
..."Politik adalah seni menarik simpatik rakyat. Oleh karena itu, jangan ikut campur di bagian yang tidak seharusnya!"...
...~Kazuya Toda~...
...----------------...
Sinar matahari yang keemasan mulai menyapa bumi. Membangunkan kehidupan yang sempat tertidur. Perlahan, segala hiruk-pikuk mulai bisa dirasakan di setiap sudut kota. Namun, berbeda dengan vila bernuansa tradisional yang terletak jauh dari pemukiman warga. Keadaan tempat persembunyian Rai dan lainnya begitu sepi dan kosong. Hanya ada semilir angin yang menerbangkan jejak-jejak mereka di rumah itu.
Shohei membuka laci kerjanya dan mengambil surat pengunduran diri yang diketiknya semalam. Ya, rencananya surat itu akan ia serahkan begitu misi telah selesai. Di saat yang sama, seseorang masuk ke ruangannya membawa sebuah pesan dari kepala kepolisian metropolitan.
"Summimasen, Pak Kepala meminta Anda untuk mendampinginya ke acara peresmian gedung baru yang akan dipimpin langsung oleh Perdana Menteri."
Shohei mengangguk, lalu buru-buru menyimpan kembali surat itu. Melangkahkan kaki keluar dari ruangannya, ia malah mengilas balik masa-masa menjadi polisi muda yang langsung ditugaskan di tempat itu sebagai seorang detektif. Di kantor inilah, ia mencetak sejumlah prestasi atas kasus-kasus besar hingga mengantarkannya pada jabatan ketua penyidik divisi satu.
Suara nasihat ayahnya seakan kembali menggaung di telinganya.
"Shohei-kun, jadilah polisi yang bertaring! Saat ayah menjabat sebagai pimpinan tertinggi di kepolisian, ada banyak hal yang tak bisa ayah ungkap karena mempertimbangkan nama baik institusi, kehormatan atasan, perasaan orang-orang terdekat dan demi kestabilan negara. Kuharap, jika suatu saat kau berada di posisi itu, kau bisa lebih berani dari ayah!"
Shohei masuk ke mobil dinas dan duduk di samping Megumi Jun yang mulai kembali aktif sebagai kepala metropolitan saat ini.
"Kepala, Anda telah kembali bertugas?"
"Ya, Perdana Menteri mengajakku makan siang selepas acara peresmian. Aku tidak ingin membuatnya menunggu. Jadi, aku yang akan menunggunya untuk pergi bersama," jawab Jun yang kemudian memerhatikan ekspresi Shohei saat ini, "ada apa denganmu? Kau tampak tak bersemangat."
"Ah, tidak apa-apa! Aku rasa, aku hanya kurang tidur."
"Kau terlalu bekerja keras!" cetus Jun sambil terkekeh.
Di sisi lain, Ryo menghentikan mobil di tempat parkiran gedung yang akan diresmikan perdana menteri. Ia menoleh ke belakang, melihat Yuriko yang sedang memasangkan topeng ke wajah Rai. Tangan gadis itu masih memegang sisi wajah Rai yang telah tertutupi topeng.
"Apa ini keputusan yang tepat?" tanya Yuriko dengan wajah yang sendu.
"Setiap awalan pasti ada akhiran. Kisah Black Shadow telah diawali dengan aksi yang menyorot perhatian dan dukungan banyak orang. Kini saatnya untuk mengakhiri!" ucap Rai tanpa keraguan. Ia menggenggam hangat tangan Yuriko yang menyentuh sisi wajahnya, lalu mengecupnya dengan pelan.
"Semua akan baik-baik saja, 'kan?"
"Pasti!" jawab Rai, "bagaimana dengan Kei?" tanyanya pada Ryo.
"Kei-san sedang menemui direktur utama media tempatnya bekerja. Semoga artikel yang ditulisnya selama ini mendapat izin rilis," ucap Ryo.
"Semoga saja! Semoga ... kemenangan benar-benar datang di pihak kita."
Rai keluar dari mobil dengan berkostum lengkap sebagai sosok Black Shadow. Ia merogoh sakunya, mengambil sebuah flashdisk yang menyimpan bukti-bukti penggelapan uang dan juga penjualan senjata api ilegal yang dilakukan Kazuya Toda. Ya, seperti yang telah direncanakan sebelumnya, hari ini ia akan mendatangi langsung Perdana Menteri. Entah berhasil atau tidak, tapi hanya inilah jalan satu-satunya untuk menyampaikan bukti-bukti itu setelah siaran mereka dilarang tayang, kemudian ditetapkan sebagai buronan nasional. Apalagi, media sosial dan informasi kini dalam pantauan Kazuya Toda.
