Never Not

Never Not
Ch. 32 : Shohei Kritis?



"Shohei! Shohei-kun! Apa kau mendengarku? Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?" teriak Rai lewat sambungan telepon sesaat mendengar suara pekikan Shohei.


Tentu saja suara Rai tak lagi didengar Shohei karena ponselnya terlempar dari tangan, lebihnya lagi si penusuk malah sengaja menginjak ponsel itu berkali-kali hingga rusak dan pecah saat mendengar suara Rai dari sambungan telepon. Tak hanya itu, ia merogoh kantong Shohei dan mengambil sesuatu di dalam sana.


Di tengah rasa sakit hebat yang menghantamnya, Shohei berusaha menahan kaki si pelaku agar tak melarikan diri. Namun, wajah dan punggungnya malah ditendang berkali-kali sehingga membuat kedua tangannya terlepas dari kaki si penusuk. Meski begitu, pria yang menjadi penyidik di Kepolisian Metropolitan itu masih berusaha untuk bangun seakan hendak mengejar pelaku. Sayangnya, tubuhnya terlalu lemah dan ia kembali terkapar. Sebelah tangannya terus memegang perut sebelah kiri, berusaha menghentikan darah yang mengucur bak aliran sungai. Keringat dingin meluncur deras dari dahinya.


Di sisa-sisa kesadarannya, ia menatap gamang buket bunga camelia yang akan diberikan pada kekasihnya. Ia mengingat Seina sedang menunggunya saat ini. Bahkan mereka berencana makan malam bersama.


"Seina-chan, tu—tunggu ... a—aku," ucapnya dengan mata yang mulai meredup.


Rai terkesiap ketika telepon itu terputus begitu saja. Ia berusaha menghubungi Shohei kembali, tetapi panggilannya tak kunjung tersambung. Takut ingin hal-hal yang tak diinginkan terjadi pada Shohei, ia lantas mengecek peta tempat Shohei berada saat ini. Dari riwayat telepon barusan, terlihat dia sedang berada di Sinagawa.


Ia bergegas mengambil mantelnya untuk pergi. Namun, tiba-tiba teringat kalau jarak antara apartemennya dan tempat Shohei berada saat ini memakan waktu satu jam. Apalagi dia harus menggunakan transportasi umum untuk mencapai tempat itu.


Rai kembali mengambil ponselnya lalu menelepon regu penyelamat darurat dan memberitahu lokasi keberadaan Shohei sekarang.


"Moshi-moshi, tolong aku. Temanku membutuhkan ambulans sekarang," ucapnya panik bercampur rasa khawatir.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya seseorang menyerangnya saat dia sedang meneleponku. Dan hingga sekarang ponselnya susah dihubungi."


"Baik, silakan beritahu lokasinya."


Rai memberitahu lokasi Shohei dari peta GPS. Berkatnya, ambulans segera datang dan langsung membawa Shohei ke rumah sakit terdekat. Tampaknya, pria itu sudah tak sadarkan diri ketika regu penyelamat datang. Terdapat luka tiga tusukan di perut sebelah kiri yang cukup parah dan ia mengalami pendarahan hebat.


Seina berjalan tergesa-gesa di koridor Rumah Sakit. Ia melihat beberapa personil keamanan yang berjaga-jaga untuk menahan para wartawan yang datang. Ia menghampiri Tuan Yamazaki dan istrinya yang menunggu di depan ruang operasi. Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional itu menolak untuk diwawancarai terkait dengan kejadian yang dialami anaknya.


"Paman, Bibi, apa yang terjadi dengan Shohei?"


"Dia diserang seseorang. Dokter mengatakan luka tusuknya cukup dalam dan dia membutuhkan banyak donor darah," ucap tuan Yamazaki yang terlihat lesu. Bagaimana tidak, anak semata wayangnya sedang kritis dan berpotensi terancam nyawa.


Ibu Shohei berpelukan dengan Seina. "Dia sedang kritis dan tak sadarkan diri," isaknya.


