
"Dengarkan dulu! Tadinya kami menonton bersama sambil mencoba kualitas audio yang baru kubeli. Tapi, sepertinya Yuriko-chan terlalu kelelahan sampai ketiduran. Aku tidak enak bangunkan dia, dan aku juga tak bisa membiarkan dia tergeletak di sofa begitu saja. Jadi kubaringkan saja dia di kamarku," jelas Shohei cepat.
"Sugoi! Pelayanmu tertidur dan sebagai majikan kau bukannya membangunkannya, tapi malah membawanya masuk ke kamarmu. Kau terlewat baik!" Rai berdecak kagum, meskipun sebenarnya dia mengkhawatirkan kebaikan Shohei akan disalahartikan oleh Yuriko. "Sebagai sesama lelaki, aku sebenarnya tak mempermasalahkan itu. Tapi, jika orang lain yang melihat itu akan menimbulkan kesalahpahaman. Apalagi kalau pacarmu yang mengetahuinya, kau akan dianggap berselingkuh!"
"A–apa?!" Shohei terhenyak seketika. "Mana mungkin aku akan berpaling dari kekasihku." Ia membela diri, tetapi tak lama kemudian terdiam.
"Kalau begitu, biarkan aku mengurus Yuriko. Aku akan segera ke apartemenmu." Rai menutup pembicaraan dan langsung bergegas memanggil taksi agar cepat sampai di kediaman Shohei.
Shohei keluar dari ruang kerja menuju kamarnya. Ia membuka sedikit pintu kamar, mengintip Yuriko yang terlelap di atas ranjang yang seharusnya akan ditempati dirinya dan Seina.
Hampir satu jam berlalu dan Rai baru tiba di apartemen Shohei.
"Yuri-yuri! Yu-chan!" panggil Rai seraya menepuk lembut pipi gadis itu.
"Hhmmm ...." Dalam lelapnya, Yuriko hanya mengigau tak jelas seraya menepis kasar tangan Rai. Selanjutnya, ia malah kembali tenggelam dalam tidurnya.
Rai menggeleng pelan seraya berkacak pinggang. "Aku baru lihat ada orang tidur seperti mayat."
"Mungkin dia sangat lelah. Seharian ini dia membersihkan dan mengangkat beberapa perabotan besar seorang diri," ucap Shohei.
Rai langsung menggendong Yuriko ke belakang punggungnya. "Ya, sudah, kami pulang dulu!"
"Ini sudah larut malam. Pakailah mobilku!" ucap Shohei sambil menyerahkan kunci mobil.
"Arigatou."
"Ett ... tunggu sebentar!" Shohei kembali menahan Rai ketika pria itu hendak pergi. Ia mengambil mantel tebal lalu menaruhnya di belakang punggung Yuriko. "Di luar sangat dingin," ucap Shohei selesai membungkus tubuh Yuriko dengan mantel miliknya.
Rai yang tengah menggendong Yuriko, hanya bisa terdiam sambil mengangguk-angguk. Ia lalu pamit pergi sambil membawa gadis yang tinggal bersebelahan dengannya.
Rai mendudukkan Yuriko dengan penuh hati-hati di jok samping pengemudi. Ketika hendak menghidupkan mesin mobil, ia menoleh ke samping sejenak.
"Kau benar-benar membuatku repot. Kalau dipikir-pikir, untuk apa juga aku capek-capek ke sini menjemputmu?" ucap Rai berlagak mengeluh. Namun, matanya teralihkan pada mantel Shohei yang terpasang di badan Yuriko. Otaknya secara refleks mengilas balik adegan saat Shohei membungkus mantel itu di tubuh Yuriko dengan wajah yang penuh perhatian.
Tampaknya, ia menyadari jika ada kekhawatiran dalam dirinya. Entah karena Yuriko yang terlalu sering bersama Shohei, atau karena perhatian Shohei pada gadis itu.
Rai kembali menyampingkan wajahnya lalu berkata pada Yuriko yang sedang tertidur pulas, "Dengar baik-baik, Shohei-kun itu memang sangat baik. Dia baik ke semua orang, termasuk padamu dan juga padaku. Tidak hanya padamu, jadi kau jangan salah paham!"
Setelah sampai di apartemen mereka, Rai masuk sambil tetap menggendong Yuriko. Sejak mengenal gadis itu, sudah dua kali ia membawanya seperti ini. Yang pertama saat sedang mabuk berat, dan sekarang saat sedang tidur lelap. Ia mengambil kunci apartemen yang tersimpan dalam tas Yuriko. Mendorong pintu menggunakan kakinya, ia masuk ke kamar gadis itu langsung membaringkannya di ranjang.
Perhatiannya teralihkan pada mata Yuriko yang terpejam. Ternyata ia baru menyadari jika gadis itu memiliki sepasang bulu mata yang tebal dan panjang. Di keseharian, Yuriko memang tak memerhatikan penampilannya. Ia tak suka berdandan dan cenderung senang memakai pakaian kasual, tetapi jika diperhatikan secara saksama, gadis itu memiliki paras cantik alami. Wajah damainya saat ini, membuat Rai merasa senang hingga tak sadar bibirnya mengembangkan senyum.