Melihat kakaknya yang hendak beranjak, Ryo bergegas keluar dari mobil. "Oniichan!"
Rai berbalik pelan, menatap adiknya yang melempar senyum dengan mata berkabut. "Ganbatte, ne!" ucapnya seraya mengepalkan tangan ke atas.
Rai mengangguk sambil tersenyum miring. "Hum ... ganbatte!"
Berbeda dengan beberapa pejabat yang ikut menghadiri acara peresmian, Kazuya Toda justru tengah berada di gedung tempat pesta kelulusan putri semata wayangnya yang juga dilaksanakan hari ini. Ada yang tak biasa dari mantan kepolisian nasional itu, ia terlihat bersahaja layaknya figur seorang ayah pada umumnya. Jauh dari kesan ambisiusnya sehari-hari. Senyum semringah pun terus terukir di bibirnya ketika menerima para tamu dari kalangan penting yang mulai berdatangan.
Sekretaris pribadi pria itu datang mendekat seraya berbisik. "Perdana Menteri meminta pelaksanaan peresmian gedung baru dibuka untuk umum agar masyarakat bisa ikut melihat langsung. Apakah kita perlu mengirimkan pengawalan yang ketat?"
"Tidak perlu! Biarkan dia terlihat lebih merakyat di mata publik. Jika dia kembali terpilih di pemilu berikutnya, kita akan tetap aman," balas Kazuya Toda dengan santai sambil memegang gelas antik berisi anggur merah.
Di tempat lokasi peresmian, masyarakat tampak antusias untuk melihat perdana menteri secara dekat. Ini merupakan momen yang langka di mana mereka bisa bertemu langsung dengan orang nomor satu di Jepang.
Black Shadow mulai menyusup masuk di antara kerumunan masyarakat. Karena penampilannya yang berbeda dari lainnya membuat orang-orang sekitar cepat menyadari keberadaan. Seketika, semua orang terperanjat melihat sosok bertopeng itu. Ada yang terlihat senang dan ada juga yang menghindar ketakutan karena status buronan teroriss yang disandangnya. Sementara para wartawan tak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini untuk dijadikan bahan berita. Mereka mulai mengarahkan kamera ke arah pria yang pernah dipuja-puja masyarakat itu.
Perdana menteri dan rombongannya sontak berbalik kaget ketika mendengar histeria masyarakat. Begitu juga dengan Jun dan Shohei yang ternyata memantau dari balkon sebelah gedung.
"Ada apa?" tanya Perdana menteri begitu menyadari kehebohan publik.
Perdana Menteri dan rombongan pejabat lainnya terkesiap saat melihat Black Shadow berjalan tegap dan gagah menuju ke arahnya. Sosok bertopeng itu seolah tak memedulikan apa pun. Dengan gerakan yang lincah dan gesit, ia memukul, menendang, serta membanting siapapun yang mencoba menghalangi langkahnya. Ia terus maju, mendekat ke arah Perdana Menteri tak peduli beberapa pengawal dan keamanan yang terus mencoba menghentikannya.
Aku tidak akan menghindar lagi! Tidak akan bersembunyi lagi! Dan tidak akan tinggal diam lagi!
"I–itu ... Black Shadow, kan?" tanya Perdana Menteri.
"Iya, Tuan. Sepertinya ... kali ini dia menargetkan Anda!" balas ajudannya sambil berdiri di hadapan Perdana Menteri untuk melindunginya.
"A–apa? Aku target selanjutnya? Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan korupsi atau tindak pidana apa pun yang merugikan rakyat!" Perdana Menteri tampak panik dan gemetar. Mengingat, sepak terjang Black Shadow yang selalu mendatangi pejabat untuk membuka kedok mereka.
Black Shadow masih terus meladeni orang-orang yang menghadangnya. Ia melayangkan sapuan tendangan ke wajah empat pengawal sekaligus, kemudian menginjaki punggung mereka bak sebuah jembatan.
"Segera lindungi perdana menteri! Panggil segera pusat bantuan keamanan!" teriak juru bicara Perdana Menteri.
Dari lantai balkon, Shohei menyaksikan aksi nekad Black Shadow dengan perasaan cemas yang terus membayangi wajahnya. Rasa khawatirnya semakin tinggi tatkala Jun menelepon pasukan kepolisian khusus untuk mengamankan tempat itu.
"Jadi ... diakah yang disebut Black Shadow?" tanya Jun seraya menatap jauh pada sosok bertopeng itu.
