
Seina mengambil kelopak bunga camelia yang dijatuhkan Black Shadow sebelum menghilang dari pandangannya.
Selalu saja begini ....
Seina menggenggam erat kelopak bunga camelia itu. Kemudian kembali mengingat pertemuan singkat mereka beberapa menit yang lalu.
Perasaan ini selalu saja seperti ini ... perasaan yang membingungkan dan sulit untuk ditafsir ....
Seina mengilas balik awal pertemuannya dengan pria misterius itu. Sejak awal bertemu dengannya, pria itu selalu membuatnya kesal dengan sikap dan tindakannya. Tetapi, di waktu yang sama juga membuatnya penasaran hingga terus terngiang dalam ingatannya.
Sorot mata yang berpendar keemasan, suara berat yang terdengar maskulin, aroma tubuh harum bagaikan bunga camelia yang sedang mekar di musim semi, serta senyum khas yang memesona. Semuanya sulit untuk terlupakan. Daya tarik pria itu begitu kuat, meskipun ia tak pernah melihat wajah utuhnya. Menjadikan kebencian dan kekaguman pada pria itu hanya dibatasi kertas tipis.
Di sisi lain, Yuriko duduk memeluk lutut di depan pintu kamar Rai. Ia tak sabar bertemu pria itu untuk menanyakan kabar tentang Shohei. Namun, hingga kini Rai belum juga pulang.
"Kenapa saat aku membutuhkannya dia malah tidak ada!" cetus Yuriko kesal.
Yuriko mendadak termangu. Ia baru menyadari tak tahu banyak tentang Rai. Dia bahkan tak tahu pekerjaan pria itu selama ini. Mendadak ia penasaran untuk mengetahui bagaimana Rai bisa dekat dengan Shohei yang berstatus sebagai penyidik di Kepolisian.
"Hei, cepatlah pulang! Ada banyak yang ingin kutanyakan padamu!" ucap Yuriko berbicara di depan pintu kamar Rai.
Malam semakin larut. Awan gelap menggantung di atas sana. Kamar rawat Shohei tampak sepi tanpa seorang pun yang menjaganya. Sebenarnya, Seina yang harus berada di sisi Shohei sekarang seperti malam sebelumnya. Namun, entah kenapa hingga kini gadis itu belum juga muncul.
Seorang pria bermasker yang memakai seragam perawat berjalan di koridor Rumah Sakit khusus ruang VIP. Sudah merupakan hal biasa jika koridor VIP di Rumah Sakit ini sangat sepi dan tenang, letaknya pun berbeda dengan ruang-ruang lainnya. Kamarnya memiliki banyak keunggulan, salah satunya ruangan yang jauh lebih luas.
Masih berjalan, aura lelaki itu sungguh mencekam tak seperti perawat pada umumnya, malah terlihat seperti malaikat maut. Matanya yang tajam bergerak waspada sebelum akhirnya tertuju pada sebuah ruangan. Berhenti di depan pintu ruangan tersebut, ia merogoh secarik kertas yang tersimpan hanya untuk mencocokkan ruangan yang ada di depannya dengan yang tertulis di kertas. Sama!
Ia membuka pintu dengan perlahan dan melangkah masuk tanpa mengeluarkan suara apa pun. Mata elangnya langsung tertuju pada ranjang pasien di mana ada tulisan nama Shohei di sana. Ia terus berjalan, mendekat pelan ke arah seseorang yang terbaring di atas tempat tidur itu.
Hening menggelitik ruangan itu. Hanya ada sepasang mata elang yang tertuju pada pasien. Semakin dekat, matanya makin memancarkan aura pemangsa. Tepat saat tinggal lima langkah menuju tempat tidur pasien, pria yang menjelma sebagai perawat itu melebarkan mata diikuti ekspresi tercengang. Bagaimana tidak, seseorang yang terbaring di atas ranjang pasien itu bukanlah Shohei, melainkan Black Shadow.
"Huh, lama sekali! Padahal aku sudah menunggu sedari tadi," ucap pria bertopeng itu sambil menghempaskan selimut yang sempat menutupi tubuhnya.
Pria yang sempat terperanjat itu tampak mengancing rahangnya. "Kenapa kau bisa di sini?" ucapnya geram sambil menatap sekeliling ruangan memastikan jika tak ada kamera yang menyorot ke arahnya.
"Aku memang tidak bisa memecahkan kasus, tapi menjebak dan menipu orang sudah menjadi keahlianku," ucap Black Shadow yang kini duduk bersandar di ranjang dengan kedua tangan bersedekap dan kaki bersilang lurus. Ia bahkan tak segan mengedipkan sebelah mata ke pria itu. Menggoda sekaligus mengejeknya.
Ternyata, ketika mengatakan Shohei memiliki bukti, ia telah menebak jika kemungkinan sang pelaku akan mendatangi Shohei untuk melakukan hal yang buruk. Oleh karena itu, ia sengaja menukar keterangan ruangan yang terletak di depan pintu kamar inap Shohei, dengan kamar yang berada di sebelahnya. Dia juga menduplikat papan tanda pengenal Shohei sebagai pasien dan membuat ruangan itu benar-benar terlihat hidup dengan berbagai peralatan medis. Dengan kata lain, ruangan yang asli di mana Shohei berada saat ini ada di samping kamar tersebut.
"Jadi, begitu rupanya." Pria itu tersenyum jahat begitu menyadari dari awal ini hanya jebakan dari Black Shadow. Sialnya, bosnya justru termakan umpan pria bertopeng itu. "Karena kau sudah di sini, jadi ... aku akan menghabisimu terlebih dahulu," ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu di dalam saku celananya. Itu adalah pisau kecil yang memiliki ujung runcing dan sedikit melengkung.
