
..."Aku masih menantikan untuk mengetahui bagaimana rasanya menangisi dan ditangisi orang yang kucintai....
...~Rai Matsui. Ch. 78~...
...----------------...
Hari ini adalah hari pelantikan Kazuya Toda sebagai ketua badan keamanan nasional. Disiarkan secara langsung, mantan kepala kepolisian nasional itu tengah melakukan sumpah jabatan bersama beberapa pejabat lainnya. Kei yang sedang mengendarai motornya, menyaksikan siaran itu dengan rahang yang mengetat dan mata yang memancarkan kemarahan. Padahal, ia sudah mengumpulkan beberapa informasi terkait hubungan antara pria itu dengan kesembilan orang yang telah tertangkap tangan oleh Black Shadow. Sayangnya, hingga kini Shohei belum memberi aba-aba apa pun.
Di tempat berbeda, Ryo juga tengah menyaksikan siaran langsung pelantikan itu tepat di halaman kantornya. Ia yang baru bergabung di tim itu pun merasa sangsi untuk bisa melawan salah satu pejabat di negeri itu. Kini, ia hanya bisa menunggu perintah selanjutnya dan tugas yang akan ia laksanakan. Anehnya, hingga kini Rai belum mengabari apa pun. Herannya, Yuriko sempat mengatakan pria itu pergi dari apartemennya. Ini semakin aneh karena ia juga tak bisa menelepon kakaknya. Satu-satunya jalan adalah menanyakan langsung pada Shohei.
Berbeda dengan Kei dan Ryo, Shohei dan Yuriko baru saja tiba di Tokyo. Sayangnya, berita pertama yang harus mereka saksikan adalah pelantikan Kazuya Toda yang disiarkan dalam head line news. Selain berita tentang pelantikan sejumlah pejabat, telah tersiar juga kabar jenderal yang akan menggantikan posisi Kazuya Toda di kepala kepolisian nasional. Dia adalah jenderal Otaka, ayah Ai Otaka.
"Kita terlambat! Dia sudah dilantik dengan jabatan baru yang membuatnya lebih kuat dari sebelumnya," ucap Yuriko dengan raut kecewa.
"Tidak ada kata terlambat untuk mengungkap kebenaran!" tandas Shohei dengan mata yang menyorot dalam.
Di sisi lain, Yuta menjelaskan pada Rai tentang misi mereka kali ini.
"Kita benar-benar mendapatkan tangkapan besar. Target kita berbeda dari yang pernah ada, karena dia bukan berasal dari pengusaha gelap, Yakuza, maupun konglomerat bodoh. Dia seorang pejabat tinggi di negeri ini," tutur Yuta.
Pada saat ini, mata Rai tampak melebar ketika Yuta menyebutkan kalimat terakhir. "Pejabat tinggi?" ulang Rai dengan sepasang alis yang terangkat.
"Yah, aku tidak tahu jelas siapa dan apa jabatannya. Aku hanya sekali bertemu dengannya tapi tidak melihat wajahnya. Yang pasti, aku mengetahui letak harta tersembunyi yang dia simpan selama ini.
"Bukankah ini sangat berisiko?" Rai tampak ragu-ragu.
Yuta memetik jari sambil berkata, "Justru ini minim risiko. Aku yakin itu adalah harta haram hasil korupsi ataupun pencucian uang. Bukankah ini menarik?"
Tanpa dijelaskan panjang lebar, Rai langsung bisa mengerti. Minim risiko yang dimaksud Yuta adalah jika mereka berhasil mengambil uang milik pejabat itu, maka pejabat tersebut tak bisa mengambil langkah hukum atau mengusut mereka, karena sama saja dengan membuka aib pejabat itu sendiri. Namun, bukan itu yang menarik perhatiannya. Sekali lagi, bukan itu!
Rai justru tertarik mengetahui siapa identitas pejabat yang menyimpan harta Karun tersebut? Apakah dia adalah Kazuya Toda? Mengingat, ia sangat mengetahui betul semua nama pelaku korupsi, pencucian uang, dan suap. Dan mereka telah mendekam di penjara, kecuali untuk satu nama. Kazuya Toda!
"Dari mana kau mengenal target itu?"
"Awalnya aku dipekerjakan anak buahnya sebagai hacker untuk membantu mereka meretas saluran Chanel misterius yang selalu mengungkap keburukan para pejabat dan politikus. Karena aku merasa pejabat itu cukup berbahaya dan memiliki orang-orang hebat di sekitarnya, aku menyalin seluruh perangkat komputernya juga mencoba masuk ke dalam sistemnya. Dan duarrr ... aku menemukan data milliaran dollar yang berhasil dicuci " ungkap Yuta penuh semangat.
