
"Yu–Yuriko ... Yuriko-chan." Shohei berusaha membangunkan Yuriko dengan suara panik yang berbisik pelan. Sayangnya, tak mendapat respon apa pun. "Yuriko-chan! Yuriko-chan!" ulang Shohei disertai tepukan lembut di pipi gadis itu.
Bukannya bangun, kepala gadis itu terasa semakin berat di pundaknya.
Gawat! Ini posisi yang tak baik bagi pria dan wanita yang tak memiliki hubungan apa-apa.
Shohei mendorong lembut kepala Yuriko dengan penuh hati-hati, tapi belum sampai sedetik, kepala gadis itu kembali terantuk di pundaknya. Shohei kembali mendorong kepala Yuriko dan menyandarkannya di sandaran sofa. Sialnya, lagi-lagi kepala Yuriko kembali tersandar lemas di bahu pria itu. Shohei menarik napas panjang, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Usahanya berhasil karena kepala gadis itu tak lagi terkulai di pundaknya. Namun, baru saja berancang-ancang hendak berdiri, kepala Yuriko kembali limbung dan kali ini malah terantuk di pahanya.
Shohei menahan napas seraya menatap wajah terlelap Yuriko yang sekarang berada di atas pahanya.
Ini posisi yang lebih berbahaya dari sebelumnya!
Shohei mengangkat pelan kepala Yuriko dari atas pahanya. Kemudian menggeser sedikit demi sedikit tubuhnya ke samping untuk mengambil ponselnya. Di saat hendak menghubungi Rai, tiba-tiba ia teringat kalau pria itu sedang menjalankan aksi. Alhasil, ia hanya bisa menghela napas seraya menatap Yuriko yang tertidur pulas di sampingnya.
"Kau pasti kelelahan karena harus mengangkat dan merapikan semua perabotan ini," ucap Shohei sambil tersenyum tipis.
Di waktu yang sama, Rai memasuki sebuah bar elit di kawasan Shinjuku. Ketika menaiki lantai dua, seorang gadis muda langsung melambai ke arahnya. Rai melempar senyum seraya menghampiri gadis itu.
"Apa Anda telah lama menunggu?" tanya Rai dengan bahasa yang sengaja dibuat formal dan kaku.
"Tidak juga," jawab gadis itu yang ternyata adalah Nakamura Aya.
Rai pun memulai obrolan ringan yang santai. Selain memperdaya wanita dengan parasnya, ia juga dapat menjerat mereka dengan keahliannya dalam berkomunikasi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, seakan mengandung morfin yang dapat membuat siapapun merasa melayang dan nyaman mengobrol dengannya.
Hal ini berlaku juga bagi Nakamura Aya. Tampaknya, gadis itu tak ragu untuk menceritakan apa pun, termasuk kecemasan yang ia rasakan menjelang Olimpiade Tokyo.
"Jujur, aku juga kaget sewaktu ditunjuk untuk menggantikan seniorku. Apalagi atlet yang aku gantikan adalah seorang legenda di dunia renang. Aku tidak paham kenapa harus aku yang menggantikannya. Awalnya aku sangat pesimis, tiba-tiba skor waktu menunjukkan aku mengungguli skor waktu perolehan Rika-senpai selama ini. Semua orang memuji dan mendukungku sepenuh hati mereka, tapi aku tak bisa bahagia. Aku sangat takut jika tak bisa memenuhi ekspektasi semua orang," ucap Aya berterus terang dengan mata berkaca-kaca. Terlihat jelas jika dia memikul beban berat akhir-akhir ini.
"Apakah kau cukup dekat dengan salah satu petinggi di sana sehingga mereka menempatkan kau di posisi strategis?" tanya Rai yang mulai mengulik informasi bak seorang wartawan.
Aya menggeleng.
"Maaf jika tidak sopan," ucap Rai cepat dengan nada sungkan.
