
"Kenapa Rai tiba-tiba mau memutuskan bergabung kembali? Kurasa dia bukan orang yang mudah kau pengaruhi," tanya Haru sedikit heran.
Yuta menghela napas dengan berat. "Dia butuh uang dalam jumlah banyak."
Yuta memundurkan ingatannya beberapa jam lalu, tepat setelah ia mengetahui pria yang menolongnya itu adalah Rai.
"Aku akan gabung lagi bersama kalian serta memimpin misi kalian tapi dengan satu syarat!" ucap Rai dengan sorot mata yang tak main-main.
"Apa itu?"
"Aku butuh dua juta Yen sekarang!"
Ia mengernyitkan dahi. Dua juta Yen tentu lumayan banyak baginya. Apalagi keuangannya mulai menipis akibat berfoya-berfoya.
"Jika kau tak bisa memberiku sekarang, jangan harap aku bisa bekerja sama denganmu lagi!" tegas Rai.
Tanpa menimbang lagi, ia langsung berkata, "Oke ... oke. Aku masih punya sisa uang tabungan, akan kuberikan padamu seluruhnya. Lagi pula kau sudah menolongku malam ini, hampir saja aku tidak bisa melihat kekasih lagi."
Saat itu juga, ia dan Rai langsung membuat kesepakatan. Yuta langsung memberinya uang dua juta Yen. Sebagai gantinya, Rai akan turun langsung melakukan misi penipuan yang direncanakan Yuta dan tim mereka.
Di sisi lain, mata Shohei langsung menelisik ke seisi ruang yang hanya terdapat kasur lipat tradisional dan lemari yang menempel di dinding. Ia mengambil ponsel, kemudian mengaktifkannya. Semenjak pulang dari rumah Seina dalam keadaan syok, ia sama sekali tak memeriksa gawainya. Kini, pesan suara dari gadis itu masuk secara beruntun. Dalam pesan tersebut, Seina memintanya bertemu untuk membicarakan banyak hal.
Bukannya segera menghubungi Seina, Shohei malah meletakkan kembali ponselnya, tanpa membalas satu pun pesan yang masuk. Ia berbaring dan mencoba memejamkan mata meski belum terasa mengantuk. Namun, tiba-tiba ia terkenang akan pesan terakhir mendiang Matsumoto yang memintanya untuk menjaga dan menikahi putri semata wayangnya. Tepat saat itu juga, suara ungkapan Seina mengenai perasaannya pada Black Shadow serta suara jawaban Rai yang tak secara langsung membenarkan semua itu turut menghantui benaknya dan menghujam saluran pendengarannya. Suara-suara itu tumpang tindih di telinganya seolah-olah mengolok-olok dirinya yang sedang dilema.
Jujur, hingga detik ini ia tak bisa memutuskan apa pun terkait hubungannya dengan Seina. Apakah akan lanjut dan menikahinya, ataukah memilih mengakhiri. Padahal ia telah mempersiapkan cincin pernikahan dan juga tempat tinggal untuk gadis itu. Bukti jika ia benar-benar mengimpikan hidup bersama Seina.
Sungguh, ia ingin menepati janjinya pada mendiang Matsumoto. Namun, di lain sisi, ia masih belum bisa menerima ketidakjujuran Seina atas apa yang dilakukannya bersama Black Shadow di belakangnya selama ini.
Pikirannya semakin kusut tatkala mengetahui Yuriko menyimpan perasaan padanya selama ini. Tak bisa dipungkiri, ia sungguh menikmati satu hari bersama gadis itu. Bahkan sampai hampir lupa jika dirinya sedang patah hati. Sekarang, manakah yang akan menjadi pilihan hidupnya ke depan?
Tak terasa, hari baru telah menyambut dengan riang. Matahari bertengger di langit biru, diam dan memancarkan suhu hangat yang membuat orang-orang beraktivitas dengan suka cita. Bunga sakura telah mekar di segala penjuru, sebagai lambang keindahan musim semi.
Yuriko dan Shohei bersiap-siap pulang ke Tokyo. Namun, sebelum pergi ke pelabuhan, Yuriko menyempatkan menjenguk ayahnya di rumah sakit.
