Never Not

Never Not
Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto



Jujur, Rai tak tahu harus berbuat apa dalam situasi ini. Jika bukan Shohei yang meminta, ia tentu saja tak mau berada di sini menemani Seina. Sedari tadi ia berharap agar gadis itu belum siuman, paling tidak sebelum Shohei datang kembali.


"Apakah Black Shadow telah melepaskan ayahku?" tanya Seina dengan suara melemah.


Rai menggeleng pelan. Ia masih saja enggan bersuara di hadapan gadis itu seolah dirinya bisu. Rasa bersalahnya atas apa yang pernah ia lakukan, membuatnya tak mampu bersuara.


"Aku harus menemui Black Shadow sekarang!"


Seina memaksa bangun dan berusaha melepaskan jarum infus di tangannya. Rai segera mencegat dengan memegang pergelangan tangannya. Pada saat ini, mata mereka bersirobok dengan jarak yang begitu dekat.


"Kau terlihat seperti seseorang yang kukenal. Tapi aku lupa siapa orang itu ...." Kata-kata itu meluncur pelan di bibir ranum Seina seiring pandangannya masih tertancap di manik legam pria itu.


Rai segera membuang pandangan, genggaman tangannya pun perlahan melonggar di pergelangan Seina.


"Aku tidak bisa terus di sini!" Seina berusaha turun dari ranjang.


Rai cepat-cepat mengeluarkan ponselnya, lalu memutar rekaman audio berisi suara Shohei yang memintanya untuk tidak khawatir dan berjanji segera menemukan tuan Matsumoto. Mendengar suara rekaman kekasihnya, tubuh Seina melemah dan dia langsung bersandar di sandaran ranjang.


"Ayahku akan baik-baik saja, kan? Black Shadow tidak akan menyakitinya, kan?"


Rai mengangguk cepat, mencoba meyakinkan Seina.


Seina menunduk tak berdaya sambil tertegun. "Karena itukah dia tak mau menemuiku lagi?"


Rai menoleh kembali pada gadis itu. Meskipun samar, ia dapat melihat mata jelita itu tampak berkaca-kaca.


"Karena itukah dia tak menjawab ungkapan hatiku waktu itu? Apa karena dia berpikir aku anak seorang koruptor?" ucap Seina dengan suara yang semakin mengecil, nyaris tak terdengar. Ia masih menunduk, dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Tersadar Rai sedang menatap iba padanya, Seina buru-buru mengusap matanya yang berembun. "Maaf, jangan dengar ocehanku! Jangan pedulikan ucapanku. Kau ke sini pasti atas permintaan Shohei, kan? Ah, lagi-lagi aku merepotkan mu," ucap Seina tertawa hambar.


Pada saat Rai hendak membuka mulutnya, tiba-tiba pintu ruang rawat VIP itu berderit pelan, memunculkan Kei yang masuk dengan raut panik.


"Seina-chan!" Pria berprofesi jurnalis itu mendekati Seina yang terbaring. Ia melirik ke sosok pria asing di samping adiknya. Hanya sebentar, lalu kembali memusatkan pandangannya pada gadis itu. "Kau baik-baik saja?"


"Oniichan, bagaimana dengan papa? Dia tidak melakukan hal yang dituduhkan Black Shadow, kan?"


Pada saat ini, Rai memilih mundur perlahan kemudian berbalik dan melangkah hendak keluar dari ruangan itu.


"Di mana aku bisa bertemu dengan Black Shadow? Tolong, biarkan aku menemui Black Shadow dan memohon padanya! Aku ingin mengatakan padanya mungkin dia salah orang. Target kali ini bukan papa. Dia salah."


Ucapan Seina menghentikan langkah Rai. Ada rasa kekhawatiran yang cukup besar membersit dalam dirinya begitu melihat kondisi Seina yang masih terguncang. Namun, mau tak mau ia harus pergi.


Saat hendak menyeberang, pandangan Rai berpusat pada berita yang tayang di Videotron terkait tayangan Black Shadow beberapa jam lalu. Dalam konferensi pers, kepala kepolisian metropolitan mengumumkan status Black Shadow sebagai buronan kasus penculikan pejabat negara. Sebagai warga sipil, penyanderaan terhadap pejabat negara tidak boleh dilakukan. Tak hanya itu saja, kepala kepolisian juga menyebut satu nama yang diduga bekerja sama dengan Black Shadow, yaitu Mr. White.


Rai tercengang seketika. Bagaimana mungkin, nama Mr. White ikut terkuak ke publik. Ia mengepalkan jari-jarinya dengan kuat, lalu memutuskan pergi dengan membawa amarahnya pada sosok yang menduplikat dirinya.


Rai menggunakan telepon umum untuk menghubungi adiknya.


"Moshi-moshi, siapa ini?"


"Ryo ...."


"Eh? Oniichan?" Ryo tersentak mendengar suara kakaknya. Pasalnya, pria itu sangat jarang meneleponnya.


"Apa kau tahu cara mengembalikan sistem data yang diretas Black Hat Hacker?"


"Hah? Kalau yang berkaitan dengan peretasan itu dulunya tugas Yuta."


"Benar, itu memang tugas Yuta. Tapi kau kan dulu sering bersamanya, apa kau tidak ikut mempelajarinya?" desak Rai.


"Hhmm ... Oniichan sendiri yang meminta kami bekerja sesuai peran masing-masing. Tugasku mengedit informasi data dan video palsu agar seolah-olah terlihat asli."


