Never Not

Never Not
Chapter 2



Somebody said that falling in love is a very private party and now Nada feels like an unwanted spectator


 of this stage of love.


Nada memperhatikan sahabatnya, Frinta, sedang tertawa kecil dengan jokes kecil yang dikatakan pacarnya. Frinta sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya yang tengah bertugas di Bangkok. Mereka sudah berpacaran selama lima tahun dan menjalani LDR selama dua tahun. Frinta sendiri sudah berencana akan mengunjungi pacarnya nanti di Bangkok dan sudah mempersiapkan cutinya untuk itu.


Nada tidak berkeberatan dan turut bahagia dengan kebahagiaan Frinta. Hanya saja, ada sedikit kepahitan dari dirinya untuk dirinya sendiri. Sudah berapa kali Nada merasa tertipu dengan yang namanya cinta. Ditambah


kisahnya dengan Adrian benar-benar berakhir dengan buruk.


Nada bertemu Adrian sekitar tiga tahun yang lalu saat umurnya 25 tahun. Kala itu, Nada baru saja patah hati ketika seseorang yang ia sukai sejak zaman kuliah tiba-tiba menikah ketika beberapa bulan setelah mereka lulus kuliah. Padahal selama di bangku kuliah dia bisa dibilang dekat dengan Nada. Tiba-tiba saja dia memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihan keluarganya.


“Aku merasa cocok dan nyaman, Nad, dengan Kyara.”


Nada ingat sekali wajah pucatnya saat itu. Cocok dan nyaman? Lalu kebersamaan mereka selama ini itu apa?


Semua banyak yang mengatakan bahwa memang Nada saja yang tidak pernah sadar kalau Bagas memanfaatkannya. Nada saja yang sudah terlalu cinta bahkan tidak tahu bahwa Bagas itu cuma senang dengan keberadaan Nada. Nada saja yang tidak pernah mendengarkan nasihat teman-temannya dengan baik.


“Dia pernah bilang dia sayang sama aku kok. Cuma ya dia belum yakin aja.”


Nada ingat sekali sahabatnya, Theo, sampai menepuk jidat ketika Nada dengan polos menceritakan itu kepadanya.


“Duh, Nad. Gue kuliah di Bandung sih. Kalau nggak, lo udah gue susul ke Surabaya dan si Bagas itu udah gue sikat.”


Begitulah Nada, kadang terlalu naif dan percaya dengan segala hal baik yang diucapkan orang lain. Karena... ya memang ada alasan kita tidak mempercayai perkataan orang yang kita cintai? Bukannya malah perkataan mereka itu yang paling kita anggap dan kita percayai ya?


Begitulah Nada memulai patah hati pertamanya di usia 20-an. Tidak lama setelah itu, datanglah Adrian, yang ujung-ujungnya juga menorehkan luka.


Frinta masih terus menelepon Arga, pacarnya. Mereka berdua sendiri sudah selesai makan.


“Ta, masih lama?” tanya Nada.


Frinta menyengir pelan. “Eh, sorry ya, Nad.” Frinta menampilkan wajah penuh sesal. Gadis itu diam sejenak kemudian memutuskan untuk nanti saja melanjutkan pembicaraannya dengan Arga.


“Naaadddd kita pulang aja yaaa. Gue mau lanjut lagi sama Arga niiihhh.”


“Dasar lo. Gue kira lo matiin telepon trus mau lanjut sama gue.”


“Hehehe... kalau lo kan gue liatnya tiap hari.”


Nada berdecak. “Si Arga juga teleponan dengan lo kan berkali-kali.” Sedetik kemudian Frinta langsung menoyor pelan Nada.


“Ga usah sok posesif gitu lo. Biasanya juga malah pengennya dibiarin sendirian biar bisa bersemedi dengan ide-ide lo.”


Nada tertawa polos. “Tau aja lo. Gue mau nyari novel baru punyanya Crystal Jung nih.”


“Tuh kan. Ya udah deh, cabut aja ya kita sekarang.”


Nada segera bergegas ke toko buku. Dia sebenarnya sudah lumayan lama tidak mengikuti novel-novel romansa lagi. Bahkan novel barunya Cecelia Ahern saja belum sempat dia beli. Namun, beberapa hari lalu dia tidak sengaja melihat salah satu komentar mengenai buku baru dari Crystal Jung, penulis Indonesia yang memiliki nama samaran tersendiri yang mengarah ke Korea Selatan tersebut. Nada pernah membaca dua novelnya dan dia menyukai alur cerita yang disuguhkan. Kali ini, sinopsis yang diberikan seperti hal yang tengah Nada alami, kehilangan hal-hal yang entah nyata atau tidak.


