Never Not

Never Not
Chapter 15



Kehangatan yang menjalar di sekujur tubuh Nada tidak berdampak kepada tangisnya, is akan gadis itu malah semakin kencang tatkala Natya semakin mempererat pelukannya. Pria tersebut sebenarnya ingin menenangkan Nada yang sejak melihatnya datang, hanya menangis kejar.


Natya mengusap-usap pelan lengan Nada yang ia dekap. Beberapa orang yang melewati mereka mengamati dengan penasaran, bahkan dengan terang-terangan. Tak terkecuali dengan sesosok lelaki muda yang sedang menatap mereka berdua dengan sangat syok. Natya sendiri jadi risih dengan tatapan lelaki tersebut.


Semburat ketidakpercayaan memang sangat tampak pada paras Nauva yang sedang menenteng sop pesanan Nada. Dia tidak pernah menyangka bahwa ia akan disambut oleh sang kakak yang sedang memeluk erat seorang pria yang sudah pasti belum pernah dikenalkan kepada mereka. Dulu sekali Nauva pernah sekali dikenalkan saat dia tes ujian masuk perguruan tinggi negeri di Jakarta. Sekitar dua tahun lalu. Keberadaan pria tersebut pun sudah seperti mitos, tidak pernah dibahas lagi oleh Nada.


Keadaan tersebut yang membuat Nauva kaget. Ditambah, Nada bukanlah seseorang yang gampang menangis. Kalau dia bisa nangis separah itu di dalam pelukan seseorang, sudah pasti orang ini adalah seseorang yang spesial di hidup kakaknya ini.


"Ehem, Mba Nada."


Dehaman Nauva membuat Nada melepaskan pelukan Natya secara perlahan. Matanya sudah sembab dan bengkak parah. Dia menatap Nauva dan masih dengan terisak. Nauva mengangkat bungkusan sop yang ada di tangannya.


Nada mengusap air matanya lalu menghembuskan napas berat. Dia bergumam 'maaf' dengan pelan ke Natya. Sepersekian detik Nada langsung mengubah raut wajahnya ke versi ceria. "Va, kenalin ini Natya."


Nauva menjabat pelan tangan Natya.


"Pacar?" Tanya Nauva langsung.


"Teman," jawab Nada pendek. Natya sendiri hanya tersenyum.


"Aku cuci muka dulu, baru makan deh. Hm, Nat, kamu sama Nauva dulu ya." Nada menyarankan dengan rasa tidak enak hati.


Natya mengangguk meyakinkan. "Iya, aman, Nad."


"Kita langsung ke ruang tunggu yang deket kamar Papa aja ya, Mas," ajak Nauva.


"Oh, oke."


Nauva berjalan duluan untuk mengarahkan Natya ke atas. Natya menjitak lembut puncak kepala Nada yang tidak jadi ke toilet tapi malah hanya bengong menatap mereka. Nada buru-buru melanjutkan ke tujuan awalnya.


"Sori ya, Mas. Aku nggak tau kalau temannya Mba Nada mau dateng. Jadi aku cuma beli satu tadi. Sop kesukaannya Mba Nada nih."


Natya tersenyum mengerti. "Nggak apa-apa kok."


"Mas temen kerjanya Mba Nada?"


"Nggak sih.." Jawaban Natya terdengar menggantung.


"Kenal di mana, Mas?" Rasa penasaran Nauva mulai muncul.


Natya berpikir sejenak. Cerita dia dan Nada kalau mau dijelaskan akan sangat panjang. "Nggak sengaja ketemu pas liburan."


"Oh... " Nauva diam tapi kemudian seperti tersadar dia jadi semangat sendiri. Nauva jadi semakin penasaran. "Trus, ke sini beneran karna Mba Nada doang?" Selidik Nauva. Sebagai seorang cowok, Nauva sedikit banyak punya radar untuk memahami situasi perjuangan para kaum pria demi wanita incarannya.


Natya mengangguk singkat.


"Semoga alasannya bukan alasan yang ke depannya bakalan nyakitin Mba Nada ya," Nauva melanjutkan dengan penekanan yang cukup tegas. Natya menoleh dan memandang diam raut wajah Nauva yang kini tersenyum lebar tapi sedikit memberi aura mengancam.


Tak lama setelah itu, Nada bergabung bersama mereka. Nauva menjadi pihak yang paling banyak bertanya. Dia benar-benar terlihat ingin tahu tentang status dan kondisi Nada dan Natya. Nada tenang-tenang saja menjawab semua pertanyaan Nauva. Natya saja yang sedikit deg-degan karena takut salah jawab dan membuat Nauva malah tidak bersahabat menyambut dirinya.


"Oke deh, Kak. Aku duluan ya mau ke kampus dulu." Nauva pamit dan berdiri dari duduknya. Dia bergantian menatap Nada dan Natya lalu berkata dengan penuh arti, "Baik-baik ya berdua di sini."


"Iya," Jawab Nada dan Natya kompak yang membuat Nauva jadi tersenyum geli. Begitu Nauva pergi menjauh, barulah Nada berani untuk menatap Natya dengan lekat. Raut terkejut serta terharu masih mewarnai wajah gadis ini. Tak lama kemudian, Natya menepuk pelan puncak kepala Nada.


"Jadi, apa kabar, Nad?"