"Tenanglah Bibi! Shohei pasti akan segera sadar."


"Sepertinya Yamazaki-san telah dirampok, karena seluruh uang di dompetnya hilang," ucap Tuan Yamazaki.


"Dirampok?" ulang Seina tak percaya.


"Dia diserang di kawasan pertokoan yang kosong dan sepi sehingga tidak ada CCTV di sekitar lokasi, dan tidak ada pula saksi yang melihat. Ini menjadikan polisi sulit mengidentifikasikan pelaku. Tampaknya Shohei baru saja ke toko bunga, karena terdapat buket bunga yang terjatuh di sampingnya. Dan juga, lokasi kejadian berdekatan dengan toko bunga," tutur Tuan Yamazaki menjelaskan kronologi yang didapatkan dari pihak kepolisian Sinagawa.


Mendengar hal itu, membuat Seina tersentuh. Ia menoleh ke ruang operasi dengan mata yang sendu. Baru beberapa jam lalu, Shohei menelepon mengatakan akan menjemputnya dan mengajak makan malam bersama. Kini pria itu malah terbaring di sana.


Seto Tanaka dan salah satu penyelidik dari Kepolisian Metro baru saja tiba. "Kami menemukan keganjilan di TKP. Ponselnya hancur dan rusak parah. Seperti sengaja dihancurkan. Jika pelaku berniat merampok, seharusnya dia juga mengambil ponsel milik Yamazaki-san, bukan menghancurkannya. Apalagi ponsel Yamazaki-san terbilang jenis yang mahal," ucap Seto pada Tuan Yamazaki.


Tentu saja hal ini membuat Tuan Yamazaki, istrinya dan juga Seina terkejut.


"Artinya, mengambil dompet hanya sebuah alasan agar dia terlihat seperti sedang dirampok. Tapi, jika dia tidak dirampok, apa motif pelaku?" tanya Tuan Yamazaki.


"Ini hanya dugaanku, Tuan. Tapi sebelumnya, Yamazaki-san akan mengambil alih kasus gadis hostest yang berkaitan dengan video viral itu. Mungkin saja pelaku telah mengetahuinya, apalagi Kepala Kepolisian Metro telah mengumumkannya ke publik. Saya khawatir penyerangan yang pelaku lakukan ada kaitannya dengan itu," jawab Seto Tanaka ragu-ragu.


Seina langsung tercengang. Bertepatan dengan itu, dokter baru saja keluar dari ruangan mengabarkan jika operasi telah selesai. Namun, hingga kini Shohei masih kritis dan belum siuman.


Penyerangan terhadap salah seorang penyidik Kepolisian Metro rupanya menjadi head line news malam ini. Sayangnya, beberapa netizen beranggapan jika berita itu tidak penting dan hanyalah sebuah pengalihan isu. Netizen lebih menantikan siaran langsung Black Shadow untuk mengungkap kasus gadis hostest yang berkaitan dengan video sedang viral.


Yuriko berlari tergesa-gesa menuju apartemennya. Ia telah melihat langsung berita tentang penusukan yang dialami Shohei. Ia bahkan membatalkan pergi bersama teman-temannya begitu mengetahui pria yang disukainya itu sedang kritis.


Yuriko masuk ke kamar Rai yang tak terkunci. Ia melihat Rai hanya duduk santai di jendela sambil mengisap rokok. Tampak beberapa puntung rokok telah berhamburan di lantai.


"Lalu, aku harus berbuat apa? Aku bukan dokter!" ucapnya pelan sambil menyandarkan kepalanya di tiang jendela.


"Setidaknya kau harus menjenguk dia! Ayo kita pergi melihatnya sekarang!"


Rai menatap layu ke arah Yuriko. "Kau ingin melihatnya, makanya kau mengajakku, 'kan?"


"Apa kalian benar-benar berteman?" tanya Yuriko yang tak mengerti dengan reaksi Rai saat ini.


