
"Annyeong, Onnieee!!" Nada menyambut kedatangan Frinta dengan nada cempreng yang dibuat-buat.
"Apaan ah, Nad! " Frinta manyun mendengar candaan Nada.
"Weits, pulang juga lo dari liburan bulan Madu." Dion, rekan sedivisi Frinta, langsung celingukan mencoba menerka apa oleh-oleh yang Frinta bawa.
"Liatnya ke gue kali, Mas. Nyari oleh-oleh aja lo."
Dion cengengesan mendengar reaksi Frinta.
"Snack sama makanan ada di pantry tuh."
"Mantep, makasih, Ta!" Eli yang tadi diam-diam aja sekarang jadi ikutan nyahut. Para cowok yang ada di ruangan tersebut langsung melipir ke pantry. Sedangkan, para wanita sudah mengerubungi Frinta. Biasanya kalau ada yang liburannya ke Korea, pasti oleh-olehnya setidaknya skincare yang bisa dicoba. Dapat sheetmask segepok kan juga lumayan.
"Nih yaaaaaa." Frinta langsung membuka lapak di atas mejanya dan membiarkan para hyena sibuk rebutan skincare yang bisa mereka ambil. Setelah semua sudah berhasil mendapatkan skincare masing-masing, baru mereka berbasa-basi dengan Frinta yang ditanggapinya dengan tertawa-tawa saja.
Saat semua sudah kembali ke tempatnya masing-masing, barulah Nada merapat ke Frinta.
"Udah dilamar belom sama Arga?" Usil Nada.
"Ga usah ngaco ya, Bianca Karina Nada." Frinta mencubit pelan lengan Nada. Nada sontak mengaduh dan mengusap-usap lengannya. Frinta ini kalau udah melakukan jurus mencubit, efeknya paling tidak merah-merah. Padahal dia udah cubit pelan. Tangan panas emang si Frinta ini.
"Asik sih liburannya. Trus ya, trus ya. Sebenarnya tuh sempet heboh gitu, Nad, di kalangan fans sini."
"Oh ya, kenapa?" Nada sekarang sudah mulai ikut-ikutan mau tahu soal artis-artis Korea kesukaannya Frinta. Mereka sudah empat tahun bersama di kantor ini dan akhirnya Nada juga jadi ikutan tahu sedikit-sedikit tentang per-korea-an kecintaannya Frinta. Ditambah kadang ada fanwar yang meski bikin Nada geleng-geleng kepala, tapi kadang lumayan seru buat jadi hiburan julid.
"Jadi, ada artis Indonesia yang menang buat ikut fansign gitu, Nad."
"Oh ya, siapa?"
"Yang itu, yang main film One Sweet Night. Terkenal banget karena jadinya dia sama pasangannya di situ dianggap cocok."
Nada langsung googling One Sweet Night dan keluarlah artis yang Frinta maksud. "Oh... Catherine Lee. Terkenal banget ya dia. Ada turunan korea-nya ya?"
"Iyaaaaa. Makanya udah pada heboh nih. Karena berarti kan dia juga bisa ngobrol lancar sama personilnya Swing Kids."
"Loh, katanya K-Pop kok alirannya jadi swing?"
"Nad, nggak usah rese. Namanya memang Swing Kids."
"Oh... Oke, oke. " Nada tidak mau mencari masalah dengan Frinta dan idolanya.
"Trus, ngobrol apa aja dia sama idolnya itu?"
"Nah ituuu," Frinta jadi gemas sendiri, "dia nggak jadi ikut. Ada urusan keluarga penting. Padahal udah gue kepoin banget tuh. Bias dia kan sama dengan gue. Pengen tau gue si JungHoon ngobrol apa sama dia." Mata Frinta berbinar-binar yang menandakan dia sudah memasuki alam imaginasi. Nada langsung menarik diri kembali ke meja kerjanya.
"Eh, betewe, gimana lo dengan si Natya-Natya itu?" Sambar Frinta langsung. Dari dia di Seoul, dia sudah penasaran banget dengan kelanjutan cerita Nada dan Natya. Tapi, setiap ditanya Nada pasti menghindar dan tidak mau menjawab.
