Never Not

Never Not
Ch. 44 : Polisi Pindahan



"Tapi, sayangnya tak ada satu pun sidik jari yang terdeteksi dalam kain itu," tutur Araki dalam sambungan telepon.


"Benarkah?" tanya Shohei tak percaya. Karena seingatnya, pelaku sempat menarik lengan bajunya. "Apa mungkin ... pelaku menggunakan sarung tangan?" duganya sambil memicingkan mata.


"Iya kemungkinan seperti itu. Karena dari hasil pengecekan, alat mendeteksi sejumlah jaringan kecil yang menempel dalam kain itu."


"Apa yang terbaca?" tanya Shohei cepat.


"Kulit," ucap wanita itu, "pelaku menggunakan sarung tangan berbahan kulit."


Mata Shohei melebar. "Jenis apa?"


"Aku sangat yakin dia memakai sarung tangan kulit jenis haki.


"Ya, itu sudah pasti pelaku. Jika tangan perawat, seharusnya mereka memakai sarung tangan berbahan latex," ucap Shohei mengangguk-angguk penuh keyakinan. "Arigatou gozaimasu, Araki-san."


Meski gagal mengetahui identitas pelaku dari sidik jari, tetapi ia cukup bersyukur mendapat ciri-ciri yang digunakan pelaku saat itu. Namun, mencari tahu pelaku dengan setitik petunjuk ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Lagipula, ada hal yang lebih penting daripada pelaku penusukan dirinya. Yaitu, target Mr. White dan Black Shadow selanjutnya.


Shohei kembali ke meja kerjanya, kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi Rai.


"Target kita selanjutnya jangan sampai luput dari pengawasan," perintah Shohei dengan suara yang terdengar serius.


"Percayakan padaku," jawab Rai yang tengah bersembunyi di balik tembok. Ia tampak menurunkan bagian depan topi yang digunakannya sebelum berjalan membuntuti seseorang untuk mengawasinya. Ini akan menjadi bagian dari aksi mereka selanjutnya.



Siang yang tak begitu dingin, Yuriko kembali ke apartemen Shohei setelah menyelesaikan mata kuliahnya. Ia juga membawa barang belanjaan berisi daging segar, sayuran, dan beberapa bumbu dapur lainnya yang dibeli di supermarket terdekat. Ya, tak seperti pagi tadi yang hanya menyiapkan makanan siap saji, siang ini dia justru ingin memasak sendiri.


"Yosh! Siang ini aku akan membuat cream sup dan steak daging rasa cintaku padanya. Akan kubuktikan kalau aku bisa memasak apa pun."


Yuriko mulai memasang celemek di badannya. Ia mulai mempersiapkan bumbu dan bahan sesuai petunjuk resep yang ada di internet.


"100 ml air." Yuriko membaca petunjuk memasak cream sup. Ia mengambil gelas takar lalu menuangkan air sesuai takaran yang tepat. Ia membungkuk dan mensejajarkan kepalanya dengan gelas takar untuk memantau pergerakan air sampai benar-benar tenang. Ternyata air yang dituangnya berhenti di angka 90ml.


"10 ml lagi. Harus sesuai takaran. Jangan sampai terlalu kental," ujarnya sambil mengingat perkataan Rai tadi yang mengatakan jika nasi kare buatannya tempo hari terlalu kental.


Yuriko kembali menuangkan air ke dalam gelas takar. Sedikit saja. Namun, yang ada isi air tersebut menjadi 150ml.


"Kenapa malah kelebihan?" keluh Yuriko kelabakan. Ia membuang sedikit air dengan penuh kehati-hatian agar takarannya menjadi genap 100 ml. Alih-alih telah sesuai takaran, yang ada volume air berkurang menjadi 70ml.


"Aargghtt!" geramnya setengah frustrasi. Namun, sedetik kemudian semangatnya kembali berkobar saat mengingat tatapan mata dan lengkungan senyum Shohei padanya.


Satu jam berlalu, Shohei memutuskan balik ke apartemennya untuk makan siang. Sebenarnya, ia tak memiliki niat untuk pulang, hanya saja Yuriko meneleponnya dan memberi tahu jika makan siang telah disiapkan. Tak mau mengecewakan Yuriko yang telah menyiapkan makan siangnya, ia pun memutuskan pulang.


Setibanya di apartemen, Shohei tercengang melihat kondisi dapur yang berantakan. Di mana peralatan memasak masih berhamburan di atas meja masak, dan sisa potongan sayur juga berceceran di lantai. Ini berbanding terbalik dengan keadaan pagi tadi saat gadis itu menyiapkan sarapan untuknya.


Shohei mendapati Yuriko tengah menata menu makan siang di meja makan.


Sepertinya kali ini dia benar-benar memasak sendiri.


"Konnichiwa (selamat siang), Shohei-san," sapa Yuriko begitu melihat kehadiran Shohei.


"Arigatou untuk makan siangnya," ucap Shohei sambil membuka mantel tebal yang melekat di badannya, kemudian menarik kursi dan langsung mendudukinya, "woah, steak daging?" serunya melihat menu makan siang ala hotel yang disajikan Yuriko.


"Ya, steak daging. Aku membeli daging segar saat pulang dari kampus."


"Oh, iya, aku lupa memberimu uang belanja. Tolong beritahukan berapa uang yang telah kau keluarkan, biar kuganti," ucap pria itu menipiskan bibirnya.


"Ah, tidak apa-apa." Yuriko tampak sungkan, "daripada memikirkan itu, lebih baik makanannya cepat dimakan selagi cream supnya masih hangat," ucapnya yang sudah tak sabar mengetahui reaksi Shohei saat menyantap masakan yang cukup menguras tenaga dan kesabarannya.