Rai terperanjat seketika, tetapi berusaha tetap terlihat tenang. Jika dirunut dan ditelaah satu per satu, seluruh info yang baru saja diberitahukan Yuta, memiliki benang merah dengan target kesepuluh yang menjadi target terberat Black Shadow dan Mr. White selama ini. Sungguh, sama sekali tak terpikirkan di benaknya yang meretas siaran Black Shadow adalah seseorang yang dikenalinya. Sayangnya, ini terungkap saat ia tak lagi berada di tim Shohei.
Rai berdiri dari duduknya, lalu menghampiri meja biliard yang ada di ruangan itu. "Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk kita melancarkan misi?" tanyanya sambil mengambil tongkat biliard.
"Dari informasi yang berhasil kusadap, mereka akan memindahkan harta itu melalui kapal militer ke sebuah pulau terpencil yang berbatasan langsung dengan perairan Jepang."
Bola mata Rai bergerak ke samping. "Apakah artinya harta itu disimpan di sebuah gudang beacukai pelabuhan?" tebak Rai.
"Benar sekali!"
"Kalau begitu ...." Rai menyusun tiga bola di tengah meja biliard, kemudian berdiri di sudut meja seraya membungkukkan badannya. "Segera kumpulkan tim untuk menyusun siasat. Kita akan melakukan aksi bertepatan saat uang-uang itu dipindahkan," ucapnya dengan sudut bibir terangkat. Dengan mata yang setajam elang, dia melakukan sodokan bola yang langsung membuat tiga bola yang berada di tengah langsung tergelinding masuk ke dalam kantung-kantung meja. Anting yang menggantung di telinganya tampak bergoyang indah seiring jiwa liciknya yang telah lama terkubur kini bangkit kembali.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Haru muncul di ruangan itu tanpa tahu keberadaan Rai. Suasana mendadak menjadi rikuh saat perempuan itu bertatapan langsung dengan Rai. Yuta seolah memberi kode pada Haru agar segera keluar. Namun, siapa sangka Rai justru menghampiri mantan kekasihnya itu.
Ketika ia hendak keluar dari ruangan itu, Haru justru menahan lengannya. "Aku merindukanmu. Apakah kita bisa bersama malam ini? Aku akan menebus kesalahanku padamu."
Rai tak menjawab, hanya kembali melempar senyum tipis kemudian berlalu pergi. Sebagai pria Casanova, ia sulit menafsirkan perasaannya sendiri terhadap wanita yang dekat dengannya. Namun, wanita tadi menjadi wanita pertama yang diakuinya sebagai kekasih sungguhan sekaligus orang yang ia cintai. Sebelum dan hingga kini, belum ada satu wanita pun yang bisa mendapat pengakuan cinta dari Rai seperti Haru.
Kini, perasaannya terhadap perempuan blasteran Eropa itu sudah hilang tak berjejak. Tak ada lagi perasaan memiliki, apalagi perasaan cinta yang mendalam. Tidak pula benci maupun menaruh dendam. Lebih tepatnya, ia telah mati rasa. Itulah kenapa ia bisa memutuskan kembali menyelami dunia penipuan tanpa menengok yang telah berlalu.
Yuriko kembali ke apartemen Rai, dengan tampang yang terlihat lesu. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada lemari tempat pertama kali ia menemukan ransel Black Shadow. Ia berdiri termangu di depan lemari itu, sambil kembali mengingat saat dirinya sedang patah hati karena baru mengetahui Shohei memiliki calon tunangan. Ia yang menangis di tepi jalan saat itu, langsung dipaksa berbalik oleh Rai. Pria itu kemudian berdiri di belakangnya agar ia bisa puas menangis tanpa takut diperhatikan para pejalan kaki.
Masih kuat di ingatannya, beberapa jam lalu ayahnya mengatakan bahwa seorang pria yang mengaku sebagai teman seapartemennya datang lebih dulu ke Rumah Sakit sebelum ia dan Shohei ke sana. Tak hanya itu, sesosok tak dikenal tiba-tiba menjadi donatur untuk membiayai pemasangan kaki robot.
