Never Not

Never Not
Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina



Ketiga Petugas itu langsung menangkap dan mengamankan dirinya.


"Ada apa ini?" ucap teknisi itu yang tak terima dirinya diseret paksa.


Tak lama kemudian, sekretaris pribadi tuan Yoshuke keluar dari lift dan bergegas menghampiri pria berpakaian teknisi.


"Periksa dia dan seluruh barang bawaannya," perintahnya pada petugas keamanan.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak teknisi tersebut berusaha meloloskan diri saat petugas mulai memeriksa dirinya.


"Tuan Yoshuke tidak pernah memanggil teknisi ke sini! Jelaskan padaku, apa tujuanmu ke sini!" sergah sekretaris bertampang mencekam itu.


Teknisi itu lantas tersentak. "Tentu saja aku ke sini karena ada panggilan yang meminta jasa perbaikan kami," cetusnya tak terima dengan perlakuan mereka.


Adu mulut antara petugas dan teknisi tersebut memicu orang-orang berkumpul. Seorang pria berkumis tebal dengan setelan jas necis yang membalut tubuhnya muncul di antara kerumunan.


"Ada apa ini?" tanya pria itu.


"Dia menyamar sebagai teknisi dan masuk ke ruang kepala komite," balas salah satu staf kantor komite nasional.


"Itu tidak benar! Silakan hubungan kantor resmi kami untuk lebih memastikan!" elak pria teknisi itu masih berusaha menolak untuk diperiksa.


"Kalau begitu izinkan saya periksa ruangan itu untuk mengatasi hal-hal yang tak diinginkan seperti penyadapan dan peretasan. Apalagi jika berkaitan dengan pelaksanaan Olimpiade Tokyo. Saya adalah anggota Intelijen yang kebetulan hendak menemui tuan Yoshuke. Sayangnya, saya baru mengetahui jika dia sedang tak ada di kantor," ucap pria itu sambil menunjukkan kartu identitasnya sebagai anggota intelijen.


Teknisi itu tampak terperanjat melihat kartu keanggotaan Badan Intelijen Negara. Ini gawat, ia tak mau memiliki masalah dengan mereka semua. Apalagi jika sampai berurusan dengan polisi.


"Baik, silakan ikut saya, Tuan." Sekretaris tuan Yoshuke menuntun pria bersetelan hitam itu.


Pria yang mengaku sebagai pejabat intelijen itu langsung masuk ruangan tuan Yoshuke, lalu memeriksa sistem jaringan telepon dan perangkat digital yang ada di ruangan itu. Di sisi lain, staf kantor tersebut menghubungi kantor teknisi untuk mengonfirmasi anggota mereka yang sedang diperiksa.


"Bisakah Anda membukanya," pinta pria tersebut menunjuk laptop yang tak bisa diakses karena terpasang password.


Sekretaris itu kemudian menuliskan password. Komputer terbuka dan pejabat intelijen itu langsung memeriksa perangkat aplikasi dalam komputer. Secara bersamaan, staf kantor mengabarkan lewat telepon jika pria tadi benar-benar teknisi dari agen resminya sehingga mereka tak memiliki alasan untuk menahannya.


"Tidak ada masalah apa pun. Tampaknya semua aman-aman saja," ujar pejabat intelijen itu selepas memeriksa laptop dan beberapa perangkat digital di ruangan itu.


Mereka kembali ke lantai dasar, lalu menemui pria teknisi yang sempat ditahan tadi.


"Kantor teknisi mengatakan ada permintaan perbaikan di kantor ini atas nama tuan Yoshuke," ujar salah satu staf yang menelepon dan berbicara langsung pada kepala pelayanan jasa service jaringan telepon itu.


"Ah, mungkin yang tadi itu hanyalah panggilan iseng. Belakangan ini saya mendengar ada banyak panggilan fiktif ke beberapa perusahaan jasa. Mereka mengirim alamat palsu untuk mengerjai perusahaan jasa seperti ini," ucap pria yang mengaku sebagai anggota badan intelijen negara tersebut.


