Never Not

Never Not
Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman



Usai membuat kehebohan di gedung atlet, Rai dan Shohei kini tengah berada di tempat latihan mereka. Keduanya memanjat tali tambang yang menggantung untuk melatih otot mereka.


"Bagus, Rai. Kau sudah semakin jago melakukan ini," puji Shohei ketika mereka turun kembali ke bawah.


"Kenapa Nakamura Aya bisa tiba-tiba sehebat itu? Aku bahkan sampai gugup harus berkata apa karena sebelumnya telah menantangnya," keluh Rai seraya mengelap peluh yang keluar dari pori-pori dahinya.


"Orang-orang Tuan Yoshuke telah memalsukan papan waktu sehingga Nakamura Aya terlihat mengungguli rekor Furukawa Rika."


"Sudah kuduga, ada yang tidak beres! Tapi, dari mana kau mengetahuinya?"


"Ketika Nakamura Aya tersulut emosi karena tantanganmu dan bersiap untuk meloncat, arah pandang tuan Yoshuke langsung beralih ke seseorang yang berada di sekitar papan waktu. Ini juga didukung oleh ekspresi Nakamura Aya sendiri yang terkejut melihat perolehan waktu yang dicapainya," jelas Shohei seraya mengingat kembali ekspresi wajah atlet Nakamura Aya saat catatan waktu renangnya disebut melebihi rekor catatan waktu seniornya. Ia juga memerhatikan bibir bawah atlet itu tampak tertarik kaku ketika tuan Yoshuke terus memujinya di hadapan awak media.


"Bukankah seharusnya gadis itu bisa bangga dengan pencapaiannya?" lanjut Shohei dengan sudut bibir yang terangkat.


"Ah, kau betul!" Rai membenarkan.


Setelah latihan memanjat, mereka beralih ke latihan bela diri kendo¹. Kedua pria bertubuh tinggi itu tampak gagah dalam balutan atribut serba hitam lengkap dengan pelindung kepala.


Shohei dan Rai saling berhadapan. Di tangan mereka masing-masing memegang sebuah tongkat sebagai pengganti pedang.



"Hyaaa ...." Shohei berteriak sambil berlari ke arah Rai sebagai tanda dimulainya latihan.


Pada detik selanjutnya, hanya terdengar suara peraduan dua tongkat yang saling memukul. Shohei terus melayangkan tongkat untuk menyerang, sementara Rai bertugas menangkis pukulan. Gerakan tubuh Shohei sangat luwes dan terampil dalam menggunakan tongkat, berbeda dengan Rai yang masih kaku. Ia tampak kewalahan menangkis serangan yang tak henti-henti. Shohei mengayunkan tongkatnya secara vertikal ke depan, untungnya Rai bisa cekatan menangkis serangan dadakan Shohei dengan membentuk posisi tongkat mereka seperti salib.


Shohei terus bergerak maju sedangkan Rai melangkah mundur sambil tetap menahan tongkat yang terus menyerbunya. Shohei menarik tongkatnya, lalu memutar tubuhnya dengan gerakan indah hingga membuat Rai kelabakan mengikuti arah gerak pria itu. Baru saja Rai melangkah, tongkat Shohei sudah berada di bawah dagunya. Rai melirik ke samping, melihat Shohei yang menghunuskan tongkat ke lehernya dengan sebelah tangan yang membentang, dan satu kaki ditekuk ke depan.


Mereka kemudian tertawa bersama-sama sambil menjatuhkan tongkat masing-masing.


"Aku masih sangat payah!" keluh Rai seraya membuka penutup kepalanya. Ya, dia memang masih belum banyak menguasai teknik bela diri. Selama ini, ia cukup beruntung bisa mengalahkan pengawal-pengawal hebat karena keahliannya dalam mengelabui lawan.


