Never Not

Never Not
Ch. 46 : Suara yang Tak Asing



Rai langsung berlari menuju wastafel untuk berkumur usai menyantap cream soup yang tersimpan di kulkas. "Apakah kau mewarnai air laut lalu menyimpannya ke dalam kulkas?" keluhnya sambil terus mengumur.


"Sudah kubilang jangan dimakan! Makanannya akan dua kali lipat lebih asin jika dalam keadaan dingin," ucap Shohei berwajah masam seraya mengelap wajahnya dengan tisu basah.


Baru sesendok saja dia sudah seperti orang keracunan. Apa kabar dengan diriku yang harus menelan habis semangkok.


Rai mematikan kran air. Ia terdiam sebentar lalu berkata, "Tunggu, jangan bilang itu masakan Yuriko."


Shohei hanya bergeming dengan mata meredup. Tak perlu menunggu jawaban Shohei, Rai pun sudah bisa menerkanya. Ia menahan tawa karena gadis itu terlalu mengikuti sarannya hingga memaksa untuk memasak makanan Eropa.


"Sebenarnya ini salahku. Aku mengatakan padanya kalau seleramu itu makanan Eropa. Tapi aku tidak menyangka dia benar-benar berusaha untuk memasak menu yang tidak diketahuinya," ucap Rai sambil memegang perutnya sambil tergelak


"Dasar! Kupikir ... dia sulit membedakan sendok teh dan sendok makan karena dia mengaku melihat resep dari internet. Itulah yang membuat masakannya keasinan. Soalnya aku juga pernah seperti itu saat pertama kali memasak di kantor. Meski begitu, aku menghargai usahanya. Terlepas dari soal masakan, dia juga sangat rajin dan rapi jika sedang beres-beres," ujar Shohei seraya menatap sekeliling ruangannya.


Bunyi panggilan masuk dari ponsel Shohei mendadak terdengar. Ia merogoh sakunya dan segera menjawab telepon.


Seina-chan!


Shohei terkesiap saat wajah Seina menghias layarnya sebagai si pemanggil.


"Aku jawab telepon dulu. Ini dari kekasihku," ujarnya pada Rai seraya menepi ke arah jendela.


"Moshi-moshi." Suara lembut Seina mengalun di telinga pria itu. "Apa aku mengganggumu?"


"Oh, tentu saja tidak," balas Shohei cepat.


"Aku ingin menanyakan beberapa hal tentang hukum," ucap Seina yang tengah berkecimpung dengan kesibukannya mengurus skripsi.


Rai duduk di depan meja bar seraya menuang sampanye ke dalam gelasnya. Ia menoleh ke arah Shohei yang terlihat begitu senang saat dihubungi kekasihnya. Senyum tipis terurai di bibirnya bersamaan dengan tegukan terakhir dari alkohol favoritnya. Ia melirik jam dinding, kemudian berdiri cepat.


"Yo, aku pulang sekarang, ya! Arigatou, minumannya," teriaknya pada Shohei.


"Jaa (sampai jumpa)," teriak Shohei.


"Siapa?" tanya Seina seketika. Rupanya, suara Rai tembus di telinganya walaupun terdengar samar-samar.


"Oh, dia adalah sahabatku. Kebetulan sedang singgah sebentar di rumahku."


Seina terdiam seraya memikirkan sesuatu. Suara pria yang baru saja terdengar, seperti sudah tak asing lagi baginya. Ia mencoba-coba mengingat-ingat. Bola matanya melebar tatkala yang terbesit di otaknya saat ini malah wajah Black Shadow lengkap dengan suara khasnya yang begitu maskulin.


Tidak, ini pasti cuma perasaanku saja. Aku tidak boleh mengingat orang itu lagi.


"Shohei-san, apa kau punya waktu besok siang?" Seina mencoba mengendalikan pikirannya dengan mengubah topik pembicaraan.


"Eh? Besok siang?" Shohei tampak berpikir.


"Aku ingin makan siang berdua denganmu," ajak Seina seketika yang membuat Shohei terkejut.



Tepat pukul sepuluh malam, Rai pulang dari apartemen Shohei. Ia berjalan kaki menuju kediamannya setelah turun dari stasiun. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Yuriko yang baru saja keluar dari supermarket. Gadis itu tampak membawa barang belanjaannya yang berupa bahan makanan.


"Yuri-yuri!" sapa Rai sambil menghampiri gadis itu kemudian mengambil barang belanjaannya. "Biar kubawa!"


"Arigatou," ucap Yuriko yang mulai bersikap manis padanya.


Rai membuka barang belanjaan gadis itu. "Kenapa berbelanja bahan makanan malam-malam begini?"


"Ini untuk persiapan masak sarapan Shohei-san besok pagi. Aku takut terlambat lagi seperti pagi tadi."


"Oh, kau kelihatan bersemangat sekali, ya! Sampai harus belanja di malam hari."


"Tentu saja. Selama di Tokyo aku gonta-ganti pekerjaan paruh waktu, tetapi baru kali ini aku benar-benar menikmati pekerjaanku. Besok aku masak apa lagi, ya?" pikir Yuriko seraya menatap warna langit yang pekat.


