Never Not

Never Not
Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?



..."Hanya karena perasaanku tak terbalas, lalu kenapa aku harus berhenti menyukainya? Cinta bukan seperti itu ...."...


...~Yuriko Aizawa Ch. 79~...


...----------------...


Pria itu kini berdiri di antara empat orang misterius berseragam hitam. Tak takut dikepung mereka, ia malah mengeluarkan ikat pinggang dari celananya, lalu mengaitkan ke tangan kanannya sambil tersenyum miring. Tak pelak, perkelahian empat lawan satu tak bisa terelakkan lagi. Dengan ikat pinggangnya, ia mengibas siapapun yang mendekat.


Yuta segera bersembunyi di balik drum tua. Ia mencoba memerhatikan pria yang memakai jumper hitam dengan topi sport dan masker yang menutupi wajahnya itu. Rasanya pria itu tak asing baginya. Di sisi lain, ia juga merasa takjub dengan gaya perkelahiannya yang menggabungkan teknik judo dan karate.


Melawan empat orang sekaligus memang sungguh membuatnya kewalahan. Apalagi, kelompok misterius itu orang-orang terlatih yang tidak bisa ditumbangkan begitu saja. Namun, pria itu bagai tupai lompat yang selalu bisa menghalau serangan beruntun dari mereka. Sayangnya, posisi pria itu menjadi tidak menguntungkan. Ia terpojok karena arah serangan keempat orang itu menggiringnya ke sebuah pagar pembatas yang terbuat dari ram kawat. Tak tinggal diam, ia memanjat pagar pembatas itu, lalu memberi tendangan ke satu per satu dari mereka yang mendekat.


Salah satu dari mereka menangkap pergelangan kaki pria itu sehingga membuatnya jatuh tersungkur di aspal. Ia segera berguling ketika dua dari mereka hendak memberi serangan.


Sementara, Yuta masih berdiam diri di pojok sana sambil menyaksikan perkelahian nyata yang sudah memakan waktu hampir sepuluh menit. Suasana di sana semakin mencekam dan tak ada celah baginya untuk melarikan diri. Ia pun segera mengambil ponselnya, lalu sengaja memutar audio bunyi sirene polisi. Rupanya aksi memutar sirene itu cukup ampuh, terbukti keempat orang itu langsung menghentikan pergerakan, mereka saling melirik dan langsung mundur karena menyangka polisi sedang patroli di sekitar situ.


Kini, hanya tinggal Yuta dan pria yang memakai jumper hitam itu. Dia segera keluar dari persembunyiannya, mencoba mendekati pria yang baru saja menolongnya.


"Arigatou ... sudah membantuku," ucap Yuta sedikit takut.


Pria itu berbalik pelan, membuka Hoodie dan topi yang menutupi kepalanya, kemudian membuka masker yang melindungi setengah wajahnya. Tak ragu untuk menunjukkan wajah aslinya yang kini terpampang secara penuh.


Yuta terbelalak seketika. "Rrr—Rai?" sebutnya tak percaya.



Yuriko mulai mengendarai motor melewati setengah rute garis pantai. Shohei yang berada di belakang gadis itu, hanya diam dan tampak menikmati suasana matahari tenggelam yang selalu ia lewatkan ketika berada di Tokyo. Rambut panjang Yuriko yang tergelitik angin, membelai hidung dan bibir pria itu.


Shohei mengangkat telapak tangannya secara perlahan, memegang ujung rambut Yuriko yang terus bersentuhan dengan hidungnya. Ia lalu membentangkan tangan kanannya ke samping, mencoba bercumbu dengan angin senja. Dari kaca spion, Yuriko dapat melihat Shohei tengah memejamkan mata seraya membentangkan kedua tangannya. Gadis itu tersenyum tipis, lalu dengan sengaja menarik gas sehingga membuat Shohei terkejut.


"Hahahaha ...." Yuriko tertawa lepas melihat mimik kaget Shohei. "Maaf, kukira kau akan tertidur," ucapnya tertawa sambil tetap menatap Shohei dari balik kaca spion.


Makan malam pun tiba. Ibu Yuriko menghidangkan aneka menu berbahan dasar ikan hasil tangkapannya.


