Never Not

Never Not
Ch. 124 : Tokyo Kacau!



Beberapa hari kemudian, baik tim Shohei maupun tim Rai mulai bekerja. Yuriko bertugas meletakkan alat penyadap di ruang Kazuya Toda. Mengikat rambutnya dengan rapi dan memakai kacamata, ia menyamar sebagai office girl di kantor Kazuya Toda. Tampaknya pria tua itu sedang menerima tamu. Yuriko pun masuk membawakan teh untuk Kazuya dan tamunya. Duduk bersimpuh seraya menyodorkan teh hangat, tangannya dengan cepat meletakkan alat penyadap di bawah meja sofa. Rupanya, keahliannya yang pernah menjadi seorang pencopet, sangat berguna untuk misi ini. Terbukti, tangannya yang bergerak lincah dengan mudah memasang alat penyadap tanpa disadari oleh Kazuya Toda.


Setelah keluar dari ruangan itu, Kazuya Toda tiba-tiba berkata, "Tunggu!"


Langkah Yuriko terhenti seketika. Ia menahan napas, seraya berbalik dengan perlahan.


"Apa kau karyawan baru?" tanya Kazuya Toda sambil memerhatikan wajah Yuriko dengan saksama.


"Iya, tuan." Yuriko menjawab seraya tertunduk sopan.


Seorang pejabat yang bertamu di ruangan itu lantas berkata sambil terkekeh, "Sepertinya Anda sangat memerhatikan setiap karyawan di sini. Padahal baru saja menduduki jabatan ini."


Kazuya Toda turut terkekeh sambil berkata, "Ah, aku hanya tiba-tiba teringat teman lamaku."


Yuriko keluar dari ruangan itu sambil menghela napas. Ia memasang earpiece di telinganya sambil berkata, "Penyadapan telah berhasil!"


Sesaat, bola mata Yuriko bergerak ke samping, memandang Ryo yang berdiri tak jauh darinya dengan seragam jas pejabat yang membalut tubuhnya.


Keesokan harinya, kantor badan kepolisian nasional digemparkan dengan penemuan bom aktif berdaya peledak tinggi dengan nama C4. Bom itu diletakkan dalam drone yang sengaja diterbangkan ke halaman gedung kantor Badan Kepolisian Nasional. Untungnya, tim penjinak bom dan pasukan anti terror langsung mengamankan bom tersebut sebelum meledak. Kepolisian metropolitan masih menyelidiki kasus langka yang baru terjadi di kantor pusat mereka. Kesimpulan sementara bom itu merupakan ulah kelompok radikaal.


Malamnya, kepolisian Tokyo kembali dibuat gempar. Bagaimana tidak, departemen kepolisian metro melalui biro urusan kriminal baru saja menerima email dari anonymous yang berisi informasi peledakan bom. Dalam surat elektronik tersebut dikatakan bahwa bom akan diledakkan pada pukul sepuluh malam di lima belas lokasi yang ada di Tokyo. Tak main-main, si pengirim surel juga mengirimkan sebuah video di mana lebih dari sepuluh bom dengan jenis C4 telah diletakkan ke berbagai titik utama Tokyo.


"Apakah ini sungguhan?" tanya beberapa polisi yang masih tak percaya dengan isi surel dan video kiriman sosok misterius.


Sontak, seluruh polisi yang bertugas di manapun terperanjat. Inspektur heiji menatap jam tangannya, jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh menit. Artinya waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit sebelum bom-bom itu meledak.


Baru saja dilanda kepanikan atas surel tersebut, kini sebuah breaking news mendadak muncul di layar televisi.


"Telah terjadi aksi pengeboman besar-besaran di Tokyo. Beberapa tempat di kawasan Shibuya, Shinjuku, ikeboruko, Ginza, dan juga Minato diserang dengan aksi terorr bom!" Narator berita melaporkan kejadian lengkap dengan rekaman yang merekam momen terjadinya ledakan. Mulai dari gedung Rumah Sakit, pusat perbelanjaan, hingga gedung-gedung pencakar langit di sekitar menara Tokyo.