Yuriko menatap lemari dengan lemah, kemudian berkata dengan mata yang memerah dan berair, "Rai-kun ... apa kabarmu? Kuharap sekarang kau benar-benar sedang bekerja lembur berhari-hari, seperti alasan yang sering kau katakan padaku. Aku kembali merasakan patah hati. Tapi, aku baik-baik saja dibanding waktu itu. Ada kalanya mengutarakan isi hati membuat kita lebih plong, bukan? Mungkin ini yang kurasakan saat ini, hatiku lebih lega."
Pada detik ini, lelehan bening mulai mengalir dari sudut matanya tanpa bisa ditahan lagi. Gadis itu duduk berlutut sambil menyandarkan satu tangan di pintu lemari. Ia tertunduk tak berdaya, seraya terisak hingga punggungnya tampak terguncang.
Sejujurnya, ia tidak tahu penyebab air mata itu mengalir deras. Apakah ini tangisan untuk Shohei yang menolak perasaannya, ataukah untuk Rai yang meninggalkannya tanpa kabar?
Jika Yuriko baru saja mengungkapkan perasaannya dan langsung mendapatkan penolakan dari pria yang dicintainya, maka Seina telah mengalami itu lebih dulu. Ya, gadis jurusan hukum itu juga pernah berada di posisi yang sama dengan Yuriko rasakan saat ini. Tak sengaja mengungkapkan perasaannya pada seseorang, dan harus merasakan cinta yang tak terbalas. Ia pun telah lebih dulu mengikhlaskan perasaannya.
Gadis itu kini memasuki kantor kepolisian Metropolitan bersama kuasa hukumnya. Hari ini dia akan diinterogasi sebagai saksi untuk kasus kematian ayahnya. Berjalan tegap tanpa menoleh ke kiri dan kanan, pikirannya terus terpaku pada Shohei yang belum membalas pesannya hingga sekarang.
Duduk di ruang interogasi, tak lama kemudian seorang polisi masuk dan langsung berhadapan dengannya.
"Terima kasih telah memenuhi panggilan kami. Saya Otaka Ai, penyidik divisi satu." Ai mengulurkan tangannya. "Beritahu hal sekecil apa pun yang Anda ketahui sebelum penculikan tuan Matsumoto terjadi. Info dari Anda sangat membantu kami untuk menyelidiki kasus ini."
Interogasi pun dimulai. Ai Otaka mulai melempar beberapa pertanyaan. Sementara itu, Shohei yang baru saja tiba di apartemennya menerima sebuah pesan singkat yang membuatnya terkesiap sekaligus menyunggingkan senyum. Sontak, ia pun bergegas pergi.
Shohei tiba di bandara. Matanya berkeliling, menelisik setiap orang yang keluar dari ruang penjemputan. Ia memegang ponsel, mencoba mengecek pesan atau pun telepon masuk. Tampaknya, ia sudah tidak sabar menantikan kedatangan seseorang.
Senyum semringah pun terpatri di wajahnya yang lembut, saat orang yang ia tunggu-tunggu telah datang. Saat ini, sesosok pria gagah berbadan tegap, dengan seragam jas petinggi kepolisian yang membalut tubuhnya berjalan penuh kharisma ke arahnya.
"Senpai ...."
.
.
.
catatan author ✍️✍️✍️
gais, Rai gak punya ilmu penerawang ala Roy kinderjoy (eh... siapa sih namanya). jadi pas dia mutusin gabung sama si Yuta dari goa hantu, dia benar2 gak tahu kalo Yuta pernah jalin kerjasama dengan Kazuya Toda. baru di chapter ini dia tahunya gais. mengenai alasannya gabung, kalian udah bisa tebak ya di chapter sebelumnya. sengaja dijelasin biar gak missing.
Terus tentang karakter Shohei nih. sebenarnya dari chapter awal aku pengen jelasin tapi lupa. sebenarnya udah pernah dijelasin di GA. karakter Shohei tuh malu dan kikuknya cuma sama cewek yang dia suka. kan kemarin-kemarin banyak yang bilang Shohei kalo sama Yuriko lebih nyantai aja gak kaya pas sama Seina. Shohei bisa lebih santai sama Yuriko, karena dia ga punya rasa apapun. Gini loh, kalian pernah ga sih suka sama laki/perempuan, terus jadi salah tingkah gitu, jadi gugup sampe mendadak bodoh tiap kali ketemu. Tapi bukan berarti kalian ke semua orang juga kayak gitu, kan.
Oke tetap melebur bersama kisah ini, menantikan antiklimakss novel ini. Masih ada kejutan-kejutan dan bom di chapter-chapter akan datang. Jangan lupa tempelin jempol dan komeng, biar gua semangat.