
Warning 17 ++
Yang tak nyaman, boleh skip
...----------------...
Inspektur Heiji dan beberapa polisi lainnya bergegas menaiki tangga darurat untuk segera mengamankan Fukamu Masae. Seina yang berada dalam kungkungan Black Shadow, hanya bisa menahan napas dengan mata yang melotot tajam. Ternyata, ketika terdengar suara derap kaki yang mendekat, pria itu segera menarik dirinya untuk bersembunyi di bawah tangga.
"Hhmmpptt ... hmpptt ...." Seina mengeluarkan suara tertahan ketika para polisi melewati tangga terakhir. Pasalnya, pria bertopeng itu membekap mulutnya dari belakang agar tak bersuara, dan mencengkram kedua tangannya supaya tak berontak.
"Ssstt ... jangan bersuara! Mereka akan melihat kita nanti," bisik Black Shadow tepat di telinga Seina.
Seina tak mengindahkan perintah pria itu. Ia masih terus meronta sekuat tenaga, meminta untuk dilepaskan.
Kenapa aku harus ikut bersembunyi?
Black Shadow mengabaikan reaksi penolakan Seina. Ia malah membungkukkan tubuhnya sedikit rendah untuk menyamai tinggi badan gadis yang berada di hadapannya itu. Dalam sekejap, kepalanya sudah tenggelam di perpotongan leher gadis itu.
Mata Seina yang bulat, makin membeliak ketika bibir lelaki itu mulai menjelajahi leher jenjangnya. Pelan dan lembut. Lidahnya mulai meliuk-liuk bagai kanvas, mencecapi leher dan daun telinga gadis itu secara bergantian. Tak sulit untuk melumpuhkan gadis itu, karena dia sangat ahli dalam bidang ini.
Benar, kecupan-kecupan hangat Black Shadow mulai mengusik Seina. Jantungnya berdentam hebat, seolah-olah sedang meremas napasnya sendiri. Pikirannya mulai tak bisa terkontrol. Pria itu terus membuat gigitan-gigitan lembut disertai cumbuan liar nan bergelora di cekungan lehernya. Bahkan sengaja meniupkan uap panas ke telinganya. Kemudian turun pelan ke bawah membuka setengah resleting baju gadis itu dengan mulutnya. Mendaratkan kecupan-kecupan kecil di punggung mulus gadis tak dikenalinya itu.
Seina melenguh. Ia tak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya melemah dan gemetar bagai tersengat aliran listrik. Ia mendongak, menatap wajah yang tersembunyi di balik topeng itu dengan mata yang hampir terkulai. Black Shadow merelakan punggung tangannya digigit kuat-kuat, untuk menekan suara erangan yang tak bisa dikeluarkan oleh mahasiswi hukum itu.
"Kau sengaja menahanku karena ingin mendapatkan cumbuan dariku, kan?" terka Black Shadow menunjukkan senyum menggoda.
Ia mengetahui berbagai macam karakter wanita. Jadi, sangat mudah untuknya menebak jika Seina sebenarnya menginginkannya. Apalagi ia telah lama tak berkontak fisik dengan perempuan manapun. Tak lagi ke bar, dan tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan para wanita seperti dulu. Sekarang, ada perempuan yang terus menguntitnya ketika selesai beraksi. Bukankah sayang jika diabaikan?
Perkataan pria itu tentu tak bisa dibantah oleh Seina. Namun, tatapan jahat yang ia lemparkan ke arah pria itu cukup mengartikan kalau ia benar-benar tak punya pikiran seperti itu. Dalam hatinya seakan hendak berteriak, "Yamette! Yamete kudasai!"
(Tolong, hentikan)
"Tatapan apa itu? Seperti ingin membunuhku?" ledek Black Shadow sembari menggigit kecil ujung telinga Seina.
