Never Not

Never Not
Ch. 103 : Megumi Jun



Rai tentu saja terkesima dengan penampilan Yuriko saat ini. Setiap gerakannya lincah dengan mata elang yang memancarkan kilauan dingin. Meski tak ada garis senyum di wajahnya, tetapi auranya yang keluar justru menunjukkan figur wanita tangguh. Rai cepat-cepat menuruni tangga darurat agar bisa melihat gadis itu berlatih dari jarak dekat.


"Hyaa ...." Yuriko berbalik dengan gerakan memutar sambil mengacungkan tongkat pada Rai yang mendekatinya dari arah belakang.


Rai memegang tongkat tersebut, lalu memutarnya dari arah samping. Tetapi Yuriko langsung mencekal tangannya dengan cepat.


"Ada angin apa yang membuatmu mendadak cosplay jadi pendekar?"


Yuriko terdiam sesaat sambil menancapkan tongkatnya ke tanah. "Aku ingin melindungi Black Shadow dan Mr. White yang asli!" ucapnya dengan tegas.


Rai mengangkat sepasang alisnya, sebagai respon terkejut atas pernyataan yang baru saja meluncur dari gadis yang usianya tujuh tahun lebih muda darinya.


"Kau dan Shohei ... pasti akan menghadapi musuh yang besar ke depannya. Bukankah seharusnya kalian memiliki pengawal!" ucap gadis itu kembali.


Rai menatap dalam sepasang manik Yuriko, lalu tertawa kecil. Ia mendekat, hanya untuk menepuk lembut kepala gadis itu.


"Musuh kami ini sangat berbahaya. Bukan sekelas preman biasa. Dia punya kedudukan dan kekuasaan." Rai mencoba memperingati Yuriko.


"Tidak masalah. Bukankah gajah dapat dikalahkan oleh semut?"


Rai tersenyum miring. "Gajah dikalahkan oleh 'banyak' semut. Jika hanya satu semut, belum mampu menumbangkan gajah. Kau terlalu terbuai dengan pribahasa." Saat mengatakan kalimat itu, tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Shohei semalam, yang akan menambah anggota untuk masuk ke dalam tim mereka. Ia yang awalnya kurang setuju, kini mengerti dengan jalan pikiran Shohei.


Rai mencabut tongkat yang ditancapkan Yuriko, lalu memutarnya searah jarum jam. "Kalau begitu, mari kita bersama-sama menumbangkan gajah!" ucap Rai sambil tersenyum ringan. Detik itu juga, dia menyerang gadis itu, sambil kembali berkata, "Kita berdua dipertemukan, pasti karena takdir. Jangan-jangan kita berjodoh!" ucap Rai sambil menyengir.


Yuriko menghalau serangan Rai, lalu berkata, "Kurasa kau tidak tahu kalau di dunia ini ada istilah yang disebut dengan kebetulan," ucapnya penuh penekanan.


Di sisi lain, Kei baru saja menyelesaikan artikel persuasif tentang aksi Black Shadow yang terakhir. Dia begadang semalaman hanya untuk mengumpulkan bukti-bukti lewat dua video berbeda, yang satu menunjukkan Black Shadow asli, satunya Black Shadow yang palsu.


Kei menyalin artikelnya, kemudian membuka akun Twitternya. Ia tersentak ketika kehilangan akses masuk di akunnya. Bukan hanya di Twitter, tapi juga pada Instagram dan Youtubenya. Tak bisa dipercaya! Semuanya mendadak lenyap.


Kei mengambil ponselnya, kemudian menelepon Shohei.


"Semua akun media sosialku hilang," ucap Kei panik.


"Kenapa bisa seperti itu?" Shohei pun tak kalah terkejut.


"Entahlah! Kurasa ada yang meretasnya dan sengaja menghilangkan!"


Shohei memejamkan mata dalam-dalam. Bisa dipastikan ini pasti ulah sosok yang berkaitan dengan kematian Menteri kehakiman.


Mereka mulai menekan orang-orang yang bersuara vokal.


Hingga hari keempat, kematian Menteri kehakiman masih terus menduduki berita terhangat di media cetak maupun elektronik. Pro dan kontra di sosial media terus bergulir berkaitan dengan aksi terakhir Black Shadow. Tak hanya itu, tagar "tangkap Black Shadow" menjadi trending utama di Twitter, menyusul dengan tagar "save Black Shadow" dan juga tagar "siapa Mr. White". Masyarakat seakan terbagi menjadi dua kubu, kubu pembela dan kubu pengecam. Kelompok Hak Asasi Manusia turut bersuara mengecam keras aksi Black Shadow yang telah menghilangkan nyawa seseorang tanpa peradilan. Apalagi, tuduhan yang dilayangkan Black Shadow masih belum terbukti.


