
..."Bagaimana rasanya menangis untuk orang yang kita cintai? Bagaimana rasanya ditangisi oleh orang yang kita cintai? Aku ingin mengetahui dan merasakannya."...
...Rai Matsui~Always Remember...
...----------------...
Yuriko terperanjat hebat. Ia menatap tangan Shohei dan Seina yang terjalin erat, kemudian memerhatikan calon tunangan Shohei itu secara saksama. Lekukan kaki yang indah berbalut sepatu hak tinggi, dress mahal yang terkesan feminin, kulit putih mulus terawat, aroma tubuh yang berbau parfum merek ternama, dan wajah jelita yang bagaikan jelmaan bidadari. Bandingkan dengannya yang sehari-hari hanya memakai kaus dan celana panjang jins dengan rambut yang selalu disembunyikan dari balik topi kasual.
"Matsumoto Seina. Senang berkenalan denganmu," ucap Seina sambil membungkuk.
"Ai–aizawa Yuriko," balas Yuriko tergagap dengan tatapan kaku.
Pandangan Seina lalu tertuju pada ruangan apartemen itu. Ia melangkah cepat ke depan dengan pandangan mata yang berkeliling.
"Kirei!" ucap Seina takjub melihat setiap sisi ruangan bernuansa putih yang memiliki interior modern, lengkap dengan beberapa perabotan import dengan sentuhan klasik.
"Apa kau suka?" tanya Shohei yang berjalan melewati Yuriko.
"Suka! Sangat suka! Ini sungguh elegan!" Seina berbalik, melempar senyum semringah ke arah Shohei. Ia lalu menoleh ke dinding yang terbuat dari full kaca.
Shohei mengambil remote, lalu menekan tombol yang membuat dinding kaca di hadapan mereka terbuka secara perlahan. "Ini bioskop kecil. Aku selalu berpikir apakah kau akan betah tinggal di sini nantinya? Jadi aku memesan pada desainer interior agar dibuatkan bioskop kecil. Ah, temanku juga banyak membantu untuk memilihkan desain yang cocok dengan karaktermu."
Yuriko yang masih membatu di depan pintu lantas kembali terkesiap.
Dia akan tinggal di sini juga? Jadi apartemen ini dibeli untuk mereka tinggali bersama?
"Arigatou gozaimasu. Kau masih sempat mempersiapkan semua ini di tengah kesibukanmu!" ucap Seina dengan perasaan penuh haru.
Yuriko masih mematung bodoh seraya merasakan hatinya yang berdenyut perih. Ia bisa melihat binar bahagia di mata Shohei saat ini. Pandangan Shohei pada gadis yang disebut calon tunangannya itu sangat berbeda. Ya, itu adalah pandangan penuh cinta.
Seina dan Shohei sama-sama berbalik menuju dapur. Shohei tersentak ketika melihat aneka makanan yang tersaji di meja makan.
"Astaga, ternyata Yuriko-san telah selesai menyiapkan sarapan!" Pria itu berjalan menghampiri meja makan.
Yuriko buru-buru menghadang langkah shohei seraya membentangkan kedua tangannya ke samping.
"Itu ... bu–bukan sarapan! Itu ma–makanan yang ... kumasak semalam dan sudah basi."
Shohei terkejut. "Seharusnya kau tidak perlu datang di hari Minggu."
"Aku pikir kau ada di rumah seharian, jadi ... aku ke sini sepulang dari bersantai dengan teman-temanku." Bibir Yuriko bergetar ketika memaksakan diri untuk menjelaskan. Ia segera berbalik lalu kembali berkata, "akan aku bereskan semua ini. Aku juga akan segera memasak sarapan untuk kalian berdua."
Shohei menahan tangan Yuriko. "Yuriko-san tidak perlu repot membuat sarapan pagi ini. Aku dan kekasihku sudah sarapan sebelum ke sini."
Yuriko menatap Shohei yang tersenyum lembut seperti biasa. Senyuman yang menjadi ciri khas pria itu selalu membuatnya terkesima, tapi tidak untuk kali ini. Senyuman itu justru membuat hatinya sakit.
"Shohei-kun, apa ini ruang kamar?" Pertanyaan Seina membuat Shohei mengalihkan pandangannya. Ia melepaskan tangan Yuriko lalu berjalan menghampiri Seina.
"Ya, benar. Di sini hanya ada satu kamar," jawab Shohei sambil membuka pintu kamar tersebut.
Sepasang kekasih itu lalu masuk ke kamar. Seina menatap sekeliling kamar yang mungkin suatu saat akan ia tempati.
"Apa ranjang ini cukup untuk kita berdua?" tanya Shohei sambil duduk di tepian ranjang.