"Mana temanmu yang kemarin?" tanya tuan Aizawa.
"Dia sedang menunggu di luar." Yuriko menoleh ke jendela, menatap Shohei yang tengah berdiri diam di bawah pohon sakura.
Tuan Aizawa menyentuh lembut tangan anaknya. "Aku bersyukur kau dikelilingi orang-orang baik."
Yuriko mengangguk sambil tersenyum tipis. Ya, tidak diragukan lagi, Shohei memang baik. Lelaki itu bukan hanya membantunya mendapatkan donasi kursi roda, tapi juga membayarkan biaya Rumah Sakit yang tidak tertanggung asuransi.
"Di antara kedua pria itu, apakah ada yang menyukaimu atau mungkin kau sukai?" tanya ayah Yuriko secara mendadak.
Yuriko mengernyit bingung seraya mengulang kata-kata ayahnya. "Dua pria?"
"Ah, aku lupa mengatakannya padamu! Sehari sebelum kau dan polisi itu datang, ada seorang pria yang lebih dulu datang menjenguk ayah. Dia mengaku tinggal bersebelahan denganmu di apartemen kecil."
Pada saat ini, pupil mata Yuriko melebar seketika. Tepat di waktu yang sama, dokter bersama beberapa perawat memasuki ruangan itu. Ayah Yuriko mendapat kesempatan di periksa lebih dulu karena ia berada di bangsal pertama.
"Bagaimana keadaan Anda hari ini, Aizawa-san?" sapa dokter sambil memasang stetoskop di telinga.
"Semakin membaik dari sebelumnya. Ini berkat Sensei dan para perawat," ucap tuan Aizawa dengan penuh syukur.
Dokter tersenyum ramah, lalu berkata, "Kehidupan Anda pasti akan semakin baik dengan bantuan kaki robot. Anda akan bisa berjalan seperti manusia lainnya."
"Jadi ... apa yang Anda katakan kemarin itu, benar? Ada seseorang yang akan menanggung biaya pemasangan kaki palsu?" tanya tuan Aizawa terbata-bata, antara percaya dan tidak.
Dokter mengangguk. "Anda sangat beruntung karena menerima bantuan ini dari seorang donatur. Tapi, kami masih butuh persetujuan Anda dan keluarga Anda. Apakah istri Anda ada di sini?"
Seketika, wajah Yuriko berubah. "Tu—tunggu, apa maksud Sensei dengan kaki robot? Si–siapa yang menjadi donatur?" tanyanya cepat.
"Apa Anda keluarga Aizawa-san?" tanya dokter pada Yuriko.
"Iya, dia anak saya, Sensei," sahut tuan Aizawa, "istri saya seorang nelayan, dia sedang berada di tepi laut sekarang."
"Kalau begitu, apakah Anda bisa ikut saya ke ruang konsultasi? Kami perlu membicarakan prosedur pemasangan kaki robot."
Satu jam kemudian, Yuriko keluar dari ruang konsul pasien. Ia berjalan gontai dengan wajah yang sangat kaku. Antara kaget bercampur tak percaya. Semua penjelasan dokter mengenai prosedur pemasangan kaki robot masih tertancap jelas di otaknya. Sayangnya, dokter tak bisa memberi tahu identitas seseorang yang telah mengabulkan impiannya selama ini. Seingatnya, ia hanya pernah menceritakan keinginannya itu pada Rai.
Yuriko keluar dari gedung rumah sakit. Senyuman Shohei yang meneduhkan langsung menyambutnya. Sejenak, pertanyaan yang dilayangkan ayahnya kembali muncul dalam benaknya.
"Di antara kedua pria itu, apakah ada yang menyukaimu atau mungkin kau sukai?"
Pulang dari Rumah Sakit, mereka pun berangkat ke pelabuhan. Suara peluit telah berbunyi nyaring, pertanda kapal akan segera berangkat. Sama-sama berdiri di dek kapal dengan jarak yang berjauhan, Shohei dan Yuriko tampak tenggelam dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Yuriko-chan," panggil Shohei dengan lembut.
Yuriko menoleh pelan, menatap Shohei dengan rambut yang terkibas angin laut.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" tanya pria itu.
"Silakan!" balas Yuriko sambil tersenyum.
