
Masih saling berhadapan, Kei menerima tawaran Shohei yang mengajaknya bekerja sama mencari target kesepuluh. Sebagai imbalan, Shohei akan mengizinkan Kei mewawancarai Black Shadow secara live di program acaranya.
"Besok aku akan ke rumah paman dan mulai menggali info darinya. Hubungi aku jika kau butuh bantuanku, aku siap membantumu sebisaku." Kei menyerahkan kartu namanya yang berisi kontak telepon pada Shohei.
"Arigatou. Dan satu lagi .... Tentang aku dan Black Shadow, tolong rahasiakan ini dari Seina. Jangan katakan apa pun padanya, sekalipun di situasi yang terdesak."
"Wakatta." (Aku mengerti)
Shohei berjalan cepat menuju tempat mobilnya terparkir. Tak terasa pembicaraan antara dirinya dan Kei telah memakan waktu hampir satu jam. Ia sampai lupa harus segera ke Tokyo Skytree untuk menemui Rai dan berkencan dengan Seina. Sialnya, ia meninggalkan ponselnya di mobil dalam kondisi tak aktif. Begitu masuk ke mobil, ia langsung melaju untuk segera ke Tokyo Skytree.
Di sisi lain, Black Shadow menuju Tembo galeri yang berada di ketinggian 350 meter dari tanah. Setahunya, tempat itu memang difavoritkan Shohei, selain karena bisa menikmati pemandangan dari titik tertinggi menara, keadaan sekitar juga sepi pengunjung apalagi jika sudah larut seperti ini. Begitu keluar dari lift, dahi Black Shadow berkerut seketika saat melihat tak ada siapapun di sana.
"Eh? Mana dia?" Black Shadow berusaha menghubungi Mr. White lewat earpiece, tetapi tak tersambung.
Sejenak, ia juga teringat dengan sosok gadis penguntit yang selalu bertemu dengannya di sana. Khawatir jika tiba-tiba seseorang datang ke tempat itu, Black Shadow pun memasang topengnya kembali. Ia berjalan perlahan ke arah dinding kaca yang menampilkan keindahan dan kemegahan kota Tokyo di malam hari.
Di sisi lain, setelah menonton tayangan ulang Black Shadow, Seina mencoba menghubungi Shohei kembali. Sayangnya, lagi-lagi telepon tidak tersambung. Ia pun memutuskan keluar untuk mengecek kedatangan Shohei. Namun, pemandangan pertama yang terihat justru sesosok pria berpakaian serba hitam dengan topeng menutupi setengah wajahnya, berdiri gagah menghadap ke dinding kaca.
Seina tersentak. Seketika, ia dapat merasakan irama jantung yang mengetuk-ngetuk tak beraturan. Saking kagetnya, langkahnya mundur secara otomatis.
Kenapa aku harus bertemu dengan pria perusak jantung ini ....
Secara bersamaan, pria yang disebut Black Shadow itu juga menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau tak lelah membuntutiku?" ujar pria itu diiringi helaan napas kasar. Ini yang keempat kalinya ia bertemu dengan gadis yang tak dikenalinya itu setiap selesai menjalankan misi, sehingga ia benar-benar menganggapnya seorang penguntit yang nekad.
"Tidak seperti itu!" Seina berusaha menepis prasangka Black Shadow. "Aku ke sini untuk menemui ...."
"Hei, coba lihat ke sini!"
Ketika Seina hendak menjelaskan maksud kedatangannya di sini, pria itu justru tak menghiraukan dan malah menatap kagum ke atas langit.
"Eh?"
Seina melangkah ragu mendekati Black Shadow, kemudian ikut menatap ke depan seperti yang pria itu lakukan.
"Kirei!" ucap Seina kagum begitu melihat rasi bintang yang menghias langit pekat. Hanya sebentar, kepalanya langsung berpaling ke arah Black Shadow. Mencoba menerka-nerka seperti apa wajah yang tersembunyi di balik topeng. Mungkinkah wajah pria itu lebih indah dari nebula yang tengah mereka saksikan saat ini?
Hanya seperti ini ... sudah bisa membuat jantungku berdetak kencang. Hanya seperti ini ... sudah bisa membuatku merasa senang. Seakan hormon kebahagiaan itu sedang merebak dan menjalar di seluruh tubuhku.
Wangi bunga camelia segar menjamah lembut penciumannya. Aroma yang seperti sudah menjadi bau khas tubuh pria itu. Begitu memikat, sekaligus memabukkan sehingga membuatnya selalu lupa diri. Mendadak, lampu di ruangan itu berubah warna menjadi keunguan sehingga menambah kesan romantis yang menyelip di antara mereka.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Black Shadow yang tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Seina tampak kelabakan dan langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat. Matanya bergerak tak tentu arah karena rasa gugup yang tiba-tiba menguasainya.
Black Shadow menyandarkan tangannya di dinding kaca, sedikit membungkukkan badannya.
"Kau berharap dicium, ya?" goda Black Shadow yang berbisik lembut di telinga Seina, "bagaimana kalau kali ini kau yang lebih dulu melakukannya?" ucap pria itu sambil meletakkan ujung jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
Tanpa menanggapi kalimat penuh godaan yang dilontarkan Black Shadow, Seina justru terus menancapkan pandangannya ke mata pria itu. Ia mengulurkan tangannya, mulai meraba setiap lekuk wajah pria itu.
"Apa aku boleh melihat wajahmu?" pinta Seina pelan. Ini yang kedua kalinya gadis itu memiliki permintaan serupa.
Black shadow bergeming, membiarkan jari-jemari lentik berhias cat kuku pink pastel itu membelai wajahnya.