Mata Black Shadow terbuka lebar. Ia terentak ketika pria itu maju dan menyerangnya secara bersamaan. Bahkan turut menghunuskan pisau ke arahnya. Untungnya, Black Shadow menggunakan bantal sebagai tameng, sehingga pisau itu justru tertusuk di bantal tersebut. Pria itu mencabut pisaunya, dan kembali menghunuskan pisau ke arah Black Shadow.
Black Shadow masih menggunakan bantal sebagai pelindung dirinya untuk menangkis benda tajam yang terus mengejarnya dari segala sisi. Dacron mulai beterbangan di sekitar mereka seiring bantal tersebut terus tertusuk dan terkoyak.
Black Shadow melempar bantal ke samping karena merasa sudah tak bisa membantunya. Bertepatan dengan itu, pisau kembali mengarah padanya. Untungnya, ia bisa mengelak dengan menyampingkan tubuhnya. Detik berikutnya, ia menyabet tangan pria itu hingga membuat pisau yang dipegangnya terjatuh.
Black shadow melompat dari atas ranjang lalu berpindah cepat ke samping pria itu. Di luar dugaan, pria itu kembali mengambil pisau dan langsung dilempar ke arahnya. Black Shadow menangkap pisau tersebut dengan gerakan tangkas sambil tersenyum miring. Kedua matanya berkilat bagaikan sepasang mutiara hitam yang memancarkan kilauan.
Mereka memutuskan berkonfrontasi dengan tangan kosong. Kedua orang itu bersama-sama mengepalkan kedua tangan mereka ke depan. Tatapan mereka saling mengunci. Tanpa aba-aba, perkelahian dua pria pun dimulai.
Tampaknya Black Shadow mendapati lawan yang tangguh kali ini. Terbukti, meskipun tanpa pisau di tangan, pria yang memakai seragam perawat itu terus menyerangnya. Jelas, pria itu jauh lebih kuat dari segi fisik dan kekuatan. Tapi kecepatan gerak Black Shadow juga sangat baik untuk menangkis setiap serangannya.
Punggung Black Shadow masih berusaha mundur untuk menghalau pukulan-pukulan bringas dari sang lawan. Dengan refleks, Black Shadow meletakkan kedua tangannya ke depan sebagai bentuk perlindungan dari pukulan lawannya. Serangan membabi buta terus mengarah padanya.
"Jadi hanya sampai di situ kemampuanmu?" ledek pria itu tersenyum jahat.
Belum juga bangkit dan berdiri, lawannya malah kembali melayangkan serangan ke arahnya. Dengan segera, ia mengambil tiang infus yang berada di sampingnya, untuk mencekal gerakan pria itu. Lawannya terhuyung seketika menerima pukulan tiang yang mengenai tepat di perutnya. Black Shadow berdiri dengan gagah, menarik sudut bibirnya ke atas seraya memutar tiang infus itu laksana tongkat mayoret.
Kedua pria itu kembali larut dalam pertarungan yang sengit. Keduanya saling berbalas serang, menunjukkan kekuatan masing-masing dengan kemampuan bela diri yang memukau. Ketika Black Shadow menyerang tanpa henti, pria berbadan besar itu mengambil selang infus lalu melilitkan ke lehernya. Pria itu berpindah posisi ke belakang, sambil terus memegang selang infus yang bersilang di leher Black Shadow kemudian menarik dengan kuat.
Black Shadow merasakan lehernya tercekik hingga membuatnya kesulitan bernapas. Ia berusaha melepaskan diri dari lilitan selang infus yang makin kuat. Sambil berjalan, lawannya kembali menarik selang tersebut tanpa ampun. Kaki Black Shadow ikut terseret ke belakang meski ia masih berusaha meronta-ronta. Wajahnya mulai membiru karena kehabisan pasokan oksigen. Ia merasakan dirinya telah di ambang batas kesadaran. Semakin lemah, lemah dan lemah.
Di waktu yang bersamaan, ujung jari Shohei bergerak perlahan.
Seorang pria tua yang baru saja terjaga dari tidurnya langsung mengambil ponsel ketika terdapat panggilan masuk.
"Bagaimana?" tanyanya dengan suara dingin.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak berhasil menghabisi polisi itu semalam," ucap anak buahnya saat telepon tersambung.
Baru saja emosi lelaki itu hendak meledak, suara di saluran telepon kembali menggema di telinganya.
"Tetapi sebagai gantinya, saya berhasil menangkap Black Shadow," lanjut anak buahnya dengan bersuara datar seperti biasa.
"Black Shadow?" tanyanya tak percaya.
"Iya. Black Shadow menjebak kita dengan sengaja mengatakan jika penyidik yang di rumah sakit itu memiliki bukti. Untung saja saya berhasil menangkapnya. Sekarang terserah Tuan, apakah meminta saya langsung membunuhnya atau Anda ingin melihatnya terlebih dahulu," jelasnya kembali.
Tawa pria tua itu pecah seketika. "Bawa dia di gudang tempat gadis itu disekap. Sebelum dia mati, aku ingin tahu seperti apa wajah pria yang tengah dielu-elukan publik."
.
.
.
Visual Rai di novel AR
Visual Rai di sini
Kalian lebih suka yang mana? Gua pribadi prefer yang di AR, aura ngeselinnya lebih keliatan 🤣
btw, aku buat spesial part untuk novel Always Remember. Silakan tengok bagi yang mau baca diary wedding mereka, ya bakal ada nanas2nya 🤣. Rencananya jika kalian suka sama spesial part-nya, mau aku adain sampe 5 bab. ini pertama loh aku bikin spesial part.
.
.
.