Terdiam beberapa saat, Rai malah mengulurkan tangannya untuk menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis yang berusia tujuh tahun lebih muda darinya. Entah ada angin apa, ia malah menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Yuriko. Jari-jari kekarnya membelai lembut wajah gadis itu. Kemudian turun menelusuri area leher dan berhenti di kerah bajunya. Dengan tanpa ekspresi, ia mulai membuka kancing atas kameja Yuriko.
Kancing pertama terlepas sempurna. Jari-jarinya berpindah pelan, kembali melepaskan kancing kedua sehingga membuat dada Yuriko mulai terpampang di hadapannya. Jemarinya turun ke bawah dengan perlahan, bersiap untuk membuka kancing ke tiga. Namun, baru saja hendak meloloskannya, tiba-tiba tangan Rai berhenti bergerak. Ia mematung cukup lama, sambil mengingat masa lalunya. Dulunya, ia menyerahkan tubuhnya pada setiap gadis yang diinginkannya, tetapi tak pernah menyerahkan hatinya pada mereka. Sebab, ia telah memiliki seseorang yang amat dicintainya dan membuat ia melakukan segalanya. Mirisnya, balasan yang ia dapatkan hanyalah sebuah pengkhianatan kejam.
Tak mau mengingat dirinya yang dulu, ia pun segera mengancingkan kameja Yuriko yang sempat terbuka.
"Ternyata aku tidak bisa melakukan ini padamu. Tidak bisa melakukannya," ucap Rai disertai dengusan napas berat, kemudian berbalik dan memutuskan pergi meskipun jiwa kelaki-lakiannya sempat bergejolak.
Shohei mencoba mencari tahu identitas lawan bicara tuan Yoshuke saat ini. Sayangnya, seseorang tanpa nama itu sulit ditelusuri. IP adress-nya pun tidak terdeteksi.
Siapa sosok yang sedang chatting bersama tuan Yoshuke? Dan ada hubungan apa antara mereka dan tuan Matsumoto?
Shohei memicingkan sebelah mata dengan pandangan yang masih tertancap pada layar komputer.
Dua hari berlalu dengan cepat hingga tak terasa akhir pekan telah tiba. Menjelang petang, Seina memutuskan mandi dan berendam di bathub. Wajahnya tampak senang, karena malam nanti adalah jadwal kencannya dengan Shohei. Apalagi, Shohei juga menjanjikan akan memperkenalkan sahabat baiknya.
Sedang asyik membalurkan busa ke seluruh tubuhnya, tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di samping bathub membunyikan pemberitahuan pesan masuk.
Seina menoleh ke belakang sambil mengulurkan tangannya berusaha mengambil ponsel. Ia membuka satu pesan yang ternyata berasal dari Shohei.
^^^Shohei-kun.^^^
^^^Seina-chan, mungkin aku dan temanku akan datang terlambat. Tetaplah tunggu kami di Tembo galeri Skytree.^^^
Setelah mengirimkan pesan ke Seina, Shohei berjalan menapaki anak tangga di sebuah gedung yang sepi. Sekilas, ia mengingat kembali percakapan antara tuan Yoshuke dengan seseorang di mana mereka menyebut nama tuan matsumoto—ayah Seina.
Di sebuah ruang rapat pertemuan, para pejabat yang tergabung dalam panitia pelaksana Olimpiade Tokyo berkumpul untuk mengikuti rapat. Semua pejabat itu tampak duduk tegap ketika menteri olahraga memasuki ruangan untuk memimpin rapat. Tuan Yoshuke yang duduk membelakangi layar proyektor, meminta pada sekretaris pribadinya untuk membuka file yang akan diperlihatkan pada menteri olahraga.
"Mina-san, ini adalah susunan acara pembukaan olimpiade Tokyo yang telah kami rancang. Beberapa aktor dan aktris Jepang yang akan membawa obor juga bisa kalian lihat di layar. Jika ada yang ingin komplain, atau mengusulkan sesuatu, kami perkenankan untuk bersuara," ucap tuan Yoshuke yang berdiri kemudian membungkuk sopan.
Namun, ia mengernyit bingung ketika melihat ekspresi terperanjat yang tercetak jelas di wajah orang-orang.
"Tuan Yoshuke Tsuno, apa ini?!" Menteri olahraga langsung berdiri seraya melempar pertanyaan dengan nada meninggi.
Tak mengerti, Tuan Yoshuke beserta sekretaris pribadinya langsung menoleh ke layar proyektor. Mereka tercengang ketika melihat tampilan layar sekarang adalah sebuah pesan panjang yang berisi percakapan rahasia antara dirinya dengan seseorang, terkait kecelakaan yang menimpa Furukawa Rika.
Panik, tuan Yoshuke mengintruksikan sekretarisnya untuk segera mengganti slide yang tampil di layar. Sekretaris pribadinya langsung mengotak-atik laptop berusaha menutup gambar yang muncul.
"Ini gawat, Tuan. Sepertinya laptop Anda telah dikendalikan seseorang dari luar sana," bisik sekretaris ini dengan nada gugup.
"Apa maksudmu?" tanya tuan Yoshuke dengan nada tak kalah ketakutan.
"Tuan Yoshuke, cepat jelaskan semua ini!" geram menteri olahraga diikuti seruan beberapa pejabat tinggi lainnya.
Baru hendak bersuara, tiba-tiba layar tersebut menjadi gelap, dan tak lama kemudian muncul tulisan "Black Shadow Comeback".
.
.
.
Tancepin jempolnya jangan lupa