Never Not

Never Not
Ch. 104 : Terungkap!



..."Setiap politisi selalu mencitrakan dirinya sebaik mungkin untuk merebut hati publik. Ada yang dicitrakan sebagai figur yang baik, sederhana, dan merakyat. Ada juga yang dicitrakan tegas, jujur, dan berani. Itulah seninya berpolitik, kita memoles diri seolah menjadi tokoh yang diimpikan publik."...


...~Tuan Matsumoto. Ch. 70~...


...----------------...


"Apa aku mengganggumu?" tanya Shohei sedikit terbata.


"Tidak. Kebetulan aku sedang luang."


"Ini tentang kematian Menteri kehakiman."


"Ya, aku sudah dengar. Sangat mengejutkan! Apakah sudah ada perkembangan kasusnya?" tanya Jun.


"Masih dalam tahap investigasi. Kasus ini menjadi devil proof¹ bagi Black Shadow sebagai pelaku."


"Wow, kelihatannya menarik untuk diselidiki," jawab Jun santai.


Terdiam sejenak, Shohei berkata, "Senpai, kau dicurigai terlibat pembunuhan itu karena nomormu ada di daftar riwayat terakhir panggilan tuan Matsumoto. Kecurigaan mereka makin kuat karena kau digadang-gadang sebagai Menteri kehakiman selanjutnya menggantikannya."


"Begitukah? Sebenarnya, tentang aku yang menggantikan posisi Matsumoto-san sebagai menteri kehakiman itu hanya sekadar wacana yang sengaja dilemparkan agar publik masih memercayai era pemerintah saat ini. Kau tahu sendiri, kan, kehadiran sosok yang disebut Black Shadow selama beberapa bulan ini membuat kepercayaan publik pada pemerintahan menurun," jelas Jun dengan nada yang terlihat tenang.


"Benarkah?


"Hum, aku bukan politikus dan tidak dekat dengan Perdana Menteri yang sekarang atau orang-orang di masa pemerintahannya, mana mungkin bisa meraih posisi menteri."


Jadi begitu. Ini hanyalah strategi rezim pemerintahan. Mereka mencari figur yang bersih dan memiliki elektabilitasnya baik di publik, lalu melempar isu seperti itu agar publik tetap percaya pada pemerintah saat ini.


"Bisakah kau ceritakan padaku isi obrolan terakhir kalian?" tanya Shohei penuh hati-hati.


"Pagi harinya dia meneleponku tapi tidak kuangkat. Jadi, aku balik meneleponnya di malam hari."


"Lalu, apa yang dia katakan padamu?"


"Dia memintaku segera pulang untuk membantumu."


"Membantuku?" Shohei mengernyit.


"Iya. Dia mengatakan kau akan membeberkan sebuah kejahatan besar yang dilakukan oleh seorang pejabat yang akan naik posisi di waktu dekat. Dia bilang, mungkin akan banyak yang tak percaya dan mencoba menghalangimu. Jadi, dia memintaku untuk percaya padamu dan memihakmu."


Aku akan membeberkan kejahatan besar yang dilakukan seorang pejabat? Kenapa Matsumoto-san mengatakan itu pada Megumi-senpai? Apakah dia telah mengetahui identitasku sebagai Mr. White? Atau ....


Shohei larut dalam pemikirannya sendiri. Ia tak bisa menduga isi pikiran calon mertuanya sebelum tewas.


Sebaliknya, Jun terngiang dengan ucapan menteri kehakiman tempo hari. Selain memintanya berada di pihak Shohei, Matsumoto juga memintanya agar membiarkan Shohei sendiri yang mengungkap kasus itu.


"Megumi-san, aku tahu kau sangat cerdas dan bisa menyelidiki kasus besar yang mungkin akan terjadi ke depannya. Tapi untuk kali ini, biarkan Shohei yang menyelesaikannya. Aku ingin kasus itu bisa membuatnya mendapat jabatan strategis di Kepolisian Nasional."


"Apakah ada lagi yang dikatakan mendiang Matsumoto?"


