
..."Setiap wanita akan terlihat cantik dan sempurna di mata pria yang mencintainya."...
...~Rai Matsui. Ch. 78~...
...----------------...
Rai tentu saja dilema atas pilihan yang baru saja diberikan Yuta. Ya, sebagai mantan sahabat yang pernah tinggal bersama, Yuta cukup mengetahui kelemahan pria itu. Meskipun terhadap wanita Rai bisa dikatakan bukan pria baik, tetapi sebagai keluarga dia adalah kakak yang sangat menyayangi adiknya. Setiap kali melihat adiknya datang dengan jas kerjanya, merupakan kebanggaan tersendiri bagi pria itu.
Rai telah kembali ke kediamannya. Baru saja masuk, ia malah mendapati Yuri tengah menelepon. Tampaknya, gadis itu sedang berbicara dengan orangtuanya.
"Aku tidak punya tabungan sebanyak itu. Tapi, aku akan mencari tahu apakah ada orang yang bisa berikan cicilan kursi roda otomatis," ucap Yuriko pada ibunya. Tampaknya, gadis itu belum menyadari kehadiran Rai.
Sebaliknya, Rai tertegun mendengar pembicaraan gadis itu di telepon.
Yuriko mengakhiri teleponnya. Saat berbalik, ia tergemap melihat Rai yang juga menatapnya.
"Siapa yang menelepon?"
"Aku menelepon ayahku karena mau menanyakan kasus tujuh belas tahun yang lalu," jawab Yuriko sedikit terbata.
"Lalu?"
"Sayangnya, aku malah mendapat kabar dari ibu kalau ayahku sedang dirawat di Rumah Sakit. Dia jatuh dari tangga, kursi rodanya rusak dan tak bisa digunakan lagi," ucap Yuriko menyengir dengan tampilan wajah yang sendu.
"Oh, begitu."
Tak disangka, respon Rai sangat singkat dan datar. Hal ini tentu saja membuat Yuriko sungkan untuk meminta tolong padanya. Apalagi Rai sudah sering membantunya, termasuk memberi tumpangan tempat tinggal.
Yuriko mencoba mengintip ekspresi Rai, kemudian berkata, "Pria yang tadi itu ...."
"Hanya teman lama," tandas pria itu sambil membuka kaus yang dipakainya.
Yuriko langsung berpaling cepat membelakanginya. "Hei, kenapa kau selalu sembarang membuka pakaianmu!" tegurnya kesal.
Rai tersenyum geli melihat tingkah Yuriko. Secara refleks, ia membandingkan kehidupan di masa lalu dan juga masa sekarang. Andaikan ia tak mendapatkan pengkhianatan dari orang-orang terdekat, pasti ia tak akan menemukan orang-orang berarti yang mengelilinginya saat ini. Ditambah lagi melakukan hal-hal hebat yang tak pernah terpikirkan olehnya.
Bukan berarti ia juga tak pernah merindukan masa kejayaannya dulu. Saat masih bergelung di dunia penipuan, hanya berbekal otak yang brilian ia sudah mampu memindahkan ratusan juta Yen milik orang lain ke rekeningnya. Ia bisa memiliki barang-barang mewah serta bersenang-senang dengan gadis yang diinginkannya. Tentu semua itu berbanding terbalik dengan kehidupannya setahun terakhir yang jauh dari kemewahan dan gemerlapnya dunia malam tempat ia meraih kepuasan.
Sekarang, mana yang harus dia pilih? Tetap seperti ini dan melanjutkan misi keadilan bersama pria yang menolong hidupnya, atau kembali ke dunia lamanya bersama orang yang pernah mengkhianatinya demi menjaga karir adiknya?
Sinar matahari yang menerobos celah ventilasi menjadi pertanda bahwa pergantian hari telah terjadi. Ini adalah Minggu kedua musim semi di mana musim ini selalu dikaitkan dengan awal kehangatan. Burung-burung bernyanyi ricuh, kuncup mulai tumbuh di pepohonan dan bau aroma segar bunga sakura yang mulai bermekaran mulai menyapa di sepanjang jalan.
Di kediaman Matsumoto, kepala pelayan mengetuk pintu kamar Seina memberitahukan bahwa mobil telah siap. Ya, hari ini menjadi hari kelima pasca kematian ayahnya. Abu mendiang akan segera disimpan dalam tempat pemakaman.
Seina membuka laci nakas untuk mengambil jam tangannya. Sepintas, matanya terarah pada flashdisk milik ayahnya yang dititipkan padanya untuk diberikan pada Shohei. Ia langsung keluar dari kamar bersiap-siap untuk pergi.