"Arigatou," ucap Shohei saat ibu Yuriko memberi sepotong ikan tuna panggang ke dalam mangkok nasinya. "Hum ... oishi, menyantap ikan segar yang baru diambil dari laut memang sangat berbeda," ucapnya begitu mencicipi masakan ibu Yuriko.


"Syukurlah kau menyukainya! Ayo tambah lagi, jangan sungkan!" seru Ibu Yuriko penuh semangat.


"Kau juga harus mencoba makanan khas desa kami." Yuriko tak mau kalah dengan ikut memberi sepotong salmon yaki di mangkok Shohei.


"Ah, benar! Itu sangat enak," sahut ibunya penuh keramahan.


Anak dan ibu itu kembali memberi deretan menu lainnya sehingga membuat mangkok nasi Shohei penuh karena terisi lauk yang menggunung.


Shohei memperlambat tempo mengunyah, sambil berkata, "Omong-omong, ayahku telah menjadi seorang aktivis dan juga pengurus yayasan untuk orang-orang lumpuh dan lansia. Dia dan para aktivis lainnya sering membagikan kursi roda dan juga kebutuhan para lansia. Jika kalian berkenan, aku akan mendaftarkan tuan Aizawa ke yayasan tersebut agar bisa mendapatkan sumbangan kursi roda."


"Benarkah?" Mata ibu Yuriko langsung membeliak.


"Aku sudah bicara pada ayahku sebelum makan malam ini. Ayahku siap membantu asal kalian bisa berikan salinan kartu identitas tuan Aizawa sebagai syarat kepengurusan donasi."


"Shohei-san ...." Yuriko tampak tak bisa berkata-kata, hanya mampu menatap haru pria itu.


Selesai makan, ibu Yuriko bersiap-siap ke rumah sakit untuk menjaga suaminya sekaligus mengantar makanan. Di rumah tua itu, kini hanya tersisa Yuriko dan Shohei. Gadis itu baru saja membersihkan kamarnya.


Yuriko menghampiri Shohei, lalu berkata, "Malam ini kau bisa tidur di kamarku."


"Bagaimana denganmu?"


"Ah, aku bisa tidur di kamar ibu dan ayahku." Yuriko menunjuk kamar di sebelah kamarnya. "Kita harus segera beristirahat karena kapal berangkat jam sembilan pagi."


Shohei mengangguk, "Oyasuminasai."


"Oyasumi. Mengenai kursi roda ayahku, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu." Yuriko membungkuk penuh.


Shohei berjalan menuju kamar Yuriko. Sebaliknya, gadis itu pun menuju ke kamar orangtuanya. Sama-sama hendak membuka pintu, sejenak keduanya saling menatap sambil melempar senyum.



Pukul dua belas malam waktu Tokyo, Yuta mendatangi sebuah bar langganannya yang juga menjadi markas dia dan para anggota penipu. Kehadirannya disambut terkejut oleh orang-orang di sana termasuk kekasihnya sendiri. Bagaimana tidak, masih terlihat jelas bekas hantaman pukulan di beberapa titik wajahnya.


"Sayang, apa yang terjadi padamu?" tanya pacarnya cemas sambil memegang pipi Yuta. Beberapa orang juga menanyakan hal yang sama.


"Tidak penting dengan apa yang kualami. Sekarang, aku akan menunjukkan seseorang yang sangat penting untuk kita semua!" ucapnya sambil menengok ke belakang.


Tepat saat itu juga, perhatian mereka teralihkan pada sesosok pria yang berjalan perlahan dari arah pintu masuk. Pria berpostur tinggi itu dalam balutan tuksedo yang rapi, dan gaya rambut menawan serta anting titanium yang menggantung di telinganya. Ia benar-benar kembali ke penampilannya yang lama.


"Rai!" panggil mereka diiringi ekspresi terkejut bercampur senang karena pria itu menghilang selama setahun lamanya. Beberapa perempuan seksi yang pernah menjadi teman kencannya juga langsung mengelilinginya.


