sama. Permainan kata-kata seperti ini dulunya sering ia lakukan saat melancarkan aksi penipuan. Lucunya, dunia seakan terbalik, dulunya dia memperdaya banyak orang demi memuluskan aksinya, sekarang dia malah diperdaya seorang polisi demi memerangkap para penjahat berdasi.


"Omong-omong ... apa tidak ada sesuatu yang bisa kumakan di kulkasmu? Aku lapar sekali!" ucap Rai seraya membuka kulkas. Matanya menyala saat melihat sepanci kecil cream soup. "Woah ... bukankah ini pumpkin cream soup?


Melihat hal itu, membuat Shohei terkesiap. Pasalnya, itu adalah sisa cream soup yang dimasak Yuriko.


Sambil menggaruk kepalanya, sebelah tangan Shohei mencoba mengambil panci cream soup itu dari tangan Rai. "A ... Rai, kurasa makanan ini tak sesuai seleramu."


Rai meminggirkan panci tersebut ke samping agar tak diambil Shohei. "Siapa bilang? Aku adalah penggemar masakan Italia. Aku makan, ya?" ucapnya seraya mengambil sesendok cream sup lalu mengarahkan ke mulutnya sendiri.


"Ja–jangan!" tahan Shohei seraya mengulurkan tangan ke depan.


Terlambat! Benar-benar terlambat! Sesuap cream soup telah masuk ke mulut Rai. Keduanya tiba-tiba sama-sama mematung dan saling bertatapan kaku. Shohei terdiam dengan wajah meringis dan mulut setengah terbuka, sedang Rai membeku dengan mata melotot dan mulut mengerucut berkumpul menjadi satu.


Satu, dua, tiga. Dalam hitungan tiga detik Rai menyemburkan kembali isi makanan yang telah berada di mulutnya. Sialnya, cipratan cream soup itu sebagian mengenai wajah Shohei.


.


.


.