Napas Rai terdengar mengembus kasar.


Ryo terkesiap saat telepon itu mendadak terputus. Sementara Rai memilih kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, ia mendapati Yuriko masih duduk di meja makan dengan tangan yang sibuk memegang ponsel.


"Kau belum tidur?" tanya Rai seraya melepas mantel yang melapisi tubuhnya.


"Ah, aku baru mau tidur." Yuriko berdiri cepat. "Kau dari mana saja?"


"Aku ...." Rai tampak berpikir, "aku tadi menemui adikku."


Yuriko mengangguk-angguk. "Omong-omong, orang-orang di media sosial tengah berdebat tentang tayangan Black Shadow tadi. Banyak yang tidak setuju dengan rencananya dan menghujat perbuatannya. Lagi pula siapa Black Shadow itu? Polisi bukan, jaksa bukan, hakim juga bukan! Kenapa berlagak menjadi pahlawan keadilan?" ucap gadis itu sambil terus mengekor Rai.


Rai mendadak berbalik, lalu mengapit bibir Yuriko dengan jari telunjuk dan jempolnya. "Berisik! Kalau kau bicara lagi, akan kucium untuk membungkam mulutmu!"


Yuriko lantas hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali. Rai melepaskan tangannya dari bibir Yuriko, lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia menoleh ke arah Yuriko yang masih terdiam di samping ranjang.


"Apa kau belum mau tidur?"


Yuriko beringsut ke ranjang, lalu tidur di samping Rai. Beberapa detik hanya terisi dengan keheningan. Keduanya sama-sama terdiam sambil menatap langit-langit kamar.


"Ano ... apa menurutmu yang dilakukan Black Shadow itu sia-sia?" Rai melemparkan pertanyaan secara tiba-tiba.


"Entahlah! Ayahku kecelakaan karena bertugas, kemudian diberhentikan tanpa tanggung jawab dari atasannya. Bertahun-tahun ibuku memperjuangkan apa yang dialami ayahku ke atasannya, tapi semua sia-sia. Sejak itu, aku sudah tidak percaya lagi keadilan yang didengungkan Black Shadow," ucap Yuriko. Nada suaranya terdengar biasa, meskipun begitu Rai bisa menangkap kekecewaan di setiap kata-katanya.


"Tapi, aku ingin memercayai Black Shadow. Aku ingin mendukung apa yang ia perjuangkan!" lanjut Yuriko.


Ucapan itu sontak membuat Rai terkesiap. Ia mengulas senyum tipis karena merasa seperti mendapat sebuah kepercayaan besar dari gadis itu.


Tak terasa malam telah menutup dan membawa pagi yang cerah. Berita utama pagi ini diisi oleh penculikan tuan Matsumoto yang dilakukan Black Shadow. Divisi satuan lalu lintas telah melakukan pelacakan mobil Jep hitam ke sejumlah jalanan utama Tokyo. Mereka menahan pemilik mobil Jep hitam yang melintas di jalanan dengan meminta data sang pengemudi. Mereka juga mendatangi tiap lokasi tempat mobil-mobil Jep itu terparkir.


"Lokasi A bukan mobil yang bersangkutan!"


"Lokasi B juga bukan!"


"Lokasi G bukan mobil yang dimaksud!"


Polisi yang tergabung dalam satuan lalu lintas itu melaporkan hasil penyisiran mereka. Inspektur Heiji, detektif Shu, dan detektif lainnya hanya bisa mengusap wajah dan menghela napas. Pasalnya, mereka ditugaskan untuk menemukan tuan Matsumoto sebelum siaran Black Shadow itu tayang kembali.


Di kamarnya, Rai masih berusaha merebut kembali data-data mereka yang telah diretas. Sementara, Shohei dan Kei bertemu di kafe biasa. Mereka duduk saling membelakangi agar tak ada yang curiga.


"Apa kau baik-baik saja? Black Shadow gadungan itu membawa-bawa nama Mr. White dalam aksinya. Ini bisa membuat identitasmu terbongkar dan kau bisa dikeluarkan dari kesatuanmu," bisik Kei penuh kekhawatiran.


Shohei terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Bagaimana dengan tokoh ciptaanmu itu? Biar bagaimanapun kau telah membawanya dalam masalah besar. Jika terjadi sesuatu pada pamanku, maka pria itu yang akan menanggungnya," sambung Kei.


"Mari kita pikirkan terlebih dulu cara menemukan tuan Matsumoto. Tentang aku dan Black Shadow, kami berdua telah siap dengan segala konsekuensi yang akan kami hadapi," ucap Shohei dengan raut yang serius.


.


.


.


hai gays, gua mau mintol. gua lagi ikut lomba cerpen nih, tolong dibaca, like sama komen ya. udah setahun loh aku baru upload cerpen lagi, wkwk.



buka profilku, cari cerpen yang judulnya "[game] Aku Sudah Memaafkan" covernya gadis payung. baca, like dan komen. jangan cuma baca doank, karena pemenang ditentukan sama tingkat popularitas cerpen itu sendiri. hadiahnya kecil banget gais, tapi gua lagi seneng aja 😆. jarang-jarang nih gua minta tolong 😆 untuk yang dah baca, dan bantu rekomendasikan aku ucapkan banyak terima kasih.


btw, gua nulis lanjutan chapter ini pas lagi ISOMAN, jadi jangan lupa like n Komeng.