Setelah mengambil buku yang dia incar, Nada memutuskan untuk melihat-lihat bacaan lain. Sampailah dia di bagian majalah dan melihat sosok yang ia kenal (atau lebih tepatnya hapal) terpampang nyata di sampul majalah gaya hidup terbaru.


Seorang gadis dengan paras ayu dengan balutan cap blazer desainer ternama dengan riasan natural, merangkul erat model lainnya dengan paras oriental serta tube dress yang dilapisi blazer hitam. Keduanya menatap kamera dengan tajam namun keanggunan tetap terpancar oleh keduanya. Sesuatu


yang Nada tahu tidak dia miliki.


Dia menatap lama sampul majalah tersebut. Wanita yang berada di sampul tersebut adalah Arinta, wanita yang selama ini membuat Adrian tergila-gila. Sahabat dekatnya yang sudah dia sukai sejak mereka masih


sama-sama menginjak bangku SMA. Seseorang yang bertahun-tahun menggantungkan perasaan pria tersebut bahkan hingga mereka dewasa. Nada yakin, alasan kenapa Adrian tiba-tiba kabur adalah Arinta. Karena dia memeriksa unggahan Arinta di akunnya ketika Valentine lalu dan tampak ada gambar bunga serta tangan yang memberikan tersebut. Jam tangan yang terlihat di situ, adalah jam tangan yang Nada kenal.


Begitulah kalau seandainya pungguk merindukan bulan. Dalam hal ini Nada merasa dialah pungguknya. Tapi, bagaimana kita bisa mengelak kalau bulannya sendiri lah yang menawarkan dirinya kepada kita.


Perkenalan Nada dan Adrian diawali dengan kerjasama perusahaannya dengan Adrian. Ketika Nada bekerja sebagai Talent Acquisition di perusahaannya yang lama, ada salah satu booth acara yang ia


datangi dan Adrian merupakan salah satu yang memberikan presentasi karena dia adalah salah satu VP dari perusahaan teknologi yang sedang berkembang di Indonesia. Kejadian mereka bertemu pun karena booth mereka bersebelahan dan saat itu, Adrian membutuhkan charger yang dimana Nada memiliki tipe


yang sama.


Terdengar klise. Frinta bahkan yakin bahwa sebenarnya itu akal-akalan Adrian saja untuk berkenalan. "Sejak kapan sih itu charger di booth sebanyak itu nggak ada yang punya."


Namun, intinya mereka akhirnya saling mengenal, saling mengikuti akun sosial media satu sama lain, dan menjadi dekat – entah bagaimana kita mendeskripsikan arti dekat tersebut.


Nada baru mengetahui bahwa Adrian merupakan teman kecil dari Arinta, ketika melihat fotonya terpajang di apartemen Adrian. Dalam beberapa kali kebersamaan mereka, Adrian pun sering membahas soal Arinta. Adrian dan Arinta sendiri pun tidak terlalu sering bertemu, terutama ketika karir Arinta sebagai penyanyi mulai melejit dan dia sibuk tur ke berbagai tempat. Namun, dari cara Adrian bercerita tentang gadis itu, Nada tahu bahwa ada yang tak tergantikan di hati Adrian.


Dua tahun Nada bersama Adrian, Nada sadar bahwa selalu ada bayangan Arinta di sana tetapi dia tetap berusaha merengkuh apa yang ia dan Adrian miliki.


Pada akhirnya, sesuatu yang dipertahankan itu pun juga harus ia lepas.


Nada meletakkan majalah tersebut dengan mata nanar. Ketika dia menatap ke depan, Nada berteriak kecil ketika melihat seseorang tengah menatap dia dengan ekspresi sedikit bingung.


“Kamu nggak apa-apa?” hal itu langsung dilontarkan pria tersebut.


Nada meneliti pria tersebut. Rambutnya berpotongan rapi dan klimis. Kulit pria ini benar-benar bersih dan cerah. Nada yang tingginya 165 cm ini, sepundak pria di hadapannya ini. Blue Flannel dari Thom Browne membungkus tubuh pria ini dengan wangi parfumnya yang maskulin dan segar. Intinya ini adalah tipikal pria yang pasti menjadi incaran sejuta umat manusia.


Tapi, anehnya kenapa pertanyaannya adalah apakah Nada baik-baik saja?


“Maaf?” Nada berusaha memperjelas pertanyaan dari pria ini.


“Kamu nggak apa-apa. Saya kalau ketemu kamu pasti selalu lagi nangis atau murung.”


Hah dimana?


Nada terdiam sejenak namun kemudian matanya segera membulat.


Aduh, ini sih orang yang dia “siram” dengan Matcha Latte segelas penuh.


“Oh iya, aduh, maaf ya mas untuk kejadian yang kemarin.” Nada minta maaf kembali. Mungkin wajah dia tadi melihat majalahnya sampai super murung kali ya, persis dengan muka bengongnya saat ngantri di Starbucks dan menumpahkan seluruh isi minumannya.