"Tidak apa-apa. Bukan kau saja yang berpikir seperti itu. Sebelumnya, beberapa atlet renang seangkatan Rika-senpai juga berpikir negatif tentangku. Mereka mengira aku simpanan salah satu pejabat," ucap Aya yang tampak frustrasi sambil meneguk minuman.
"Bagaimana dengan pejabat yang mengusulkan dirimu? Jangan-jangan pengusulannya itu karena ada timbal baliknya, seperti ... mungkin dia menyukaimu?" Rai menggali lebih dalam hubungan yang terjalin antara Aya dan pejabat yang menjadi targetnya—Yoshuke Tsuno.
"Kami tidak pernah berbicara selain di depan para wartawan. Bahkan aku baru bertemu dengannya saat jumpa pers seminggu yang lalu," ucap Aya kembali meneguk minuman.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Rai memutuskan mengakhiri pertemuan mereka dengan beralasan jika dia tak boleh berlama-lama di luar.
Saat meninggalkan Aya, Rai malah masuk ke toilet bar, kemudian memasang earpiece di telinganya. "Apa kau telah mendengar semuanya?"
"Iya," jawab Shohei. Rupanya percakapan antara Rai dan Nakamura Aya telah disadap.
"Artinya ...."
"Artinya ... seperti Furukawa Rika yang dikorbankan, bisa jadi Nakamura Aya pun hanyalah korban," sambung Shohei.
"Aku juga berpikir seperti itu. Ah, aku makin merasa bersalah karena sempat menduganya menjadi simpanan Yoshuke Tsuno." Rai menggaruk-garuk kepalanya.
"Tapi, untuk apa Yoshuke Tsuno melakukan ini? Dia mengganti Furukawa Rika dengan Nakamura Aya yang masih sangat Junior, lalu sengaja memalsukan papan waktu agar publik percaya pada kemampuan Aya. Apakah dia tak menginginkan perlombaan renang itu dimenangkan oleh Jepang? Bukankah ini aneh!" pikir Shohei seraya memusatkan matanya ke layar laptop.
Rai terdiam sesaat, lalu teringat sesuatu. "Ah, aku masih punya satu orang lagi yang bisa dijadikan tempat menggali informasi," ucapnya membersit seraya tersenyum licik.
Rai membuka kontak lensa cokelat yang dipakainya, kemudian mencuci rambut untuk menghilangkan sisa semiran sementara dan juga mengganti pakaiannya. Ia menuju bar lain yang masih berada di kawasan Shinjiku di mana ia akan bertemu seseorang.
Begitu tiba, ia menghampiri seorang wanita tua berusia empat puluhan ke atas. Wanita itu berpakaian ketat yang memamerkan seluruh lekuk tubuh, dengan riasan wajah menor dan lipstik merah menyala.
"Maaf aku baru ada waktu menghubungimu."
"Padahal aku sudah lama menunggu telepon darimu. Jika seperti ini kau terlihat jauh lebih tampan dari pertemuan kita sebelumnya," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
Ternyata dia adalah kepala devisi bagian di kantor komite nasional yang ruangannya saat itu tak sengaja dimasuki Rai. Ya, untungnya Rai masih menyimpan nomor ponsel yang pernah ditulis wanita itu.
"Dori!" ucap Rai menyebutkan nama samaran secara asal-asalan.
"Ah, namamu mengingatkan aku pada aktor favoritku, Dori Sakuraga. Panggil aku Habe," ucap wanita itu dengan suara genit.
Rai mengambil uluran tangan Habe lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut, sehingga membuat wanita itu makin terbuai.
Beberapa host menghampiri wanita itu menawarkan diri menemaninya minum. Ya, wajar saja jika pria-pria itu menghampirinya karena dilihat dari dandanannya yang berkelas.
"Maaf saja, aku sudah memiliki teman minum. Dia lebih tampan dari kalian semua," ujar Habe sambil menggandeng mesra Rai.