"Selain itu, dia memintaku menjaga Perdana Menteri dari pejabat tersebut. Dia juga mengatakan tidak lama lagi orang itu akan sangat berpengaruh dalam setiap keputusan yang diambil perdana menteri."


"Apakah dia menyebut nama orang itu?" tanya Shohei tak sabaran.


"Hum." Jun mengiyakan. "Seperti yang diharapkan mendiang Matsumoto, kasus ini akan dipecahkan olehmu. Jadi, cobalah mencari tahu! Aku sudah berikan kau petunjuk. Jika kau temukan jawabannya, telepon aku kembali. Oh, iya, tiga hari lagi aku akan pulang ke Jepang. Sampai bertemu nanti!"


"Arigatou. Aku menunggumu, Senpai."


Setelah menelepon Jun, Shohei langsung membuka aplikasi internet dan mencari tahu nama-nama pejabat yang akan dilantik perdana menteri atas jabatan baru mereka. Ada sekitar enam pejabat yang dilantik dengan jabatan berbeda-beda. Ia kemudian membaca satu per satu jabatan yang akan mereka duduki, sekaligus menilik jabatan mana yang paling strategis untuk bisa dekat dengan Perdana menteri dan memiliki pengaruh besar di publik. Matanya sontak melebar membaca satu nama yang menduduki posisi tersebut. Nama yang tentu sudah tak asing baginya.


Di sisi lain, pejabat misterius tersenyum sinis saat seseorang melaporkan pencarian Black Shadow yang masih belum membuahkan hasil. Sekretaris pribadinya yang baru saja masuk ke ruangan, merasa heran dengan sikapnya saat ini.


"Apakah Anda tidak khawatir karena identitas Black Shadow belum terdeteksi hingga kini?"


Pejabat misterius itu tertawa ringkih sambil menautkan jari-jarinya di depan dagu. "Aku lebih tertarik mencari tahu siapa Mr. White sebenarnya. Jika Mr. White telah kita ketahui, secara otomatis Black Shadow akan ikut tergenggam."


"Saya mengerti. Mengenai akun media sosial Ayano Kei, telah dilenyapkan sejak kemarin malam," ucap sekretaris pribadinya.


"Bagus. Bagaimana dengan hacker yang kau sewa?"


Alis pejabat misterius itu mendadak mengeriting. "Kau membiarkannya pergi?" Suara pria itu mendadak terdengar suram.


"Saya pikir sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan pria itu."


"Benar, kita sudah tidak memerlukan dia lagi karena itu ... bukankah sebaiknya dia dilenyapkan?" ucapnya dengan nada menakutkan, "akan sangat menyusahkan jika suatu saat dia membongkar rahasia tentang konspirasi terhadap Black Shadow, bukan?" Kali ini pria itu tersenyum dingin sambil menatap tajam ke arah sekretaris pribadinya.


"Saya mengerti. Saya akan mengerahkan orang untuk mencari dan membunuhnya," jawab sekretarisnya.


"Jangan lupa ambil kembali uang yang kau berikan padanya!" lanjutnya kembali.


"Siap." Sekretarisnya kembali menunduk. "Oh, iya, bukankah tiga hari lagi Anda akan dilantik menjadi Kepala Badan Keamanan Nasional dan meninggalkan gedung ini?"


"Ya, posisi itu akan memudahkan aku mengendalikan perdana menteri. Selain itu, hama-hama tak berguna seperti Black Shadow akan lebih mudah disingkirkan," ucapnya tersenyum licik, "Persiapkan mobilku sekarang! Perdana Menteri mengundangku ke tempatnya sekarang," pintanya kemudian.


Shohei memasuki gedung Badan Kepolisian Nasional. Di ingatannya saat ini, kembali terbesit ucapan menteri kehakiman yang mengisyaratkan pejabat dengan tampilan tegas, jujur, dan berani.


Jika Akabane Ayumi mencitrakan dirinya sebagai politisi yang baik, sederhana, dan merakyat, lalu apakah sosok yang tegas, jujur, dan berani itu adalah ....