“Saya nggak apa-apa kok, Pak.”


Natya tertawa kecil. Barusan dipanggi mas, sekarang dipanggi bapak. Apa wajahnya ini tua sekali. Dia pun jadi ikutan melirik majalah yang baru saja dipegang oleh Nada. Lalu, kembali melihat wajah tersebut.


“Kamu nggak mau nangis kan?”


Ngapain sih nanya yang begituan? Freak!


“Nggak, Pak. Hm, saya pamit duluan ya.” Nada buru-buru bergegas ke arah kasir. Natya mengikutinya dari belakang. Nada merasa dibuntuti dan jadi semakin ingin cepat keluar. Begitu dia keluar dari toko buku, Nada


mendengar ada yang memanggil namanya. Kaki Nada langsung berhenti melangkah.


“Kok tau nama saya?” Nada jadi ngeri sendiri dengan pria ini.


“Kan ada di cup Starbucks yang kamu kasih ke saya kemarin. Thanks, anyway, for that coffee. Would you


like to have another one?”


Jadi, kalau ditanya kenapa Nada juga mau-mau aja terdampar lagi di Starbucks sama mas-mas ini, ya mungkin jawabannya.... ya mencoba aja. Menambah pergaulan juga terus juga si Natya ini kelihatannya nggak aneh-aneh banget kok orangnya.


“Udah berapa lama kerja di Frableu?” tanya Natya ketika mereka keluar dari Starbucks. Nada sendiri yang meminta mereka nggak usah berlama-lama di sana, jadi cukup takeaway aja.


Tinggal kalau mau ngobrol ya udah, di perjalanan mereka mau ke parkiran aja lah.


“Kok tau?”


Natya menunjuk lanyard yang tergantung di leher Nada.


Oh iya juga.


“Mau tahun keempat, pak. Eh, mas.”


“Kamu emang umur berapa ya?”


“28.”


“Oh, ya udah sih, cuma beda tiga tahun aja. Panggil nama aja.”


“Oke..” Nada terdiam lalu lanjut bertanya. “Kalau kamu sendiri, kerja di mana?”


“Di mana-mana.”


Dih jawaban apaan tuh. Tapi, Nada kembali memperhatikan penampilan Natya yang pastinya terlihat sederhana tapi label di balik pakaiannya pasti bukan harga biasa-biasa aja. Di mana-mananya ya mungkin karena tempat usahanya berserakan di mana-mana. Nada pun memutuskan untuk tidak mau terlalu membahas soal pekerjaan dengan Natya ini.


“Jadi, kamu memang suka Matcha Latte banget ya? Kemarin itu juga sampai bawa dua kan di tangan.”


Nada merasa sedikit malu mendengar pernyataan itu. Agak aneh juga sih waktu itu dia mau sampai minum dua cup Matcha Latte. Akhirnya dia cuma bisa meringis saja dengan statement itu.


“Hm, Nat. Aku duluan deh ya.”


“Loh, kita kan markirnya bukannya searea ya.”


“Nggak sih. Tiba-tiba ada yang harus aku beli dulu. Em... biasalah kebutuhan cewek di tiap bulan,” Nada berusaha melarikan diri dari suasana kikuk mereka.


“Oh...” Natya terdengar menimbang. “Oke deh, nggak papa. Bye, Nada. Take care.”


“You too.” Nada menampilkan senyum ramahnya. Gadis itu segera berbalik pergi untuk ke arah eskalator turun. Baru saja beberapa langkah dia bergerak, Natya sudah memanggil namanya.


“Nada!”


Nada menoleh ke arah pria tersebut yang sekarang sedang menatapnya datar. “Yang berikutnya, kalau bisa jangan pas kamu mau nangis ya.”


Nada mengernyit tapi akhirnya mengangguk saja.


Terserah saja. Lagian, belum tentu juga akan bertemu lagi.


----


Natya melihat akun Instagram yang sedang dia berusaha telusuri jejaknya.


Bianca Karina Nada. Natya menghapal nama yang tertera di lanyard Nada dan iseng mencari


akun social media-nya. Foto yang ada di akun Nada tidak terlalu banyak. Justru Natya malah tertarik dengan akun keduanya yang dia tulis di profile Instagram-nya.


@bleuskynada


Isinya adalah foto-foto langit dengan caption kapan dan dimana Nada mengabadikan momen tersebut. Beberapa yang Natya lihat gadis tersebut sering merekam langit yang ada di Yogyakarta. Setidaknya dalam setahun ada lima sampai tempat yang ia unggah terkait kota tersebut.


Hingga Natya sampai di suatu foto yang ketika melihat tanggalnya, dia merasa seakan dia tahu bagaimana kondisi Nada saat itu.


15 Februari 2018.


Rumah. The day after.