
Yuta dan semua anggota penipu tentu tercengang mendengar ide gila yang baru saja dicetuskan Rai. Sungguh, tak ada satu orang pun berpikiran serupa. Rai membuktikan bahwa sebagai seorang penipu kelas kakap, ia sama sekali belum berubah. Selalu melakukan segala cara demi mencapai tujuannya.
"Bagaimana kita bisa melakukan itu? Sekarang Ryo sudah tak lagi bersama kita!" cetus Yuta. Sebab, seingatnya, Ryo yang selalu bertugas menjalankan ide konyol dan berbahaya.
"Tenang saja! Aku tahu di antara kalian tidak ada yang bisa melakukannya! Maka dari itu, serahkan semua ini padaku. Aku akan turun tangan langsung untuk membuat kepolisian kerepotan," tandas Rai santai.
Yuta tersenyum lebar sambil menepuk tangan dengan pelan. Ia lalu membuka laptopnya lalu menunjukkan sebuah program yang baru saja dibuatnya.
"In program yang dapat melacak pergerakan petugas keamanan di bea cukai. Program ini juga bisa dilakukan dalam smartphone. Hanya tinggal menekan "Ok" semua yang kita inginkan akan terlacak secara otomatis.
"Kalau begitu buatlah juga untuk melacak pergerakan target kita untuk berjaga-jaga kalau dia mendatangi tempat itu secara tiba-tiba!"
Yuta bergeming seraya menatap penuh ke arah Rai.
"Kenapa? Apa itu sulit?" tanya Rai.
"Tidak! Tentu saja sama sekali tidak sulit," tampik Yuta segera.
Rai langsung keluar dari ruangan itu. Sementara, Haru bergegas mendekati Yuta.
"Apa kau percaya sepenuhnya pada Rai? Bagaimana jika dia mengkhianati kita?" Haru terlihat sedikit cemas.
"Ya, tentu saja aku percaya. Soalnya ... Rai bukan kita! Lagi pula dia berutang banyak padaku dan berjanji akan membayarnya dengan keberhasilan misi ini."
Haru menengadahkan wajahnya sambil mendengus.
Mengerti jika rekannya itu tampak khawatir, Yuta pun berbisik di telinga perempuan itu. "Tapi ... jika dia melanggar kesepakatan ini, kurasa kau lebih tahu tindakan selanjutnya!"
Haru tersenyum sinis. "Sejujurnya aku merasa kesal dia terus-menerus mengabaikanku."
Rai memasuki box telepon umum. Meletakkan gagang telepon di telinganya, ia mulai menekan nomor ponsel ke tombol yang tersedia. Ia menghela napas secara perlahan, sebelum akhirnya panggilannya tampak tersambung.
"Moshi-moshi ...." Suara perempuan langsung menyapa pendengarannya. Suara yang sama sekali tak terdengar feminin.
Rai membiarkan dirinya dalam kebisuan. Sementara perempuan itu terus bersuara.
"Moshi-moshi, siapa di sana?" tanya gadis itu untuk ke sekian kalinya.
Rai masih bergeming. Namun, ia terhenyak saat menyadari telepon telah terputus. Tampaknya perempuan itu yang memutuskannya.
Di waktu yang sama, Yuriko melempar ponselnya lalu kembali mengeringkan rambut. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Yuriko menatap layar yang memunculkan nomor tak dikenal. Menyadari yang meneleponnya adalah nomor yang tadi, dia pun kembali mengangkatnya.
"Moshi-moshi ...."
Hening. Masih tak ada suara dari si penelepon.
"Moshi-moshi, Aizawa Yuriko desu. Apa kau dapat mendengarku?" tanya Yuriko yang berprasangka sinyal operator sang penelepon tengah mengalami gangguan.
Rai terus diam sambil tersenyum tipis. Ia malah terus menerus menelepon gadis itu, tak peduli teleponnya akan segera dimatikan.
Yuriko mengembuskan napas kasar saat menerima panggilan asing untuk yang ke sekian kalinya. "Moshi-moshi, kau siapa? Apa kau mengenalku? Atau ada yang perlu dibantu? Ayolah, jangan malu-malu!" bujuk Yuriko.
Masih tak ada balasan sekata pun. Hal ini tentu membuat Yuriko menjadi berang.