Rai tersenyum masam sambil menyampingkan pandangan. Jika bukan karena untuk mencari tahu Yoshuke Tsuno, mana mau dia berkencan dengan wanita tua. Meskipun dulunya dia seorang penipu yang sering memanfaatkan wanita, dia enggan menargetkan wanita yang berselisih jarak umur lebih tua darinya.
Rai mulai berbincang-bincang kecil dengan Habe seraya menuangkan segelas minuman beralkohol tinggi. Sengaja membuat wanita itu mabuk agar bisa membeberkan informasi yang ia butuhkan. Upayanya berhasil, karena setengah jam kemudian Habe sudah meracau tak jelas. Ia mulai mengeluhkan pekerjaannya sehingga Rai menjadi sangat bersemangat.
"Sejak tuan Yoshuke Tsuno terpilih menjadi ketua Olimpiade tahun ini, semua pekerjaan dan pertemuan dilimpahkan padaku. Aku sudah tak punya waktu lagi untuk merawat diri apalagi bersenang-senang.
"Habe-san, kudengar tuan Yoshuke gemar memiliki simpanan gadis-gadis dari kalangan atlet," ungkap Rai berusaha memancing Habe.
"Mana mungkin!" bantah Habe sambil menepuk paha Rai dengan kuat, "tuan Yoshuke tidak pernah tertarik dengan wanita. Dia bukan pria hetero."
Mata Rai terbelalak seketika.
"Sstt ... jangan bilang pada siapa-siapa, ya? Masih banyak yang belum tahu kalau dia itu penyuka sesama jenis. Istrinya sering curhat padaku," lanjut Habe yang kini semakin tak berjarak dengan Rai. Ia tak sungkan untuk menempelkan dadanya di lengan kekar pria itu.
"Lalu, apa yang kau ketahui lagi tentang tuan Yoshuke?" lanjut Rai terburu-buru.
"Eh? Kenapa kita jadi membahas Tuan Yoshuke?" tanya Habe dengan wajah merajuk.
"Dari pada membicarakan yang lain, kenapa kita tidak membicarakan masa depan kita?"
"Apa?! Masa depan kita?" ulang Rai dengan mata membeliak.
"Iya. Menikahlah denganku. Kebetulan aku janda tanpa anak," ucap Habe sambil memberi kecupan bertubi-tubi di pipi Rai.
Rai berusaha mendorong wanita itu setelah seluruh pipinya dipenuhi cap bibir merah.
Aku tahu wanita mabuk itu merepotkan. Dan ternyata wanita tua yang mabuk tak hanya merepotkan, tapi juga menakutkan!
"Habe-san, kurasa aku harus segera pergi. Aku lupa malam ini ada pekerjaan sampingan yang harus kulakukan," ucapnya seraya berdiri.
"Hah? Bukankah malam ini kita akan bersenang-senang? Aku bahkan sudah memesan kamar di lantai atas. Kurasa obrolan kita akan semakin menyenangkan di dalam kamar." Habe menarik tangan Rai, menyeret paksa untuk mengikutinya. Mereka menaiki tangga menuju kamar yang telah dipesan.
Begitu sampai di kamar, Habe langsung mendorong tubuh Rai hingga terbaring di atas kasur. Wanita itu juga langsung meniindih tubuhnya dengan gerakan agresif. Bau alkohol menyengat yang keluar dari mulut wanita itu, membuat Rai merasa pusing.
"Ettttss ...." Rai melepas tangan Habe yang melingkar di lehernya. "Habe-san, aku ini ... memiliki gairah sekss yang tinggi," bisik Rai lembut.
"Benarkah?" Habe malah semakin bersemangat mendengarnya.
Rai memutar posisi dengan cepat sehingga membuat ia berada di atas tubuh wanita tua itu.
"Iya, aku juga senang melakukan sekss fantasi," ucap Rai dengan tatapan yang mematikan.
