
Rai, Yuriko, Ryo, dan Kei yang tengah dalam perjalanan melarikan diri, mendapat informasi dari Shohei jika Ai tertembak dan sosok Black Shadow palsu yang telah terungkap.
"Bagaimana keadaan Ai saat ini?" tanya Rai penuh kekhawatiran. Sambungan telepon itu sengaja memakai mode pengeras suara agar Kei, Yuriko dan Ryo juga mendengar langsung apa yang disampaikan Shohei.
"Dia kritis dan sedang menjalani operasi," jawab Shohei lemah dan hampir tak terdengar.
"Lalu ... apa kau mengenal sosok yang menjadi Black Shadow palsu?" tanya Rai tak sabaran, diikuti Yuriko, Ryo dan Kei yang juga menanti jawaban itu.
Terdiam sejenak hanya untuk mengambil napas, Shohei menatap sendu bekas terjatuhnya Seto yang telah dikelilingi garis kepolisian. "Hum ... dia ... detektif kepolisian, dari tim divisi penyidik satu," ucapnya dengan napas terasa sesak.
Wajah Rai berubah seketika. "Bukankah ... itu berarti anggotamu sendiri?"
"Dia bahkan polisi muda yang paling dekat denganku," ucap pria berkacamata itu dengan suara yang getir, "dia memilih mengakhiri hidupnya ...."
Rai dan lainnya hanya bisa kembali menelan amarah. Setelah untuk kesekian kalinya Kazuya Toda berada di atas angin.
"Lagi-lagi kita kalah!" ringis Kei seraya memukul setir mobil.
"Bagaimana ini, kita kembali kehilangan saksi kunci setelah kematian menteri kehakiman!" keluh Rai penuh keputusasaan.
"Kita masih punya satu saksi kunci terakhir!" sahut Shohei tiba-tiba.
Rai dan lainnya tersentak akan pernyataan Shohei.
Siapa itu?" tanya Yuriko.
"Kepala kepolisian nasional, Jenderal Otaka."
"Jenderal Otaka? Maksudmu ... ayahnya Ai?" tanya Kei yang juga baru menyadari.
"Iya, jenderal Otaka adalah harapan terakhir kita," balas Shohei dengan wajah yang terlihat lelah. Alasan terbesarnya mengajak Ai bergabung adalah supaya pria itu bisa membujuk ayahnya untuk tak bekerja sama lagi dengan Kazuya Toda. Mengingat, track record selama ini jenderal Otaka sangat bagus di kepolisian. Sangat menyayangkan jika dia harus tergelincir bersama Kazuya Toda, bukan?
Di sisi lain, jenderal Otaka telah mengetahui tentang insiden penembakan yang dialami putra semata wayangnya. Dengan mendapatkan pengawalan ketat, ia mendatangi Rumah Sakit. Meski begitu, insiden penembakan Ai serta kematian Seto sengaja ditutupi dari media dan publik demi menjaga nama baik kepolisian. Juga, untuk mencegah dugaan dan prasangka publik.
Jenderal Otaka menatap sendu pintu ruang operasi tempat anaknya berjuang hidup dan mati. Bersamaan dengan itu, Megumi Jun beserta para pengawalnya datang berkunjung untuk mengetahui keadaan Ai. Wajar saja, Ai adalah anggota kepolisian metropolitan di bawah kepemimpinan pria bergelar profesor hukum itu.
"Megumi-san, Anda telah kembali ke Metropolitan?" tanya jenderal Otaka cukup kaget.
"Sebenarnya saya akan kembali menjabat di hari Senin yang akan datang. Tapi, mendengar insiden yang melibatkan dua kepolisian metropolitan, membuat saya sedikit tak tahan untuk segera bertugas." Jun lalu menoleh ke pintu ruang operasi sambil kembali berkata, "terkait anak Anda ... saya pernah bertemu dengannya saat dia baru dilantik menjadi polisi. Waktu itu, saya bertanya padanya, kau ingin menjadi polisi seperti apa? Dan dia menjawabnya dengan mantap, dia ingin menjadi polisi yang baik seperti Anda, ayahnya."
Wajah jenderal Otaka menghitam seketika. Secara refleks, apa yang pernah dikatakan Ai baru-baru ini, kembali memutar di otaknya.
"Ingatlah, Ottousan adalah seorang penegak hukum! Tujuan masuk di kepolisian seharusnya untuk memberantas kriminal, bukan melakukan tindakan kriminal dan tindakan pelanggaran hukum!"
Kini, ia memahami perasaan Ai. Mengapa anaknya bisa marah sebesar itu padanya. Sebab, anaknya selalu menjadikan dirinya sebagai contoh figur polisi yang baik. Namun, yang telah ia lakukan akhir-akhir ini sungguh bertolak belakang dengan anggapan anaknya dan tak patut dicontoh.