"Tentu saja. Apa kau pikir tubuhku besar sehingga tidak muat?" Seina menunjukkan wajah merajut manja.
"Ah, bukan seperti itu maksudku. Kurasa ranjang di kamarmu lebih besar dari ini." Shohei memperjelas ucapannya.
"Omong-omong, tadi pagi tidurmu sangat nyenyak sampai-sampai aku tidak tega membangunkan."
"Benarkah? Apa aku mendengkur?" Mulut Shohei membentuk huruf O.
Seina menggeleng sambil tertawa. Ingatannya mundur kembali saat ia terbangun dan tengah berada dalam kungkungan pria itu dengan posisi yang sama seperti sebelum mereka terlelap.
Shohei benar-benar menunjukkan sisi lelaki sejati. Dia memegang ucapannya dan sungguh menjaga gadis itu. Setidaknya, Seina bisa merasakan perbedaan antara kedua pria itu saat sedang bersama mereka.
Saat bersama Shohei Shohei, ia seperti menaiki perahu di tengah danau. Tenang dan pelan, tapi pasti sampai ke tempat tujuan. Sebaliknya, bersama Black Shadow dapat diibaratkan seperti berenang di sungai. Tubuhnya hilang kendali karena terbawa arus yang kuat, tanpa tahu akan dibawa berlabuh ke mana.
"Saat aku masih di asrama polisi, teman sekamarku mengeluh tidak bisa tidur karena mendengar dengkuranku yang keras. Karena itu, aku tidak enak jika harus tidur sekamar dengan orang," ungkap Shohei malu-malu.
"Benarkah?" Seina menahan tawa.
"Ya, kau ingat saat kita liburan dan menginap di vila? Malam itu aku sama sekali tidak bisa tidur," ungkapnya kembali berterus terang.
"Tapi semalam aku tidak mendengar apa pun. Kurasa tidurku sangat nyenyak."
"Benarkah? Semalam pasti melelahkan untukmu. Gomen, ne." Shohei menunduk sambil tersenyum senang karena kini ia bisa menyingkirkan rasa kikuk saat sedang bersama gadis yang dicintainya.
Di sisi lain, Yuriko berdiri di depan wastafel sambil membuang seluruh makanan semalam ke tempat sampah. Obrolan mereka di dalam kamar, tentu terdengar jelas di telinganya. Ia merasa dirinya sangat naif, karena berpikir Shohei tidak memiliki hubungan spesial dengan gadis manapun. Bodohnya lagi, ia mengira pria sesempurna itu akan jatuh cinta pada gadis biasa sepertinya.
Saking tak fokus, ia sampai menjatuhkan piring yang akan dicuci. Gelagar suara piring pecah yang menghantam lantai itu, membuat Shohei dan Seina bergegas keluar kamar. Shohei menghampiri Yuriko yang tengah mengumpulkan serpihan kaca.
"Gomen, aku tidak sengaja menjatuhkan ini," ucap Yuriko panik.
Shohei pun turut berjongkok di hadapannya. Namun, Yuriko langsung melarangnya.
"Jangan! Biar aku saja yang membereskannya. Gomen, gomennasai," ucapnya tertunduk dalam sambil menggigit bibirnya. Kembali berusaha memaksakan diri agar nada suaranya terdengar biasa saja.
Detik berikutnya, Yuriko justru terhenyak ketika Shohei menarik tangannya sambil menekan ujung jarinya yang terluka dan berdarah.
"Seina-chan, tolong ambilkan perban yang ada di laci nakas samping tempat tidur!" pinta Shohei pada Seina yang berdiri di belakangnya.
Seina langsung bergerak cepat menuju ke kamar. Namun, saat di depan pintu, ia kembali menoleh ke belakang, melihat Shohei memasukkan ujung jari tangan Yuriko ke dalam mulutnya. Sedangkan Yuriko terus tertunduk, tanpa berani menatap pria itu.
Seina kembali dengan membawa perban. Shohei membalut luka di ujung jari Yuriko, kemudian membantunya membereskan sisa-sisa pecahan piring.
"Maaf, aku tidak sengaja. Tadi aku mendapat telepon dari temanku yang menyuruhku segera ke kampus. Jadi aku terburu-buru," ucap Yuriko sengaja membuat alasan, "Sepertinya aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan kembali lagi untuk membereskan ruangan." Yuriko membungkuk lalu berjalan cepat menuju pintu.
"Yuriko-san," panggil Shohei.
Yuriko menghentikan langkahnya lalu berbalik pelan.
"Hati-hati di jalan," ucap pria itu.
