Never Not

Never Not
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4



Aku ikut melompat, membungkus tubuh Ameena dengan tubuhku sendiri. Membiarkan diri ini menjadi tamengnya dari serpihan bom, pasir dan batu yang menghujani kami. Untung saja bom itu berdaya ledak rendah, hanya semacam sebuah peringatan.


Dari jarak yang sangat dekat kulihat dia menutup mata rapat-rapat. Tangannya mengepal kuat dan tampak gemetar di bawah kungkunganku. Dapat kupastikan kami tak berkontak fisik sama sekali karena posisi tubuhku seperti orang yang sedang melakukan push-up.


Bom susulan terdengar dari tenda sebelah diikuti suara rentetan senjata yang memaksa kami segera berdiri mencari perlindungan. Hanya dalam sekejap, semua berubah. Anak-anak yang tadinya berlarian main sambil tertawa kini berlari menangis mencari orangtuanya. Orang-orang berteriak panik dan sibuk menyelamatkan diri. Tak sedikit korban mengalami luka-luka akibat serangan bom.


Aku menarik Ameena untuk bersembunyi. Dia menepis kasar tanganku. Aku tak peduli, kembali kugenggam tangannya sekaligus menyeretnya berjongkok di belakang mobil tua yang ringsek.


Mata, telinga dan otak ini sibuk merekam segala emosi yang tersaji akibat serangan brutal mereka. Aku mengambil ponsel untuk memotret diam-diam penyerangan tersebut.


Aku juga menelepon Eiji mengabarkan kalau di sini baru saja terjadi serangan bom. Di situasi yang genting seperti ini aku berusaha memberi informasi ke mereka tentang apa saja yang kulihat agar mereka bisa segera merilis artikel. Sayangnya, tidak bisa dipastikan apakah serangan ini dilakukan oleh rezim berkuasa ataukah pemberontak.


Kucoba mengintip. Salah satu tentara yang membawa senapan itu memakai seragam militer khas negara ini. Bukankah artinya serangan ini dilakukan oleh sang penguasa? Kemudian kulihat lagi ada beberapa bapak-bapak yang tadinya berlalu lalang di tenda pengungsian, kini memegang senjata dan melakukan perlawanan terhadap tentara.


Apakah itu berarti kamp ini tempat pengungsian kelompok pemberontak dan pendukungnya?


Usai menelepon, aku terkesiap mendapati wanita itu menghilang. Baru saja berbalik hendak mencarinya, aku malah melihatnya tengah membantu lansia yang terjatuh. Entah kenapa aku tertarik untuk memotretnya berkali-kali.


Kuberikan tanganku ke depan agar dia mau menggenggam terlebih dahulu. Tangannya tak bergerak sama sekali, tapi tatapannya sedikit meragu.


"Jangan khawatir! Aku tidak punya penyakit kulit! Aku hanya tidak ingin kita terpisah."


Tangannya terulur dengan perlahan seakan hendak menyambut tanganku. Aku tersenyum tipis, tapi segera raib saat jari-jarinya yang lentik itu malah memegang ujung jaketku, bukan tanganku. Tidak apa-apa. Ini sudah cukup mewakili kalau dia memercayakan aku.


"Ayo kita lari!" ucapku memberinya aba-aba.


Aku menuntunnya berlari meninggalkan tempat pengungsian yang telah berubah menjadi medan haus darah. Jangan mengira kami melakukan pelarian yang indah tanpa hambatan! Setiap lima langkah, kami harus menunduk dan berlindung dari peluru yang berseliweran. Kami harus merangkak, bahkan terpaksa melangkahi mayat-mayat yang tergeletak.


ini udah di potong per babnya alias dipangkas ya, jangan baca di sini! baca chapter fullnya di novel baru yang judulnya "Sang Jurnalis" buka aja profilku lihat sampul di bawah ini