
...Di dunia ini ada beberapa hal yang cepat berlalu termasuk perasaan. Aku berharap itu terjadi padaku, tapi sayangnya perasaanku memilih menetap di dia dan tak ingin berpindah ke yang lain....
...~Shohei Yamazaki Ch.117~...
...----------------...
Melupakan sejenak rasa sakit di hatinya, Shohei pun langsung berkata pada Seina. "Apa aku boleh meminjam laptopmu?"
Seina mengangguk kemudian mengambil cepat laptopnya. Shohei lantas duduk di meja belajar gadis itu dengan laptop yang sudah berada di depannya. Pria itu langsung memasukkan flashdisk ke port USB. Urat-urat di sekitar pelipisnya bermunculan, menandakan betapa tegangnya dirinya. Mungkinkah ini akan menjadi titik terang terungkapnya kebusukan Kazuya Toda?
Begitu isi dari flashdisk terbaca dan muncul di layar, pria berkaca mata itu sudah tak sabar untuk segera membuka kotak folder yang tersimpan dalam flashdisk. Hanya ada satu-satunya file di sana yang bertuliskan "Secret_file—>".
Shohei lantas menggerakkan kursor untuk menekan file tersebut agar bisa mengetahui isinya. Selanjutnya, ia dan Seina malah memasang wajah bingung ketika file satu-satunya yang ada di flashdisk itu hanya berisi logo kementrian kehakiman.
"Logo?" Dahi Shohei bergelombang seketika.
Seina yang turut heran, lantas berkata, "Jangan-jangan, papa hanya ingin meminta tolong padamu untuk mencetak logo kantornya," duganya meski tak yakin. Sebab, saat memberi itu, tuan Matsumoto tidak mengatakan apa pun selain berpesan untuk memberikan flashdisk itu pada kekasihnya.
Shohei bergeming dengan mata yang masih tertancap pada layar laptop. Ia tentu kecewa karena isi file tersebut tidak memenuhi ekspektasinya. Tadinya ia berpikir, kalau di dalam flashdisk itu mungkin tersimpan sebuah bukti yang selama ini disimpan oleh calon mertuanya itu.
"Entahlah! Ini tidak sesuai dengan yang kuprediksi. Soalnya, aku merasa ayahmu mengetahui sebuah rahasia besar. Makanya dia terbunuh," ucap Shohei sambil menghela napas dengan berat.
Seina terperanjat seketika. "Rahasia besar?"
"Ya, ini hanya dugaanku. Target Black Shadow yang asli bukan ayahmu. Tetapi ada yang sengaja membuat ayahmu terlihat menjadi target pria itu. Tujuannya, untuk membasmi keduanya sekaligus."
Kalimat yang baru saja dilontarkan Shohei, membuatnya teringat dengan isi surat Black Shadow tempo hari. Di mana pria itu menekankan bahwa dia tidak melakukan aksi pencurian dan untuk sesuatu buruk yang terjadi kedepannya, di luar kendalinya.
Shohei menutup kembali file yang ternyata hanya berisi logo kementrian kehakiman. Namun, sedetik kemudian, mata Shohei malah berpendar keemasan, "Tunggu!"
Shohei memerhatikan kembali file berisi logo yang dinamakan dengan "File_rahasia—>". Mata jelinya menangkap garis panah di ujung nama yang mengarah ke samping kiri folder. Ia pun segera menggerakkan kursor tepat di samping folder tersebut. Mata sepasang kekasih itu membulat tak percaya ketika mendapati sebuah file tersembunyi tanpa nama yang bersifat transparan dan hanya bisa diketahui ketika tersentuh kursor.
"Hidden file?" sebut Seina tercengang.
Shohei dan Seina saling berpandangan. Sambil menahan napas, Shohei menekan file tersebut untuk membukanya. Sialnya, sebuah kotak kecil muncul di layar beriringan saat file itu ditekan. Keduanya terperanjat saat kotak kecil itu berisi perintah untuk mengisi password yang terdiri dari empat angka rahasia.