Shohei melempar botol mineral ke arah Rai. "Maka dari itu kau harus latihan terus. Lawan yang akan kita hadapi semakin tangguh dan berbahaya. Kemungkinan pejabat-pejabat kotor itu meminta perlindungan militer Jepang," ujarnya seraya mengguyur air ke rambut dan wajahnya dari botol mineral. Matanya memandang kosong ke depan, memikirkan satu nama yang masih belum ia ketahui. Hingga memasuki target ke delapan, belum ada petunjuk apa pun mengenai pejabat tanpa nama tersebut. Ia harus memikirkan cara agar sosok itu bisa terkuak.



Waktu berputar begitu cepat, sehingga warna langit telah berubah menjadi gelap. Shohei memutuskan pulang ke apartemen yang dihuni Rai untuk mempersiapkan strategi misi mereka selanjutnya.


"Kalau sudah berlatih keras seperti ini, aku jadi berpikir kenapa dulunya tidak masuk di akademi kepolisian saja, atau di akademi militer. Dengan postur tubuhku seperti ini bukannya memang aku pantas memang seragam salah satunya?" celoteh Rai sembari menegakkan tubuhnya penuh percaya diri.


"Menurutku, dengan mendapatkan predikat cumlaude di universitas Tokyo bukankah itu berarti kau sangat tepat mengambil jurusan yang kau pilih."


"Sayangnya, predikat dan gelarku tidak berarti apa-apa. Siapa yang percaya itu semua, bahkan Yuriko-chan selalu menganggap aku membual. Kenyataannya saat ini sudah tak terpakai lagi dan aku hanya seorang mantan penghuni lapas rehabilitas narkoba," balas Rai tersenyum ringkih.


"Tenanglah! Jika misi kita telah selesai, aku akan merekomendasikan kau pada kenalanku. Dia memiliki perusahaan valuta asing. Kau bisa jalani hidupmu lagi dari awal!" Shohei menepuk pundak Rai kemudian mereka memasuki lift apartemen.


Rai memencet tombol lantai kemudian bersandar di sudut lift. "Huft! Aku benar-benar tak percaya bisa melakukan ini semua. Menjadi pahlawan lalu menjebak para koruptor tak pernah terpikir sebelumnya. Padahal dulunya aku menghabiskan waktu hanya dengan berjudi dan mabuk-mabukan. Aku tidur jam tiga dini hari dan terbangun di jam sepuluh pagi. Aku akan bangun di apartemen yang berbeda, dengan teman tidur yang berbeda pula."


"Separah itukah hidupmu? Tidur dan bangun di apartemen berbeda dengan wanita yang berbeda?" Shohei ternganga.


"Oi, oi, kau tidak perlu memasang ekspresi berlebihan seperti itu. Ada banyak pria sepertiku tersebar di seluruh penjuru Tokyo. Sedang pria sepertimu mungkin termasuk yang akan dilindungi pemerintah, karena sudah langka dan hampir punah," ejek Rai.


Tak terima dikatakan seperti itu, Shohei lantas menegakkan tubuhnya seraya merenggangkan otot leher. "Aku hanya ingin berkomitmen tidak akan berhubungan intim selain dengan wanita yang kucintai," ucapnya dengan mantap.


"Woah! Bukankah sekarang kau sudah menemukan wanita yang kau cintai? Kalau begitu ... sudahkah kalian melakukannya?" tanya Rai sengaja menyenggol lengan Shohei dengan lengannya sambil terkikik.


Shohei tak menjawab, malah membuang muka berusaha menghindari tatapan Rai.


"Astaga! Ternyata kau dan dia belum melakukannya, ya? Barangmu itu pasti masih setelan pabrik, kan? Apa kau tak mau mencobanya? Di saat musim dingin seperti ini, kehangatan dekapan seorang wanita tak bisa digantikan apa pun. Ketika bercinta, kau hanya dapat merasakan satu persen kenikmatan, karena 99 persennya lagi enak sekali! Aku yakin, sekali rasa maka kau akan mau lagi, mau lagi, dan mau la—"


BHUGH!


"Akh!" Rai memekik keras saat Shohei memukul kepalanya untuk menghentikan celotehannya.