Shohei menatap Yuriko dengan pandangan yang dalam. "Setelah menenangkan diri di kampung halamanmu, aku merasa mendapatkan kekuatan baru. Itu semua berkat kau yang terus berada di sisiku."
Yuriko mengalihkan pandangannya sambil tersipu malu.
"Tapi ...." lanjut Shohei, "Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu."
Pada detik itu juga, senyum yang tersungging di bibir Yuriko menghilang secara bertahap.
"Aku sangat menghargai hubungan kita yang seperti ini. Dan kuharap kita akan selalu seperti ini. Kau lebih pantas untuk dicintai seseorang yang tulus, bukan menjadikan dirimu sebagai pilihan alternatif atau sebuah pelarian," ucap Shohei dengan nada suara yang serak.
"Aku mengerti," ucap Yuriko. Ia tertawa kecil. Lebih tepatnya, memaksa untuk bisa tertawa. "Ternyata begini rasanya ditolak," ucapnya sambil mendongakkan kepala.
"Gomen ...." Shohei menunduk tak berdaya.
"Daejoubu desu (Tidak apa-apa) ... asalkan kau tidak rapuh seperti kemarin, itu sudah membuatku senang."
"Benar. Seharusnya aku menyampingkan perasaan pribadi. Ada yang lebih penting dari sekadar rasa patah hati yang kualami. Seharusnya aku bisa bertahan sebentar saja, paling tidak sampai misi ini berakhir."
"Sekali-kali egois tidak apa-apa. Kita ini manusia bukan malaikat," ucap Yuriko menanggapi pernyataan Shohei barusan.
Shohei menggeleng. "Aku sudah melakukannya. Karena keegoisanku ... aku melupakan misi utamaku. Aku juga meninggalkan tim yang baru dibentuk. Aku menghancurkan persahabatan yang kubangun. Juga melupakan janjiku pada seseorang."
"Apakah kau akan tetap kembali pada kekasihmu?"
Shohei mengangguk kecil seraya menipiskan bibirnya. "Tempatku bukan di sini, tapi di sisinya. Menjaga dan melindunginya. Aku harus menepati janjiku untuk menikahinya.
"Tapi dia telah menyakitimu, kan?" Suara Yuriko sedikit naik, "Aku tidak peduli tentang kau yang tak bisa membalas perasaanku. Yang kupedulikan adalah dirimu sendiri. Hidup hanya sekali, sementara menikah untuk jangka panjang. Maka dari itu, jangan sia-siakan waktumu bersama orang yang salah," ucapnya penuh kekhawatiran.
"Aku juga bisa salah di matanya," ucap Shohei, "karena hidup tidak selalu membicarakan pelangi yang muncul setelah hujan. Seperti pagi yang tak selalu cerah meski matahari telah terbit."
Yuriko tertegun. Ia lalu berjalan cepat menghampiri Shohei sambil menyodorkan kepalan tangannya ke arah pria itu. "Apa pun yang menjadi keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu," ucapnya sambil menipiskan bibir.
"Arigatou ...." Shohei turut menyodorkan kepalan tangannya hingga kepalan tangan keduanya saling bersinggungan dan berakhir dengan melakukan homie handshake¹.
Keduanya lalu sama-sama memandang hamparan air laut yang berwarna biru berkilauan. Shohei mengalihkan pandangannya ke atas, menatap langit yang warnanya seirama dengan warna air laut.
Di dunia ini ada beberapa hal yang cepat berlalu termasuk perasaan. Aku berharap itu terjadi padaku, tapi sayangnya perasaanku memilih menetap di dia dan tak ingin berpindah ke yang lain.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶🦶
homie handshake¹ istilah salam keakraban yang awalnya banyak dipakai orang-orang kulit hitam. yaitu dengan cara saling menautkan telapak tangan masing-masing, mirip seperti posisi adu panco.
Di Jepang dokter dipanggil Sensei. Bukan cuma dokter, tapi seseorang yg punya profesi sebagai guru, pengacara, novelis, komikus dll juga dipanggil Sensei
Gak pernah maksa2 kalian buat ngevote atau ngasih gift. Dilike dan komeng aja udah senang. jangan jadi pembaca ghoib!