"Bagaimana dengan Yuriko-san sendiri?"


"Eh?" Yuriko sedikit bingung. Namun, tak lama kemudian dia memahami maksud pria itu. "Ah, Shohei-san tak perlu pikirkan aku. Ini menu kupersembahkan khusus untukmu. Lagi pula aku sudah makan saat di kampus tadi."


Shohei mengambil pisau dan garpu untuk mulai mencicipi steak daging. Anehnya, ia tampak kesulitan saat hendak memotong daging. Sampai-sampai harus menggunakan sedikit tenaga untuk mengiris daging tersebut. Hanya dengan mengiris ia sudah bisa menebak tekstur daging itu tak empuk seperti saat ia makan di restoran-restoran.


Ketika Shohei mendekatkan sepotong kecil daging itu ke mulutnya, samar-samar aroma hangus menggelitik hidungnya.


Shohei menggeleng pelan lalu langsung memasukkan potongan steak itu ke dalam mulut. Mata pria itu membesar seketika tatkala mengunyah perlahan daging steak.


"Bagaimana rasanya? Apakah enak?" tanya Yuriko yang melihat ekspresi wajah Shohei.


Menarik senyum paksa, pria itu hanya mengangguk-angguk tanpa berkata apa pun.


"Ah, sedang menyantap hidanganku saja dia bisa sekeren ini. Pasti masakanku kali ini sulit dideskripsikan dengan kata-kata." Batin Yuriko sedang berbicara. Gadis itu merasa bahagia karena merasa berhasil dengan masakannya kali ini.


Shohei menelan paksa daging yang belum hancur sempurna di mulutnya. Ini melebihi dugaannya. Daging steak itu sangat keras saat digigit. Tampaknya, Yuriko memasak daging itu dengan tingkat kematangan yang penuh bahkan mungkin over cook.


Aku tidak pernah makan daging sekeras ini. Jika dipaksa untuk menghabisi steak ini mungkin gigiku bisa copot semua.


"Shohei-san, apa kau tidak suka dengan masakanku?" tanya Yuriko yang sedari tadi memerhatikan raut Shohei.


Shohei menggeleng cepat. "Gomen ne Yuriko-san, sebenarnya ... aku sedang sakit gigi," jawabnya beralasan.


"Hah? Astaga, aku tidak tahu. Kalau begitu, kau tidak perlu memaksa untuk memakan masakan ini." Yuriko langsung menarik piring steak tersebut dan itu membuat Shohei lega seketika. Namun, ia malah menyodorkan semangkok cream sup pada pria itu. "Sekarang cobalah yang ini. Aku memasak cream soup ala Italia yang berbahan dasar labu."


"Arigatou, akan kucoba." Baru saja melihat tekstur cream soup tersebut, sudah membuat dahi pria itu kembali mengerut.


Shohei kembali membatin seraya mengaduk-aduk cream sup encer tersebut layaknya secangkir susu hangat.


Aku baru pertama kali melihat cream soup dengan tekstur encer seperti ini. Ini bahkan lebih cocok dibilang sirup daripada cream soup. Seharusnya dia tak perlu memaksakan diri untuk membuat masakan Eropa.


Saat memasukkan sesendok cream soup ke dalam mulutnya, Yuriko langsung menyerbunya dengan pertanyaan.


"Bagaimana rasanya?"


Sempat terdiam beberapa detik, pria itu berkata, "Oishi!"


Pada saat mengatakan kata itu, Shohei menarik bibirnya secara alami dengan wajah yang berkerut karena menahan rasa asin.


"Ah, yokatta! (Syukurlah)" ucapnya menghela napas. Namun, detik berikutnya gadis itu malah menggebrak meja secara tiba-tiba hingga membuat Shohei tersentak kaget. "Kebetulan aku memasaknya di panci dan itu cukup banyak. Jadi, Shohei-san bisa memakannya lagi saat makan malam nanti," ucapnya seraya memajukan wajahnya ke depan.


Mendengar hal itu, tentu saja membuat mata Shohei membeliak dengan napas yang tertahan. Baru sesendok saja rasa cream soup itu sudah membuatnya menderita, apalagi harus menghabisi sepanci.



Shohei telah kembali ke kantornya. Ia menuju ruang Kepala Kepolisian Metropolitan karena mendapat panggilan dari petinggi Kepolisian Metropolitan tersebut. Pasalnya, penampilan pria itu terlihat urak urakan.


"Aku menambah satu anggota baru di devisimu. Dia masih muda, tangkas, dan cekatan. Kau bisa mengandalkannya," ucap Kepala Kepolisian Metropolitan.


Shohei mengernyit heran. Pasalnya, devisi yang berada dalam pengawasannya sudah cukup orang, dan mereka adalah detektif pilihan yang dikenal ketangkasan, kecermatan, serta kehati-hatian dalam bekerja. Itulah kenapa devisi yang berada di bawah naungannya disebut devisi elit. Namun, entah kenapa Kepala Kepolisian Metro malah memasukkan orang baru yang belum teruji sepak terjangnya.


Di ruang devisi penyidik, beberapa polisi tampak kesal melihat polisi yang baru saja dipindahkan itu.


"Hei, kenapa kau tidak memakai seragam?" tegur Seto Tanaka pada polisi itu.


"Aku adalah detektif. Seorang detektif tidak membutuhkan seragam, karena seragam akan memudahkan dia dikenali sebagai polisi di ruang publik," ucapnya dengan nada penuh penekanan.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan semua polisi langsung menoleh ketika Shohei masuk secara tiba-tiba.


"Mana orang baru?" tanya Shohei.


Polisi yang berada tepat di belakang Seto Tanaka lantas tersenyum kecil seraya mengangkat tangannya.



.


.


.