"Apakah Shohei-kun datang hari ini?" tanya Seina pada kepala pelayan.
"Tidak, Nona. Pacar Anda tidak ke sini sejak kemarin."
Tubuh Seina tampak mengendur. Ia tahu pria berprofesi penyidik itu pasti sibuk mengusut kasus kematian ayahnya. Memang salahnya yang tak mau menemui siapapun selama beberapa hari ini. Setelah kematian ayahnya yang mendadak, dia benar-benar kehilangan arah dan tujuan.
Ternyata saat ini Shohei sedang berada di kediaman orangtuanya. Ia malah menyempatkan sarapan bersama dengan ayah dan ibunya.
"Bagaimana dengan keadaan Seina?" tanya ibunya.
"Dia belum mau menemui siapapun," ucap Shohei dengan nada suara yang terdengar hampa.
"Pasti dia masih sangat terpukul." Ibu Shohei menunjukkan wajah prihatin. "Bagaimana kalau kau mengajaknya tinggal di sini? Kalau hanya tinggal sendiri, dia akan terus terperangkap dalam kesedihan. Bagaimana menurutmu?" Wanita tua yang anggun itu bertanya pada suaminya.
Tuan Yamazaki menatap putranya sambil melempar pertanyaan. "Bagaimana dengan kau sendiri? Apa kau benar-benar akan menikahinya?"
"Tentu saja," jawab Shohei cepat.
Tuan Yamazaki mengangguk pelan. "Ottousan mendukung apa pun yang menjadi keputusanmu!"
Selepas sarapan, Shohei menemui ayahnya yang tengah membaca koran di halaman kolam renang mereka.
"Ottousan, tolong beritahu aku apa yang ayah Seina katakan saat kalian terakhir bertemu! Pasti ada yang dia sembunyikan selama ini, kan?"
Tuan Yamazaki terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
"Ottousan?"
"Ini bukan hal yang perlu kau ketahui," ucapnya dengan suara kelam.
"Aku berhak tahu. Apa Ottousan lupa, aku seorang penyidik?"
Tuan Yamazaki tersenyum tipis lalu berkata, "Apa yang dia katakan sama sekali tidak ada kaitannya dengan bahan penyelidikanmu. Lebih baik kau fokus untuk mengungkap dalang di balik kematiannya. Gunakan intuisimu sebagai seorang detektif."
Tuan Yamazaki menepuk lembut pundak anaknya sebelum berlalu. Shohei mengerutkan kening dan wajahnya berangsur-angsur menjadi suram.
Seina meletakkan bunga, dupa dan air di depan batu nisan. Ia lalu menyimpan abu ayahnya di ruang bawah tanah. Dipimpin biksu, ia dan seluruh pelayan serta orang-orang yang bekerja di keluarga Matsumoto mengadakan upacara suci.
Seina menengadah, menatap cerahnya langit pagi ini. Sudah tak ada lagi air mata yang membingkai matanya. Tanda ia telah ikhlas dengan kepergian ayahnya. Meskipun hingga detik ini ia masih enggan melihat pemberitaan di media manapun.
Di kejauhan, ada sepasang mata yang tak lepas memantau mereka. Mengawasi Seina dan para rombongan hingga mereka meninggalkan kuburan itu. Ia melangkah pelan menuju ke kuburan yang telah sepi. Tatapannya tertuju pada lidi dupa yang masih hidup. Ia meletakkan buket bunga yang dibawanya di atas tumpukan buket bunga lainnya.
"Kematianmu adalah keinginanmu sendiri. Jadi, bukan salahku," ucap pria itu sambil menatap dingin foto tuan Matsumoto di depan batu nisan.
Satu jam kemudian, Seina telah kembali ke kediamannya. Gadis yang memakai busana hitam itu lalu merogoh tas untuk mengambil ponsel. Ia mengernyit ketika telapak tangannya menyentuh sesuatu yang tampak rapuh dan kering. Matanya lantas teralihkan pada setangkai bunga Camelia yang tersimpan dalam tasnya. Setahunya, ia tak pernah menyimpan bunga tersebut. Sejenak, ia memandang buket bunga Camelia pemberian Shohei yang diletakkannya begitu saja di atas nakas.
Seina mengambil bunga Camelia yang telah layu dan mengering. Tepat pada saat itu juga, sepucuk surat yang diikat pada tangkainya langsung terjatuh. Ia mengambil surat yang dilipat menjadi segi empat kecil itu.
Membaca kalimat pembuka surat itu, membuat mata Seina membesar seketika. Sempat tak mengacuhkan, kini ia langsung membuka lebar kertas surat itu dan mulai membaca dengan saksama.
.
.
.
like + komeng