Akun media sosial Seina diserang netizen yang menuntut agar gadis itu segera minta maaf ke publik atas apa yang dilakukan ayahnya. Hal itu tentu saja membuat Seina semakin terpuruk dan terus mengurung diri di kamar. Sementara, akun Kei Ayano yang telah dilenyapkan Yuta, disangka publik sengaja diistirahatkan pria itu agar tak mendapat serangan rundungan. Sebagai jurnalis, ia dianggap tidak netral karena enggan memberikan pendapat tentang aksi Black Shadow yang melibatkan pamannya sendiri. Apalagi, tayangan program pria itu yang mendadak diliburkan, membuat netizen menyangka jika dia benar-benar menghindari hujatan.


Di gedung kepolisian metropolitan, para detektif berkumpul di ruang rapat. Hasil otopsi Matsumoto telah keluar secara resmi dari tim forensik kepolisian. Salah seorang polisi membagikan kertas berisi hasil pemeriksaan tubuh mendiang Matsumoto. Tak lama kemudian, kepala kepolisian dan jajaran pejabat Metropolitan datang duduk memimpin rapat. Satu di antaranya adalah Shohei yang duduk di samping kanan kepala kepolisian metropolitan. Seluruh detektif pun serempak berdiri untuk memberi salam.


"Matsumoto Hayato, enam puluh dua tahun. Penyebab kematian adalah pendarahan hebat karena luka tusuk di bagian dada sedalam dua puluh senti. Tusukan tersebut menembus jantung. Waktu kematian diperkirakan sekitar pukul 11.00-12.00 malam setelah tayangan Black Shadow." Perwakilan forensik kepolisian membacakan hasil otopsi mendiang Matsumoto.


"Bagaimana dengan alat bukti?" tanya kepala kepolisian metropolitan.


"Tidak ditemukan senjata yang dipakai membunuh, tidak ada sidik jari dan DNA yang terdeteksi di sekitar tempat kematian, tidak ada jejak kaki dan juga tidak ditemukan serpihan kulit di kuku korban," jawab salah satu perwakilan divisi investigasi kriminal.


"Bagaimana dengan jejak kelopak bunga Camelia?" tanya kepala kepolisian metropolitan.


"Tidak ada. Sepertinya Black Shadow panik dan segera kabur setelah tahu gedung itu dikepung kepolisian dan militer."


"Bagaimana dengan petunjuk di sekitar gedung tua?" tanya kepala kepolisian kembali.


"Ada lima Kamera CCTV yang terletak sekitar 25 meter dari gedung dengan 300 jam rekaman. Tapi tidak menunjukkan sosok mencurigakan di malam itu. Saat ini kami sedang melacak mobil-mobil yang melintas pada jam 11.00-12.00 malam," sahut yang lainnya.


"Berarti satu-satunya yang bisa dijadikan alat bukti adalah rekaman tayangan Black Shadow yang terakhir di mana dia mengumumkan secara langsung akan mengeksekusi tuan Matsumoto," sambung inspektur Heiji.


Ai Otaka berdiri, lalu berkata, "Selain Black Shadow, kita juga harus mencari tahu siapa itu Mr. White. Dialah yang menjadi sumber informasi Black Shadow sekaligus memerintahkan untuk melakukan tindakan itu."


"Apakah ada kemungkinan Mr. White berasal dari kalangan birokrat sendiri?" imbuh polisi lainnya.


"Bisa jadi. Bahkan dugaanku itu berasal dari Kepolisian." Detektif Shu yang dari tadi bergeming, kini ikut menggaung dengan sikap yang tenang.


Pernyataan detektif Shu tentu mengejutkan seisi ruangan. Sementara, Shohei tetap tenang dan tak bereaksi apa pun, meski pandangannya ikut tertuju pada detektif Shu.


"Kenapa kau bisa menduga seperti itu? Coba sebutkan satu nama yang menurutmu bekerja sama dengan Black Shadow dan menjadi Mr. White!" tandas salah satu polisi.


"Hah? Megumi Jun-san?" Seisi ruangan makin heboh. Seluruh polisi terkejut saat detektif Shu menyebut dengan lantang nama kepala kepolisian metropolitan sebelumnya. Tak terkecuali Shohei yang ikut melebarkan mata.


Inspektur Heiji menunjukkan raut tak terima saat rekan lamanya yang menjadi atasan mereka ikut terseret dalam kasus ini. "Apa kau mencurigai Kepala Kepolisian Metropolitan yang sedang cuti dan berada di luar negeri?"


"Aku seorang detektif. Tugasku adalah mencurigai orang. Kecurigaanku bukan tanpa sebab, Megumi Jun-san berada dalam daftar riwayat panggilan terakhir mendiang Matsumoto pada malam sebelum ia diculik," kata detektif Shu sambil berdiri dan mengangkat sebuah kertas yang berisi data riwayat panggilan mendiang Matsumoto di ponselnya.


Seluruh polisi terkejut, termasuk Shohei. Mata pria itu membesar seketika, saat nama senior yang paling ia segani sekaligus sosok yang telah mengajarinya banyak hal terkait ilmu penyelidikan, kini diduga sebagai Mr. White.


