
..."Aku mencintainya, meski tanpa sempat menyuarakan perasaanku."...
...~Rai Matsui~...
...----------------...
Taburan kelip bintang di langit pekat, menjadi pemandangan indah yang memanjakan mata Rai saat ini. Pria itu duduk meringkuk di balkon kamar, memandang takjub hamparan benda angkasa tersebut. Bahkan suara pintu yang bergeser, tak mampu membuatnya berpaling sebentar.
"Hei, apa yang kau lakukan di situ? Ini sudah larut!" tegur Yuriko.
"Yu-chan, bukankah langit malam ini sangat indah?" ucap Rai dengan kepala yang menengadah.
Yuriko yang bersandar di tiang pintu, kini menarik langkahnya dengan pelan, memosisikan berdiri di samping Rai. Ia ikut memandang langit, dengan kedua tangan yang bertopang pada terali balkon.
Masih mendongak, Rai berkata lambat-lambat, "Selama menjadi Black Shadow, aku berkali-kali berdiri di puncak tertinggi menara Tokyo Skytree. Dari ketinggian 634 meter itu, aku selalu memandang ke bawah, melihat Tokyo yang gemerlap, seakan Tokyo bisa kugenggam saat itu juga. Berada di puncak menara, membuatku merasa menjadi bintang besar yang membawa harapan banyak orang. Meski aku hanya memerankan tokoh itu, Tapi ada kebanggaan tersendiri mendengar segala pujian yang tertuju pada Black Shadow. Sayangnya, aku malah lupa melihat ke atas, memandang bintang yang sebenarnya. Padahal bintang mungkin akan terlihat lebih jelas ketika aku berdiri di ketinggian."
Yuriko menghela napas. "Ternyata benar, ya, ketika sedang berada di atas, manusia selalu lupa kalau masih ada lagi yang lebih tinggi di atas mereka. Tapi ... bukankah itu manusiawi?" ucapnya seraya menoleh ke arah Rai.
"Entahlah! Black Shadow telah mengajariku banyak hal! Tidak ada yang kekal. Pujian tidak selamanya terus datang pada kita. Seperti saat ini, tokoh yang dulunya dianggap Hero bagi masyarakat, kini malah dihujat karena dianggap kriminal."
"Itu bukan salahmu! Mereka memanfaatkan pola pikir masyarakat yang mudah menelan mentah-mentah sebuah informasi."
Meski tak terpengaruh dengan serangan lawan yang terus mengkriminalisasi dirinya, nyatanya Rai justru rapuh ketika melakukan ego surfing¹ dan mengetahui mulai banyak netizen yang mengecam tokoh Black Shadow sejak kematian menteri kehakiman dan isu serangan teroriss.
Di waktu yang sama, Kei sedang menulis artikel yang akan mengungkap keganjilan dari kriminalisasi Black Shadow. Siang tadi dia membuat akun SJW untuk menggerakkan para pemuda, mahasiswa dan orang-orang yang tak gampang termakan hasutan media setiran pemerintah. Baru beberapa jam, akun yang memuat aksi heroik Black Shadow selama ini telah diikuti seratus orang. Ini menjadi bukti bahwa masih ada yang percaya pada pahlawan keadilan yang diciptakan Shohei.
Ryo malah berusaha menghubungi Shohei. Ia ingin pria itu menghentikan Rai yang hendak menemui Yuta.
"Aku mengkhawatirkan Oniichan. Besok dia bertemu dengan kawan lamanya yang pernah menjebaknya. Kawannya itu juga yang sebelumnya bekerja sama dengan Kazuya dan meretas siaran Black Shadow. Apakah sebaiknya kita mencegahnya pergi?" ucap Ryo tergesa-gesa.
"Ya, dia sudah menghubungiku tadi. Aku juga sudah mencoba melarangnya. Tapi, dia mengatakan memiliki utang pada temannya itu. Selain itu ...."
Ingatan Shohei malah larut pada pembicaraannya dengan Rai beberapa saat lalu.