"Bukankah dia terlalu berani? Aku khawatir ini akan menjadi buruk baginya!" cetus Jun seraya tetap menyaksikan pergumulan antara Black Shadow dan pasukan pengawal Perdana Menteri.
Para ajudan yang terdiri dari pasukan kepolisian, militer, dan bela diri khusus langsung membentengi Perdana Menteri. Tepat lima meter dari tempat Perdana Menteri berdiri, langkah Black Shadow terhenti seketika saat seorang ajudan mengacungkan pistol ke arahnya.
Shohei semakin menegang. Tentu ia tak bisa berbuat apa pun untuk menolong rekannya itu. Lebihnya lagi, aksi Black Shadow kali ini terlalu berisiko. Dengan statusnya yang ditetapkan sebagai buronon teroriss, siapapun tentu menyangka dia akan membahayakan nyawa Perdana Menteri.
"Perdana Menteri, ayo kita pergi dari sini. Ini berbahaya untuk Anda," ujar kepala pengawal sambil mengarahkan Perdana Menteri meninggalkan tempat itu.
Perdana Menteri enggan bergerak. Ia masih terus memandang Black Shadow yang berdiri tak jauh darinya.
"Perdana Menteri, ini berbahaya! Ayo mundur!" teriak para pejabat lainnya yang telah lebih dulu menjauh dari sana.
"Perdana Menteri, ayo kita pergi! Dia akan menyerang Anda!" pinta para pengawalnya.
"Ta–tapi, aku tidak melihat seperti itu!" ucap Perdana Menteri yang sebenarnya penasaran dengan apa yang hendak dilakukan Black Shadow.
"Ingat, dialah yang membunuh mendiang Matsumoto-san!"
Dengan rasa bimbang, Perdana Menteri berbalik untuk mengikuti instruksi pasukan pengawalnya. Melihat itu, Black Shadow langsung mengambil flash disk di sakunya seraya melangkah ke depan. Naas, sebuah peluru terpaksa dimuntahkan untuk menghentikan pergerakannya.
"Perdana Menteri!" teriak Black Shadow diikuti tubuh yang tersungkur dengan luka tembak di bagian perut.
Tertembaknya Black Shadow, memicu reaksi spontan pada Shohei.
"Tetaplah di sini, Yamazaki-san!" perintah Jun tanpa menoleh ke belakang.
Sebelah kaki Shohei yang sempat melangkah mundur, membeku seketika. Ia hanya bisa pasrah, menyaksikan perjuangan Black Shadow dari balkon gedung tersebut tanpa bisa melakukan apa pun.
"Perdana Menteri!" Black Shadow mencoba berdiri sambil mengulurkan tangan yang memegang flash disk. Sayangnya, tembakan kedua kembali melesat dengan cepat dan langsung mengenai dadanya.
Shohei memejamkan mata dalam-dalam seraya mengatup bibir rapat-rapat seiring Black Shadow kembali roboh dengan darah yang bersimbah keluar dari kostum kebanggaannya. Orang-orang kembali berteriak dalam kepanikan. Beberapa dari mereka malah ada yang memandang pilu ke arahnya.
"Jangan tembak dia lagi! Berhenti! Dia terluka! Cepat hubungi ambulans!" teriak Perdana Menteri yang tengah diamankan para pengawalnya.
"Perdana Menteri, ayo kita pergi! Anda tidak perlu pedulikan dia!" himbau ajudannya.
"Dia tetaplah warga negaraku!" sergah Perdana Menteri dengan intonasi suara yang tinggi.
"Perdana Menteri, mari kita tinggalkan tempat ini!" Semua pengawalnya mengambil tindakan darurat dengan membawa paksa dirinya menuju mobil.
Melihat perdana Menteri yang semakin menjauh dari jangkauannya, Black Shadow mencoba untuk bangkit kembali. Tiga orang langsung mencegatnya dari arah belakang. Tubuhnya dipaksa bertiarap dengan sebelah tangannya dikunci ke belakang punggung. Di akhir misinya, dia benar-benar berjuang sendiri. Tanpa bantuan Mr. white ataupun timnya.
"Perdana Menteri, jangan pergi! Aku bukan teroriss, aku tidak akan melukaimu! Perdana Menteri, jangan pergi!" teriak Black Shadow lirih.
Perdana Menteri memutar kepalanya, menengok ke arah Black Shadow yang terus memanggil namanya. Pria bertopeng itu berusaha berontak dari polisi-polisi yang membekuknya. Kepalanya yang mendongak dipaksa mencium tanah. Kakinya yang mencoba bangkit, ditendang dan diinjak. Tangannya terus terulur ke depan beriringan dengan air mata yang jatuh meluruh. Sekuat apa pun membebaskan diri, selantang apa pun berteriak, pada akhirnya semua menjadi sia-sia. Flashdisk yang menyimpan segudang bukti kejahatan Kazuya Toda, malah tak sampai di tangan Perdana Menteri.