"Kami berteman hanya karena beberapa alasan. Aku tidak bisa menemuinya, tidak bisa. Hubungan kami tidak sesederhana itu," ucap Rai pelan seraya mengepulkan asap rokok.


Yuriko melengos sembari mengusap wajahnya. "Aku benar-benar tidak mengerti denganmu!"


"Aku tidak meminta kau untuk mengerti!"


"Terserah! Yang kutahu kau benar-benar tidak setia kawan!" ucap Yuriko kesal sambil berbalik.


Rai tertawa miris. "Dia akan baik-baik saja. Aku yakin itu! Dia bukan orang yang mudah menyerah untuk hal apa pun, termasuk untuk bertahan hidup!"


Yuriko memutar kembali tubuhnya menghadap ke arah Rai yang tersenyum tipis.


Yuriko mengangguk pelan. "Beritahu aku jika kau mendengar kabar terbaru tentangnya," ucapnya yang kemudian keluar dari kamar Rai.


Rai menatap langit pekat tanpa bintang. Meski tampak santai, tetapi ia masih tak pandai menyembunyikan mimik khawatirnya. Pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu memiliki peran besar dalam hidupnya. Jika tanpa Shohei, mungkin dia telah membusuk di penjara saat ini. Lebihnya lagi, Shohei menciptakan tokoh Black Shadow dalam dirinya, yang kini menjadi sanjungan banyak orang.


Shohei, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, untukmu dan juga untuk kasus yang sedang kau tangani. Oleh karena itu, segeralah bangun dan kendalikan diriku seperti biasa!



Kei Ayano baru saja keluar dari sebuah rumah bergaya tradisional setelah mewawancara wanita yang membuat video viral itu. Ia menghela napas berat karena merasa wawancara ini sia-sia belaka. Tadinya dia tertarik dengan pernyataan wanita itu yang mengatakan kalau adiknya memiliki hubungan dengan salah satu pejabat birokrat. Sialnya, saat diwawancarai tadi, wanita itu mengaku tak mengetahui siapa sosok pejabat birokrat itu.


Saat hendak menaiki motor, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Kei, ada kabar mengejutkan! Yamazaki Shohei dari kepolisian Metropolitan ditikam seseorang. Yang kudengar dia dirampok di jalanan dan mendapat tiga luka tusukan dan sedang kritis," ucap rekannya dalam saluran telepon.


Kei terperanjat seketika. "Apa kau tahu di mana Rumah Sakit tempatnya dirawat?"


"Rumah Sakit Umum di Sinagawa. Tapi, wartawan dilarang meliput. Kita hanya diminta menunggu klarifikasi dari kepolisian saja."


Kei tak tinggal diam. Dia langsung menghubungi Seina untuk menanyakan apa yang terjadi pada kekasih adik sepupunya itu. Seina pun menjelaskan seluruh informasi yang ia dapatkan. Termasuk dugaan penyerangan yang berkaitan dengan kasus video viral yang akan ditanganinya.


Mata Kei menyipit sebelah. "Sudah kuduga ini adalah kasus besar yang berkaitan dengan salah satu pejabat," ucapnya tersenyum miring.


"Apa kau juga berpikir Shohei diserang karena berkaitan dengan kasus yang akan ditanganinya itu? tanya Seina.


"Ya, aku sangat yakin. Sebelumnya, aku baru saja mewawancarai wanita dalam video viral itu. Ada yang aneh, dia tampak ketakutan berbicara. Tidak seperti di video yang dia unggah ke YouTube. Mungkin ada yang mengancam dan memintanya agar bungkam. Aku hanya berharap Black Shadow benar-benar bisa menyelesaikan kasus ini. Tapi, hingga kini dia belum juga muncul."


Mata Seina menyala saat nama Black Shadow disebut.


Black Shadow, di mana aku bisa menemuimu? Bagaimana aku bisa berbicara denganmu? Kau harus membantu Shohei menyelesaikan kasus ini. Hanya kau yang bisa!


.


.


.


.