"Apa kau bisa bicara? Jika bisa, bicaralah! Jika tidak bisa, sebaiknya segera tutup teleponnya dan jangan meneleponku lagi. Ah, aku tahu! Jangan-jangan kau penggemarku, ya? Cepat katakan dari mana kau mendapatkan nomorku!" ketus gadis itu dengan kesal.
Kali ini Rai berusaha menahan tawa sampai-sampai harus menutup mulutnya agar tak mengeluarkan bunyi. Sepertinya, ia tak memiliki tujuan apa pun menelepon gadis itu selain hanya untuk mendengar suaranya. Malam ini, kerinduannya terhadap gadis itu sedikit terobati. Dan itu cukup baginya.
Usai rapat bersama timnya, Shohei menerima sebuah telepon dari seorang polisi wanita yang bertugas di tim forensik kepolisian Metropolitan.
"Bagaimana dengan serbuk pasir yang terdapat di ruang penyekapan? Apakah sudah ada hasilnya?" tanya Shohei begitu panggilan itu terhubung.
"Hasilnya 98% sama dengan sampel pasir tempat kau menemukan jejak sepatu di lokasi itu," jawab lawan teleponnya.
Mata Shohei memicing seketika. Pikirannya seolah menyusun kepingan misteri yang masih belum terpecahkan.
"Aku juga sudah meneliti jejak sepatu yang kau temukan di sekitar halaman gedung tempat penyekapan mantan menteri kehakiman. Jejak sepatu itu cocok dengan jejak sepatu yang ditemukan di lokasi jalan tempat kau ditusuk," ungkap polisi wanita tersebut.
Jadi begitu. Dapat dipastikan pasir itu memang dibawa oleh Black Shadow tiruan setelah dia tak sengaja menginjak tanah yang berpasir di halaman gedung.
"Arigatou Araki-san. Apa aku boleh meminta tolong padamu lagi?"
"Apa itu?"
"Tolong jangan beritahu siapapun, termasuk anggotaku sendiri. Aku ingin menyelidiki kasus ini diam-diam."
"Baiklah! Aku mengerti. Jika kau membutuhkan bantuan, hubungi saja aku."
Tanpa polisi wanita itu sadari, detektif Shu diam-diam mendengar perbincangannya lewat saluran telepon bersama Shohei. Ternyata, sedari tadi pria yang pernah menjadi atasan Shohei itu tengah berada di laboratorium forensik untuk mencari tahu lebih dulu setiap hasil penyelidikan tim forensik yang keluar. Wajar saja, untuk kasus besar yang melibatkan pejabat negara seperti ini, para polisi berlomba-lomba memecahkannya demi meraih sebuah penghargaan atau pengakuan.
Di sisi lain, para detektif elit divisi satu yang berada dalam naungan Shohei, tengah lembur untuk menyelesaikan kasus-kasus kematian yang belum terungkap, termasuk kasus kematian tuan Matsumoto. Tiba-tiba Detektif Shu masuk menerobos ruangan itu dengan tergesa-gesa.
"Apa kalian tahu mengenai jejak sepatu yang ditemukan di gedung tempat penyekapan mendiang menteri kehakiman?" tanyanya pada polisi-polisi yang ada di ruangan itu.
"Apa maksudmu?" tanya polisi-polisi itu dengan raut bingung.
"Aku tak sengaja mendengar pembicaraan Araki-san dengan Yamazaki-san lewat sambungan telepon. Hasil temuan forensik mengatakan jejak sepatu yang ditemukan di sekitar lokasi gedung tempat mendiang menteri kehakiman, sama dengan jejak sepatu yang ditemukan di sekitar tempat penusukan Yamazaki," ucap detektif Shu mengulang apa yang ia dengar di ruang forensik.
Seluruh detektif yang ada di ruangan itu lantas terkesiap, tak terkecuali Seto Tanaka dan juga Ai Otaka.
"Bukankah forensik dan tim investigasi waktu itu melaporkan tidak ditemukan adanya jejak sepatu di lokasi?" tanya salah satu polisi.