"Apa ayahmu sempat memberitahukan password file ini?" tanya Shohei cepat.
Seina menggeleng. Shohei mengusap wajahnya dengan kasar. Percuma memiliki file penting ini, jika tak mengetahui password-nya. Mereka tak akan bisa mengetahui isi file rahasia itu.
"Seina-chan, apa kau tahu tanggal lahir ayahmu?"
Seina mengangguk dan langsung memberi tahu. Shohei mengisi tanggal dan bulan kelahiran tuan Matsumoto ke dalam password. Sayangnya, deretan angka itu salah.
"Apa kau tahu angka penting atau mungkin spesial di mata ayahmu?
Seina tampak berpikir. "Bagaimana dengan tanggal pernikahan orangtuaku?"
"Kita coba dulu!" Shohei kembali menekan angka yang diberikan Seina.
Gagal! File masih belum terbuka. Meski mereka telah mengotak-atik dengan menekan beberapa kombinasi angka, tetap saja salah dan tidak bisa terbuka.
Shohei melengos kesal, sementara Seina hanya mengigit ujung jarinya sambil mencoba menebak-nebak isi password tersebut.
"Kita tidak bisa membukanya!" Shohei memijat pelipisnya dengan frustrasi.
Menatap gamang layar laptop, Seina berkata dengan lemah. "Kira-kira, apa isi dari file ini? Apa yang diketahui papa? Apa yang berusaha dia sembunyikan?"
Shohei menoleh lemah ke arah Seina. Pikirannya melayang kembali saat Jun mengatakan bahwa tuan Matsumoto meminta agar senpai-nya itu tak ikut campur, dan membiarkan dia sendiri yang menguak kasus ini. Lalu, mantan menteri kehakiman itu menitipkan flashdisk ini pada Seina dan berpesan agar diberikan padanya. Kemudian, tuan Matsumoto juga meminta padanya untuk membahagiakan putrinya tepat di hari pertemuan terakhir mereka. Bukankah sudah terlalu banyak kepercayaan yang pria itu berikan padanya?
Shohei menggenggam lembut tangan Seina, kemudian berkata, "Jangan khawatir, semua pasti akan menjadi jelas. Hitam tetaplah hitam. Putih juga akan tetap terlihat putih."
"Arigatou. Aku sangat mengandalkan mu," balas Seina sambil membalas genggaman tangan Shohei.
Shohei tersenyum tipis. Ia memilih tetap bertahan dan membantu gadis itu mendapat keadilan, meskipun harus menyampingkan rasa kecewanya.
Aku akan selalu ada untukmu, sampai kau mengatakan pada orang-orang, siapa lagi kalau bukan "aku"?
Haru mendekati Yuta yang tengah sibuk meretas sistem keamanan pelabuhan dan bea cukai.
"Ke mana Rai? Aku tidak melihatnya dari tadi!"
"Dia sedang bermain biliard di lantai atas," jawab Yuta yang sedang fokus melakukan peretasan CCTV di pelabuhan Tokyo.
"Oh, berarti yang kulihat tadi memang Rai. Dia menuju lantai atas bersama kekasihmu," ujar haru sambil meletakkan tangannya di bahu Yuta.
Yuta membeku seketika. Begitu Haru keluar dari ruangannya, ia bergegas mengambil ponselnya dan langsung menelepon kekasihnya yang bernama Erika.
"Kau di mana?" tanya Yuta cepat.
"Aku sedang ..." Mata gadis itu menoleh ke arah Rai yang berada di sampingnya dan tengah bermain biliard. "Aku sedang keluar untuk membeli beberapa alat makeupku yang telah habis."
Bersamaan dengan itu, Yuta malah mendengar suara pukulan bola biliard yang membuatnya menyadari kekasihnya tengah berbohong. Lebih mengejutkan lagi, gadis itu langsung memutuskan panggilannya begitu saja.