"Tapi bukankah Megumi Jun-san belum pernah pulang ke Tokyo selama setahun?" Salah satu polisi menyahut.


"Apa ada di antara kalian yang pernah melihat sosok Mr. White dalam siaran Black Shadow?" tanya detektif Shu sambil menyapu pandangan ke seluruh polisi yang mengikuti rapat, "tidak ada, bukan? Tanpa mengurangi rasa hormatku pada Megumi Jun-san, bukankah tidak masalah jika kita menyelidiki beliau?" lanjutnya sambil menghadap ke depan, tepatnya pada Kepala kepolisian metropolitan saat ini.


Kepala kepolisian tampak berpikir sambil menghela napas. Sementara polisi-polisi lainnya saling berdiskusi kecil, ikut menduga-duga keterlibatan Megumi Jun seperti yang disangka detektif Shu.


"Yamazaki-san, untuk penyelidikan terhadap Megumi Jun kuserahkan padamu," pinta kepala kepolisian metro.


Shohei terkesiap, tetapi langsung mengangguk menyetujui.


Ai Otaka berbisik di telinga Seto Tanaka sambil melirik ke arah Shohei. "Ketua kita tak bersuara dari tadi."


"Wajar saja. Kekasihnya berduka. Wartawan turut memburunya. Beban yang dia tanggung sangat besar," jawab Seto Tanaka.


"Kenapa tidak putuskan saja kekasihnya untuk menjaga citranya saat ini. Jika ketua masih berhubungan dengan anak menteri kehakiman itu, bisa-bisa menghambat karirnya ke depan," cela Ai Otaka.


"Aku juga berharap Ketua mengakhiri hubungannya dengan dengan nona Matsumoto," ucap Seto Tanaka sambil menatap Shohei.


Ya, memang tidak seperti biasa, Shohei hanya terduduk diam tanpa menyumbang pendapat selama rapat berlangsung. Bukan tanpa alasan, ia harus hati-hati dan tidak terpancing agar identitasnya sebagai Mr. White tetap terjaga.


Begitu rapat selesai, Shohei mengembuskan napas beratnya seraya berjalan tertatih menuju tangga darurat. Ia duduk di anak tangga, sambil memijat kepalanya yang terasa berat. Sungguh, ini sudah di batas asa. Calon mertuanya tewas dengan tuduhan yang tak terbukti. Partnernya menjadi buronan nasional. Akun sosial media kekasihnya diserang dengan komentar-komentar hujatan. Ditambah lagi, kini seluruh akun media sosial Kei telah dilenyapkan. Dan sekarang, seniornya yang tak tahu apa-apa dicurigai sebagai Mr. White.


Haruskah aku menyudahi semua ini?


Shohei mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, kemudian menyandarkan kepalanya di dinding sambil memejamkan mata. Mendadak, ia teringat dengan Shu yang mengatakan bahwa Megumi Jun ada di daftar riwayat panggilan mendiang Matsumoto sehari sebelum penculikan itu terjadi.


"Megumi-senpai .... Ya, megumi-senpai. Dia mungkin bisa membantuku!" Shohei buru-buru mengambil ponselnya, mencari kontak Jun lalu menghubunginya.


"Moshi-moshi ...." Suara pria terdengar begitu telepon tersambung.


"Senpai ...."


.


.


.


Megumi Jun after 7 years





Karakter yang kalian tanya2 dari kapan bulan dah gua keluarin, ya. Jun Megumi alias Junaidi alias Juned. tapi dia cuma bintang tamu aja, ya. jadi ga mendominasi cerita lagi.


Ehem, ternyata masih banyak pembaca yang kaget Yuriko bisa bela diri. padahal episode2 sebelumnya dah pernah disinggung. tapi gua maklumi aja, kalian banyak baca nopel jadi mungkin lupa ditambah lagi update novel ini dua hari sekali.


terus, pertanyaan seperti kenapa gak minta bantuan hibari yang juga jago IT, atau bantuan Yu dkk.


beda jalur oi. Shohei kagak kenal mereka, Rai kagak berteman juga dengan mereka.


Terus, Ren mau ikut muncul juga gak?


kagak. kan sudah gua bilang dari awal, Ren ga bakal muncul di cerita ini. Iya gua tau Ren emang keRen kek gua 😎, bahkan dia tetap jadi tokoh ciptaanku yang paling gua favoritin. tapi kisahnya dah selesai ngapain pansos di sini🤣.


Kalau untuk Megumi Jun, inspektur Heiji, dan detektif Shu kan masih satu circle bareng Shohei. begitu juga Ryo dan Yuta yg masih ada hubungan ma Rai.


Mengenai misteri2 yang belum terpecahkan, akan terjawab di chapter2 yang akan datang. Masih ada bom lagi di chapter2 selanjutnya 🤣. tenang, semua bakal jelas kok. sejelas hitam putih (black shadow mode on 🤣)


sekian kumur2 gua, jangan lupa like dan komeng berfaedah. biar gua semangat lanjut.