"Sekss Fantasi?"
Ujung-ujung jari Rai mulai bermain di paha mulus wanita itu seraya bertanya, "Yah. Maukah kau mengikuti fantasi sekssku yang liar?"
"Tentu saja! Kuserahkan seluruh tubuhku padamu malam ini juga."
Detik itu juga Rai merobek bagian bawah gaun yang dipakai Habe. Ia mengambil posisi duduk seraya menunjukkan potongan kain yang dirobeknya, kemudian mengikat kedua tangan wanita itu dengan kain tadi.
"Apa yang ingin kau lakukan, Dori-chan?" tanya wanita itu menggeliatt manja.
Rai kembali merobek gaun untuk dipakai menutup mata wanita itu. "Sesuatu yang membuatmu melayang dan tak sadarkan diri," bisiknya setelah mengikat kain ke belakang kepala Habe.
"Ah, aku benar-benar tak sabar!"
Selesai mengikat tangan dan menutupi mata wanita itu, Rai pun beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah mundur dengan perlahan. Terus berjalan ke belakang dan sengaja tak menciptakan suara apa pun hingga mendekat ke arah pintu.
"Dori-chan, apa yang sedang kau lakukan? Aku sudah tak sabar," tanya Habe yang kini terbaring di atas ranjang dengan tangan terikat dan mata tertutup.
"Aku sedang melepas seluruh pakaianku," ucap Rai sambil membuka pintu dengan hati-hati. Begitu pintu terbuka sedikit, dia langsung kabur dari wanita tua itu.
"Merepotkan saja!" ujar Rai seraya membuang napas kasar. Ia melangkah cepat melewati beberapa kamar motel, sambil memasang earpiece di telinga.
"Kerja yang bagus, Rai!" seru Shohei yang telah mendengar seluruh percakapan antara Rai dan Habe.
"Apanya yang bagus? Aku hampir dimangsa wanita tua!" keluh Rai sambil terus berjalan keluar dari bar.
"Bukankah kau memang senang bermain dengan wanita?" Tawa menggelitik Shohei terdengar dari saluran earpiece.
"Ya, tapi mataku masih memilih wanita mana yang pantas jadi teman tidurku. Naga-ku tak mau bangun dan terus menunduk saat berhadapan dengan wanita tua."
"Woah, sopan juga, ya, nagamu!" ejek Shohei menahan tawa.
"Berhenti merundungku! Apa kau sudah dengar semuanya? Ternyata Yoshuke bukan papakatsu. Dia bahkan tidak menyukai wanita. Lagi-lagi kita salah menebak! Ah, aku merasa sia-sia bertemu dengan wanita itu."
"Iya. Tapi kita tidak bisa menyerang pribadinya apalagi jika tak berhubungan dengan kasus korupsi. Aku baru menemukan sebuah percakapan mencurigakan antara tuan Yoshuke dan seorang pria berwarga negara Singapura."
"Benarkah? Kalau begitu kita bicarakan saja besok di apartemenku," ucap Rai sambil melihat wajahnya di cermin yang penuh dengan bekas kecupan Habe.
"Ya, tidak ada waktu lagi. Sabtu malam kita harus membongkar kedok tuan Yoshuke!" ucap Shohei.
Baru saja hendak memutuskan komunikasi, tiba-tiba Shohei teringat Yuriko.
"Rai, ada yang ingin kukatakan padamu. Kuharap kau tidak salah paham."
"Apa itu?"
"Yu-Yuriko sedang tidur di kamarku," ucap Shohei sambil menutup matanya.
"Apa?!" Suara teriakan Rai terdengar begitu menggelegar sehingga membuat Shohei terhenyak.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
Heteroseksuall: orientasi berlawanan jenis. disebut sebagai orientasi pada umumnya, lelaki suka perempuan, perempuan suka lelaki.
Ini double chapter ya. Aku minta jempolnya, boleh?