"Oh, tidak! Bom itu sudah mulai meledak!" seru para polisi dengan panik.


Seto Tanaka bergegas membuka koneksi internet di komputernya. Ada banyak artikel baru yang memuat berita kejadian tersebut. Polisi yang berada dalam pusat penampungan laporan publik, mendadak menerima banyak pengaduan dan laporan gawat darurat dari publik.


Di waktu yang sama, mereka mendapat perintah langsung dari kepala kepolisian nasional untuk segera bergerak ke titik yang akan terjadi peledakan. Kazuya Toda selaku kepala keamanan nasional pun turut andil dengan memberi perintah untuk mendirikan markas besar penanggulangan terorisme di sejumlah jalanan utama Tokyo.


"Kepolisian terdekat harap menuju ke lokasi sekarang juga!" Markas pusat kepolisian Jepang turun langsung memberi komando.


Lantas, seluruh anggota kepolisian dari berbagai divisi diturunkan, termasuk tim penjinak bom dan anti terorr. Mereka memakai atribut pengamanan yang lengkap serta membawa peralatan senjata api. Seto Tanaka dan Ai Otaka menaiki mobil dan segera meluncur ke salah satu lokasi terjadinya pengeboman bersama polisi lainnya.


"Kami dari kepolisian Metropolitan divisi satu penyidik, akan menuju menara Tokyo." Seto Tanaka yang duduk di samping Ai Otaka langsung memberi laporan lewat handy talk.


"Laporan diterima!"


Mobil yang dikemudikan Ai Otaka meluncur bersama puluhan mobil patroli dan armada tempur dari kepolisian Metropolitan. Namun, saat di perempatan jalan, Ai malah membelokkan mobil ke kiri berlawanan arah dengan rombongan mobil polisi lainnya.


"Kenapa kau malah melewati jalan ini?" tanya Seto kaget sekaligus heran.


"Aku tahu arah jalan yang lebih cepat untuk sampai ke menara Tokyo," ujar Ai yang terlihat cukup tenang.


Jalanan ibu kota Jepang saat ini sungguh ramai dengan suara sirene yang saling bersahut-sahutan. Masyarakat dibuat bertanya-tanya akan apa yang terjadi sehingga membuat kepolisian bergerak serempak dan memadati jalan raya.


Para pengendara terpaksa harus berhenti sejenak untuk membiarkan mobil-mobil polisi dan pemadam kebakaran itu melintas. Hal itu tentu membuat kemacetan terjadi di mana-mana. Sialnya, mobil yang dikendarai Seto dan Ai turut terjebak dalam kemacetan panjang bersama pengendara lainnya.


"Aargght, kita malah terjebak macet!" Seto mengusap wajahnya dengan kasar. "Ini semua salahmu! Kalau saja kita ikut rombongan, pasti kita tidak sesial ini."


"Hei, kau mau ke mana?" tanya Seto yang tentu saja tidak digubris oleh anak jenderal itu.


Ai Otaka menghampiri salah satu pengendara motor besar, lalu menunjukkan lencana dan id card kepolisian miliknya. "Aku polisi. Sekarang sedang gawat darurat. Tolong pinjamkan aku motormu!"


Pengendara motor tersebut langsung turun dan membiarkan Ai menggunakan motornya. Seto yang melihat dari kaca mobil, tentu saja terkesiap. Pasalnya, Ai yang telah menunggangi motor, kini memutar balik arah dan meninggalkannya yang terjebak kemacetan.


"Sialan! Padahal dia sendiri yang membuat kami terjebak kemacetan, tapi sekarang dia malah meninggalkanku!" geram Seto yang kini berpindah ke kursi pengemudi.


Megumi Jun tiba di departemen kepolisian metropolitan. Kedatangan kepala kepolisian metro itu mengalihkan suasana kacau balau karena kesibukan para polisi dalam memantau dan menerima laporan.


Salah seorang pejabat Metropolitan langsung menghampirinya dan memberi hormat. "Kepala, maafkan kami harus meminta bantuan Anda di saat Anda belum resmi kembali bertugas."