"Dia benar-benar ketakutan. Aku tahu itu. Dia tidak pernah seperti itu. Aku yakin, nyawanya benar-benar terancam. Kazuya Toda tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku harus menolongnya. Ingat, dia punya peran besar dalam membobol safe room. Lagipula, dia seorang peretas profesional, mungkin kita bisa meminta bantuannya untuk aksi selanjutnya."
Penjelasan Rai tersebut, akhirnya membuat Shohei mengizinkannya untuk menemui Yuta.
Masih berada di balkon, Yuriko menggesek-gesekkan telapak tangannya. "Dingin sekali, aku lupa memakai jaket."
Ketika berbalik hendak masuk kamar untuk mengambil jaketnya, di saat bersamaan tangannya justru tertarik ke sisi Rai hingga tubuhnya turut terduduk di pangkuan pria itu. Yuriko hanya bisa membeku ketika Rai membungkus tubuhnya yang dingin dengan jaket besar yang dikenakannya.
"Rai, bukankah ini sudah sangat malam? Apa kau tidak mengantuk?" ucap Yuriko yang tiba-tiba salah tingkah.
Rai malah menyandarkan kepala Yuriko di dadanya. "Tidurlah!" ucapnya mendekap tubuh gadis itu dengan erat.
Yuriko menatap tangan Rai yang melingkar di tubuhnya. "Hangat ...."
Detik-detik waktu seolah merambat lambat ketika kedua orang itu sama-sama terdiam kala mengingat ungkapan hati yang tak sengaja mereka keluarkan.
Rai menghela napas sembari membasahi bibirnya yang kering. Entah kenapa, kata-kata yang ingin ia lontarkan seolah tertelan kembali. Ia seakan menjadi bodoh dan tak dapat memahami dirinya sendiri.
"Ano ...." Rai dan Yuriko serempak mengatakan itu, tetapi kemudian kembali bergeming.
"Douzo ....." Rai mempersilakan Yuriko berbicara lebih dulu.
(Douzo: silakan)
"Suki desu," ucap Yuriko dengan posisi tetap membelakangi pria itu.
(Suki desu: aku menyukaimu)
Rai terkesiap sesaat, tetapi bibirnya langsung menyembulkan senyum. "Kau membongkar isi hatiku."
"Aku tak akan takut lagi untuk mengenalmu lebih jauh. Aku juga tidak akan takut untuk jatuh cinta padamu."
"Kalau begitu ... kau harus siap terjerat pesonaku," ucap Rai sambil menahan senyum.
Perempuan itu masih saja menafikan jika Rai dulunya adalah pria yang mudah menjerat wanita dengan hanya sekali kedipan.
"Kuharap kau menyukaiku sebagai sosok Rai Matsui, bukan Black Shadow," ucap pria itu. Sebab, alasan dulunya kenapa ia tak tertarik dengan pernyataan cinta Seina, karena gadis itu mencintainya sebagai sosok Black Shadow.
"Astaga, sampai sekarang saja aku masih sering lupa kalau kau adalah Black Shadow!" tandas gadis itu sambil tertawa lepas, "lalu ... apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Yuriko.
"Suki desu," ucap Rai cepat.
"Itu kalimatku!" ketus Yuriko. Meski begitu, ia merasa pipinya bersemu seperti bunga sakura yang mekar.
"Daisuki desu," tekan Rai kembali, "Aku pernah menjadi seburuk-buruknya manusia. Juga menjadi sebejat-bejatnya lelaki. Tapi ... menjadi bodoh, mengeluarkan air mata, rasa takut kehilangan hingga tak bisa berkata apa pun hanya karena seorang perempuan, itu baru kualami hari ini. Sebelumnya, aku selalu kesal saat kau terus membicarakan Shohei. Aku berpikir perasaan yang datang ini hanya karena aku tak ingin kalah dari lelaki manapun. Tapi, ternyata perasaan ini terus menetap dan menuntutku untuk mendapatkan sepetak ruang di hatimu."
"Aku telah menyelesaikan perasaanku pada Shohei-san. Dan aku siap memulainya denganmu," ucap Yuriko sambil menautkan jari-jemari.