"Mari kita rayakan kembalinya ketua kita!" seru Yuta mengangkat botol anggur di meja utama lalu membuka penutupnya yang langsung membuat isinya berhamburan ke mana-mana. Kehadiran Rai tentu mendapat sambutan meriah dari mereka. Musik DJ kembali bergema di ruangan itu dan semua orang larut berpesta minum.


Rai memilih menepi dengan duduk di sudut ruang. Ia memerhatikan orang-orang di tempat itu yang tengah larut dalam dunia malam seolah mereka tidak punya beban apa pun. Inilah dunia yang pernah ia geluti, penuh kesenangan dan kebebasan tanpa ada aturan yang mengikat. Di dunia ini, ia tak perlu memikirkan apa yang bukan menjadi urusannya, apalagi terkait urusan politik dan negara. Selain itu, ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus sebagai bayang-bayang orang lain.


Sepertinya ... aku memang lebih cocok berada di sini.


Tak lama kemudian, dua perempuan cantik datang mendekat dan duduk di sisinya. Rai pun dengan langsung merangkul mereka dan mengobrol santai. Salah satu perempuan itu mengaitkan sebatang rokok di sela bibir Rai lalu membantunya menyalakan pemantik api. Sementara, perempuan satunya lagi menuangkan sampanye di gelas pria itu seraya menyodorkan ke arahnya. Rai mengangkat gelas kristal bertangkai ramping itu, seraya menatap Yuta yang datang menghampirinya.


"Yo, aku sudah siapkan kamarmu di lantai atas lengkap dengan perempuan yang akan menemanimu malam ini," ucap Yuta sambil merangkul kekasihnya.


Rai memangku sebelah kakinya, lalu mengembuskan asap rokok hingga membumbung tinggi ke atas. "Aku ingin memilihnya langsung!"


"Baiklah kalau begitu! Kau tinggal tunjuk gadis mana pun yang ingin kau tiduri malam ini," ucap Yuta mengangguk-angguk seraya menyapu pandangan ke seluruh perempuan yang ada di kelab itu.


Rai bersandar seraya menciptakan lengkungan tipis di wajah tampannya. "Aku mau dia," tunjuk Rai.


Yuta terhenyak ketika jari telunjuk Rai mengarah pada kekasihnya. Ia lantas menatap kekasihnya yang juga menatapnya dalam diam.


"Yo, tidak bisa! Dia pacarku," ucapnya tertawa kaku.


"Selain dia, aku tidak mau!" tegas Rai sambil kembali mengisap batang tembakau.


"Oke ... oke!" Yuta mengangguk-angguk, lalu menatap kekasihnya. "Sayang, maafkan aku. Bolehkah kau menemaninya malam ini? Dia itu sahabatku. Sebagai sepasang sahabat, kami harus saling berbagi."


"Tidak masalah. Kita hanya terpisah untuk malam ini saja, kan?" ucap kekasihnya sambil mencuri pandang ke arah Rai.


Yuta menuju ke lantai atas, masuk di sebuah ruangan sambil membanting tuksedonya dengan kesal. Mengetahui kekasihnya sama sekali tak keberatan untuk tidur dengan Rai malam ini, membuat pria itu menjadi geram.


Seorang perempuan cantik blasteran Eropa masuk ke ruangan itu, lalu duduk tenang sambil memegang rokok yang telah memendek. "Pesona Rai masih belum luntur. Bahkan kekasih kesayanganmu saja tak menolak untuk melayaninya," ucap perempuan itu diiringi tawa yang mengejek.


Yuta berbalik dengan ekspresi yang lebih tenang. "Apa kau tidak ingin menyapa mantan kekasihmu?"


"Aku tidak ingin merusak suasana hatinya. Dia mau bergabung dengan kita itu sudah bagus. Lagi pula, melihatnya barusan ... sepertinya tidak ada yang berubah darinya. Dia masih seperti yang dulu."


Yuta bergeming. Ia kembali membuka ingatannya beberapa jam lalu saat sekelompok pria misterius hampir membunuhnya, tapi tertolong oleh kehadiran Rai yang datang melawan mereka semua.


Kau salah, Haru. Rai yang sekarang sangat berbeda dari Rai yang kita kenal.


.


.


.


like + komeng