"Tidak apa-apa. Apa yang terjadi?"


"Situasi Tokyo sedang gawat darurat karena serangan teroriss!" sahut mereka dengan raut panik.


Pandangan Jun teralihkan pada siaran berita yang ditayangkan di ruangan itu. Ia maju mendekat, untuk memerhatikan pemberitaan yang sedang berlangsung. Dahinya sontak mengerut diikuti sepasang alis yang hampir menyambung ketika menyadari sebuah keganjilan yang terdapat pada tayangan itu.


"Tayangan ini ...."


Di waktu yang sama, inspektur Heiji bersama anggotanya tiba di salah satu Rumah Sakit yang juga mendapatkan serangan teroriss. Baru saja turun dari mobil, mata mereka malah terbelalak seketika.


Sambil menatap kaku gedung Rumah Sakit tersebut, ia bergumam, "Ti–tidak mungkin!"


Detektif Shu bersama anggota lainnya turun dari mobil dan berjalan sempoyongan sambil menatap tak berkedip ke gedung asrama kepolisian.


"Apa-apaan ini?!" pekik Detektif Shu tampak mengatupkan rahang.


Begitu juga dengan ratusan polisi yang dikerahkan di berbagai tempat terjadinya peledakan. Mereka yang tiba dengan seragam keamanan yang lengkap, sontak dibuat tercengang akan fakta yang mereka lihat dengan mata telanjang.


Tidak ada bom. Tidak ada peledakan. Tidak ada aksi teror. Tidak ada apa pun yang terjadi! Sejumlah tempat yang mereka datangi tampak aman seperti biasa. Dengan kata lain, surel misterius, video peledakan di sejumlah gedung, rekaman drone peledak yang diterbangkan, laporan publik, artikel internet hingga breaking news itu hanya rekayasa semata. Sekali lagi, semua itu hanya rekayasa!


"Kita tertipu!" seru para polisi yang mendatangi setiap tempat peledakan yang dilaporkan dalam berita.


"Apakah ini yang disebut dengan kena prank?" ujar mereka tak percaya kalau ada yang berani menipu organisasi kepolisian.


Inspektur Heiji mendadak naik pitam karena dirinya beserta ratusan polisi yang dikerahkan ternyata telah ditipu habis-habisan. Kata-kata makian dan sumpah serapah lantas meloncat keluar dari mulutnya.


"Kurang ajar! Dasar gila! Sialan! Bedebah! Siapa yang berani-beraninya menipu polisi Jepang?! Apa dia tidak tahu kepolisian Jepang merupakan salah satu kepolisian yang terkuat dan tercepat tangkas di dunia?!" cerocos inspektur Heiji dengan suara meledak-ledak, "ini tidak bisa dibiarkan! Mereka harus berkenalan dengan inspektur terhebat di Metropolitan bernama Heiji! Jika seperti ini aku jadi benar-benar ingin meledakkan bom!" geram inspektur Heiji sambil menggoyang-goyangkan tubuh anak buahnya hingga tampak terhuyung ke sana-kemari.


Tak lama kemudian, terdengar sebuah perintah dari komando pusat. "Ini dari markas pusat. Perintah dibatalkan dan telah dicabut, setelah beberapa lokasi dinyatakan aman dan tidak ada aksi apa pun."


Inspektur Heiji mengambil handy talknya lalu memberi laporan. "Ini dari divisi investigasi metropolitan, telah dikonfirmasi bahwa tidak ada ledakan yang terjadi di Rumah Sakit Tokyo. Pelakunya adalah orang iseng yang sakit jiwa, tidak waras atau orang yang butuh perhatian. Ciri-cirinya ... buruk rupa!" teriaknya dengan penuh emosi.


.


.


.


kira-kira Rai berhasil gak dengan aksinya kali ini? bagaimana dengan Shohei sendiri? Nantikan jawabannya di next chapter. btw, Karen dan Darren udah update untuk chapter terbarunya, silakan baca.


jangan cuma baca doang, dilike juga, dikomen juga, kalo pengertian vote dan gift juga 😍🤣