"Biasa aja. Terakhir ketemu ya di Asiatique itu." Nada memusatkan perhatiannya pada layar dan tangannya terus mengetik.
"Nggak ada kontak-kontakan lagi setelah itu?"
"Ya kontak dikit aja sih..." Nada tidak bohong soal itu. Sejak pulang dari Bangkok, tidak banyak interaksi dia dan Natya. Natya juga hanya menghubunginya di saat dia akan flight pulang. Selama dia di Singapore dia tidak menghubungi Nada. Bahkan Nada tidak tahu dimana keberadaan Natya sekarang.
"Kalau ntar ada hawa nggak jelas, langsung selesain ya, Nad." Frinta memberi saran lagi. Dia tidak mau sahabatnya ini terjebak dalam kisah lama yang tidak jelas.
Nada mengacungkan kedua jempolnya. "Siap, laksanakan, Bu."
...••••...
"Abis dari tempat Kay? "
Natya mengangguk.
"Lo nganter dia ke tempat shooting dia juga?"
Sebuah anggukan lagi.
"Trus gimana kabar kelanjutan lo sama Nada?" Dhito heran sendiri melihat kelakuan Natya.
"Oh iya..." Natya jadi termenung. Seminggu ini dia memang tidak ada mengontak Nada sama sekali. Terakhir memang saat dia pamit mau ke Singapore. Suasana dan kondisi di sana memang membuat dia tidak bisa berpindah fokus ke hal lain. Sejumput rasa tidak enak pun mulai terasa di Natya.
"Dia waktu di River Tour itu gimana, Dhit?" Akhirnya Natya mengecek kondisi Nada.
"Biasa aja. Normal," jawab Dhito sekenanya. Dia malas untuk menjelaskan soal Nada dan pria yang kemungkinan adalah mantannya Nada. Ditambah dia juga waktu itu sok-sokan jadi pacar sehari Nada. Daripada jadi konflik panjang padahal nggak ada apa-apa, mending ya Dhito tutup mulut saja. Toh, Natya juga bertanya setelah satu minggu lebih. Berarti, ya sebenarnya Natya kan nggak kepikiran-kepikiran amat soal Nada.
Gara-gara berpikir seperti itu, sekelebat wajah Nada mendadak muncul di benak Dhito. Dhito langsung mengusir bayangan itu jauh-jauh. Empati yang seperti itu nggak bagus buat dipelihara terlalu lama.
"Gue harus minta maaf sih sama dia. Sama harus ngajak dia jalan juga, nih..." Natya berusaha berpikir tempat mana yang cocok sebagai permintaan maafnya. "Oke, gue tau."
"Mau ke mana lo?"
...•••...
"Thank you, Keenaaaann!" Nada sumringah melihat bayangannya di cermin. Ini adalah jadwal rutinnya untuk ke salon untuk memperbaiki potongan rambutnya. Keenan Alvin merupakan langganan kesukaannya dan Nada bisa bilang, dia bahkan memang spesial untuk menyisihkan gaji bulanannya supaya bisa perawatan rambut di salon Keenan.
Keenan tersenyum dan memegang pelan bagian bawah rambut Nada pelan sebelum akhirnya benar-benar merasa puas dengan hasilnya.
Nada berbalik hendak berjalan ke kasir ketika seseorang memanggilnya namanya dengan semangat.
Nada menoleh dan melihat seorang cewek dengan rambut balayage ash brown tersenyum lebar ke arahnya. Nada sempat tidak mengenal karena pangling namun akhirnya mulutnya langsung otomatis memuji gadis tersebut. "Ya ampuuunnn. Sampe pangling."
Nada memeluk singkat Terra, anak baru di divisi R&D. Memang geek yang satu ini beda sih. Meski otaknya super cemerlang yang biasanya diasosiasikan dengan tampilan seadanya, Terra termasuk golongan paling trendy di kantor. Baru satu bulan masuk aja Nada udah sering dengar udah banyak yang mengincar dia.