"Apa aku boleh membuka topengmu?" pinta Seina kembali.
Seina berusaha mendorong tubuh lelaki itu. Namun, tentu sia-sia karena kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki Black Shadow.
"Jangan lakukan ini lagi!" pinta Seina di tengah serangan cumbuan yang Black Shadow lakukan di bibirnya, "aku sudah memiliki kekasih," lanjutnya dengan suara yang terbata-bata.
Black Shadow lantas melepaskan tautan bibir mereka.
"Kalau begitu, putuskan saja pacarmu!" balas Black Shadow santai dengan sudut bibir yang terangkat.
Seina melebarkan matanya, diikuti serangan keterkejutan. Sedetik kemudian ia malah menunduk.
"Aku ... aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengannya."
"Tidak bisa?" Alis Black Shadow terangkat sebelah, kemudian matanya mendelik ke atas sambil berkata, "Tidak bisa artinya sebenarnya kau mau mengakhirinya juga, kan?" ucap pria itu lagi sambil melangkah ke belakang untuk membuat jarak di antara mereka.
Seina menatap Black Shadow yang tengah menyengir dan terus bergerak mundur menjauhinya. Kali ini gadis itu benar-benar tak bisa menjawab apa pun.
Benarkah? Benarkah aku menginginkan hubunganku dan Shohei berakhir?
Di tengah pernyataan yang berkecamuk dalam dirinya, Seina baru tersadar jika Black Shadow telah berjalan meninggalkannya.
"Apakah jika aku memutuskan pacarku, kau mau menunjukkan wajah dan menceritakan jati dirimu yang sebenarnya padaku? Aku ingin mengenalmu lebih dekat!" teriak Seina seketika.
Langkah Black Shadow mendadak terhenti. Meski begitu, ia enggan berbalik ke arah Seina.
"Kenapa?"
Seina menarik napas dalam-dalam, menutup matanya rapat-rapat sambil berkata, "Kurasa aku telah jatuh cinta padamu."
Kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Seina rupanya tak membuat Black Shadow terkejut sama sekali. Untuk pria seperti dia yang memiliki ketampanan setara Dewa Yunani, bukan hal baru lagi jika ada gadis yang mengungkapkan cinta padanya. Bahkan itu sejak ia mengecap bangku sekolah. Lagi pula, meski Black Shadow ditampilkan ke publik tanpa menunjukkan wajah secara utuh, para wanita tetap menggilainya karena aksi-aksi heroik yang ia lakukan ditunjang dengan bentuk tubuh yang proposional di atas level pria Jepang pada umumnya.
Pada waktu yang bersamaan, Shohei baru saja tiba di menara itu. Ia bergegas menaiki lift yang akan membawanya ke tembo galeri.
Usai Seina mengatakan jatuh cinta padanya, Black Shadow malah merespon dingin. "Kau terlihat seperti sedang terobsesi denganku, Gadis penguntit!"
Seina kembali berteriak penuh emosional, "Apakah aku bodoh karena jatuh cinta pada orang yang sudah tak sopan merebut ciumanku dan melakukannya berkali-kali? Apakah aku bodoh karena jatuh cinta pada sosok superhero sepertimu yang memiliki penggemar di seluruh Jepang? Apakah aku bodoh karena jatuh cinta pada orang yang sama sekali tidak kuketahui identitasnya? Bahkan untuk melihat rupa aslinya pun tidak?"
"Kau tentu tidak bodoh karena aku memang sekeren itu," jawab Black Shadow santai sambil kembali menyengir, seolah luapan hati yang baru saja gadis itu keluarkan tak berarti apa-apa baginya.
"Lalu salah siapa kalau aku jadi seperti ini?" teriak Seina dengan suara yang terdengar bergelombang, "Salah siapa kalau tiba-tiba jatuh cinta padamu di saat aku memiliki kekasih yang baik? Ini memang gila, tapi perasaan ini terlalu cepat menggelora hingga aku pun sulit memahami hatiku sendiri. Aku ingin menutup mata dari kenyataan di mana aku tahu aku tak bisa membiarkan semua ini. Tapi, bagaimana caranya? Setiap hari kau selalu mendominasi pikiran dan ingatanku. Hatiku terus merindukanmu dan mendorongku untuk selalu menemuimu. Salah siapa aku jadi seperti ini kalau bukan karena sikapmu yang seenaknya padaku!" ungkapnya lirih setelah meluapkan segala yang telah dipendamnya selama beberapa bulan sejak bertemu Black Shadow.
Kali ini, semburat keterkejutan tercetak jelas di wajah Black Shadow. Mendengar kalimat pengakuan yang begitu emosional bercampur suara isakan dari gadis itu membuatnya terlonjak hingga sulit untuk berkata-kata.
"Kurasa ... kau hanya terbawa perasaan. Aku ...."
"Black, kau di mana? Apa kau sudah berada di Tembo galeri?" Suara Mr. White terdengar tiba-tiba dari saluran earpiece yang terpasang di telinganya.
Tanpa berkata lagi, Black Shadow segera berbalik dan hendak pergi. Seina tentu tak boleh mengetahui sosok Mr. White sebagai pengendalinya. Namun, baru tiga langkah, ia kembali terhenyak ketika tangan mulus seputih salju melingkar di pinggangnya.
"Jangan pergi! Kumohon, jangan pergi begitu saja," ucap Seina sambil memeluk Black Shadow dari belakang.
.
.
.
maaf lambat Up, akhir-akhir ini saya sibuk banyak pekerjaan yang harus terselesaikan di akhir tahun. tetap setia menanti, dan jangan lupa tancepin jempol.