Di waktu yang sama, Kazuya Toda mengadakan konferensi pers terkait kegaduhan yang terjadi di salah satu plaza terbesar Shibuya sore tadi. Kepada media, ia mengatakan kepanikan masyarakat di tempat itu adalah ulah Black Shadow yang sengaja menakut-nakuti orang-orang dengan isu peledakan bom. Ia juga merilis pernyataan bahwa Black Shadow bukanlah figur, melainkan sebuah kelompok radikall.
"Black Shadow bukanlah figur pahlawan. Black Shadow terdiri dari beberapa orang berpaham ekstrem yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Mereka hanya menarik simpatik publik dengan bertindak main hakim sendiri pada politisi dan pejabat yang melakukan tindakan pidana. Padahal, tujuan mereka yang sebenarnya adalah meneror kota Tokyo dan kita semua! Ya, Black Shadow adalah kelompok teroriss yang harus diberantas," tegas Kazuya Toda di hadapan para wartawan. Ia menunjukkan bukti foto Ryo, Yuriko dan Kei yang memakai topeng Black Shadow, di mana itu semua diambil dua jam yang lalu di plaza.
Kazuya Toda juga sengaja membongkar aksi teror bom palsu yang terjadi hampir sepekan lalu di seluruh markas besar kepolisian dan intelegen Tokyo. Lalu mengatakan itu bagian dari ulah kelompok Black Shadow.
"Aku tidak mengerti, kenapa dia malah membongkar insiden kepolisian kena tipu dengan teror palsu. Bukankah itu akan mencoreng nama kepolisian itu sendiri?" Inspektur Heiji yang berdiri di depan televisi, merespon konferensi pers yang baru saja selesai tayang.
"Bagaimana dengan kematian Tanaka-san? Ketua penyidik Yamazaki-san sempat mengatakan Tanaka lah yang menembak Otaka. Tapi, mana mungkin Tanaka melakukan itu. Tanaka adalah satu-satunya orang yang dekat dengan Otaka," ucap salah satu polisi.
"Kita tahu betul Tanaka sangat gigih. Kurasa Tanaka ingin menembak salah satu anggota Black Shadow. Tapi malah terkena Otaka. Dan karena menyesal tak sengaja menembak sahabatnya sendiri, ia memutuskan bunuh diri," duga polisi lainnya.
"Kita belum tahu kebenaran yang terjadi. Sebaiknya kita berdoa untuk keselamatan Otaka, karena hanya dia yang bisa menjelaskan semua ini," sambung detektif Shu.
Setelah melakukan perjalanan selama hampir tiga jam, akhirnya Rai dan lainnya tiba di sebuah vila yang ternyata milik Kei. Vila kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan itu, berada di puncak gunung yang menawarkan pemandangan hutan Pinus dan bunga-bunga musim semi.
"Gomen, hanya ada dua kamar di sini. Jadi, lebih baik kita berbagi kamar saja," ucap kei begitu memasuki vilanya.
"Baiklah kalau begitu kita tidur bertiga dalam satu kamar dan biarkan Yuriko tidur sendiri," imbuh Rai yang sejak di mobil tampak menghindar untuk bertatapan langsung dengan Yuriko.
"Ah, tidak! Tidak!" Ryo menghalangi Rai yang hendak masuk ke kamar utama yang telah lebih dulu dimasuki Kei, "Apa Oniichan tidak lihat, kamar ini sempit dan hanya memiliki dua futon?"
"Tidak apa-apa. Aku akan berbagi futon denganmu," ucap Rai sambil hendak melangkah masuk kamar. Namun, lagi-lagi dicegat oleh adiknya sendiri.
"Tidak! Tidak! Sebaiknya Oniichan tidur bersama Yuri-chan!" ucap Ryo sambil menahan tubuh Rai, lalu menoleh ke belakang, "benar, kan, Kei-san?"
Kei keluar dari kamarnya lalu berkata. "Benar! Sebaiknya kau tidur di kamar Yuriko karena kamar ini tidak muat untukmu."
Mata Rai terbuka lebar diikuti sebelah bibir yang terangkat. "Apa kalian pikir tubuhku lebar sehingga kamar itu tak muat untuk menampung tiga orang?"
"Yuriko-chan!" Ryo langsung memanggil Yuriko, "bukankah kau dan Oniichan sebelumnya tinggal bersama? Tidak masalah bukan jika kalian satu kamar?"
Yuriko terdiam sambil melirik kecil ke arah Rai. "Kurasa tak akan jadi masalah jika dia tidur di luar kamar," ucapnya dengan nada kaku.
Kei langsung bercerocos, "Kalian belum tahu, ya, nyamuk di sini besar-besar! Kalau Rai tidak mau tidur di kamar sebelah, bagaimana kalau aku saja yang berbagi kamar denganmu?"
"Tidak bisa!" tandas Rai cepat, "baiklah! Aku akan berbagi kamar dengan Yu-chan!"
Kei dan Ryo kompak tersenyum kemudian masuk ke kamar bersama sambil menutup pintu layaknya pasangan pengantin baru, meninggalkan Rai dan Yuriko yang mematung bodoh.