Begitu mereka sama-sama keluar dari kantor, Nada menawarkan Terra untuk makan bersamanya.
"Aku mau sih, Mba. Tapi, aku lagi nunggu kakakku yang mau jemput."
"Oh.. Jemputnya masih lama nggak? Atau mau ke restoran dulu?"
"Udah mau nyamperin ke salon, Mba. Trus, hm... Nanti nggap apa-apa kalau dia ikutan makan, Mba?"
"Waah, asik!" Senyum Terra terlihat tulus sehingga menambah kecantikan gadis tersebut. Nada jadi berpikir, dulu dia waktu seumur Terra, secerah dan secantik itu nggak ya. Mana dia bukan tipikal yang murah senyum lagi.
"Nah itu dia. Kak!" Terra melambai ke sosok di belakang Nada. Nada menoleh dan kaget ketika melihat siapa ternyata kakak dari Terra.
"Loh, Nada?" Dhito juga ikutan kaget dengan keberadaan Nada.
"Kakak kenal Mba Nada?" Terra terdengar bingung.
"Iya, dia temennya Natya," Jawab Dhito sambil mengangguk singkat ke Nada. "Yuk, pulang. Udah lama banget nunggunya. Lagian diapain si balayage balayage itu." Dhito meneliti tampilan rambut baru adiknya itu.
"Apaan sih, Kak. Norak, ah." Terra jadi memberengut. "Lagian, aku mau makan dulu sama Mba Nada. Kakak belum makan juga kan? Yuk, ikut."
Dhito tidak menyangka dengan tawaran tersebut. Dia melirik Nada yang hanya sedang berekspresi datar melihat interaksi dia dan Terra.
"Nada nggak apa-apa?" Tanya Dhito yang sebenarnya mau menanyakan apa dia nggak apa-apa kalau dia ikut.
Nada terperanjat sebentar. Kalimat nggak apa-apa itu membuat dia teringat dengan Natya yang sering sekali menanyakan itu di setiap pertemuan mereka.
"Apa mau lanjut girls' night aja kalian dinner-nya?" Lanjut Dhito yang menyadarkan Nada bahwa pertanyaan Dhito itu lebih mengarah ke makan malamnya, bukan kondisi Nada.
"Nggak papa, Dhit. Ikut aja kalau lo belum makan juga."
"Oh... Oke."
"Yuk, yuk." Terra mendorong badan Dhito agar kakaknya itu duluan melangkah. Mereka lalu menuruni eskalator sambil berpikir mau makan apa.
"Ramen aja mau?" tawar Nada. Sebenarnya itu juga karena dia lagi ngidam ramen sih.
"Maulah pasti. Kesukaan si anak piyik nih." Dhito mengusap pelan rambut Terra.
"Duuuh! Baru dari salon niih!" Kesal Terra. Dhito hanya tertawa saja.
Setelah selesai memesan makanan masing-masing. Terra langsung ngebut bertanya hal-hal yang membuat ia penasaran yang diawal dengan "Mba Nada kenal Kak Natya darimana?"
Dhito diam saja mendengar adiknya ceriwis. Dia jujur juga tidak mau terlibat terlalu jauh kalau percakapannya nanti menyerempet ke Natya. Paling kalau nanti keluar jalurnya udah agak ngeri, baru dia tengahi. Jadi, Dhito memutuskan untuk sibuk dengan ponselnya saja.
"Nggak sengaja ketemu di beberapa acara. "
"Wah.. Udah lama?"
"Nggak sih, sebulanan ini aja."
"Oh... Nggak sempet ketemu sama Kak Kay dong ya?"
"Terra!" Dhito langsung menegur adiknya itu. Kadang-kadang Terra kalau tidak ditahan, suka kelepasan hal-hal sensitif.
"Maaf... " Ujar Terra pelan.
Meskipun Nada jadi penasaran dengan sosok yang Terra sebut, melihat reaksi Dhito jadi siper galak, dia memutuskan untuk pura-pura tidak dengar saja.
"Berarti kalian udah sahabatan lama ya dengan Natya?" Nada mengalihkan pembicaraan.