Pada saat ini, Kepala Kepolisian Nasional baru saja keluar dari lift bersama sekretaris pribadi dan para pengawalnya. Mata Shohei langsung tertuju pada pria dengan jas kebesarannya itu yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Secara spontan, ucapan Jun seolah kembali menggaung di telinganya.


Dia juga mengatakan tidak lama lagi, orang itu akan sangat berpengaruh dalam setiap keputusan yang diambil perdana menteri.


Shohei membungkuk penuh saat Kepala Kepolisian Nasional melintas bersama rombongannya. Ia memicingkan mata seraya memperbaiki posisi kacamatanya.


Langkah Kepala Kepolisian Nasional mendadak terhenti dan kepalanya memutar ke belakang melihat Shohei yang kini berjalan berlawanan arah dengannya.


"Dia ...."


"Yamazaki Shohei, ketua penyidik divisi satu metropolitan dan anak dari jenderal Yamazaki," bisik sekretaris pribadinya dengan cepat.


"Oh, aku ingat. Dia menjadi satu dari tiga orang yang dipromosikan pindah ke Badan Kepolisian Nasional, kan?"


"Iya. Dia juga memiliki hubungan dengan putri mendiang Matsumoto. Bukankah waktu itu Anda pernah memerintahkan untuk menus—" Ucapan pria itu itu terhenti saat Kepala kepolisian mengangkat tangannya ke atas, seakan memberi instruksi agar tak melanjutkan kalimatnya.


Kepala kepolisian Nasional masih mengawal siluet Shohei yang berangsur-angsur menjauh dari pandangannya. Ingatannya terkilas saat ia mengadakan rapat dadakan di kepolisian Metropolitan tentang fenomena Black Shadow. Ia masih mengingat betul, Shohei memotong pidatonya waktu itu dengan lantang.


"Maaf, menurutku bukan Black Shadow yang menurunkan citra Kepolisian Jepang, tapi polisi itu sendirilah yang telah merusak kepercayaan publik. Apa kita tidak berkaca, sudahkah kita benar-benar menegakkan hukum tanpa tebang pilih?" Ucapan Shohei yang pernah membuatnya terusik, kembali mengalun di telinganya. (Ada di chapter 17)


"Ada apa, Tuan?" tanya sekretaris pribadinya yang melihat ekspresi hitam di wajah atasannya.


"Kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya, kalau dia sangat berani dan juga terlalu lancang," gumamnya dengan sorot mata berbahaya.


Shohei memasuki lift menuju lantai lima. Begitu keluar, ia menepi di tempat sepi lalu kembali menghubungi Jun.


"Apa kau sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Jun begitu telepon tersambung.


"Apakah pejabat yang dimaksud menteri kehakiman adalah Kepala Kepolisian Nasional, Kazuya Toda?" tanya Shohei balik, tetapi dengan nada penuh keyakinan.


"Ya, benar! Kazuya Toda-san."


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶🦶


devil proof¹: Dilema di mana tidak ada bukti seseorang melakukan kejahatan, tapi juga tidak ada yang bisa membuktikan kalau orang itu tidak melakukannya. Seperti kasus yang menimpa Black Shadow saat ini.


gays, banyak yang nyangka target kesepuluh itu ayah seina. Dari awal chapter saat pertemuan Seina dan Shohei, tuan Matsumoto dah bilang ke ayahnya Shohei kalau dia mau pensiun di dunia politik. Lagian, waktu penusukan yang dialami Shohei, tuan Matsumoto menghubungi seseorang dan marah besar mengetahui apa yang dilakukan orang itu pada calon menantunya. untuk ayahnya Shohei, dia tidak memiliki jabatan apapun. Sementara target kesepuluh sudah sangat jelas penyebutan di novel ini sebagai "Pejabat misterius". sebenarnya udah sering dispill ya. Dan di chapter 17 Shohei pernah potong pidatonya.


bagi yang merasa menebak dengan benar target kesepuluh, silakan ambil hadiahnya ya, mobil Pajero dalam bentuk brosur 🥳🥳💃💃


tetap ikuti terus, akan ada banyak hal yang terungkap. jangan lupa like dan komeng berfaedah biar cerita ini gak ngadat di tengah jalan.