"Pantas saja dari tadi aku merasa lift ini sangat panas. Rupanya karena ada iblis yang berusaha menghasutku," ujar Shohei yang kesal karena Rai terus membahas topik yang berbau sekss. Ia mengibas-ngibaskan tangannya layaknya sedang mengipas.


"Ah, kurasa kau kepanasan karena terangsang mendengar ceritaku, kan?" Rai berujar dengan tawa yang menggelitik.


Masih memasang tampang tak acuh, wajah Shohei malah memerah.


"Ya, sudah, berhubung kalian sudah tak lama lagi tinggal bersama nanti juga akan melakukannya," ujar Rai sambil menyengir. Namun, ia terdiam sebentar seraya menoleh cepat saat mencerna kalimat terakhir Shohei. "Heh? Sampai sekarang kau dan dia masih belum berciuman?"


Shohei mengangguk. "Aku pernah ingin menciumnya, tapi dia langsung memalingkan wajahnya. Mungkin waktunya tidak tepat atau bisa jadi ... dia belum siap," ucapnya seraya menggaruk-garuk kepala.


Rai sontak mengelus dagu licinnya seraya berpikir. "Tunggu, kupikir ... kau sudah salah memulai!"


"Salah memulai?"


"Ya, jika ingin memulai berciuman, kau harus menggunakan teknik agar wanita yang ingin kau cium tak mampu menolakmu. Apalagi jika itu baru kau lakukan pertama kali," ucap Rai dengan raut serius. Ya, soal berciuman, sudah tak diragukan lagi jika Rai adalah ahlinya. Ia mampu membuat lawan jenisnya tak berkutik hanya sekali menatap, dan sedikit sentuhan ujung jarinya.


"Benarkah?" Shohei tampak tertarik dengan topik yang Rai bicarakan kali ini.


"Apa kau mau kuberikan tips? Ini akan membuatmu terlihat lebih jantan di hadapannya," tawar Rai seraya menggerakkan alisnya.


Shohei memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, lalu mengelus belakang lehernya dengan pelan.


"Bo–boleh juga ...."


Rai berjalan ke sisi Shohei, lalu menatap mata pria itu. "Yang pertama kali harus kau lakukan adalah menatapnya seolah ada keindahan di bola matanya," ucapnya dengan dua jari mengarah ke matanya langsung seraya mempraktekan.


Shohei bergegas mengikuti instruksi Rai dengan menatap sepasang manik pria itu.


"Apakah seperti ini?" tanya Shohei sambil membuka kelopak matanya dengan lebar.


"Kalau tatapanmu seperti itu, kau seperti sedang menatap seorang penjahat! Coba ikuti cara pandangku!"


Bukannya mengikuti tatapan seperti yang Rai contohkan, Shohei malah mengedipkan mata berulang kali.


"Yo, kalau seperti itu kau dikira sedang kelilipan," tegur Rai kembali, "Jika kau gugup, maka dia juga akan lebih gugup. Berusahalah untuk membangun suasana romantis lebih dulu agar pasanganmu lebih rileks!"


"Baiklah!" Shohei menarik napas panjang, lalu menatap mata Rai dengan tatapan dalam.


"Ya! Seperti itu! Tahan, tahan!" seru Rai.


"Benarkah tatapan mataku ini sudah benar?" Shohei tampak gembira karena bisa mengikuti petunjuk Rai.


Rai mengangguk. "Selanjutnya, yang harus kau lakukan adalah mengunci tatapannya seperti ini. Jangan biarkan dia memandang objek yang lain selain dirimu. Jika dia menunduk, angkat dagunya dengan ujung jempolmu, tapi jika dia tak melakukannya, selipkan tanganmu di lehernya untuk membangun chemistry. Ketika mata kalian sudah saling terhubung, kau boleh memiringkan kepala sambil mulai mendekatkan wajahmu secara perlahan," jelas Rai seraya mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit untuk memberi contoh.