"Apa saja asal jangan masak pumpkin cream soup lagi! Masakanmu tadi itu benar-benar membuatku ...." Rai mendengus, memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya. Bukan karena menjaga perasaan Yuriko, tapi saking sulitnya mendeskripsikan rasa cream soup itu.


"Apa kau mau mendengar jawaban jujur dariku?" tanya Rai sedikit ragu.


"Hum." Yuriko mengangguk cepat dengan segaris senyum lebar di bibirnya.


"Saat baru seujung sendok masuk ke mulutku, sudah mampu membuatku merasakan sensasi seperti pertama kali naik roller coaster."


"Apakah itu artinya masakanku membuatmu melayang saat sedang menyantapnya?" tanya Yuriko penuh percaya diri.


Rai menggeleng pelan, menatap bulat-bulat wajah Yuriko lalu berkata, "Bukan! Tapi ... membuatku muntah! Ya, sama seperti orang yang pertama kali naik roller coaster, bukan? beberapa orang akan merasa mual bahkan muntah."


Mendengar ucapan Rai yang terlalu berterus terang, senyum yang menggantung di wajah Yuriko raib seketika diikuti mata yang seketika membeliak. Bahkan hidungnya mengembang dan bibirnya mengerucut berkumpul menjadi satu.


"Eett ... jangan marah! Bukankah kau mengiyakan aku berkata jujur?"


"Jadi maksudmu ... masakanku tidak enak?" tanya Yuriko dengan nada tinggi.


Seolah tidak peduli seberapa besar kekesalan Yuriko, Rai malah menjawab sambil menyampingkan sepasang bola matanya. "Tidak juga. Menurutku sebenarnya masakanmu tetap enak. Tapi, kalau makanannya hanya sekadar dipandang, tidak untuk dimakan," ucapnya menyengir.


"Kurasa kau hanya membuatku kesal!" gerutu Yuriko dengan urat leher yang terlihat jelas.


"Daripada membuatmu senang sesaat padahal itu tidak benar!" balas Rai dengan bibir yang sengaja dimajukan, "lagi pula, sudah kukatakan padamu kalau lidahku ini terlalu jujur, dia tahu mana makanan yang memang pantas untuk dikatakan enak mana yang tidak," sambungnya lagi.


Kalimat pedas yang Rai lontarkan membuat Yuriko lantas berjalan cepat meninggalkannya. Wajahnya memberengut kesal.


"Oi, Yu-chan!" panggil Rai.


Ia pun mengintip kembali isi belanjaan Yuriko. Salah satu dari barang belanjaannya itu adalah sebuah buku yang berisi tentang giat sukses memasak. Tak lama kemudian, Yuriko mendatanginya, tetapi hanya untuk merebut kembali barang belanjaan miliknya.


"Kau juga menyadari masakanmu gagal, makanya kau membeli buku itu, 'kan?" tanya Rai yang sontak membuat Yuriko berhenti melangkah.


Kali ini, Yuriko tak menjawab apa pun dan membiarkan Rai kembali mengambil barang belanjaannya. Pria itu juga berjalan beriringan dengannya menuju apartemen mereka.


Tak terasa perputaran waktu sungguh cepat sehingga mengantarkan ke hari berikutnya. Yuriko tengah mengatur bekal makan Shohei. Ya, pria itu berpesan untuk dibawakan bekal saja dan memintanya untuk tak memasak menu yang sulit.


Shohei keluar terburu-buru sambil memasang dasinya. Ia mengambil kotak makanan yang telah tersedia, lalu berpamitan pergi.


"Cotto matte kudasai!" seru Yuriko menahan Shohei. (Cotto matte kudasai : tunggu sebentar)


Shohei menoleh dan tersentak kala gadis itu telah berada di hadapannya lalu memperbaiki posisi kerah bajunya yang tak rapi.


"Arigatou," ucap Shohei tersenyum tipis.


Shohei memasuki gedung Kepolisian Metropolitan yang megah. Ia menaiki. lift dan menekan tombol lantai ruang kerjanya. Tak lama kemudian, seorang polisi turut masuk, menunduk hormat dan berdiri di sampingnya. Shohei menghafal pria itu adalah polisi yang baru dipindahkan ke devisinya—Ai Otaka.


"Kau pindahan dari Departemen Ikeburuko, kan?" tanya Shohei.


"Iya," ucapnya menunduk.


"Sebelum insiden penusukan yang menyerangku, aku dan timku datang ke sana berdiskusi dengan para detektif Ikeburuko. Tapi, aku tidak melihatmu di sana."


"Aku memiliki tugas lain saat itu," jawabnya dengan sinar mata yang terlihat cerah.


"Oh ...." Shohei tampak berpikir.


Pintu lift terbuka, dan mereka berpisah ke ruang masing-masing.


Shohei menghidupkan earpiece di telinganya, lalu berkata dengan nada memerintah, "Lakukan sekarang! Hati-hati, jangan sampai ketahuan!


"Siap," jawab Rai sambil menatap sebuah gedung mewah yang berdiri kokoh di hadapannya. Dia memasang hoodie di kepalanya, sebelum beranjak masuk ke gedung itu.



.