Setelah turun dari bus, Rai bergegas lari menuju apartemen Shohei. Baru saja hendak masuk ke dalam gedung, langkahnya terhenti ketika melihat Yuriko telah keluar dari gedung itu dengan wajah menggelap.
Rai memperbaiki posisi langkahnya yang hendak belok ke arah gedung, menjadi lurus searah jalan. Sambil pura-pura kaget, dia berkata, "Hei, kita bertemu di sini! Kau sudah mau pulang, ya? Aku sedang menuju ke tempat kerjaku. Kau tahu sendiri, kan, tempat kerjaku tidak jauh dari sini."
Yuriko berlalu dengan langkah cepat tanpa menghiraukan Rai.
"Yu-chan, kau mau ke mana?" Rai berusaha mengejar Yuriko.
"Yuri-yuri!" panggilnya kembali.
Yuriko terus berjalan tanpa menyahut apalagi menoleh. Rai menarik tangan Yuriko, memaksanya berbalik ke arahnya.
"Kau kenapa?" tanyanya meski sebenarnya ia sudah bisa menebak.
Yuriko mengerutkan bibirnya. Dengan sudut mata yang tampak digenangi air, ia menatap ke sembarang tempat sambil berkata, "Aku ... bertemu dengan calon tunangan pak polisi. Aku diperkenalkan langsung padanya. Kau juga pasti sudah lebih dulu kenal dia, kan?"
Raut wajah Rai mendadak berubah. Ia terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
Yuriko menengadahkan wajahnya ke atas, lalu berkata dengan nada suara yang tipis. "Ternyata selera pak polisi sangat tinggi, ya? Dia benar-benar tidak salah memilih," ucapnya sambil memaksa tersenyum.
"Yu-chan, jangan memaksakan dirimu untuk terlihat baik-baik saja. Aku memang tidak memiliki apa pun seperti dia, tapi aku memiliki sepasang telinga yang kutawarkan untuk mendengar keluh kesahmu," Rai berusaha menarik tubuh gadis itu ke sisinya.
Yuriko langsung menepis tangan Rai. "Aku kalah telak. Gadis itu sungguh cantik! Sangat berbeda denganku!"
"Setiap wanita akan terlihat cantik dan sempurna di mata pria yang mencintainya," ucap Rai dengan pandangan iba.
"Dari awal, Shohei memang tak pernah melirikku. Akulah yang berekspektasi terlalu tinggi! Aku seenaknya berkhayal kalau suatu saat dia akan tertarik padaku! Aku terlalu percaya diri! Padahal, kau sudah pernah bilang kalau dia baik ke semua orang, bukan hanya pad—" Kalimatnya terhenti, berganti dengan butiran bening yang mengalir di sudut mata.
Pada akhirnya, ledakan air mata yang tertahan berhasil membobol pertahanannya. Ia tak dapat mencegah bulir-bulir hangat itu berebutan keluar dari kedua matanya. Dia menangis sambil menutup mulut dengan sebelah tangan. Tak peduli seberapa banyak mata yang memandang heran ke arahnya. Terus terisak. Di tepi jalan, tepat di bawah pohon sakura yang berselimutkan salju.
Rai membalikkan tubuh Yuriko agar membelakanginya. Tubuhnya yang tegap dan tinggi langsung menutupi gadis itu agar tak terlihat oleh orang-orang yang lewat. Tak ada kata. Tak ada gerakan maupun sentuhan. Hanya berdiam mematung di belakangnya. Terus mendengarnya menangis tersedu-sedu tanpa berusaha menghentikannya.
Aku sudah lama menantikan momen ini, kau patah hati dan menangis seperti ini. Kupikir dengan begitu aku bisa puas menertawakanmu dalam hati, ternyata aku malah membenci suasana ini. Aku makin kesal karena tak bisa berkata apa-apa.
Sejujurnya, ini kedua kalinya ia mendengar wanita menangis terisak di dekatnya. Mirisnya, ada dua persamaan dari kedua wanita itu, tangisan yang dikeluarkan oleh mereka bukan untuk dirinya melainkan pria lain.
Aku masih menantikan untuk mengetahui bagaimana rasanya menangisi dan ditangisi orang yang kucintai.
Sementara, Seina masih melihat-lihat setiap sisi apartemen itu sembari menunggu Shohei berganti pakaian kerja. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah lukisan dua pria, di mana salah satu pria itu memegang setangkai bunga camelia di ujung puncak menara, dan pria satunya lagi berada di belakang sembari memegang helaian kelopak bunga camelia.
.
.
.
lagu indo yang cocok untuk Yuriko ke shohei, dan Rai ke Yuriko apa ya? gua kurang referensi lagu lokal nih, biar bisa gua dgr di yusup.com like dan komeng