"Baik. Biar kupraktekkan lagi!" Shohei mengulang apa yang Rai lakukan. Ia menatap mata Rai dengan dalam, menyelipkan tangannya di perpotongan leher pria itu, kemudian memiringkan sedikit kepala seraya mendekatkan wajah secara perlahan.


Bertepatan dengan itu, denting lift berbunyi diikuti pintu lift yang terbuka secara mendadak. Rai dan Shohei terentak dan menoleh ke arah pintu secara bersamaan saat menyadari seseorang berdiri di depan mereka.


"Ryo-chan?" sebut Rai terkejut melihat adiknya yang berdiri di depan pintu lift dengan mata terbelalak dan mulut yang terbuka lebar, selebar bola tenis.


Ya, terkejutnya Rai tak ada artinya jika dibandingkan dengan terkejutnya Ryo saat ini. Bagaimana tidak, di saat hendak memutuskan pulang karena mengira Rai tengah kerja lembur, ia harus melihat langsung kakaknya hampir berciuman dengan pria lain di dalam lift.



kira-kira kek gini ekspresi Ryo liat Rai dan Shohei 😂😆


Jejak kaki 🦶🦶


kendo : seni bela diri modern dari Jepang yang menggunakan pedang


catatan author ✍️✍️✍️


Aku jelasin dikit ya tentang karakter orang Jepang. Mungkin kalian berpikir gini " masa iya sih, pria pemalu seperti Shohei masih ada di Tokyo. Apalagi Tokyo kota bebas." Hhmmm ... Jadi sebenarnya cowok-cowok Jepang itu aslinya pemalu, tertutup, dan pasif. Mereka malah berharap cewek yang mulai duluan, atau meminta lebih agresif dari mereka. Kalau kalian pernah atau sering nonton dorama/anime/komik pasti udah ga heran liat scene cewek nembak cowok atau cewek mengungkapkan perasaannya lebih dulu, dan cowok menentukan apakah dia menerima atau tidak. Ya, Jepang seperti itu kurang lebih sih. Kecuali yang udah kena budaya luar ya kaya Rai gini. Kalau yang kaya Rai malah udah masuk kategori fakboy atau kalo istilah mereka Yariichin.


Dan satu lagi, di sana ga ada istilah perawan dan tidak perawan. Adanya cuma istilah pertama kali melakukan. Jadi, cowok-cowok Jepang itu kalo dapat cewek yang masih ting2 mereka ga merasa wow banget, atau merasa spesial gitu trus makin cinta berkali-kali lipat. Engga, mereka biasa aja. Dan kalaupun dapat yg ga ting2 itu bukan masalah bagi mereka, atau bukan sesuatu yg apes banget gitu. Makanya mulai dari novel DF, gw g pernah tulis istilah tokoh gua perawan atau tidak. Tapi anehnya, pembaca gua selalu ributin itu sampe gelud di kolom Komeng 😂. Mayu di AR juga ga pernah gw tulis perawan atau tdk kan. Cuma Sachi yang emang gw deskripsikan dr awal sebagai cewek yg polos.


Terus, ada scene yang Shohei terpaksa ngomong ke Yuriko kalo masakannya enak padahal aslinya ga enak. Nah, ini juga masuk di kulture orang jepang gays. Di sana ada budaya Honne dan tatemae. Apa itu? Yaitu menyembunyikan perasaan sebenarnya di depan orang. Tujuannya untuk tetap menjaga keharmonisan sesama. Karena tipical orang Jepang itu ga suka nyari ribut. jadi, kalau kamu tanya "aku cakep gak?" pada pemegang kulture ini akan bilang "iya, cakep." padahal mungkin aslinya ga gitu.


So, karena ini novel setting Jepang, jadi karakter, budaya, pemikiran dan kebiasaan tokoh di novel ini gua sesuaikan dengan real lifenya. Ga mungkin kan setting Jepang trus budayanya ala-ala Indonesia....


Ok, Jempolnya jangan lupa tancepin 👍🏻