Saat saling bertatapan keduanya mendadak menjadi salah tingkah. Mereka malah membuat gerakan-gerakan aneh. Rai sibuk mengelus punggung lehernya, sementara Yuriko terus memijat cuping hidungnya hingga memerah. Sedetik kemudian, fokus mereka teralihkan ketika mendengar gunjingan Kei dan Ryo dari dalam kamar.
"Apa Kei-san mendengarnya saat yuriko-chan mengatakan panjang lebar kalau sebenarnya dia takut jatuh cinta pada Oniichan? Dia seperti orang yang sedang berpuisi!" Ryo terkikik saat mengingatkan kejadian dramatis beberapa jam lalu antara Rai dan Yuriko.
"Tentu saja. Aku bahkan sampai mengingat jelas pernyataan cinta mereka di saat situasi genting," timpal Kei ikut terkekeh.
"Aku juga. Mereka terlalu dramatis sekali, ya?" Tawa Ryo semakin besar, bahkan sampai terbatuk-batuk.
"Apalagi kakakmu itu. Dia sampai menangis di pundakku sambil mengatakan, untuk sebentar saja biarkan aku mencintaimu, Yu-chan," olok Kei sambil menirukan gaya bicara Rai saat itu.
Mendengar Kei dan Ryo tengah menggosipkan mereka, membuat wajah Rai dan Yuriko mendadak menjadi merah padam.
.
.
.
catatan author:
Aku mau menerangkan dikit, mungkin masih banyak kalian yang belum tahu, kenapa orang Jepang cara pemanggilan namanya beda-beda. Contohnya Shohei Yamazaki, biasa dipanggil Shohei biasa dipanggil Yamazaki. Seto Tanaka, kadang dipanggil Seto kadang dipanggil Tanaka, Ai Otaka kadang dipanggil Ai kadang dipanggil Otaka, dll. Terus dalam narasi juga kok bisa kadang-kadang ditulis Yamazaki Shohei, kadang Shohei Yamazaki.
Jadi gini, Jepang itu terkenal dengan kesopanan dan adabnya yang mereka junjung tinggi. Bahasanya pun ada bahasa formal dan informal. Untuk nama mereka cuma terdiri dari dua macam, nama keluarga dan nama kecil. Kayak Shohei, nama keluarganya/marga Yamazaki. Jadi kalau untuk orang yang baru pertama kali kenal, belum akrab, tidak dekat, dan di lingkungan formal, itu gak sopan banget manggil nama Shohei, mesti manggil pake nama keluarga (Yamazaki). Pemanggilan nama kecil (Shohei) hanya untuk orang-orang terdekat yang udah kenal banget ma dia. Saking sakralnya sebuah nama kecil, mereka yang dah akrab pun biasanya mesti ijin dulu. Boleh manggil pakai nama itu, gak? Seperti Mayu yang butuh waktu untuk diperbolehkan memanggil nama depan Chiba, setelah sebelumnya memanggil Yamada.
bahkan di dorama-dorama mereka tuh selalu ada momen pasangan kekasih saling memanggil nama depan untuk pertama kali. Dan itu mereka anggap spesial sekali.
Terus, kenapa kadang gua nulis Yamazaki Shohei, kadang juga nulis Shohei Yamazaki dalam cerita. Itu tergantung sikon dan deskripsi dari novel itu sendiri. Juga tergantung siapa yang manggil dia. Kalau sikonnya dalam keadaan formal, ya nulisnya Yamazaki Shohei, kalau sikonnya non formal jadi Shohei Yamazaki. Rai jarang gua tulis jadi Matsui Rai, karena sikon Rai selalu diceritakan dalam nonformal.
Ribet, ya? Itulah ciri khas mereka. Belum lagi honorifik seperti -kun, -chan, -san, -sama yang berada di belakang nama. Itu juga gak sembarang nyebutnya. Tapi yang ini dah pernah kujelaskan di novel DF. Dan aku rasa kalian dah paham, toh ini bukan novel pertamaku berlatar Jepang.
Kalau kalian berpikir kematian Seto dan belum terungkapnya isi flashdisk sengaja dibikin untuk mengulur atau memperpanjang alur. Kalian salah! Karena semua ini emang sudah tersusun sesuai kerangka awal. Hanya saja karena updatenya lambat jadi alur cerita juga ikut terasa lambat. Kalau kalian udah baca semua novelku pasti tahu, segala sesuatu yang jadi misteri pasti akan terungkap di waktu yang tepat. Seperti terungkapnya hubungan antara Seina dan Rai, mungkin kalian ga pernah mikir akan seperti itu Shohei mengetahuinya. Begitu juga misteri lainnya. Semua pasti akan jelas-sejelasnya.
Eh, buset, nulis catatan author aja panjangnya hampir sama kek omongan tetangga yang tak ada habisnya. wkwkwk udah dulu, jangan lupa jempol dan komennya. dan seperti biasa, kalo mau ngasih poin ke novel dosa aja ya