"Kak Dhito sama Kak Natya udah temenan dari SMA. Trus, Kak Natya kan kuliah di luar negeri. Kak Dhito di sini aja. Kak Natya juga sempat dua tahun kerja di Singapore. Abis itu balik ke Jakarta dan diajakin Kak Dhito deh buat kerja bareng di kantor mereka sekarang." Terra menjadi juru bicara Dhito. Berhubung dirinya yang sedang dibahas, Dhito jadi meletakkan ponselnya dan menatap Nada. Jaga-jaga juga kalau cewek ini nanti menanyakan hal-hal lain. Tapi, ternyata Nada tidak menanyakan apa-apa lagi.
Melihat suasana yang mendadak hening, Terra jadi gatal untuk bertanya hal lain. "Mba Nada, tadi ke salon sendiri atau sekarang ternyata lagi ditungguin pacar?"
Dhito menginjak pelan kaki Terra sebagai tanda untuk mengerem sedikit. Terra berjengit dari tempat duduknya dan tepat saat itu makanan mereka datang.
"Oke, makan dulu deh kita." Dhito segera bersiap untuk menyantap makanannya. Terra dan Nada pun mengikutinya. Untuk sesaat, pertanyaan Terra tadi terlupakan. Sampai akhirnya dibahas lagi oleh Terra.
"Jadi, gimana Mba, tadi ke sini sama mas pacar?"
Nada hampir tersedak kuah ramennya. Untung dia berhasil menelan dengan lancar. Dia segera meminum Ocha dinginnya untuk menetralisir dirinya dari kata-kata yang tidak ingin dia ucapkan.
Nada hanya mengendikkan bahu pelan dan menggeleng.
"Nggak papa, Kak. Ini Kak Dhito udah tiga puluhan juga masih sendiri."
"Kinanti Terra!" Dhito jadi naik darah lagi gara-gara ucapan Terra.
Melihat Dhito sebal, Nada jadi tertawa.
"Dhito mah pasti karena milih-milih."
Dhito jadi terdiam sebentar. Itu bisa diartikan sebagai kalimat pujian nggak ya?
"Nggak ah. Kak Dhito nya aja yang nggak jelas," seloroh Terra yang disambut Dhito dengan jitakan pelan dengan ujung sumpitnya.
"Nggak usah sok tau lo."
Terra meniru mimik muka Dhito dengan konyol. Nada jadi senyum-senyum sendiri melihat kakak adik di depannya. Rasa rindunya dengan keluarganya tiba-tiba muncul tapi dia tepis. Dari dulu Nada sudah berjanji kalau dia merantau maka nggak ada di kamusnya untuk sedih, dia harus kuat. Meski pada akhirnya dia hancur dari aspek kehidupannya yang lain.
Selesai makan, Dhito menawarkan Nada untuk diantar pulang. Terra sudah sangat bersemangat. Namun, Nada menolak halus, karena dia juga tadi ke sini menyetir sendiri.
"Lain kali makan bareng ya, Kak. Tapi, nanti minus Kak Dhito biar ga dipotong-potong mulu."
Dhito langsung mengapit adiknya tersebut dengan lengannya.
Nada tersenyum ramah sebelum menjawab, "Ikut juga nggak apa-apa kok."
"Iya, dengan Kak Natya juga," sambar Terra.
Nada menjadi sedikit kikuk mendengar nama Natya. Gadis itu pun akhirnya pamit dan berbalik pergi. Terra dan Dhito sama-sama memandang punggung itu menjauh. Terra lalu berceletuk pelan, "Kalah gercep ah, Kak, sama Kak Natya."
"Woy!" Dhito pun buru-buru menggeret adiknya itu sebelum nanti dia makin ngelantur. Nggak akan deh dia mau ikut makan dengan kondisi ada Terra. Bisa-bisa yang nggak ada apa-apa jadi kenapa-kenapa.
Lagipula, cerita apapun itu, Natya akan selalu menjadi pemeran utamanya. Kehadiran dirinya tidak akan dibutuhkan.
That's how life works.