"Terima kasih, Tuan." Sekretaris tuan Yoshuke membungkuk penuh. Tentu ia paling bertanggung jawab jika ada penyadapan informasi yang membuat pelaksanaan olimpiade Tokyo bocor ke publik lebih dulu.


Pejabat intelijen itu keluar dari gedung, melangkah pelan dengan senyum licik yang membingkai wajahnya. Dia menoleh pelan ke belakang, menatap gedung putih yang baru saja dimasukinya. Ya, bisa ditebak jika pria yang mengaku sebagai pejabat intelijen itu tidak lain adalah Black Shadow alias Rai.


Ketika keluar dari ruangan wanita tadi, ia bergegas masuk ke toilet dan berganti kostum dengan menggunakan setelan jas yang membuatnya terlihat seperti pejabat Intelijen Negara. Ia juga memakai rambut dan kumis palsu yang membuat dan merias muka dengan memberi efek kerutan sehingga membuat wajahnya berubah seketika. Kemudian sebelum melakukan aksi penyamaran, ia membuang ranselnya keluar lewat jendela kaca untuk memudahkan dirinya melenggang keluar dari gedung itu.


Sebelumnya ia memang sudah mempersiapkan beberapa kartu-kartu identitas palsu sebagai polisi, pengacara, kejaksaan dan badan intelejen negara. Pada kasus tadi, ia memilih menyamar sebagai pejabat Intelejen Negara agar bisa mendapat akses masuk ke ruangan Yoshuke Tsuno.


Menyamar, memalsukan identitas, dan mengelabui banyak orang tentu bukan hal sulit untuk Rai. Taktik itu sudah sering dia lakukan bertahun-tahun saat masih menjadi penipu ulung. Dengan kemahiran berbicara di depan publik membuatnya mampu meyakinkan orang-orang tanpa menimbulkan kecurigaan. Kecerdikan dan kelihaiannya menyusun strategi, membuatnya mampu memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Ya, jika ia menyamar sebagai teknisi, maka nasibnya mungkin akan sama seperti pria tadi. Oleh karena itu, ia berpura-pura menelepon teknisi untuk meminta perbaikan jaringan di ruangan tuan Yoshuke. Sesuai perhitungannya, staf kantor menaruh curiga pada teknisi tersebut karena tuan Yoshuke tak pernah meminta pelayanan jasa perbaikan. Berhasil membuat teknisi itu dicurigai, ia pun muncul sebagai anggota intelijen untuk mematahkan tuduhan staf kantor pada teknisi tersebut.


Lewat penyamaran itu juga, ia bisa masuk di ruangan tuan Yoshuke tanpa harus menyelinap seperti biasa. Berpura-pura memeriksa keamanan perangkat digital di ruangan itu, ia pun menggunakan kesempatan untuk memasang alat pengintai ke dalam sistem jaringan, dan juga memasukkan virus pengendali perangkat di komputer.


Dalam hitungan menit, semua data Tuan Yoshuke telah masuk ke laptop Mr. White. Pria berkacamata itu tersenyum puas ketika seluruh perangkat digital tuan Yoshuke terbaca di laptopnya dan dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui server command and control yang terhubung langsung ke laptop dan tabletnya.


Mr. White menghidupkan earpiece di telinga, lalu berkata, "Kerja yang bagus, Black! Selanjutnya, tunggu perintahku lagi."


Berselang semenit, ponsel pria itu berdering. Rupanya, itu berasal dari kekasihnya, Seina. Shohei bergegas menerima panggilan telepon. Ia berdeham sejenak untuk menetralkan nada suaranya.


"Moshi-moshi!"


"Shohei-kun, apa kau sudah istirahat? Aku telah berada di restoran sekarang."


Shohei terperanjat. Dia lupa memiliki janji makan siang dengan kekasihnya.


"Aku akan segera ke sana! Tunggu aku."



Sekitar dua puluh menit, Shohei tiba di restoran yang letaknya masih satu distrik dengan kantor kepolisian metropolitan. Ia langsung menghampiri Seina yang lebih dulu berada di sana.