Rai tertegun tanpa ekspresi. "Aku senang mendengarnya. Tapi ... aku tidak memiliki masa depan secerah Shohei, Kei bahkan adikku sendiri. Setelah misi ini berakhir, aku masih belum mendapat gambaran tentang kehidupanku di masa datang."
"Mari kita ciptakan masa depan bersama!" ucap Yuriko cepat sambil menoleh ke arah Rai.
Rai memandang netra indah Yuriko yang memancarkan ketulusan. Tangannya yang besar datang membelai pipi gadis itu, lalu menyelip di perpotongan lehernya. Ia memiringkan kepalanya dan mulai menempatkan wajahnya beberapa inci dari wajah Yuriko. Detik selanjutnya, pertemuan dua bibir pun terjadi diikuti mata yang terpejam.
Mereka menghabiskan malam di balkon kamar yang tak beratap. Keduanya terlelap dalam posisi berpangkuan dan tangan yang terjalin erat hingga fajar menyingsing.
Keesokan harinya, Rai tengah bersiap-siap pergi menemui Yuta. Ia memakai pakaian serba hitam, serta menggendong tas ransel andalannya. Baru saja keluar kamar, ia langsung dihadang Yuriko yang menatapnya penuh kekhawatiran.
"Jangan khawatir! Aku akan berhati-hati!"
Yuriko membuka topinya, membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja. Ia lalu berjinjit hanya untuk memasangkan topi itu di kepala Rai.
"Aku menunggumu kembali. Pulanglah sebelum matahari tenggelam. Agar kita bisa menyaksikan senja bersama."
Rai mengangguk, lalu pamit pergi.
Di Tokyo, mulai hari ini penjagaan sangat ketat. Semua pasukan keamanan dikerahkan di segala sudut Tokyo. Pria-pria yang memiliki tampilan fisik seperti Black Shadow dan ketiga orang yang tertangkap kamera diperiksa. Divisi keamanan publik telah turun tangan. Mereka menyamar menjadi siapapun dan membuntuti orang-orang yang mencurigakan.
Yuta yang telah disekap selama tiga hari dengan siksaan yang begitu menyakitkan, kini bisa merasakan hawa sejuk udara bebas. Ia berjalan tersuruk-suruk menuju tempat yang Rai berikan padanya. Itu adalah lokasi gedung yang pengerjaannya terbengkalai. Rai memang sengaja memintanya menunggu di pinggiran kota Tokyo.
Tak lama kemudian, sosok tinggi berpakaian hitam dengan masker yang menutupi wajah datang mendekat ke arahnya. Ia yakin itu adalah Rai. Benar, Rai datang menepati janji untuk menolongnya.
"Hei, kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Padahal sudah sejam menunggumu di mobil!" keluh Rai berjalan cepat ke arahnya, "ayo kita pergi! Aku punya kenalan di Narita. Dia memiliki rumah kosong. Kau bisa menempatinya sementara waktu," ucapnya sambil menuntun Yuta menuju mobil yang ia siapkan.
Langkah Rai terhenti seketika saat menyadari sesuatu yang aneh. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap heran ke arah Yuta yang masih mematung. Namun, detik berikutnya tangan pria itu malah mengacungkan pistol ke arahnya.
.
.
.
catatan kaki 🦶🦶
ego surfing: mencari nama sendiri atau nama samaran di mesin pencarian internet, untuk mengetahui informasi apa yang tertulis di internet tentang dirinya. Mungkin satu di antara kalian pernah melakukan ini, kayak menulis nama sendiri di google gitu.
Readers said: Udah mau tamat, kok masih dagdigdug, cerita kayak masih panjang, yang ini belum terungkap, kek masih klimakss dll...
Ciri khas novelku emang kayak gini, ya! Semakin dekat tamat semakin runcing. Ingat dong GA dan DF juga kek gitu, bahkan tinggal lima bab pun pembaca harap2 cemas apakah happy ending atau gak.
Terus, NN gimana? Happy ending gak? Ending NN nano-nano pokoknya 🤣😉
Jangan lupa like dan komen.