Usai menerima panggilan telepon dari Yuta, Erika lalu mendekati Rai. "Kau sudah janji akan mengajariku main biliard.
Rai tersenyum miring. "Cara bohongmu sangat amatir. Yuta bukanlah orang bodoh, dia pasti tahu kau membohonginya," ucap Rai sambil menyerahkan stik biliard.
"Aku tidak peduli!" balas gadis itu dengan manja.
Rai memosisikan berdiri di belakang gadis itu, siap mengajarinya bermain biliard. Tangan dinginnya mengarahkan tongkat yang dipegang Erika. "Apa kau ingin tahu cara berbohong yang terlihat natural? Gabungkan setengahnya dengan kebenaran, niscaya kau tidak akan ketahuan sedang berbohong," ucap pria itu dengan sudut bibir yang terangkat.
Tiga bola masuk sekaligus hanya dalam sekali sodokan. Kekasih Yuta langsung bertepuk tangan serta memuji Rai.
"Rai-kun, apa kau punya kekasih atau teman kencan saat ini?" tanya Erika.
Rai menggeleng. "Terus-terusan mencintai satu orang saja itu merepotkan, bukan?" ucapnya sambil memiringkan sedikit kepalanya. Sambil kembali memegang tongkat biliard, ia kembali membungkuk, dan pada titik tembak bola. "Dibanding mencintai satu orang, aku lebih memilih dicintai seribu wanita."
Malam hari, Yuriko, Kei, dan Ryo kembali berkumpul di markas atas perintah Shohei.
"Apa Rai-niichan telah pulang ke apartemennya?" tanya Ryo pada Yuriko, "pasti dia akan hadiri rapat juga malam ini!" ucapnya dengan yakin.
Yuriko bergeming sesaat. Ia bingung untuk menjawabnya, alias ia merasa kasihan pada Ryo karena sangat mengkhawatirkan Rai yang tanpa kabar hingga saat ini. Ia hanya bisa berharap Rai akan datang malam ini. Tak lama kemudian Shohei tiba di ruangan itu.
"Kita tinggal menunggu Rai!" cetus Kei sambil membuka tas ranselnya.
Berdiri di depan ketiga orang itu, Shohei langsung berkata, "Rapat kita mulai sekarang!"
Yuriko, Kei, dan Ryo lantas terkejut dan saling menatap. Kei malah menoleh ke arah pintu.
"Kenapa tidak menunggu Rai?" tanya Kei.
Dengan sorot mata yang mengarah ke bawah, Shohei berkata pelan. "Dia tidak berada di tim kita lagi. Aku akan menggantikan posisinya sebagai Black Shadow di misi yang akan datang."
.
.
.
Halo my beloved readers ....
Saya Aotian Yu, mengucapkan terima kasih yang telah mengikuti kisah Rai dan Shohei hingga Bab ini. Untuk beberapa hari ke depan, saya libur nulis dulu ya. Jari-jemari dan otak saya juga butuh beristirahat dulu.
Terima kasih buat yang sudah mendukung novel ini, mengapresiasikan karya saya dengan aktif menekan like dan memberi komen. Juga memberi gift, vote, dan tips.
Untuk selingan, bisa lihat karya saya yang terbaru, ya. Masih rendah popularitasnya, kak Yu butuh peningkatan perfoma biar bisa terus berkarya. tidak perlu divote dan gift, cukup baca, like, komen dan favoritkan.
Untuk yang baru bergabung dengan karyaku lewat novel ini, silakan tengok juga karya-karyaku lainnya. Ada empat karya novel yang udah tamat, dan 3 cerpen.
Terakhir saya memohon maaf sebesar-besarnya apabila lewat tutur jari saya ada yang menyinggung kalian, beda pendapat dan pemikiran.
saya Aotian Yu, mencintai kalian semua ❤️
jangan lupa like + Komeng biar gua gak lama hiatusnya