"Ya, memang benar. Tapi sepertinya Yamazaki-san kembali mendatangi lokasi tersebut dan melakukan penyelidikan rahasia. Dia berhasil menemukan bekas jejak kaki di sekitar halaman gedung yang berpasir. Butiran pasir yang terdapat di ruangan tempat korban ditemukan, juga cocok dengan tumpukan pasir yang terdapat jejak sepatu pelaku," jelas detektif Shu yang ternyata mendengar seluruh obrolan antara Shohei dengan anggota forensik.
"Apakah itu artinya Black Shadow juga yang menikam ketua?" Seto berucap seketika.
Para polisi lainnya kembali tercengang dan ikut mengingat kasus penikaman yang dialami ketua mereka beberapa bulan yang lalu. Apalagi dalangnya belum terungkap hingga kini.
"Bisa jadi, tapi untuk apa dia melakukan itu, ya?" tambah salah seorang polisi.
"Itu juga yang membuatku merasa aneh. Kupikir apa yang sedang diusut ketua Yamazaki-san waktu itu sejalan dengan misi Black Shadow," imbuh polisi lainnya.
"Bisa saja karena dia tidak ingin kehilangan popularitasnya," sahut Seto cepat, "Kasus itu berhubungan dengan video viral seseorang yang meminta tolong Black Shadow untuk menemukan seorang gadis host yang hilang. Dan saat itu, popularitas Black Shadow sebagai pahlawan masyarakat sedang meroket. Kemudian ketua Yamazaki-san sangat antusias terhadap kasus itu dan hampir memecahkannya. Kurasa Black Shadow sengaja melukai ketua kita karena tak ingin ada seseorang yang lebih dulu membongkar kasus itu selain dirinya." Seto mulai mengeluarkan argumennya.
"Masuk akal juga." Para detektif mengangguk-angguk menyetujui pendapat Seto.
"Intinya ... pelaku penusukan Yamazaki-san dan pelaku penyekapan sekaligus pembunuhan mendiang menteri kehakiman kemungkinan besar orang yang sama!" ucap detektif Shu yang tengah bersedekap seraya bersandar di dinding, "tapi ... yang membuatku heran, kenapa Yamazaki-san merahasiakan ini pada kita semua? Kenapa dia memilih menyelidikinya sendiri?" lanjut Shu.
"Itu artinya, ketua tidak memercayai kita. Atau ... mungkin saja dia mencurigai salah satu di antara kita." Ai Otaka yang sedari tadi memilih diam karena fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba bersuara.
"Bagaimana bisa kami melakukan itu pada ketua?" tegas polisi lainnya.
"Seperti yang pernah Shu-senpai katakan, tugas seorang detektif adalah mencurigai orang. Kurasa tidak masalah jika ketua mencurigai salah satu di antara kita. Bukankah begitu, Shu-senpai?" Ucapan bernada skeptis keluar dari mulut Ai, bersamaan dengan lirikan matanya yang terarah pada detektif Shu.
Ai segera mengalihkan pandangannya ke layar komputer di meja kerjanya. Selang sepuluh menit kemudian, ia menerima sebuah surel di komputer meja kerjanya. Ketika membuka surat elektronik tersebut, matanya melebar seolah tak percaya.
Ai lantas berdiri sambil mengemas barang-barangnya. "Aku harus segera pulang! Maaf tidak bisa menemani kalian lembur lebih lama. Otsukaresama Desu!"
(NT: Otsukaresama Desu\=salam formal yang digunakan sesama rekan kerja di Jepang)
"Tentu tidak masalah. Otsukaresama Desu!" sambut para polisi dengan ramah seolah mereka tak mempermasalahkan pria itu tak menyelesaikan pekerjaannya.
Begitu pria itu keluar, para detektif sontak bergosip. "Apakah kita harus menghormatinya mulai sekarang?" tanya salah satu polisi.
"Entahlah, aku benci harus bersikap manis dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia anak kepala kepolisian nasional sekarang! Mungkin sebentar lagi dia juga akan menjadi atasan kita!" timpal polisi lainnya.
Begitu keluar gedung, Ai Otaka langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi ayahnya. "Moshi-moshi, apa Ottousan ada di rumah sekarang? Atau masih di kantor? Aku ingin berbicara padamu!" ucap Ai dengan ponsel yang ditempelkan di telinga kanannya.
.
.
.
jangan lupa like + Komeng. biar gak lemes Bray.