Black Shadow melepaskan tangannya dari mulut Seina, kemudian menarik lembut dagu gadis itu ke belakang. Sengaja membuat wajah mereka berhadapan dalam satu tatapan. Baru saja Seina membuka mulutnya hendak bersuara, bibir pria itu lebih dulu menyusup masuk ke sela bibirnya. Menutupi seluruh permukaan bibirnya dengan lummatan-lummatan kecil. Kembali mencicipi bibir mungil itu untuk ketiga kali. Melahapnya dengan gerakan sensual dan liar.
Inspektur Heiji dan para polisi telah sampai di atas gedung. Mereka terhenyak mendapati Fukamu Masae tinggal sendiri. Hanya ada beberapa kelopak bunga camelia yang bertebaran. Seto Tanaka bergegas membuka ikatan tali yang melilit Masae lalu memborgolnya.
"Anda kami tahan untuk dimintai keterangan mengenai pengakuan Anda barusan," ucap Seto Tanaka. Ya, kasus tabrak lari itu sebenarnya hanya diketahui dan disembunyikan oleh Departemen Kepolisian Sumida atas permintaan ayah Masae.
Inspektur Heiji mengambil salah satu kelopak bunga yang tersebar. "Black Shadow mengingatkanku pada The Secret Thief yang menghebohkan publik tujuh tahun lalu. Mereka seperti belut, sama-sama lihai kabur dari kerumunan orang banyak. Hanya saja tujuan mereka berbeda, The Secret Thief meninggalkan jejak sandi yang harus dipecahkan sebelum melakukan aksi. Black Shadow meninggalkan jejak kelopak bunga camelia setelah melakukan aksinya. The Secret Thief musuh polisi, sementara Black Shadow banyak membantu kepolisian," kenang inspektur Heiji di hadapan para polisi muda.
Di bawah tangga, ciuman yang didominasi Black Shadow semakin ganas. Panas. Buas. Udara sekitar mendadak terasa panas. Ia mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam berciuman. Ujung lidah pria itu menggelitik sela bibir Seina, mencoba menjelajahi kelembutan mulut gadis itu. Lidahnya yang basah dan hangat terus beradu dalam mulut gadis itu. Sengaja menggoda dengan menari-nari di dalam sana. Membelit, membelai, dan mengisap lidahnya. Mengeksplorasi tiap titik sensitif bibir gadis itu. Memberi kehangatan sekaligus membuat bibir polos itu lembab dan basah seketika.
Seina mulai terbuai dengan ciuman memabukkan pria itu. Menyerah. Lututnya serasa tak bertulang, dan tubuhnya lemah di pelukan pria itu. Pikiran dan logikanya seakan terbang. Tak lagi melakukan perlawanan. Lebih gilanya lagi, ia malah mulai membalas ciuman pria itu!
"Aku tak bisa berhenti," bisik pria itu di sela-sela ciuman mereka. Ia menggigit lembut bibir bawah Seina dan membuatnya sedikit tertarik ke depan. Hanya untuk menggoda gadis itu.
Sebenarnya, ia harus segera pergi dan menemui Mr. White di menara Tokyo Skytree seperti biasa. Namun, bibir gadis itu terlalu menawan untuk dilewati. Ia membalikkan tubuh Seina secara mendadak dan mendorongnya ke dinding tanpa melepas pertautan bibir mereka. Ciuman keduanya semakin dalam, lekat, dan sulit untuk dihentikan. Namun, ada yang berbeda dari sebelumnya. Ciuman ini lebih lembut dan berperasaan. Bagaikan bongkahan es yang mencair karena menemukan kehangatan, begitulah hati Seina saat ini.
Black Shadow menghentikan ciuman panas mereka. Ia menjauhkan wajahnya seraya menatap mata polos gadis itu yang masih mengharap. Sayangnya, dia harus segera pergi sebelum sesuatu dalam dirinya menuntut lebih dan menjadi tak terkontrol. Seina menarik baju Black Shadow ketika pria itu mulai berjalan mundur menjauhinya.
"Apa kau akan pergi begitu saja setelah kembali merenggut ciuman dariku untuk yang ketiga kalinya?" ucap Seina serak dengan mata polos yang tertancap di mata pria itu.
Black Shadow tersenyum miring. "Kau juga suka, 'kan? Bukankah ini menyenangkan?" ucapnya santai.
