
Seperti biasa, siaran Black Shadow yang tayang secara tiba-tiba selalu menarik perhatian khalayak. Para pejalan kaki langsung berkumpul di bahu jalanan, orang-orang yang sedang bersantai di kafe bergegas mengambil ponselnya, dan para pekerja menghentikan aktivitas mereka sejenak hanya untuk menyaksikan siaran dadakan itu.
Begitu juga dengan Kei yang harus menghentikan motornya di tengah jalan karena lampu merah. Kepalanya mendongak ke atas melihat papan Videotron. Sontak, ia segera mengambil gawainya dan melihat siaran langsung itu dari dekat.
Para polisi yang tergabung dalam tim investigasi dan penyidik di kepolisian Metropolitan, bergegas berkumpul di depan televisi untuk menonton tayangan Black Shadow.
"Wow, aku selalu terkesan dengan aksinya. Kenapa dia tak direkrut jadi polisi saja dan bergabung dengan tim kita," ujar Ai Otaka yang berdiri di samping Seto Tanaka.
Seto Tanaka tak menanggapi celotehan Ai, memilih fokus menonton serta menebak-nebak aksi Black Shadow kali ini.
Di sisi lain, Seina baru saja tiba di menara Tokyo Skytree. Hari ini penampilannya sungguh anggun, memakai dress ungu muda selutut, dipadukan dengan blazer musim dingin. Model rambut yang dibuat sedikit bergelombang dan tanpa poni, membuatnya terlihat dewasa. Ia masuk ke dalam lift menekan tombol yang akan membawanya di ketinggian 420 meter tepatnya di Tembo galeri.
Sejenak, Seina menghela napas ketika kakinya melangkah keluar dari lift menuju tempat yang cukup keramat baginya. Bagaimana tidak, sudah dua kali ia bertemu dengan Black Shadow di tempat ini.
Dia tidak akan muncul di sini, kan? Iya, dia tidak akan muncul! Lagi pula, dia hanya akan ke tempat ini jika selesai melakukan sebuah aksi.
Masih di ruang rapat, mengetahui apa yang terjadi saat ini adalah ulah Black Shadow , menteri olahraga meminta mereka agar segera mematikan layar proyektor. Biar bagaimana pun, percakapan yang baru saja terpampang jelas di layar proyektor itu tidak boleh bocor ke publik. Itu tentu saja merupakan aib pemerintah dan sangat memalukan. Meskipun menteri olahraga sendiri tak tahu menahu dengan tindakan yang tuan Yoshuke lakukan terhadap Rika Furukawa.
Ketika tuan Yoshuke berusaha mematikan laptopnya yang terus bekerja tanpa perintahnya, di saat itu juga seorang pria bermasker yang duduk di barisan pejabat, langsung mengangkat suara.
"Tidak ada gunanya kalian mematikan layar proyektor itu. Perangkatnya telah dikendalikan, dan hanya aku yang bisa menentukan kapan semuanya berhenti. Lagi pula, apakah Anda tidak penasaran alasan tuan Yoshuke melakukan ini?" kata pria bermasker itu sambil mengambil topeng di balik jasnya lalu memasangkan ke wajah.
Para pejabat yang duduk mengelilingi meja berbentuk oval itu lantas tercengang. Entah sejak kapan Black Shadow berada di sana, menyusup di antara mereka. Bahkan turut memakai setelan jas rapi. Keberadaannya tak disadari sejak awal karena seluruh pejabat yang ada memang diwajibkan memakai masker.
Usai memakai topeng andalannya, ia berdiri dari kursi kemudian menghampiri tuan Yoshuke yang tampak gemetar. Ia menangkap kedua bahu tuan Yoshuke dan memaksanya kembali duduk ketika pria yang menjabat sebagai ketua Olimpiade itu hendak pergi. Black Shadow memosisikan berdiri di belakang Tuan Yoshuke sambil menahan pergerakan tubuh pria itu. Ketika sekretaris pribadinya hendak menolong, pria bertopeng itu langsung melayangkan tendangan yang membuatnya jatuh terduduk dengan punggung yang membentur dinding.
"Sssttt ... kita sedang diliput langsung oleh kamera tersembunyi. Jika ada di antara kalian yang membela pria ini, maka publik akan menganggap kalian bekerja sama dengannya," ucap Black Shadow dengan senyum halus yang bertengger di bibirnya.
Melihat siaran Black Shadow saat ini, Kei dapat menebak jika lokasi penayangannya terletak di kementrian olahraga. Ia pun melajukan motornya ke sana. Tentu ia tak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk bertemu langsung dengan pria bertopeng itu. Apalagi, ia telah mengetahui sosok rahasia yang bersembunyi di belakang Black Shadow. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang disebut Mr. White!