"Gomen, aku membuatmu menunggu."


Seorang pelayan menghampiri mereka lalu menyodorkan buku menu.


"Aku pilih ini, tanpa wasabi¹." Shohei menunjuk menu andalan restoran itu.


"Apa kau tak menyukai wasabi?" tanya Seina tampak terkejut.


Shohei mengangguk malu-malu.


"Kalau begitu ... kita sama! Aku juga tidak menyukai makanan yang menggunakan wasabi," ungkap Seina dengan ceria.


"Benarkah?" Shohei tampak senang karena memiliki persamaan dengan Seina.


"Omong-omong ... ternyata kita belum terlalu saling mengenal satu sama lain. Aku belum mengenal dirimu sepenuhnya, sementara sebentar lagi kita akan bertunangan dan tinggal bersama. Aku mendengar banyak hubungan yang berakhir begitu saja karena ketidakcocokan satu sama lain," ucap Seina pelan.


Mendengar kalimat Seina yang mengisyaratkan sesuatu, Shohei pun langsung berkata, "A' ... apa yang ingin Seina tahu dariku? Akan kuberi tahu sekarang!"


Tampaknya, pria berahang tirus itu takut jika kekasihnya berpikir mereka tak cocok.


"Semuanya."


"Eh?"


"Aku ingin mengetahui semua tentangmu agar bisa lebih memahami dan mengerti dirimu."


"Kau tak perlu memaksa dirimu sendiri untuk selalu memahami dan mengerti aku. Jika ada sesuatu yang tidak kau sukai dariku, katakan saja!" ucap Shohei dengan tatapan lekat seraya menggenggam tangan Seina.


Seina menatap tangan Shohei yang membungkus punggung tangannya.


"Saat remaja, aku termasuk pribadi yang pemalu dan sulit bergaul. Aku tidak memiliki teman sama sekali, dan hanya sibuk belajar. Hingga saat kuliah di luar negeri dan usiaku seperti usiamu saat ini, aku tetap tidak memiliki teman dan tertutup. Tapi, saat mulai masuk di akademi kepolisan, aku mulai berpikir, jika terus memelihara sifat seperti ini, maka aku tidak bisa menjadi polisi. Karena tugas utama polisi adalah pengayom masyarakat," ungkap Shohei mengenang masa remajanya yang tidak banyak diketahui orang-orang.


"Apakah sekarang kau memiliki seorang sahabat yang sangat dekat denganmu?" tanya Seina antusias.


Shohei terdiam, ia mengingat Rai yang selama hampir setahun ini selalu bersamanya. Ia merasa hanya pria itu yang selalu bisa memahami dan mengerti sifat dan juga keinganannya. Hubungan mereka yang awalnya hanya sebatas partner untuk sebuah misi, kini malah seperti sepasang sandal jepit yang tak bisa terpisahkan.


"Hanya ada satu orang yang sangat dekat denganku. Dia juga sudah kuanggap seperti adikku sendiri," ucap Shohei.


"Benarkah? Kalau begitu, kenalkan dia padaku!" ucap Seina bersemangat.


Shohei menaikkan alisnya secara refleks. "Kau ingin berkenalan dengannya?"


"Ya. Bukankah sudah kubilang, aku ingin mengetahui semua tentangmu, tentu saja termasuk orang-orang yang dekat denganmu."


Shohei mengulas senyum tipis. "Kalau begitu, datanglah ke Tokyo Skytree Sabtu depan pada malam hari! Kebetulan aku dan dia janjian bertemu di sana dan kau bisa berkenalan langsung dengannya nanti," ucap pria itu. Kebetulan, ia dan Rai berencana menuntaskan misi pada Sabtu depan nanti.


Mendengar Tokyo Skytree, sontak Seina tertegun seketika.


.


.


.



Shohei Yamazaki



Rai Matsui



Yuriko aizawa



Seina Matsumoto


jejak kaki 🦶🦶🦶


wasabi¹ : parutan rimpang berwarna hijau yang dimakan sebagai penyedap masakan Jepang. rasanya pedas dan menyengat