Tenaganya untuk melawan sudah terkuras habis. Suara teriakannya mulai terdengar lemah. Topeng gagah kebanggaannya telah ternoda dengan darah. Tepat saat matanya tertutup, seseorang dengan seragam besar kepolisian datang menghampirinya, lalu mengambil flashdisk itu dari tangannya.
Rupanya, tertembaknya Black Shadow, mengundang simpatik masyarakat yang tengah berada di sana. Mereka yang tadinya bergemuruh, mendadak terdiam dan tak tega. Tak sedikit juga yang merekam kejadian itu dan langsung mengunggahnya ke media sosial.
Di departemen kepolisian nasional, jenderal Otaka duduk termenung di kursi kebesarannya. Mengingat kembali perkataan Ai yang mengatakan bahwa mereka telah berseberangan karena dia berada di kubu Black Shadow. Jenderal Otaka terus mematung seraya mempertimbangkan kembali ucapan anak semata wayangnya. Tak lama kemudian sekretaris pribadinya datang setelah mendapat panggilan darinya.
"Hubungi seluruh awak media nasional! Katakan pada mereka aku akan mengadakan konferensi pers sekarang!"
"Konferensi pers terkait hal apa, Kepala?" tanya sekretarisnya.
Jenderal Otaka menarik napas sesaat, lalu berkata, "terkait pencucian uang dari hasil jual beli persenjataan ilegal."
.
.
.
catatan author ✍️✍️
Gays, kisah apa kira-kira yang paling menyentuh selain kisah pasangan kekasih yang berjuang untuk bersatu, dan kisah perjuangan orangtua untuk anaknya? Masih ada gays, yaitu kisah perjuangan para pencari keadilan. Ini sering disepelekan orang-orang ....
Novel dengan profesi kepolisian menjadi salah satu yang terbanyak di aplikasi ini setelah profesi CEO, dokter, dan dosen. Tapi, rata-rata kisah yang diangkat adalah kisah percintaan pak polisi dengan segala drama lika-liku rumah tangganya. Di NN, gua mencoba menceritakan profesi kepolisian ini dari segala sisi. bukan hanya percintaannya aja, kerjaan mereka dalam menyelidiki kasus, profesionalisme, persaingan, kode etik dan juga sisi gelapnya yang dinodai beberapa oknum.
Beberapa Minggu ini, pembaca mention novel ini terkait dengan pemberitaan heboh ttg kasus kematian seorang polisi di negara ini. Ada beberapa yang bilang langsung ingat kasus-kasus yang ada di novel ini begitu mengikuti kasus kematian di polisi tersebut. seperti Eita Kaze yang mengorbankan diri demi atasannya, Kazuya toda. Ada juga kasus penembakan Ai dan kematian Seto Tanaka yang sengaja dipelintir dan ditutupi dari publik.
Ada yang minta komentar aku tentang kasus yang lagi booming itu, aku gak bisa nanggapi apa pun ya. karena kita ini cuma penyimak yang gak ada di TKP. Ingat, kita gak bisa percaya media 100%. Kalau kata pak Mahfud MD, mereka gak bisa ungkap motifnya karena sangat sensitif dan ada perasaan yang harus dijaga. Mungkin kepolisian sedang mengalami dilema seperti yang dialami Shohei pas tahu mertuanya terlibat kali, ya. wkwk entahlah ....
Aku senang ketika ada pembaca yang menonton berita politik, lalu bilang aku teringat novel NN. ada yang bilang juga dia nonton berita tentang TKI yang mendapat warisan dari majikannya, langsung teringat Jefri di novel DSG. Ada juga yang ngasih link berita ke aku tentang orang yang membobol kartu ATM pelanggan hanya berbekal dari ingatan super seperti yang dimiliki Ren di GA.
Menulis sesuatu yang sering terjadi di masyarakat itu hal biasa. tapi ketika menulis hal yg masih jarang terjadi terus pembaca seperti meragukan hingga terbukti emang ada kejadian seperti itu, menurut aku ini adalah sebuah privilege seorang penulis karena bisa ngajak pembaca untuk melihat sisi lain kehidupan yang tak ada di sekitar kita.
Btw, ini udah memasuki chapter resolution, ya. Masih ada satu kejutan lagi yang jadi penutup novel ini. Udah siap pisah sama Shohei dan Rai? jangan lupa like dan komeng, vote dan gift-nya ke DOSA.