Sementara, di sebuah ruang kerja yang minim cahaya, seorang pria tua dengan setelan jas kebanggaannya duduk tenang sambil menonton siaran langsung Black Shadow.
"Black Shadow, kau berulah lagi rupanya," ucap pria itu dengan raut santai tapi juga menakutkan.
Ia mengambil ponselnya lalu tampak menghubungi seseorang. "Kirimkan pasukan penjagaan dan regu penembak ke gedung kementrian olahraga sekarang!"
"A–apa? Regu penembak?" Lawan bicaranya tampak terkejut.
"Ya. Kau sudah melihat tayangan Black Shadow saat ini, 'kan? Ada menteri olahraga di sana, kita harus memastikan keselamatannya!" ucapnya bersuara datar.
"Baik. Akan saya kirimkan segera."
Senyum licik terulas di bibir pria tua itu bersamaan berakhirnya telepon. Ia meminta ajudan pribadinya mendekat.
"Menembak Black Shadow," jawab ajudannya dengan wajah datar.
"Bagus sekali!" Tawa cekikikan pria itu menggema, dengan mata yang tertuju pada wajah Black Shadow di layar laptopnya.
Suasana masih menegang di ruang rapat itu. Menteri olahraga yang sempat berdiri, kini memilih duduk kembali.
"Ceritakan pada kami apa yang telah dilakukan oleh Tuan Yoshuke?" tanyanya.
"Dari pada menceritakan, kenapa kita tidak main tebak-tebakan saja," ajak Black Shadow, "Siapa di antara kalian yang bisa menebak kenapa si Tua ini memerintahkan seseorang untuk membuat Furukawa Rika cedera?" tanyanya kembali di hadapan para pejabat lainnya.
Mereka semua terdiam sambil saling melirik. Salah seorang di antaranya pun menjawab dengan nada yang kurang yakin. "Agar Furukawa Rika tak bisa mengikuti kompetisi renang."
"Benar sekali!" seru Black Shadow seraya mengacungkan jempol ke arah pejabat itu.
"Ta–tapi ... apa alasannya? Kenapa kau tidak menginginkan Furukawa Rika untuk tampil di kejuaraan Olimpiade Tokyo? Dia adalah salah satu atlet kebanggaan Jepang!" Pejabat lainnya mengacungkan pertanyaan langsung pada Tuan Yoshuke.
"Apa itu untuk membuat Nakamura Aya menjadi atlet renang utama yang maju dalam kompetisi itu? Jangan-jangan ... kau punya hubungan asmara dengan atlet muda itu!" duga pejabat lainnya yang pernah menolak usulan tuan Yoshuke untuk mengistirahatkan Furukawa Rika.
Black Shadow tersenyum miring sambil menoleh ke belakang. Bersamaan dengan itu, layar proyektor kini menampilkan sejumlah obrolan tuan Yoshuke bersama salah satu pejabat Singapura dari sebuah aplikasi rahasia.
Di dalam obrolan yang memakai bahasa Inggris itu, dapat disimpulkan bahwa tuan Yoshuke melakukan pemufakatan jahat dengan salah seorang pejabat Singapura. Tuan Yoshuke sepakat untuk tidak mengikutsertakan Furukawa Rika di Olimpiade Tokyo yang akan datang. Hal ini tentu saja menguntungkan Singapura. Sebab, sudah sejak lama atlet mereka hanya mampu meraih medali perak. Sebagai imbalannya, pejabat itu akan membantu tuan Yoshuke untuk mengamankan harta kekayaannya ke Singapura.
Seperti diketahui, Singapura adalah salah satu negara yang dijuluki surga tempat penyimpanan harta. Sebab, negara yang terletak di Asia tenggara itu enggan mengungkapkan kepemilikan saham perusahaan warga asing, sehingga rawan digunakan sebagai kendaraan kriminal seperti pencucian uang.
"Itu tidak benar! Itu hanya rekayasa! Dia menunjukkan pesan palsu," elak tuan Yoshuke kalang kabut setelah isi obrolannya di sebuah aplikasi chat rahasia dibeberkan lengkap dengan terjemahan bahasa Jepang.
Mr. White yang sedari tadi mengendalikan perangkat digital tuan Yoshuke dari atap gedung kementerian olahraga, hanya bisa tersenyum simpul dengan mata yang mengerjap lembut. Namun, mimik wajahnya berubah seketika, tatkala melihat pasukan regu penembak dari kepolisian nasional datang ke tempat itu. Sebagian dari mereka langsung masuk berpencar ke dalam gedung.
.
.
.
catatan author ✍️✍️✍️
negara yang menjadi surga pajak selain Singapura adalah Amerika serikat, Hongkong, Libanon, Luksemburg, Bahrain ,Swiss , Jerman dan Dubai
sumber : CNNIndonesia
jempolnya jangan lupa 😉