Seina terdiam. Ia seakan kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimat dan bersuara.
"Jika kau ingin bertemu denganku lagi, kau bisa temukan aku di Tokyo Skytree setelah siaran langsungku berakhir. Aku selalu berada di sana setelah menyelesaikan misi," ucap Black Shadow bisik pria itu sembari kembali mengecup bibirnya dengan singkat.
Seina mengulurkan tangannya hendak menahan pria itu pergi. Sayangnya, pria itu benar-benar telah menghilang dari pandangannya. Meninggalkan beberapa helai kelopak bunga camelia seperti biasa. Juga, jejak merah di lehernya. Meskipun begitu, semua yang terjadi beberapa menit lalu laksana sebuah mimpi. Terasa tidak nyata.
Mata Seina mendadak berair dan ia menggigit bibirnya yang tampak gemetar. Tak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Dia adalah seorang gadis yang sebentar lagi akan bertunangan, tetapi kenapa dengan mudahnya terjerat pria misterius yang sama sekali tak ia ketahui?
Di gedung yang sama, Shohei dan Kei mencari-cari keberadaan Seina. Isi gedung itu masih sepi karena seluruh mahasiswa keluar saat menyaksikan aksi Black Shadow. Mereka berpapasan dengan inspektur Heiji dan beberapa polisi yang mengawal Fukamu Masae.
Kei terhenti, memilih untuk mewawancarai Heiji selaku kepala Investigasi Kriminal. Sementara, Shohei meneruskan pencariannya setelah sempat bertegur sapa dengan para polisi. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Seina, tetapi panggilan itu tak tersambung.
Ketika terus berjalan menyusuri koridor, ia berpapasan dengan Rai yang telah berganti pakaian. Pria itu layaknya seorang mahasiswa dengan tas ransel di punggungnya. Mereka sama-sama tersenyum, sembari melakukan adu kepalan tangan sebagai perayaan kecil atas keberhasilan mereka mengungkap kasus itu di hadapan publik.
Shohei dan Rai berpisah dengan arah yang berlawanan. Shohei masih berusaha menghubungi Seina sambil terus berjalan, sedangkan Rai berjalan santai keluar gedung sembari mengusap bibirnya dengan jempol tangan.
Beberapa orang berhenti melakukan tindak kejahatan, beberapa orang terus melakukannya. Semua itu tergantung siapa yang mereka temui dan siapa berada di samping mereka. Dalam hal ini, aku beruntung bertemu denganmu dan menjadi bayanganmu, Mr. White.
Ya, sejak bertemu Shohei, ia mengalami perubahan karakter yang pesat. Padahal dulu ia menggunakan kecerdasan dan ketampanannya untuk menipu dan meraup keuntungan. Hanya saja, meskipun telah berubah menjadi sedikit lebih baik dari dirinya yang dulu, tetapi ia belum bisa menghilangkan sifatnya yang menganggap wanita sebagai sebuah kesenangan. Boleh dikatakan, kebahagiaannya ada pada saat wanita menyambut dan terjerat pesonanya. Sebaliknya, kekesalannya ada pada saat wanita menolak dan mengabaikannya.
Setelah menarik kembali resleting yang sempat terbuka, Seina berjalan pelan menuruni anak tangga dengan sisa-sisa kejadian antara dia dan Black Shadow yang membekas kuat di ingatan. Langkahnya mendadak terhenti, ketika melihat sosok pria berkacamata berdiri di bawah tangga.
"S–shohei-kun," ucapnya lirih. Ia segera menghampiri pria yang tersenyum lembut padanya itu, di tengah suara detak jantung yang tak terkendali. Ia ingin memastikan apakah pria itu ada di gerombolan para polisi tadi. "Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?" tanyanya gugup.
"Karena aku mencintaimu, jadi instingku yang membawaku ke sini," ucap pria itu sembari melepaskan syalnya kemudian memindahkan ke leher Seina, di mana ada tanda merah tersembunyi yang dibuat oleh Black Shadow.
.
.
.